
Sebelumnya aku minta maaf banget sampe nelantarin ini dua bulanan, buat kalian yang nungguin, maafin ya. Aku bakal jadwalin juga updatenya kayak playboy, tapi nanti ya, sekarang masih belum bisa jadwalin lagi. Semoga feel baca cerita ini masih sama, ya?
Happy reading^^
Ryan tak pernah mendapatkan kabar sama sekali dari Lila sejak terakhir kali, tak ada komunikasi sama sekali. Baik dari Ryan maupun dari Lila, dan Ryan sama sekali tak mempermasalahkan hal tersebut. Ia bisa memberikan waktu sebanyak apapun untuk Lila hingga wanita itu kembali dalam keadaan yang baik.
“Aku gak pernah liat pacar kamu lagi, kemana dia?” tanya Bima. Tiga puluh menit lagi, Ryan akan memiliki siaran. Segalanya sudah selesai di persiapkan, hanya tinggal menunggu waktu siaran saja, dan hanya ada Bima dan juga Ryan di studio itu.
“Kepo banget, deh, Mas, makanya punya pacar sana, biar tahu rasanya.”
Bima mendelik mendengar balasan dari junior yang menjadi favoritnya ini. Ia tak pernah ingat kapan Ryan berbicara dengan lembut padanya, sepertinya hanya ada sarkasme yang di tujukan untuk dirinya, tapi memang seperti itulah Ryan.
“Kalau bukan karena kamu yang terbaik di sini, aku udah pindahin kamu ke tim lain,” sewot Bima.
Ryan hanya tersenyum mendengar omelan Bima seperti biasanya, ia sangat menyukai sensasi ketika menggoda ketua timnya ini. Ia seperti memiliki saudara walau bukan sedarah, tak seperti adik tirinya yang tak pernah ia perlakukan seperti ini. Walaupun ia harusnya melangkah ke depan tanpa memikirkan masa lalu, hal itu belum bisa ia lakukan sepenuhnya.
Jessica, Baskara, dan juga Dio memasuki studio dengan kopi di tangan masing-masing, Jessica juga membawakan dua gelas kopi untuk Bima dan Ryan. “Mas, tadi ada yang nyariin di bawah,” ucap Jessica pada Ryan.
“Siapa?”
“Cewek, yang sering dateng ke sini sebelum pacar, Mas, yang resepsionis itu.”
Ryan mengerutkan keningnya, yang bisa ia ingat hanyalah Vania. Gadis itu belum menyerah juga ternyata, padahal Ryan sudah dengan jelas mengatakan jika ia tak memiliki perasaan sama sekali.
“Wah, aku gak nyangka kepopuleran kamu bisa luar biasa banget,” ucap Bima.
“Kenalin buat Mas Bima, kek, Yan. Kamu gak liat mukanya yang makin menua itu?” ucap Baskara.
Semua yang ada di ruangan itu sontak menatap Bima dengan saksama, untuk memastikan ucapan Baskara dan juga menggoda atasan mereka itu. Bima yang di tatap seperti itu seperti tak terima, ia yang paling tua di antara yang lainnya, dan selalu menjadi bahan candaan untuk bawahannya seperti ini.
“Well, gaji sama bonus kalian—“
“Ayo semuanya siap-siap siaran, lima belas menit lagi mulai. Yan, ayo masuk, kita musti rajin kerja biar peringkat kita semakin bagus,” potong Dio.
Bima memang tak pernah terlihat tersinggung dengan semua candaan dari bawahannya, karena ia sudah tahu apa yang paling di takuti semuanya. “Kalian—“
“Bas, semua lagu udah semua kamu atur, kan? Tema sore ini harus agak ceria, Yan, ini skripnya. Ayo masuk sana, jangan nunggu Mas Bima nyuruh.” Giliran Jessica yang memotong kalimat Bima.
Ryan hanya tertawa melihat tingkah rekan-rekannya, mereka benar-benar jago bersikap polos seolah tak terjadi apapun di sana. Ia tetap masuk juga ke ruang siaran, karena memang sudah waktunya untuk kembali mengudara. Bima hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan para anak buahnya yang selalu mengesalkan. Kadang, ia memang harus menerima semua ini.
**
Lila sudah kembali, ia terlihat lebih segar dan senyum di wajahnya juga sudah terlihat. Rambutnya yang kemarin panjang, kini sudah di potong bob, menambah kedewasaan di wajah itu. Rehabilitasi tak memakan waktu lama, tergantung perkembangan masalah yang di miliki. Untuk kasus Lila, ia memang berusaha keras agar tak perlu berlama-lama di sana, ia merindukan Ibunya dan juga Ryan.
Bisakah ia masih merindukan Ryan? Sudah satu bulan sejak Lila pergi dan tak ada kabar sama sekali di antara mereka. Lila yang memutuskan seperti itu, jika memang Ryan sudah menemukan penggantinya secepat itu, ia tak keberatan.
Banyak yang sudah terjadi di hidupnya, merelakan beberapa hal terlihat tak masalah untuknya. Sudah banyak perpisahan yang ia lalui, menghadapi perpisahan lain terlihat mudah untuknya. Tapi, akan lebih baik jika tidak ada perpisahan lain lagi.
Lara segera memeluk putrinya yang baru saja memasuki rumah tersebut. Mereka masih akan tinggal bersama dengan Laura dan juga Bobby hingga waktu yang tak bisa di tentukan. “Kamu baik-baik aja, sayang?” tanya Lara. Tangisnya pecah dalam pelukan putri semata wayangnya ini.
Selama satu bulan itu, Lila menolak di jenguk siapapun, bahkan Ibunya sendiri. Ia hanya tak ingin orang-orang terdekatnya mengetahui kelemahan Lila, sejak dulu, tak ada rasa kepercayaan dalam dirinya untuk menunjukkan sisi lemahnya pada orang lain. Kehidupan selalu mengajarkannya untuk kuat, walaupun rasanya ia ingin mati.
“Lila baik-baik aja, Ibu sendiri gimana? Kok kayaknya Ibu kurusan,” ucap Lila. Ia melepas pelukan sang Ibu untuk melihat dengan jelas kondisi sang Ibu.
“Bagaimana Ibu bisa tenang, sementara putri Ibu di sana berjuang sendirian.”
Air mata Lila mengalir juga melihat sang Ibu yang juga menangis. Ia merasa menjadi orang yang sangat egois, karena tak memberikan Ibunya hak untuk memastikan keadaan putrinya baik-baik saja.
“Lila laper, Bu.” Lila segera mengubah topik pembicaraan, yang ia inginkan hanyalah tersenyum bahagia di depan sang Ibu, setelah satu bulan tak bertatap muka.
“Ayo, Ibu juga udah masakin makanan yang enak buat kamu.”
Lara menuntun putrinya menuju ruang makan, ia sudah di beritahu jika Lila akan pulang hari ini. Pusat rehabilitasi itu sendiri letaknya di daerah puncak, dan tak ada yang menjemput Lila, karena lagi-lagi ia ingin melakukan semuanya sendiri. Lila merasa lebih nyaman seperti itu.
“Tante Laura sama Bobby kemana, Bu?”
Rumah besar itu tampak sepi, walau biasanya memang sepi. Tante dan juga keponakan itu juga tak menyambutnya, setidaknya walau hubungan mereka tak baik, cukup berada di rumah itu untuk melihat Lila kembali
saja sudah cukup.
“Mungkin ada di kantor, sebentar lagi mungkin Bobby akan pulang. Katanya ia ingin berbicara denganmu.”
Lila hanya menganggukkan kepala, mata dan juga perut laparnya sudah tertuju pada berbagai makanan yang terhidang dengan nikmat di atas meja. Ia sangat merindukan masakan sang Ibu selama masa rehabilitasi, walaupun bisa di bilang makanan yang di sediakan tak kalah enak, tapi, siapa yang bisa menolak makanan buatan sang Ibu?
“Kapan kita akan kembali ke rumah, Bu?”
“Ibu rasa, tinggal di sini lebih lama tak akan masalah. Ibu sedang mencoba berdamai dengan Laura, bagaimanapun kami juga saudara.”
Lila menatap sang Ibu dengan alis terangkat, itu hal yang bagus, tapi Lila juga merasakan sesuatu yang aneh ketika mendengar sang Ibu mengatakan kalimat itu. “Ada yang terjadi selama Lila gak di sini, Bu?”
Lara menghindari tatapan Lila yang sedikit curiga, seharusnya ia tahu jika putrinya ini sangat peka terhadap permasalahan yang sedang terjadi. Nanti, ia akan menceritakan segalanya.
**
Ini pertama kalinya Lila mendatangi sebuah set pemotretan, semua itu karena ajakan Bobby yang lebih tepat seperti pemaksaan. Setelah makan siang dengan Ibunya tadi, Bobby pulang dan meminta Lila untuk mengikutinya. Lalu, di sinilah ia sekarang. Melihat para kru yang sedang menyiapkan pencahayaan serta peralatan lain untuk pemotretan bekerja, ia juga melihat Bobby yang terlihat sedang mengatur kameranya sendiri.
Lila juga di beritahu jika Kikan akan menjadi modelnya siang ini. Bertemu Kikan setelah pertikaian itu terjadi mungkin akan sangat canggung. Jika Bobby tak menjaganya, maka ia pastikan akan memberitahu publik tentang apa yang sedang mereka lakukan terhadap keluarga Haryo.
Gedung ini adalah gedung yang sama, yang menjadi stasiun radio tempat Ryan bekerja. Terdiri dari sepuluh lantai, dan stasiun radio itu berada di lantai lima, ia jadi merindukan pria itu. Belum ada kalimat juga yang ia siapkan jika bertemu dengan Ryan.
“Aku boleh berkeliling gedung ini? Kau bisa menghubungiku jika sudah selesai,” ucap Lila pada Bobby yang masih saja sibuk dengan kameranya.
Entah apa motif yang Ryan miliki dengan membawa Lila ke set pemotretan Kikan, yang jelas Bobby tak dengan sukarela atau ingin melakukan itu. Ia bisa mengeluarkan artikel tentang keluarga Haryo, bukan tak mungkin jika Bobby bisa melakukan yang lain
“Kau bisa duduk di kursi itu.” Bobby menunjuk kursi yang letaknya di hadapan layar laptop, yang sudah di sambungkan pada kamera Bobby.
“Aku berkeliling, atau aku pulang?”
Bobby menghela nafasnya, seharusnya ia tahu jenis keponakan seperti apa Lila itu. Tapi sebenarnya mereka berdua memiliki sifat yang tak jauh berbeda, mereka hanya tak menyadarinya saja. “Baiklah, lakukan yang kau mau, asal tak menimbulkan masalah. Kabari aku jika ada masalah,” ucap Bobby.
Lila segera bergerak menjauh ketika Bobby sudah mengiyakan, bahkan tak ada kalimat lain yang Lila ucapkan pada Bobby. Momennya sangat tepat ketika Lila keluar dari ruangan itu, ia bertemu dengan Kikan, yang sepertinya akan memasuki ruang pemotretan. Kebetulan yang sangat tiba-tiba, kan? Lila bahkan tak pernah menduga hal seperti ini akan terjadi.
Keduanya berhenti, dan menatap satu sama lain.
“Kau mengenalnya?” tanya Irfan—manajer Kikan.
“Masuklah lebih dulu, aku akan menyusul.”
Pria itu segera berjalan lebih dulu memasuki ruang pemotretan, matanya sedikit awas ketika berpapasan dengan Lila. Ia hanya tak ingin artisnya kembali menghadapi masalah lain, setelah kerugian besar yang mereka alami. Satu masalah saja bisa hampir membuatnya kehilangan pekerjaan, bagaimana jika wanita yang sedang menatap Kikan itu juga memiliki niat buruk?
“Jadi kamu pacar Mas Bobby,” ucap Kikan.
Lila mengerutkan keningnya, pacar Bobby? Ia saja baru pertama kali datang ke set seperti ini, siapa yang menyebarkan gosip seperti itu? Ah, apa mungkin para model di sini menyukai Bobby, lalu itu sebabnya Bobby mengajak Lila kemari? Cukup masuk akal sebenarnya, tapi biasanya pria seperti Bobby itu sangat menyukai perhatian dari segala penjuru. Agak aneh jika Bobby mengajaknya hanya untuk hal kecil seperti itu.
“Terserah apa yang kalian pikirkan saja.” Lila beranjak dari tempatnya berdiri, ia tak ingin memperbesar masalah seperti ini. Toh, orang lain akan tetap pada pendapat mereka sendiri walau kita sudah membenarkan.
“Jangan lakukan hal yang sama pada Joshua, bukankah kau sudah memiliki Ryan? Jangan jadi ****** hanya untuk membalasku.”
Langkah Lila terhenti, benarkah Kikan baru saja mengatakan kalimat itu? Ini pertemuan pertama mereka, bukankah sedikit canggung untuk mengatakan kalimat sekasar itu? Lila membalikkan tubuhnya, ia pikir masalahnya dengan Joshua sudah selesai, tapi sepertinya belum.
“Jika Joshua bisa dengan mudah selingkuh dariku, maka bukan tak mungkin kamu juga akan merasakan apa yang terjadi padaku dulu. Urus saja kekasihmu itu dengan baik, katakan padanya kalau aku benar-benar tak ingin
kembali padanya.”
Setelahnya, Lila segera berlalu, tak mempedulikan lagi bagaimana perubahan raut wajah Kikan yang sudah sangat kaku. Ia sangat tahu apa yang terjadi pada Joshua, dan bagaimana pria itu masih sangat mencintai Lila. Hubungan mereka hanya sebatas bisnis, tanpa ada cinta di dalamnya, menyedihkan sekali hidupnya.
**
Lift yang membawa Lila ke lantai lima berhenti, ia butuh mengumpulkan keberanian yang banyak sebelum akhirnya berakhir di lantai lima ini. Lobi ini masih terlihat sama seperti terakhir kali Lila berkunjung. Lila mendengarkan semua acara radio yang di bawakan oleh Ryan atau yang lebih di kenal dengan DJ Prad ketika rehabilitasi, dan itu mampu untuk menenangkan hatinya yang sangat merindukan pria itu.
“Ryan.”
Panggilan itu masuk ke indera pendengar Lila yang masih berdiri tak jauh dari lift, setelahnya yang ia lihat adalah Ryan yang di peluk oleh seorang gadis. Lila melihat pemandangan itu secara langsung di depan matanya. Apa mungkin wanita yang ada di pelukan Ryan adalah penggantinya? Secepat itu?
Ya, Lila memang pernah mengatakan agar Ryan mencari penggantinya jika ia tak juga kembali. Satu bulan cukup lama untuk menunggu tanpa komunikasi sedikitpun, pria pun pasti merasakan jenuh dalam menunggu. Untuk apa menunggu tanpa kepastian jika bisa mencari yang lain?
Tidak, Lila tak cemburu, mungkin sedikit sakit hati, tapi ia bisa memahami yang sedang terjadi. Toh, Lila juga yang meminta semua itu. Ia baik-baik saja, Ryan pantas mendapatkan semua itu.
Lila segera membalikkan tubuhnya dalam diam menuju lift. Ia baik-baik saja, jika nanti waktunya sudah tepat, ia akan menghubungi Ryan sendiri dan menegaskan hubungan mereka. Perpisahan yang kesekian kali juga tak terdengar buruk, ia hanya perlu mengikhlaskan saja.
Ketika pintu lift hampir menutup, ada tangan yang menahannya, dan pintu lift terbuka lagi. Ryan berdiri di hadapan Lila dengan nafas yang cukup terengah-engah. Lila sangat terkejut dengan kehadiran pria itu yang sangat tiba-tiba, apa pria ini sempat melihatnya tadi?
Tanpa kalimat satupun yang terucap, Ryan memasuki lift itu. Hanya kecanggungan yang mengisi ruang persegi itu, Lila bahkan tak tahu harus mengatakan kalimat apa, semuanya menghilang, jantungnya juga berdetak sangat keras. Lila menatap angka yang menunjukkan lantai dari seluruh gedung ini, ia menekan angka dua secara impulsif.
“A—Aku bersama dengan temanku,” ucap Lila gugup.
Masih belum ada ucapan yang keluar dari mulut Ryan, membuat Lila semakin gugup di tempatnya berdiri. Sebelum Lila sempat sadar, Ryan segera menekan tombol di hadapannya, lalu seketika lift berhenti.
Lila terkesiap dengan guncangan kecil yang di hasilkan lift itu ketika berhenti, mereka belum sampai pada lantai tujuan mereka. Belum habis rasa terkejut Lila, Ryan dengan tiba-tiba membawa wanita itu ke dalam pelukannya. Lila bahkan tak bisa menolak ataupun mengatakan kalimat satupun karena pelukan itu yang sangat erat.
“R—Ryan…,”
“Biarkan seperti ini dulu, sebentar saja.”
Tubuh Lila mulai nyaman di pelukan pria itu, ia juga membalas pelukan yang sangat erat itu. Ia juga merindukan pelukan hangat ini. “Aku juga merindukanmu, Ryan.”
**
**Oh, ya, harusnya Lila sama Bobby itu sepupuan ya. aku salah nulis jadi keponakan, maklumin semua typo yang ada ya :) **