Trapped in You

Trapped in You
Episode 32



Selalu ada alasan di balik setiap tindakan yang kita lakukan, buruk maupun baik. Semua itu beralasan, hanya kadang kita tak selalu menemukan alasan itu secara gamblang. Itu juga yang terjadi pada Dewi—Ibu Ryan.


Pernikahan Dewi dan Wijaya—Ayah Ryan—adalah hasil dari perjodohan kedua orang tua. Mereka juga menikah di usia muda. Keduanya tak saling mencintai, tapi selalu berusaha untuk membuat pernikahan itu berjalan dengan lancar sampai cinta itu datang menghampiri mereka.


Karena usia yang masih muda dan Wijaya baru mulai meniti kariernya, ia belum menginginkan kehadiran anak. Sama seperti Dewi yang juga belum siap untuk hamil, karena ia juga baru memulai pekerjaannya. Kedua orang


tua mereka termasuk dalam keluarga yang berkecukupan, tanpa bekerja pun Dewi masih bisa membiayai kebutuhannya. Tapi, ia tetap bersikeras untuk bekerja.


Sampai di usia pernikahan mereka yang pertama, Dewi di nyatakan hamil. Wijaya sangat menyayangkan hal itu, karena ia baru saja akan mencapai puncak karier di perusahaannya. Pada akhirnya hubungan mereka mulai


renggang karena kehamilan itu. Dewi yang kecewa pada Wijaya karena bersikap seperti itu, tetap mempertahankan kehamilan itu. Ia tak mungkin membunuh calon bayi yang tak berdosa itu begitu saja hanya karena mereka belum


menginginkannya.


Bahkan hingga anak itu lahir, Wijaya tetap menolak kehadiran anak itu. Lalu di mulailah perang dingin di antara keduanya yang mengorbankan anak mereka—Ryan. Tak ada kasih sayang yang cukup untuk Ryan, keduanya sibuk dengan pekerjaan dan meninggalkan Ryan hanya bersama pengasuh.


Mereka membuat Ryan seolah tak terlihat di mata mereka. Mungkin jika ada penghargaan untuk orang tua terburuk, merekalah pemenang pastinya. Bahkan sampai keduanya bercerai, tak ada satupun dari mereka yang berniat membawa Ryan bersama mereka. Ryan tumbuh menjadi anak yang dingin dan penyendiri, ia tak mempercayai orang lain, lalu menciptakan dunianya sendiri.


Lalu ketika kini Ibunya datang lagi pada Ryan, rasanya tak salah jika Ryan hanya mengacuhkannya. Bahkan Ryan memiliki adik tiri yang sangat di sayangi oleh sang Ibu, lalu kenapa Dewi masih menemui Ryan. Kenapa Ibunya sangat serakah ingin memiliki kedua anak sementara di masa lalu sang Ibu justru menelantarkan anak tersebut?


“Kayaknya aku udah sering bilang buat gak usah nemuin aku lagi,” ucap Ryan dingin.


Dewi kembali ingin bertemu dengan Ryan. Alasan sebenarnya adalah ia sangat merindukan Ryan, walaupun putranya itu selalu menanggapi dengan dingin setiap kalimat yang di lontarkan oleh Dewi. Tapi, ia tak bisa mengatakan itu. Dosanya terlalu banyak pada sang putra, dan ia tak bisa untuk selalu melihat wajah yang dulu selalu di abaikan ini.


“Mama cuman mau ucapin terima kasih atas semua bantuan kamu. Ari juga suka sama kamu, dia seneng punya Kakak.”


Ryan membuang wajahnya ke arah lain. Ia bahkan tak bisa bersikap sedikit kejam kepada wanita yang sudah membuangnya. Ia membenci Ibunya, tapi di sudut hatinya yang terdalam ia juga ingin seperti Ari yang selalu mendapat kasih sayang dari sang Ibu.


“Apa memiliki Ari lebih berharga di banding aku dulu?”


Banyak pertanyaan yang ingin di tanyakan Ryan, tapi tak pernah tersampaikan karena Ryan sudah terlanjur memantapkan diri untuk membenci Dewi. Walaupun sangat terlambat, Ryan juga sangat ingin merasakan kasih sayang seorang Ibu.


Dewi menangkap rasa tersakiti di wajah Ryan. Tentu saja Dewi tahu. Bukan sengaja ia melakukan itu pada Ryan. Walaupun dulu ia belum mencintai Wijaya, tapi rasa sayang pada Ryan sudah muncul ketika pertama kali Dewi tahu tentang kehamilannya. Itulah kenapa ia memilih mempertahankan jabang bayi itu di banding mengaborsinya.


Tapi, penolakan dan juga kekecewaan Wijaya membuat Dewi mundur teratur dan mengabaikan Ryan kecil. Ia sangat menyayangi putranya itu, tapi tak ada yang tahu tentang hal ini. Mereka sudah menganggap Dewi sebagai Ibu yang gagal karena menelantarkan Ryan.


“Kalian sangat berharga buat Mama, dan Mama senang kamu tumbuh dengan baik,” ucap Dewi.


“Ah, gitu. Jadi selama dua puluh tahun lebih ini adalah bentuk kasih sayang darimu.” Ryan menganggukkan kepalanya. Siapa yang tahu kalau meninggalkan juga bagian dari kasih sayang.


“Ryan, Mama tahu kalau Mama bersalah—“


“Kalau gitu jangan pernah temui aku lagi. Menurutmu dengan menemuiku bisa menebus semua kesalahan selama tiga puluh tahun ini?” potong Ryan.


Dewi diam. Ryan benar, tak ada yang mampu ia perbuat untuk menebus kesalahannya selama tiga puluh tahun ini. Ia sudah menjadi Ibu yang buruk, bahkan kesalahannya sangat tak termaafkan. Lancing sekali ia menginginkan Ryan kembali padanya. Yang lebih buruk, Ryan menolak memanggil dirinya Mama.


“Mama minta maaf. Mama bisa ngelakuin apapun untu menebus kesalahan Mama…,”


“Tentang apalagi ini? Apa kalian jatuh miskin? Harta warisan pria itu sudah habis?”


Pria yang di nikahi Dewi setelah bercerai ternyata diam-diam menipunya dan hampir membuat Dewi jatuh miskin jika saja Ryan tak membantunya kala itu. Semakin bertambah pula rasa bersalahnya pada Ryan. Padahal pria itu sangat di cintai oleh Dewi, dan mereka sudah bersama sebelum Dewi di jodohkan dengan Wijaya.


Sekarang, Ryan selalu berpikir kalau Dewi menemuinya karena ia kekurangan uang. Wajar saja jika Ryan berpikir seperti itu, karena Dewi tak pernah menjelaskan semuanya.


“Mama pasti akan menjelaskan semuanya pada kamu, Nak. Mama akan jelasin semuanya.”


“Semua udah jelas, gak perlu ngelakuin itu. Tolong, jangan pernah temui aku lagi,” ucap Ryan. Setelah itu ia kembali meninggalkan Dewi seorang diri.


Rasa kecewanya belum hilang begitu saja, jadi ia tak bisa—belum—untuk memperbaiki hubungan ini.


**


Suasana makan malam antara Lila dan Ryan sangat canggung malam itu. Keduanya seperti tenggelam dalam pikirannya masing-masing, hal yang sangat tak biasa sepanjang hubungan mereka yang masih baru.


Ryan masih tenggelam dalam pikiran tentang Ibunya yang baru saja ia temui. Entah kenapa walaupun sudah bertemu dengan Lila, pikiran itu justru semakin intens datang di kepalanya. Pertikaian batin itu sudah sejak dulu ada di dirinya, dan selama itu ia bisa menangani hal itu dengan baik, kali ini ia harusnya juga bisa menangani hal itu dengan baik. Ada Lila di hadapannya, sumber kebahagiaan dan juga semangatnya.


Lila juga tak jauh berbeda, pikirannya masih melayang mengulang percakapan dengan Ibunya tadi malam. Percakapan yang tak pernah Lila mengerti sampai sekarang, lebih tepatnya Lila tak ingin mengerti hal itu.


“Laura, Ibu gak tahu apa yang ada di pikirannya sampai bisa benci sama Haryo sampai ia menyimpan dendam selama ini. Dia selama ini mengamati kita padahal dia juga yang membenci Ibu dulu,” ucap Lara malam itu.


Kenyataan kalau ia selama ini memiliki Bibi dan juga sepupu sudah cukup mengejutkan, di tambah dengan kenyataan baru kalau Laura dan Bobby ingin membalas dendam pada Haryo dan Lila. Entah mana yang lebih buruk, Lila dan Ibunya tak pernah ingin masuk ke dalam masalah itu lagi. Susah payah mereka keluar dari kondisi itu, keduanya tak ingin mengulang hal yang sama.


“Jangan khawatirkan apapun, sayang. Kali ini Ibu yang akan urus semuanya.”


“Apa kita gak bisa buat berhenti terlibat, Bu? Lila gak mau liat Ibu kepikiran kayak gitu lagi.”


Lara tersenyum. Anak gadisnya tumbuh menjadi orang yang selalu mementingkan orang lain terlebih dulu di bandingkan dirinya sendiri. Terkadang hal itu membuat Lara bangga, tapi terkadang membuat Lara khawatir juga. Ia hanya ingin Lila fokus pada kebahagiaan diri sendiri tanpa perlu mengkhawatirkan orang lain.


“Ibu pastiin mereka gak bakal ganggu keluarga kita lagi, ya?”


Tugas seorang Ibu adalah menjaga anaknya dari kejamnya dunia yang tak pernah berhenti ini. Sampai sekarang pun, Lara selalu memastikan kalau tak ada yang akan menyakiti Lila lagi. Anak gadis satu-satunya ini terlalu berharga untuk di sakiti oleh siapapun, bahkan oleh keluarganya sekalipun. Dulu Lara belum berhasil menjadi Ibu yang baik untuk Lila kecil, tapi sekarang ia pastikan untuk melindungi anaknya dari apapun.


“Gimana kerjaan kamu?” tanya Ryan.


Lila mendongak, pikiran singkatnya langsung buyar mendengar pertanyaan Ryan. Ia bahkan sempat lupa sejenak kalau sedang makan malam bersama Ryan. Ia ingin menceritakan hal ini pada Ryan, tapi kalimat itu tak pernah terucap dari mulut Lila, seperti ada tali besar yang menahannya untuk tak mengatakan apapun pada Ryan.


Mbak Alya bahkan sudah menyarankan Lila untuk menceritakan semua perasaannya pada teman terdekatnya agar kisahnya tak terpendam sendirian dan ia bisa mendapat dukungan dari orang sekitarnya. Tapi, Lila tak bisa—belum—ia masih butuh banyak waktu, dan ini bukan hal yang mudah.


“Gak baik, kamu tahulah, klien mulai banyak dan proyek mulai bertebaran dimana-mana. Aku pengen banget rasanya berhenti kerja,” ucap Lila. Ia menghela napas sebagai bentuk kelelahannya. Lelah oleh pikirannya sendiri, bukan karena pekerjaan.


Ryan memaksakan senyumnya, bahkan Lila bisa merasakan hal itu. Ada yang berbeda dari mereka malam ini. Suasana ini sangat berbeda jauh dari kemarin ketika mereka masih tertawa dengan lepas seolah tanpa beban.


“Kamu sendiri gimana?” tanya Lila.


“Kayaknya kita emang jodoh, ya? Aku juga harus ngisi siaran dari program baru, dan itu cukup padet banget.”


Ryan juga sama, ia tak bisa menceritakan yang sedang di rasakannya walau ingin. Untuknya semua hal tentang sang Ibu adalah hal yang tak perlu di ceritakan. Tak ada satupun temannya yang mengetahui tentang keadaan keluarga Ryan, mungkin mereka semua tak tertarik, dan itu kadang membuat Ryan lega.


Untuk Lila, ia ingin menceritakan semuanya pada Lila, hanya saja ia terlalu takut. Apa hubungan mereka tetap akan sama jika Ryan sudah menceritakan masa lalunya? Bagaimana jika Lila justru memilih pergi setelah tahu semuanya?


Semua pikiran itu sangat mengganggunya, jadi ia memilih untuk bungkam. Toh, selama ini ia sudah terbiasa untuk tak membagi kisahnya. Tapi Ryan mencintai Lila, harusnya ia menceritakan semua hal pada Lila, kan, tanpa harus menutupi hal yang tak perlu?


Tapi, bagaimana jika Ryan belum siap? Apa ia harus memaksakan saja?


Tidak. Biar saja seperti ini, ia sudah tak memiliki siapapun saat ini, hanya Lila yang ada di sampingnya. “Mungkin ketenaran kamu udah melebihi artis, jadi kamu selalu di pilih. Pendengar kamu pasti kebanyakan masih remaja,” ucap Lila dengan senyum geli di wajahnya.


Ryan ikut tertawa mendengar ucapan Lila. “Kamu cemburu?”


“Iya, aku cemburu banget.” Lila mengerucutkan bibirnya dengan imut—dalam versinya—untuk mencairkan suasana canggung di antara mereka.


Ryan kembali tertawa melihat wajah Lila yang sangat di paksakan untuk imut itu. Bayangkan wajah yang selalu dingin tiba-tiba berekspresi dengan imut, tapi justru terlihat sangat di paksakan. Ryan membelai rambut Lila, yang ia butuhkan hanya Lila di sampingnya untuk membuat harinya lebih berwarna. Lain kali, ia akan menceritakan semuanya pada Lila.


**


Menjadi di kenal banyak orang memiliki dampak yang baik dan juga buruk, karena tak semua orang akan menyukai kita. Sama seperti Kikan yang sudah memiliki cukup banyak pembenci bahkan ketika Kikan baru saja memulai kariernya sebagai model. Itu resikonya, selama tak berdampak terlalu buruk untuk kariernya.


Kali ini Kikan kembali menjalani pemotretan sebuah majalah, dan Bobby kembali menjadi sang fotografer. Selain Kikan, Bobby juga memiliki banyak penggemar di kalangan para model yang pernah di potret olehnya. Walaupun Bobby sudah memiliki istri—dan itu bohong—tapi para gadis-gadis muda itu tak henti-hentinya menggoda Bobby secara tak langsung.


Jika sudah seperti itu, Bobby hanya bisa tersenyum tanpa bisa memberi ekspresi lain. Itulah kenapa ia mengatakan kalau sudah memiliki istri. Bagaimana jadinya jika ia mengaku lajang, dan para model itu semakin menggila dan dengan terang-terangan semakin menggoda Bobby, hal yang sangat di benci olehnya.


Pemotretan kali ini akan membahas tentang Kikan serta kariernya yang belakangan ini sangat melejit, dan ada beberapa junior Kikan yang akan bergabung dalam pemotretan itu sebagai bentuk awal Kikan untuk mengenalkan mereka kepada publik. Agensi Kikan tak ingin hanya wanita itu yang menghasilkan uang untuk perusahaannya. Jika bisa mendapatkan penghasilan lebih banyak dari juniornya melalui promosi Kikan, kenapa tidak? Bukankah saling


menguntungkan?


Sesi pemotretan solo Kikan sudah selesai, sesi selanjutnya Kikan akan di pasangkan dengan tiga orang juniornya. Kikan berjalan keluar meninggalkan set pemotretan untuk beristirahat sejenak dan mengganti kostum. Di perjalanan menuju ruang gantinya, Kikan bisa mendengar bisik-bisik dari kru majalah ketika Kikan melewati mereka.


Tak ada yang aneh dan Kikan juga mengabaikan hal itu, tapi semakin lama bisikan itu semakin jelas terdengar di telinganya. Bahkan ketika ia sampai di ruang tunggunya, beberapa wanita yang juga penata rias dan penata busana terlihat berkerumun sembari fokus pada ponsel yang di pegang oleh salah satu dari mereka.


“Ini beneran? Ya anpun gak nyangka banget, tapi dari mukanya udah keliatan kok, songongnya,” ucap salah satu wanita.


“Iya, ya? Ya ampun.”


Ketika Kikan masuk, kerumunan kecil itu langsung terkejut dan membubarkan diri untuk mencari kesibukan. Kikan yang penasaran dengan apa yang terjadi, langsung membuka ponselnya. Sedetik setelah ia melakukan hal itu, ponsel yang ia pegang langsung jatuh ke lantai yang menampilkan berita utama dari situs terkenal.


Masa Lalu Kikan Haditama Terkuak! Dulunya Seorang Pembully?


**


Ceritain dong, gimana kesan kalian setelah baca part ini^^