
Saham perusahaan milik Haryo dan juga agensi yang menaungi Kikan turun karena berita yang sudah terlanjur menyebar itu. Beberapa kontrak iklan serta majalah bahkan sudah di batalkan karena tak ingin terkena imbasnya.
Kikan sudah dua hari ini mengurung dirinya di rumah. Ia sangat tak menyangka kalau berita ini akan muncul, karena hanya Lila dan juga Joshua yang mengetahui hal itu.
Kikan tahu kalau musuhnya banyak, dari kalangan model atau bahkan penggemar. Itu sudah menjadi rahasia umum. Ia tak ingin berprasangka buruk, tapi sejak pertama kali membaca berita itu, hanya Lila yang terpikir di otaknya. Saudara tirinya itu memiliki banyak alasan untuk menyebarkan berita ini.
Tapi, rasanya sangat tak mungkin kalau Lila mampu melakukan hal itu, dia bukan wanita seperti itu. Tapi, karena semua hal itu juga semuanya menjadi jelas. Karena Joshua tak mungkin melakukan hal yang juga akan berimbas pada perusahaannya, itu sama saja seperti bunuh diri.
Orang yang terlihat tak memiliki motif adalah yang paling mungkin memilikinya. Mereka terlalu handal melakukannya hingga korban tak mampu melihat hal itu. Sekarang ini yang terpenting bukanlah seberapa banyak iklan serta kontrak yang di batalkan, tapi reaksi masyarakat sendiri yang sangat tak terima dengan hal itu.
“Kikan, kamu harus konfirmasi masalah ini sebelum jadi besar. Kamu tahu, Pak Wisnu marah besar sama masalah ini.”
Itu Irfan, Manajer Kikan yang sudah merawat dan mengatur semua jadwal Kikan sejak ia pertama bergabung di agensi. Sudah dua hari juga Irfan selalu datang ke rumah Kikan hanya untuk menangani masalah ini. Kikan menolak datang ke perusahaan, bahkan menolak berbicara pada Pak Wisnu, Direktur agensi Kikan.
“Wartawan bahkan gak pernah absen datang ke kantor cuman buat minta konfirmasi dari kamu. Kamu mau ini jadi semakin besar? Karier kamu di pertaruhkan di sini,” lanjut Irfan.
Kikan tahu hal itu, dari semua orang, hanya dirinya sendiri yang peduli pada karier yang sudah ia bangun susah payah ini. Lalu ketika ia di jatuhkan seperti sekarang, apa ia akan diam saja? Walaupun ia memang melakukan itu, ia sudah mengakui kesalahannya pada Lila dan meminta maaf.
“Besok, Mas. Adain konferensi pers besok, aku akan jelasin semuanya besok.”
Irfan masih menatap Kikan tak percaya. Ia tahu apa saja yang sudah Kikan alami untuk berdiri di tempatnya sekarang. Dari luar ia memang terlihat dingin dan arogan, tapi ada emosi lain yang di sembunyikan di balik sifat dingin.
“Setidaknya kamu harus omongin ini sama Pak Wisnu dulu. Kita semua juga gak mau kalau kamu di rugikan hanya karena masalah ini.
“Aku tahu apa yang harus aku lakuin, Mas. Aku juga gak akan bunuh karier aku segampang ini. Minta Pak Wisnu untuk adain konferensi pers besok, aku janji gak akan ada hal buruk yang terjadi.”
Irfan menghela nafasnya. Dari semua model yang ada di agensi, Kikan lah yang paling sulit. Yang lainnya akan berlindung di bawah perusahaan dan akan menuruti semua instruksi yang di berikan. Sedangkan Kikan, dia hanya melakukan sesuatu yang menurutnya benar dan tak pernah memedulikan pendapat orang lain jika itu tak sesuai untuknya.
Di saat seperti ini akan sangat merepotkan, tapi untuk beberapa hal, itu sesuatu yang sangat menguntungkan. Karena itu, jika masalah ini justru akan mengubur karier Kikan, bukankah lebih baik untuk membuang jauh-jauh masalah ini agar karier Kikan kembali berjalan dengan mulus.
**
Lila sudah mendengar berita tentang Kikan, berita itu ada di mana-mana, jadi sangat tak mungkin jika Lila tak tahu. Dan ia juga sangat tahu siapa yang menjadi korban dalam berita yang di sebutkan. Walaupun hanya nama samaran, Lila tahu kalau itu dirinya. Apa ini yang di maksud oleh Bobby tempo hari kemarin?
Jika ya, maka Bobby sangat berhasil. Berita itu sangat mengemparkan dan komentar yang ada di komunitas internet juga cukup kejam. Lila menaruh minatnya pada berita itu, karena ia adalah korban dari peristiwa itu, dan entahlah. Jika Lila mengatakan kalau ia khawatir pada Kikan, apa itu terlihat aneh?
Ponsel Lila berbunyi, ia tengah berada di mobil yang sedang macet dalam perjalanan pulang kerjanya. Nomor asing lagi. Sepertinya mulai banyak nomor-nomor tak di kenal yang menghubunginya.
“Halo.”
“Ini aku, Kikan. Aku mau ketemu kamu malam ini, alamat restoran udah aku kirim ke hape kamu.”
Hanya itu saja, dan sambungan langsung terputus. Lila mengecek ponselnya dan memang sudah ada alamat lengkap sebuah restoran yang di kirim ke ponselnya. Cara Kikan menghubunginya benar-benar sangat dingin. Ya, mereka juga tak memiliki hubungan akrab seperti seharusnya, tapi panggilan tadi benar-benar dingin.
Lila sampai restoran yang di maksud Kikan satu jam kemudian. Jakarta dan kemacetannya benar-benar luar biasa. Lila selalu mengalaminya, tapi tetap saja ia masih belum terbiasa. Restoran yang di maksud Kikan ini adalah restoran bintang lima yang sangat mewah, Lila sudah bisa menebak berapa harga makanan yang ada di dalam sana. Yang pasti, walaupun Lila memiliki uang lebih banyak, ia takkan menghabiskannya hanya di restoran ini.
Ketika Lila mengatakan pada pelayan tentang reservasinya, Lila langsung di antar ke sebuah ruangan yang di dalamnya juga terdapat meja dan kursi. Mungkin ini ruang VIP atau sejenisnya. Sudah ada Kikan di dalam sana
yang duduk menunggu.
Jika ini tentang pertemuan Kikan dan Lila, suasana cenderung canggung. Baik mereka bertemu secara kebetulan atau sengaja. Mereka tak pernah bisa akrab walaupun gencatan senjata sudah di lakukan.
“Ada apa?” tanya Lila. Tak perlu berbasa-basi karena mereka sangat tahu kalau itu memang tak di perlukan.
“Kamu yang nyebarin gosip itu?”
Lila menatap Kikan tak mengerti. Gosip? Apa ini tentang berita yang baru-baru ini menjadi perbincangan hangat?
“Kamu nuduh aku?”
“Cuman kamu yang tahu cerita ini, dan kamu punya alasan kuat untuk ngebongkar masalah ini.”
Mereka bertatapan satu sama lain. Yang satu merasa tertuduh, dan yang satu tak ingin mengalah dengan tuduhannya. “Kamu pikir aku serendah itu? Walaupun aku punya alasan kuat, aku gak akan ngelakuin hal murahan kayak gitu.”
“Siapa yang tahu? Motif kamu lebih mampu buat ngelakuin semua itu. Aku juga tahu kalau kamu selama ini punya masalah mental, dari semua hal kamu yang paling mampu ngelakuin semua itu.” Kikan mengangkat bahunya tak acuh. Senyum miring yang ia tampilkan juga semakin menambah aura negatif untuk menekan Lila.
Lila menatap Kikan dingin. Setelah Bobby, kali ini Kikan. Kenapa mereka semua dapat dengan mudah melanggar privasi seseorang dengan begitu mudahnya? Mengetahui kalau ada orang asing yang mengetahui kelemahanmu hanyalah menambah beban. Sekuat mungkin Lila merahasiakannya dari orang lain, bahkan Ryan sendiri. Tapi orang asing yang tak Lila kenal dengan baik mampu mendapatkan rahasia itu.
“Lalu kenapa kalau memang aku? Apa kariermu setelah ini akan jatuh? Apa perusahaan Ayahmu akan bangkrut?” tanya Lila dingin.
“Dan kamu berharap aku mau? Aku lebih suka ngeliat kehancuran kalian. Ini yang udah aku tunggu-tunggu dari tujuh tahun yang lalu, waktu aku tahu kalau kamu anak dari pria itu.”
Kikan diam. Ia ingin bertemu Lila tanpa rencana, dan tuduhan palsu, Kikan tahu itu. Tapi, ia juga tak memiliki pilihan lain ketika berita ini sudah menyebar luas. Ia ingin melakukan konferensi pers dengan Lila sebagai saksi alih-alih korban. Kikan masih ingin melanjutkan karier modelnya, tanpa ini, tak ada yang mengakuinya.
“Ini bahkan gak seberapa di banding sakit yang aku dan Ibuku dapet dari Ayahmu. Aku gak akan peduli sama apa yang akan terjadi sama kamu.”
Oke, Kikan memang tahu kalau ini tak akan berjalan seperti yang seharusnya. Alih-alih meminta dengan baik, ia justru menyakiti Lila. Bukan seperti Kikan mulai peduli pada Lila, ia hanya putus asa.
Keduanya diam. Awalnya Lila pikir ini akan menjadi awal yang baik untuk keduanya mulai berdamai. Tapi ternyata Lila salah, Kikan tetaplah Kikan. Wanita ini sejak kuliah memiliki perangai yang tak akan berubah menjadi baik dengan sendirinya. Lila agak menyesali keputusannya datang menemui Kikan.
“Aku pikir gak ada yang perlu di bicarain lagi. Aku permisi.”
Lila langsung beranjak dari duduknya dan meninggalkan Kikan begitu saja. Emosinya sudah muncul sejak Kikan menyebutkan tentang penyakit mental yang ia miliki. Ia juga tak ingin seperti ini, ini seperti kelemahan yang bisa dengan mudah di lihat orang lain, lalu mereka manfaatkan dengan tak tahu malunya. Lila juga tak ingin seperti ini jika bisa memilih.
**
Apa yang hebat dari sebuah unggahan di media sosial? Menyebar dengan cepat, dengan sekejap sudah mendapatkan perhatian orang banyak, dan orang-orang juga mudah penasaran. Setidaknya itulah yang terjadi jika
unggahan itu sendiri memang sangat fenomenal dan ada kisah di balik unggahan itu, baik itu di buat sendiri atau memang terjadi secara nyata.
Tentang Kikan, berita itu sudah menjadi sorotan banyak orang, dan para pengguna media sosial mulai penasaran dengan siapa yang menjadi korban dari perbuatan Kikan. Walau Kikan sendiri belum menyatakan kalau itu memang perbuatannya, itulah kejamnya sosial media, menyebar secepat angina.
Karena hal itu, ponsel Lila sedari tadi berbunyi. Ia tak tahu apa yang terjadi, sejak kepulangannya dari restoran, Lila mengunci dirinya di kamar dan membiarkan ponsel itu tergeletak begitu saja di ranjang.
Untuk kesekian kalinya, Lila kembali merasakan ketidakamanan. Seperti kisah masa lalu yang berusaha keras Lila lupakan dari kepalanya muncul lagi, lalu dengan kejamnya kisah masa lalu itu di paksa masuk lagi ke dalam pikirannya. Kepalanya benar-benar pening memikirkan apa yang sedang terjadi.
Pintu apartemen juga sudah berkali-kali di gedor sedari tadi, tapi Lila bergeming. Siapa yang tahu ketika Lila membuka pintu itu, ada hal besar lain yang sedang menunggunya. Lila tak ingin tahu apa, ia hanya perlu menyembunyikan dirinya di kamar ini.
Pagi tadi, Lila masih bisa merasakan tawa dan juga canda dari rekan kerjanya. Saat ini, perasaan itu seketika hilang dan di gantikan dengan sesuatu yang semakin mencekik lehernya. Ia benci ketika merasakan ini, peperangan batinnya lebih menyesakkan di banding apapun.
Dengan tangan bergetar, Lila meraih ponselnya yang sedari tadi berdering. Begitu banyak pesan yang masuk ke ponselnya, tapi Lila juga melewatkan hal itu. Ia mencari kontak di ponselnya lalu menempelkan benda pipih itu ke telinganya.
“Bu, Lila takut.”
Air mata mengalir deras ke pipi Lila. Tak ada orang lain yang mampu Lila hubungi, ia tak butuh menghubungi mereka semua. Ia hanya butuh Ibunya saat ini. Satu-satunya keluarga yang ia miliki dan percayai.
**
Konferensi pers yang Kikan paksa adakan sepertinya berjalan lancar. Wartawan dan juga orang-orang yang hadir ataupun yang menyaksikan siaran itu melalui televisi masih tetap mempertanyakan kebenarannya, karena Kikan hanya meminta maaf atas apa yang terjadi dan menolak memberi komentar tentang berita yang ada.
Lila menyaksikan itu, bagaimana Kikan berbicara di depan umum seolah tak terjadi apapun, dan bagaimana wanita itu berubah menjadi sosok korban di hadapan banyak orang. Itu hal biasa yang di lakukan orang-orang seperti Kikan, kan? Lila juga tak ingin terlibat lebih jauh. Kejadian tadi malam ketika Kikan membahas tentang penyakitnya sudah cukup membuat Lila menjadi lemah.
Ini adalah kenyataannya. Lila memang selalu terlihat kuat di hadapan banyak orang, tapi secara perlahan ia semakin lemah karena pertempuran batin di dalam dirinya. Itu yang terjadi ketika ia memikirkan semua hal bersamaan lalu mulai ketakutan sendiri dengan kenyataan yang tercipta di otak kita.
“Jangan di tonton lagi, Lila,” ucap Lara. Ia baru saja menyelesaikan masakan buatannya untuk Lila.
Setelah telepon Lila tadi malam, Lara sama sekali tak memikirkan hal lain selain keselamatan anaknya. Terakhir kali Lara melihat pemandangan seperti tadi malam adalah sewaktu mereka berada di Singapor. Tapi, tadi malam Lila benar-benar terlihat hancur.
“Itu alasan Lila benci sama Kikan, Lila udah coba buat mulai maafin Kikan, tapi kejadian itu gak pernah lepas dari kepala Lila, Bu.”
Lara memeluk Lila yang benar-benar rapuh. Jika saja ada obat yang mampu menyembuhkan semua kesakitan Lila, maka Lara akan melakukan apapun untuk menyembuhkan anak gadisnya. Selalu menyakitkan ketika melihat buah
hatimu menderita seperti ini. Bukan keinginannya, bukan juga keinginan Lila, semua hal terjadi begitu saja.
“Jangan pikirin apapun, jangan siksa diri kamu lagi. Buat diri kamu sendiri bahagia, sayang, cuma itu permintaan Ibu.”
Lila balas memeluk Ibunya dengan erat. Ini seperti satu-satunya kekuatan yang Lila miliki. Bahkan Ryan yang sejak kemarin mampu membuatnya bahagia, seolah hilang dari pikirannya. Ia sudah memikirkannya, dan kembali meninggalkan Ryan adalah pilihan terbaiknya.
Masalah tak akan selesai, jadi kali ini Lila akan menyelesaikan dengan caranya sendiri. Bersikap pengecut sesekali bukan kejahatan.
“Bu, Lila mau rehabilitasi. Lila gak bisa kayak gini terus, dan Lila butuh benar-benar sembuh.”
Lara seperti sudah melakukan kesalahan besar dalam hidupnya. Kenangan pahit yang ia miliki juga turut andil dalam tingkat stres yang Lila alami. “Kalau itu bisa buat kamu lebih baik, Ibu akan dukung kamu. Selalu.”
**
Jadi aku mau jelasin dikit ya. Disini sifat Lila sama Ryan memang agak plin plan, jadi kalo selama kalian baca cerita bosen, karena sifat mereka yang gak konsist, kalian lewatin aja. itu bagian dari story line novel ini, jadi memang kesannya ceritanya ngabisin banyak waktu karena alur yang lambat.