
Pagi itu Lila sudah siap dengan setelan kantornya untuk berangkat kerja, dan ada yang berbeda pagi ini. Lila membuat kotak bekal yang berisi nasi goreng, nugget, serta sosis yang ia buat sedemikian rupa. Ini bukan pertama kalinya ia memasak, sejak kepindahannya satu tahun lalu ia juga sering memasak, tapi Lila memang lebih sering makan di luar, ia tak serajin itu untuk berkutat di dapur. Tapi, rasa masakannya masih bisa di nikmati, dan Ryan
adalah orang pertama yang mencicipi masakan Lila.
Hubungannya semakin berkembang dengan Ryan, dan pagi ini mereka akan berangkat bersama. Lupakan jarak tempat kerja mereka yang sangat berlawanan, Ryan bahkan bisa menaklukan samudera untuk Lila. Sedikit
berlebihan, tapi anggap saja seperti itu sebagai ungkapan betapa besarnya cinta yang di miliki Ryan untuk Lila.
Lila mendengar pintu apartemennya yang terketuk. Itu pastilah Ryan. Dengan langkah riang dan wajah yang tersenyum, Lila berjalan menuju pintu tanpa melihat interkom yang ada di sana.
Senyuman itu pudar ketika mendapati bukan Ryan yang berdiri di sana, tapi Joshua. Pria itu tersenyum manis di hadapan Lila, ia juga sudah rapi dengan setelan jasnya. Joshua tak kalah tampan dari Ryan, tapi bukan itu masalahnya.
“Kenapa kamu ada di sini?” tanya Lila dingin. Sepertinya ia tak bisa untuk beramah tamah pada mantan kekasihnya ini. Mereka sudah berakhir sejak lama.
“Ah, kebetulan rekan kerjaku tinggal di apartemen ini juga, dan aku ngelewatin apartemen kamu…,” jawab Joshua dengan gugup. Kalimatnya menggantung begitu saja karena kegugupannya yang tiba-tiba melanda.
Lila memandang Joshua dingin dan penuh selidik. Alasan itu sama sekali tak masuk akal, dan Lila juga tak pernah memberitahu Joshua tentang letak apartemennya. Dan apa mereka perlu saling bertegur sapa setelah hubungan mereka berakhir dengan tidak baik?
“Kamu mata-matain aku?”
Ini hal benar yang bisa Lila lakukan. Ia tak ingin kejadian seperti ini kembali membuatnya mendapat musuh seperti tujuh tahun lalu. Siapa yang tahu kalau tiba-tiba Kikan akan mengetahui pertemuan ini.
“Aku pikir aku harus nyapa kamu. Pertemuan pertama kita gak terlalu kondusif dan aku memang mau ketemu kamu.”
Joshua dan Lila bertatapan satu sama lain. Apa Joshua masih mengharapkan Lila? Kalau dia memang menyesali kenapa harus seperti ini? Itu hanya akan membuat Lila takut. Lila sendiri sama sekali tak memiliki perasaan apapun pada Joshua. Ia bahkan sudah lupa pernah memiliki mantan kekasih bernama Joshua.
“Aku pikir gak perlu. Kita bukan orang yang bisa saling menyapa, kamu gak harus ngelakuin ini.”
Masih pukul tujuh pagi, dan Lila tak ingin menimbulkan drama di depan apartemennya. Tapi, pria ini seolah sangat menginginkan drama. Joshua bisa menemui Lila di kantornya ketika jam makan siang, kenapa harus sepagi ini sudah berada di depan pintu apartemen Lila?
“Aku…Aku masih suka sama kamu,” ucap Joshua lirih.
Oke, itu bukan hal yang bisa Lila prediksi. Berada di apartemen Lila sepagi ini saja sudah sangat aneh, lalu di tambah dengan pengakuan itu, apa Joshua pikir Lila adalah orang yang sangat mudah?
“Lila!”
Panggilan itu mengalihkan perhatian kedua sejoli yang bersitegang di depan apartemen Lila. Bibir Lila langsung otomatis melengkung melihat si pemanggil. Ryan. Pria itu sangat tampan hanya dengan kemeja dan juga celana kain berwarna hitam. Lengan kemeja itu ia gulung sampai siku, lalu di tambah sepatu kets. Ryan sangat sempurna hanya dengan tampilan seperti itu saja.
“Kamu ada tamu?” tanya Ryan. Ia langsung beralih memeluk pinggul Lila untuk menandakan kepemilikannya, lalu menatap Joshua dengan dingin.
Lila terkejut dengan sentuhan mendadak itu. Walaupun hubungan mereka sudah berkembang jauh, tapi sentuhan fisik masih membuatnya canggung. Hal terekstrem yang mereka lakukan hanyalah saling menggenggam, tak lebih, lalu memeluk pinggang Lila ketika situasi darurat seperti ini.
Atmosfer yang timbul sudah sangat tak kondusif, Lila bisa melihat pancaran kebencian dari kedua pria ini. Jadi sekarang ini Lila tengah di perebutkan oleh dua orang pria? Konyol sekali.
“Jo, aku pikir kamu harus pergi,” ucap Lila. Hanya itu yang bisa Lila lakukan untuk mencegah hal-hal yang tak di inginkan terjadi. Lila tak ingin tahu bagaimana jika Ryan sedang marah, yang jelas pelukan di pinggang Lila semakin mengerat seiring tatapan kebencian yang Ryan keluarkan untuk Joshua.
Tanpa mengatakan kalimat apapun, Joshua langsung meninggalkan apartemen Lila, menyisakan Ryan yang masih setia dengan pelukannya itu. Sepertinya Lila juga harus menenangkan pria ini, kan? Bagaimanapun, mereka sudah memiliki hubungan sekarang.
Lila tak tahu apa ini akan berhasil, ia memutar tubuhnya lalu memeluk Ryan. Lila mengistirahatkan kepalanya di dada Ryan dan mendengarkan detakan jantung Ryan yang tak beraturan. Apa Ryan se-emosi itu hanya dengan melihat Joshua? Lila melingkarkan kedua tangannya dengan erat di punggung Ryan, dan tubuhnya dengan mudah tenggelam dalam dada bidang pria itu.
Pelukan di pagi hari yang sama sekali tak terencana ini menimbulkan kehangatan tersendiri di hati Lila. Ia tak pernah memeluk orang lain kecuali Ibunya dan terkadang Icha. Ah, tapi dulu mereka pernah berpelukan juga, kan?
**
Usapan-usapan kecil yang di berikan Lila di punggung Ryan sangat ampuh untuk menenangkan Ryan. Tak ada kalimat-kalimat penuh sayang yang Lila ucapkan, karena memang Lila tak terbiasa dengan kalimat seperti itu. Sangat aneh jika Lila mengatakan itu untuk Ryan.
Mereka sekarang sudah ada di dalam mobil menuju kantor Lila. Seperti biasa, mereka dalam keadaan hening. Mungkin keduanya memang sangat menyukai kedamaian, salah satu bentuk keromantisan mereka.
“Joshua sering datang ke apartemen kamu?” tanya Ryan memecah keheningan.
Mungkin mereka sedang tak beruntung hari ini, karena kemacetan panjang yang mereka alami ini. Sebenarnya Lila ingin menyalahkan Ryan karena mereka tak seharusnya pergi menggunakan mobil, mobil itu sumber kemacetan.
“Ini pertama kalinya, aku bahkan gak tahu kalau dia tau nomor apartemenku.”
Ryan memang sudah sedikit tenang, tapi pikiran tentang Joshua yang mendatangi Lila membuatnya sakit kepala. Ryan tak ingin pria itu kembali mendekati Lila, karena Ryan tahu betapa tersiksanya Lila karena ulah Joshua. Singkatnya, Ryan cemburu.
“Aku bener-bener gak tahu kalau dia bakal dateng tadi, aku pikir itu kamu,” lanjut Lila lagi. Lila masih bisa merasakan aura tak mengenakkkan dari Ryan. Sepertinya Ryan tak semudah itu untuk tenang.
Lila menatap Ryan yang pandangannya fokus pada kendaraan yang mengular di depan sana. Jika Ryan adalah Icha maka Lila tak perlu sulit berpikir bagaimana caranya membujuk pria ini, tapi kenyataannya Lila harus berpikir keras.
“Kamu cemburu?” tanya Lila. Ia sudah memiringkan tubuhnya agar tatapannya bisa fokus pada Ryan. Ia tak akan terlambat sampai kantor karena jam masuknya adalah jam sembilan, dan ini masih pukul tujuh lewat tiga puluh.
“Aku gak suka sama dia.” Ryan menolehkan kepalanya lagi ke depan sana.
Oke, ini sangat sulit. Jika bukan Ryan, maka Lila akan membiarkan saja hal ini berlarut-larut. Toh, Lila tak bersalah di sini. Lila meraih satu tangan Ryan yang setia berada di atas setir mobil. Lila juga bisa menjadi sedikit romantis, jadi coba saja kali ini.
Ryan menatap Lila yang mengambil tangannya, tak ada kalimat yang keluar dari mulut Lila, wanita itu hanya tersenyum. “Kamu tahu, aku mikir keras banget buat ngomong sesuatu yang bisa bikin kamu senyum lagi,” ucap Lila.
Ryan sebenarnya bukan marah pada Lila, ia hanya sangat kesal dengan kehadiran Joshua. “Aku gak marah sama kamu, aku cuman gak suka sama Joshua.” Ryan juga menatap Lila, sepertinya ia terlalu memperlihatkan rasa kesalnya pada Lila. Tapi ia memang sangat kesal pada Joshua.
Lampu lalu lintas sudah berubah warna dan kendaran di depan dan di kiri kanan juga sudah mulai bergerak. Kemacetan itu akhirnya berakhir juga. “Kamu bisa nyetir pake satu tangan, kan?” tanya Lila
Lila menggenggam tangan Ryan dan tak melepaskan genggaman itu. Wanita itu sudah membenarkan duduknya dan hanya fokus ke depan dengan senyuman tipis yang berusaha ia tahan.
Ryan juga tersenyum karena hal kecil yang Lila lakukan. Mereka sebenarnya tak perlu mengatakan banyak kalimat, hanya hal kecil sederhana seperti ini saja sudah membuat hati keduanya menghangat.
**
Lila mulai merasakan perubahan sikap dari Anggara. Hal yang selalu ia anggap remeh beberapa waktu lalu, entah kenapa sekarang ia justru merasakan ada yang aneh. Ia bukan sedang terlalu percaya diri, tapi ini memang firasatnya saja. Riana bahkan sudah melirik Lila sedari tadi ketika Anggara berkali-kali memberinya pekerjaan, padahal pekerjaan sebelumnya yang ia berikan belum di selesaikan Lila.
Hari ini tak ada kunjungan untuk kliennya, jadi Lila seharian berada di kantor. Ada Riana juga yang sedari tadi tak beranjak dari meja kerjanya. Pria-pria lainnya termasuk Anggara sedang melakukan kunjungan kepada kliennya, jam juga sudah hampir menunjukkan waktu makan siang.
“Mbak, Mas Anggara kenapa, sih?” tanya Lila.
Hanya ada mereka berdua di kantor itu, jadi Lila tak perlu repot-repot menurunkan nada bicaranya. “Ini data-data tentang klien masa aku semuanya yang rekap?” lanjut Lila dengan kesal.
Lila bukan mengeluh karena memiliki banyak pekerjaan, ia bisa menangani semuanya, tapi ini sedikit keterlaluan menurut Lila. Pria itu memberinya setumpuk berkas ini dengan dingin dan memintanya untuk di selesaikan secepat mungkin. Selama Lila bekerja bersama Anggara, ini pertama kalinya ia mendapat perlakuan tak adil ini dari Anggara.
Riana menghentikan pekerjaannya, bukan hanya hari ini saja, tapi sejak kemarin-kemarin pun Riana sudah merasakan perbedaan Anggara. Pria itu sangat tak biasa. Mungkin sejak mengetahui Lila memiliki seorang kekasih?
“Kamu mau tahu sesuatu?”
“Apa, Mbak?”
Riana berjalan menuju meja kerja Lila, lalu duduk di atas meja Lila yang bebas dari tumpukan berkas itu. “Dia udah kayak gini seja tahu kamu punya pacar.”
Lila mengernyitkan keningnya. Maksudnya Ryan? Lila dan Ryan secara tak langsung sudah menjadi pasangan, walaupun tak ada pengungkapan cinta, baik dari Ryan maupun Lila. Tapi, ya, mereka kekasih.
“Mas Anggara suka sama aku?”
Riana mengangkat bahunya, ini hanya spekulasinya saja. Tapi, Riana sangat yakin seratus persen kalau spekulasinya ini benar. “Aku yakin banget karena itu. Kamu gak perhatiin gimana mukanya pas pacar kamu datangin kita di restoran tempo hari?”
Ingatan Lila mengulang pada saat itu. Sejujurnya ia tak terlalu memperhatikan reaksi Anggara kala itu, mata dan pikirannya sudah sepenuhnya fokus pada Ryan yang menghampiri mereka dan langsung duduk di sebelahnya. Sudah pernah di katakan, kan, kalau sudah ada Ryan di sekitarnya, fokus Lila hanya ada pada pria itu.
“Err…Aku gak terlalu perhatiin, Mbak,” jawab Lila dengan sedikit rasa bersalah.
Riana menatap Lila, ia sangat wajar dengan hal itu. Pasangan yang baru saja menumbuhkan benih-benih asmara, yang percikan gairahnya masih sangat tinggi, Riana sangat wajar dengan hal itu. Hanya Anggara yang tak wajar
saat itu dengan wajah dinginnya.
“Aku gak tahu pasti, tapi udah jelas banget kalo dia cemburu sama pacar kamu. Buktinya cuman kamu yang di recokin, padahal kerjaanku hari ini juga gak banyak.”
Anggara menyukainya? Apa itu mungkin? Rasanya sangat mustahil, bahkan kalau hanya di pikirkan saja. Lila mencoba untuk berpikir positif dan melupakan kalimat Riana yang baru saja di katakan. Anggara tak mungkin menyukainya, Lila bukan apa-apa jika di sandingkan dengan Anggara. Wanita seperti Riana lebih cocok bersama Anggara di banding dirinya.
“Mbak salah liat kali. Mas Anggara kalo gak senyum aja udah keliatan dingin, pasti karena itu,” ucap Lila.
Riana menghela nafas, ia tahu Lila akan mengatakan hal ini, dan Riana juga sudah berpikir hal yang sama. Tapi justru semakin Riana menyangkalnya, kemungkinan itu semakin besar. Tapi, Riana juga tak bisa memaksakan pendapat itu, ia tak ingin merusak jalinan kasih Lila dan pacarnya karena hal ini. Ingatkan dirinya nanti agar meminta penjelasan pada Anggara.
Ponsel Lila bergetar di mejanya, sebuah pesan masuk dari Ryan.
Aku udah makan bekal yang kamu bikinin, gak nyangka ternyata kamu sejago ini masaknya.
Lila tersenyum membaca pesan itu. Padahal hanya nasi goreng, tapi Lila sudah mendapatkan pujian seperti itu. Tapi, bisa saja karena Ryan tak ingin menyinggung Lila. Apapun itu, Lila tetap akan selalu tersenyum atas semua hal yang Ryan lakukan untuknya.
Riana memperhatikan ekspresi Lila yang seketika berubah hanya karena sebuah pesan, sama seperti waktu itu. Itu artinya mereka benar-benar saling mencintai, kan? Pasangan baru memang selalu memiliki semangat yang berbeda. Riana juga melihat hal positif dari hubungan baru milik Lila, raut wajahnya sudah menunjukkan segalanya.
Nanti aku jemput kamu, kabarin kalau kerjaan kamu udah selesai.
Setelah membaca pesan dari Ryan, Lila kembali fokus pada pekerjaannya. Kalau benar Anggara menyukainya, fokusnya tetap hanya ada untuk Ryan.
**