
Penolakan Lila untuk yang kesekian kalinya itu bukan masalah untuk Ryan, itu justru semakin memacunya untuk melakukan hal yang lebih baik dari itu. Ia akan tetap memperjuangkan gadis itu sampai ia menyerah pada Ryan. Itu adalah strateginya. Sama seperti yang Lila lakukan dulu padanya.
Jika Ryan terus menunjukkan ketulusannya dan tak mudah menyerah, ia yakin Lila akan tersentuh. Ada rahasia yang tak Ryan ketahui, tapi bukan itu masalahnya. Ryan harus berusaha memenangkan hati Lila dahulu. Memang masalah seberat apa yang di simpan oleh Lila hingga bisa membuat Ryan kabur? Ryan bahkan sudah melewati hal terberat dalam hidupnya, ia masih sanggup jika harus menanggung masalah Lila lagi.
Karena itu, dengan hati yang tak gentar Ryan sudah berada di kantor Lila siang itu untuk mengajak gadis itu makan siang. Jarak studio Ryan sangat jauh jika harus datang ke kantor Lila, untungnya Ryan memiliki cukup waktu untuk menghabiskan jam makan siangnya dengan Lila.
Tak berapa lama kemudian, Ryan melihat Lila yang menuruni tangga dengan tergesa-gesa. Gadis itu tak akan menyangka kalau Ryan bisa melakukan hal ini. Ryan lebih jauh di atas ekspektasi semua orang jika menyangkut hal yang akan ia perjuangkan.
“Kamu mau ngapain di sini?” tanya Lila. Wajahnya sangat penuh antisipasi dan juga sangat terkejut.
“Ini jam makan siang. Aku kesini mau ngajakin kamu makan siang, kamu belum makan, kan?”
Lila menatap Ryan tak percaya. Bagaimana bisa pria itu datang jauh-jauh ke kantornya hanya untuk makan siang? Bagaimana jika Lila menolak? Ryan bisa saja menelponnya dahulu sebelum datang.
“Kamu pasti langsung nolak kalau aku nelpon kamu dulu, ini cara yang paling baik. Kamu gak akan bisa lari lagi,” ucap Ryan dengan senyum jahilnya.
Lila memang akan makan siang tadinya sebelum menemui kliennya. Kalaupun dia ingin, Lila tak akan menyetujui ajakan Ryan. Lila sama sekali tak ingin memberi harapan pada pria ini, bahkan kalau bisa, Lila ingin membuat Ryan membencinya. Dengan begitu, Lila tak perlu bekerja terlalu keras hanya untuk membuat Ryan menjauh darinya.
“Aku harus ketemu klien, aku gak bisa.” Lila memalingkan wajahnya. Ia tahu pengorbanan pria itu menempuh jarak jauh hanya untuk menemuinya, tapi Lila juga tak memiliki pilihan lain.
“Aku bisa nemenin kamu.”
Ryan ingin melihat seberapa gigihnya Lila untuk menolaknya. Lila sangat mudah untuk di baca, dan semua perasaannya sangat tergambar jelas di wajah cantiknya itu.
“Aku…,”
Ryan dengan lembut mengambil dagu Lila, membuat mata mereka bertemu. Dalam jarak sedekat ini, Ryan mampu meneliti lebih jauh wajah yang menyembunyikan banyak hal darinya. Bahkan Lila sangat pintar berpura-pura kuat di hadapan orang lain, entah terbuat dari apa hati gadis ini.
“Kamu pikir aku akan langsung menyerah dengan semua penolakan kamu itu? Aku justru semakin punya semangat buat naklukin kamu. Aku bisa bikin kamu jatuh cinta dengan gampang.”
Jarak mereka sangat dekat. Detak jantung Lila sudah sangat menggila dan ia berharap Ryan tak akan mendengar semua itu. Mata tajam Ryan seolah mengunci Lila hanya untuk menatapnya, dan inilah kelemahannya. Jantung
dan otaknya kembali berpikir keras untuk mennetukan pilihannya.
Lila sangat ingin menerima ajakan Ryan, ia tak bisa menolak lebih lama, tapi ia juga takut dengan akibat yang akan di sebabkan oleh pilihan emosional Lila.
“Tolong bilang ‘iya’,” pinta Ryan. Matanya masih mengunci Lila, Lila harus di hadapi dengan lembut bukan dengan paksaan.
“Ryan—“
“Atau aku cium kamu di sini.”
Lila menatap Ryan horor, dan jantungnya semakin tak bisa terkontrol hanya dengan kalimat pendek itu. Sama seperti tujuh tahun lalu itu, ketika Ryan mengatakan kalimat yang sama. Reaksi yang di tunjukkan Lila juga masih sama persis seperti dulu. Jika sudah begini, Lila benar-benar tak bisa melakukan apapun lagi selain mengiyakan ajakan Ryan.
**
Haryo kembali mendatangi rumah Lara sebelum proses persidangan mereka lusa, Haryo tak akan menghadiri persidangan itu seperti yang sudah di atur oleh Kikan. Untuk golongan seperti mereka yang tak ingin terlibat
masalah apapun yang akan merusak citranya memang lebih memilih bermain aman
Walaupun bukan termasuk orang yang memegang peranan penting di ekonomi masyarakat, tetap saja beberapa majalah pernah meliput keluarga mereka. Haryo sangat ingin hadir, tapi ada Kikan yang juga menjadi tanggung jawabnya. Anak gadisnya itu sangat kecewa ketika mengetahui fakta yang ada. Siapa yang tak akan kecewa jika mengetahui kondisi keluarganya yang selama ini terbilang rukun dan damai?
“Kenapa kamu sangat sering berkunjung kemari? Bukannya kamu takut akan ketahuan oleh media dan hubungan kita akan terbongkar?” tanya Lara dengan datar.
Lara sudah tak peduli lagi dengan semua omong kosong yang Haryo berikan, yang penting siding perceraiannya berjalannya lancar dan Lara tak perlu kembali berhubungan dengan pria ini. Begitu pun dengan Lila, ia juga tahu betapa muaknya gadis itu dengan semua tindakan Ayah kandungnya.
“Apa aku tetap di larang datang kemari bahkan untuk menjenguk anakku sendiri?”
“Aku tak yakin Lila menyukai ide itu, kamu tahu seberapa benci anakku hanya dengan melihatmu. Lagipula kamu sudah memiliki Kikan, apa itu belum cukup? Kenapa kamu sangat serakah dan juga egois? Kamu mengharapkan
anak yang sudah kamu tinggal selama lebih dari dua puluh tahun akan menyayangimu?”
Lara tak bisa menahan emosinya jika bertemu Haryo. Ia selalu meledak-ledak dengan semua omongan dan juga pertanyaan Haryo. Mungkin saja ini efek dari emosi masa lalunya yang tak tersalurkan. Mungkin akan lebih baik jika Lara bisa memukuli Haryo agar emosinya lebih lancar meninggalkan dirinya.
“Aku benar-benar bermimpi kita bisa kembali membangun keluarga impian kita, Lara. Aku sangat ingin menebus kesalahan itu dan kita mampu hidup tinggal bersama, lalu juga menua bersama,” ucap Haryo sendu.
Lalu ketika ia datang, ia mengutarakan mimpinya seperti ia tak pernah melakukan kesalahan apapun. Mungkin pria ini tumbuh menjadi pria yang bisa dengan mudahnya memiliki apapun, ia tak tahu sulitnya mendapatkan suatu hal yang kita inginkan tapi terhalang oleh banyak hal.
“Kamu mengimpikan hal yang salah, karena kami sudah tak menerimamu lagi. Anggap saja perceraian ini adalah caramu menebusnya.”
“Aku masih bisa datang kemari untuk menjenguk Lila?” tanya Haryo. Ada nada harap dalam suaranya yang membuat Lara agak segan untuk mengutarakan jawabannya.
Jawabannya sudah pasti ‘tidak’ dengan dengan huruf capital. Lila tak akan menyukai ide itu apapun alasannya. “Kalau kamu memang sangat menginginkan hal itu, kamu harusnya muncul lebih awal. Lila sudah terbiasa hidup tanpa sosok Ayah.”
**
Karena paksaan Ryan, gadis itu berakhir di salah satu restoran padang dan Lila juga makan dengan lahap. Ini sudah memasuki nasi keduanya. Menghadapi Ryan membuat nafsu makannya meningkat, mungkin hal ini bisa membuat Ryan jijik dengannya. Siapa pria yang akan tahan jika berdekatan dengan seorang wanita yang memliki nafsu makan besar seperti Lila?
“Aku suka ngeliat kamu makan lahap kayak gini.”
Lila langsung tersedak mendengar kalimat Ryan, apa-apaan itu tadi? Bagaimana bisa Ryan menyukainya? Dia harusnya tak menyukai hal ini dan meninggalkan Lila dengan kesendiriannya lagi.
“Tolong berhenti liatin aku makan,” pinta Lila. Ia sama sekali tak menoleh ke arah Ryan, tapi ia bisa merasakan Ryan yang tak berhenti menatapnya sejak tadi. Pria itu hanya menyentuh makanannya sedikit, lauk pauk di hadapannya sebagian sudah habis karena Lila.
“Aku bisa ngabisin waktuku seharian cuman liatin kamu makan.”
Lila berhenti menyuapkan makanan, ia ingin mendengar alasan pria ini yang kembali mengejarnya tanpa ampun. Lila ingin meyakinkan dirinya sekali ini saja, ia tahu yang terjadi pada dirinya sangat fatal. Apalagi efek trauma masa lalu itu membuat Lila kehilangan kepercayaan pada sosok pria. Lila ingin melawannya.
Persidangan perceraian Ibunya juga akan segera di mulai, setelah perceraian itu selesai, setidaknya Lila bisa mulai sedikit bernapas lega. Setidaknya ia memiliki status jika ada orang yang menanyakan bagaimana keadaan kedua orang tuanya, lalu Lila akan dengat sangat lantang meneriakkan kalau mereka sudah bercerai.
Lila juga ingin melakukan saran Icha, ia ingin melakukan semua hal yang ia inginkan tanpa peduli dengan resiko yang mungkin akan mendatanginya. Usianya sudah sangat lewat untuk merasakan hal-hal yang berbau remaja seperti ini. Tapi, kali ini saja, biarkan Lila mencoba. Jika kali ini juga gagal, maka Lila tak akan melakukannya lagi.
“Apa aku harus percaya sama kamu?” tanya Lila.
Ada senyum samar yang mampir di bibir Ryan. Ini seperti suatu tanda yang bagus untuk hubungannya dengan Lila ke depannya. “Aku janji akan menjaga kepercayaan kamu, aku serius dengan semua ucapanku, La.”
Apa ini yang di ucapkan Ayahnya dulu ketika meninggalkan sang Ibu? Apa Ayahnya juga mengatakan kalimat sebelum kepergiannya? Lila sangat ingin mengetahuinya, tapi juga tak ingin. Bayangkan rasanya ketika orang yang kita cintai menjanjikan dunia untuk kita, tapi esoknya dia sudah menghancurkan segalanya tak bersisa seperti ia tak pernah menjanjikan apapun pada kita.
Lila mencoba menghalau segala pikiran negatif di dalam kepalanya. Ini adalah hal yang paling sulit untuk Lila, dan ini yang tak Ryan ketahui. “Aku gak sempurna. Mungkin suatu hari nanti aku bisa menyakiti diriku sendiri tanpa tahu penyebabnya, atau mungkin aku bisa saja membahayakanmu. Apa kamu baik-baik aja dengan semua itu?”
Apa maksudnya dengan semua kalimat Lila? Ia mengatakannya seolah-olah ada monster yang mendiami tubuhnya. Apa ini suatu cara untuk membuat Ryan menjauh? Tapi, Ryan tak akan gentar. Kalau perlu ia sendiri yang akan mengeluarkan monster itu dari tubuh Lila.
“Kenapa kamu selalu mengatakan hal-hal buruk tentang dirimu sendiri? Kamu masih berusaha untuk mendorongku jauh?” tanya Ryan.
“Aku bilang semuanya dengan jujur. Kamu gak tahu apa aja yang udah terjadi sama aku selama tujuh tahun ini. Sekarang mungkin kamu masih menggebu-gebu buat ngejar aku, tapi gimana nanti ketika rasa senang yang ada di diri kamu menghilang? Apa kamu bakal ninggalin aku? Lalu berpura-pura kalau tak ada sesuatu yang terjadi di antara kita.”
“Kamu pikir aku sepicik itu? Bukan saatnya lagi buat aku ngelakuin itu, asal kamu tahu aja—“
“Tapi aku tahu kamu masih berhubungan dengan semua perempuan yang kemungkinan besar adalah kekasihmu. Lalu sekarang kamu ada di depanku berharap aku bisa nerima kamu lagi, apa aku salah?”
Ah, benar. Ryan sama seklai tak memikirkan hal itu. Ia tak menjelaskan tentang Vania pada Lila. “Kalau kamu memang pengen tahu banget tentang mereka, aku akan jelasin. Mereka gak ada hubungannya sama perasaan yang aku punya.”
Lila hanya menatap Ryan datar. Jika Ryan akan mati-matian untuk mengambil hati Lila, maka Lila juga akan mati-matian mendorong Ryan menjauhinya. Sudah Lila katakan berkali-kali, ia tak bisa menerima Ryan begitu saja. Akan ada harga yang di bayar jika Lila berhasil menyerahkan hatinya.
Tapi tak ada salahnya mencoba, kan? Lila takkan mengetahui jika tak mencoba untuk menerima cinta Ryan sama seperti yang Icha katakan. Tapi, bagaimana jika hatinya patah lagi, siapa yang akan bertanggung jawab?
“Rasa trauma yang aku punya lebih besar di banding cinta kamu, aku gak akan bisa ngelakuin itu. Jadi lebih baik kamu mundur, Yan, aku gak akan bisa nerima kamu apapun yang terjadi.”
Entah ini penolakan Lila yang ke berapa. Ryan sudah terbiasa dengan penolakan itu, ia justru semakin bersemangat untu menaklukan Lila, tapi nyeri hatinya juga tak bisa di bohongi. Gengsinya bahkan sudah berteriak lantang karena Ryan yang bahkan tak memikirkan bagian itu. Ia hanya terpaku pada Lila dan bagaimana mendapatkan gadis itu.
“Aku akan mengobati trauma itu, La. Kamu bisa ngasih aku kesempatan untuk buktiin ke kamu semua hal yang aku miliki. Aku janji gak akan langgar janji itu.”
Lupakan soal harga diri dan juga gengsi. Cinta tak memerlukan kedua hal itu, karena Ryan hanya membutuhkan Lila. Ia yakin semuanya akan berjalan baik jik ada Lila di sampingnya, ia akan memastikan semua itu.
Lila menatap Ryan yang memancarkan keyakinan dalam setiap ucapannya. Haruskah Lila menyerah? Bagaimana jika ia terluka lagi? Bagaimana jika ada masalah lain yang mendatanginya jika menerima cinta Ryan? Apa Lila akan sanggup untuk menjalaninya lagi?
“Aku…aku…akan mencoba.”
**