
Hal yang terbaik dari sebuah hubungan adalah ketika keduanya mampu mempertahankan dan membangun hubungan itu sendiri menjadi semakin kokoh. Memulai memang sedikit sulit, tapi mempertahankannya jauh lebih
sulit. Banyak pasangan yang justru lebih memilih untuk mengakhiri daripada saling berbicara satu sama lain dan menyelesaikan masalah.
Untuk ukuran Lila dan juga Ryan, cinta mereka sudah sangat kuat. Itu sangat terlihat jelas tanpa perlu bertanya. Tapi, kadang cinta saja tak cukup untuk mempertahankan semua itu. Butuh komunikasi, saling percaya, dan juga pengertian. Itu hanya pendapat umum, tapi bisa di pertimbangkan juga untuk referensi, karena memang itulah biasanya terjadi di lingkungan masyarakat.
Apalagi jika keduanya sudah saling dewasa dan mengerti satu sama lain, ketiga hal tadi sangat di perlukan untuk lebih mengokohkan pondasi yang ada. Tapi lagi, karena hubungan mereka masih baru, cinta mereka selalu di dahulukan di banding hal lain. Mereka pikir cinta saja sudah cukup.
“Kamu gak suka sama makanannya?” tanya Vania.
Vania dan Ryan tengah menikmati makan siang mereka di kantin yang ada di stasiun radio tempat Ryan bekerja. Vania membawakan kotak makan siang yang katanya di masak sendiri oleh Vania. Rasa masakannya sangat enak sampai Ryan mengira kalau ini bukanlah buatan tangan Vania, bisa saja gadis itu membelinya di restoran lalu memasukkannya ke kotak bekal.
Ryan memaksakan senyumnya dan menyuapkan kembali makanan itu. “Ini enak banget,” jujur Ryan.
“Lain kali aku masakin lagi masakan lainnya, kamu tinggal bilang aja mau makan apa,” ucap Vania dengan senyum yang sangat lebar.
Melihat senyum itu membuat Ryan merasakan perasaan bersalah, pasalnya Ryan tak bisa membalas senyum itu dengan lebih tulus lagi. Ia tak bisa melakukan itu ketika hanya Lila yang ada di pikirannya. Ia belum mengatakan tentang hubungannya dengan Vania, walaupun mereka memang tak memiliki hubungan apa-apa.
“Kamu gak perlu ngelakuin itu, aku tahu kerjaan kamu juga pasti banyak banget.”
“Aku gak masalah, semua itu terbayar dengan ngeliat senyum kamu,” Vania kembali menunjukkan senyum malu-malunya.
“Aku mencintai wanita lain.”
Dalam sekejap, senyum malu-malu yang tergambar jelas di wajah Vania langsung menghilang. Tergantikan dengan raut terkejut yang tak bisa di kendalikan. Sebenarnya Vania sudah tahu hal itu, tapi entah mengapa ia tetap berusaha keras.
Vania menatap Ryan dengan wajah yang tak terbaca. Ya, Ryan tahu ini sangat jahat. Tapi akan lebih jahat lagi jika ia tak segera menghentikan Vania, lalu Ryan sendiri akan kembali berkubang dalam rasa bersalahnya. Perasaan manusia sangat sulit di atur, apalagi jika itu menyangkut masalah hati.
“Aku udah pernah bilang kalau aku akan berusaha,” ucap Vania dengan senyum yang sangat di paksakan. Agak menyedihkan ketika akan melakukan hal seperti ini, cinta selalu bisa dengan mudah mengubah orang lain dan Vania sangat membenci hal itu.
“Vania, aku—“
“Gak papa, aku gak akan nyerah secepat ini. Kita gak akan tahu gimana ke depannya, kan?”
Ya, Ryan memang tak akan tahu, tapi ia juga tak bisa jika harus menanggung perasaan bersalah ini. Ia sangat takut akan menyakiti Vania, tapi jika seperti ini terus Lila juga akan terus tersakiti. Ia masih mengingat dengan jelas bagaimana hidupnya setelah Lila memutuskan untuk meninggalkannya hanya karena melihat Vania.
“Kamu bisa cari pria yang lebih baik, Vania. Aku minta maaf tapi, semua ini cuman bikin aku semakin merasa bersalah. Hatiku gak semudah itu buat luluh.”
Vania menatap Ryan yang terlihat serius. Apa yang ia lakukan sudah sangat kelewatan? Tapi, Vania juga sudah jatuh cinta pada Ryan sejak pandangan pertama. Apa ia tak bisa jatuh cinta saja? Ia yakin bisa membuat pria ini beralih padanya, ini hanya soal waktu.
“Kalau gitu kasih aku waktu, aku akan buktiin kalau ucapanku selalu benar.”
Oke, ini sedikit keterlaluan. Bagaimana bisa ada gadis sekeras kepala ini? Semua ini mengingatkannya pada Lila tujuh tahun lalu. Dia dulu juga melakukan hal yang sama seperti ini selama dua bulan tanpa henti dan hasilnya Ryan luluh walau butuh waktu untuk menyadarinya.
Ryan bukan takut hatinya akan goyah, ia hanya takut jika harus terjebak terlalu lama dalam urusan perasaan. Ia memiliki Lila yang sangat di cintai, ia tak bisa semudah itu jatuh cinta pada gadis lain.
“Maaf kalau aku kasar, tapi aku gak bisa lagi. Aku gak mau kamu terus-terusan berharap kalau aku akan mencintaimu suatu saat, jadi lebih baik kamu nyerah.”
Dengan wajah dingin, Ryan meninggalkan Vania yang masih duduk dengan kaget di kursi itu sendirian. Ia harap setelah ini Vania akan mengerti, dia bukan tipe pria yang akan menyerahkan hatinya ke sembarang perempuan semudah itu. Dan ia juga tak akan goyah hanya karena Vania.
**
Lila turun menuju lantai satu ketika mendapat telepon bahwa ada seseorang yang mencarinya. Ini memang sudah jam makan siang, dan Lila baru saja memesan makan siangnya, tak mungkin kalau tiba-tiba Ryan datang ke kantornya tanpa pemberitahuan.
Kantornya hanya terdiri dari dua lantai, lantai satu di jadikan lobi dan juga tempat untuk para klien yang datang menunggu. Setelah tiba di lantai satu, Lila memutar kepalanya untuk mencari seseorang yang mencarinya, tapi tak menemukan satupun orang yang di kenal yang mungkin mencarinya.
Apa ia baru saja di kerjai?
“Lila.”
Lila menoleh mendengar namanya di panggil, dan menemukan seorang pria yang tak di kenalnya. Lila tak memiliki banyak teman di Jakarta ataupun mungkin kenalannya. Dari semua orang yang di kenalnya, pria ini tak pernah masuk ke dalam daftar, Lila benar-benar tak mengenalnya.
“Lila, kan? Bisa kita bicara sebentar?” ucap pria itu lagi. Ia tersenyum pada Lila, sangat ramah.
Pandangan Lila beralih ke tangan pria itu yang hanya mengenakan kaos oblong berwarna putih. Jaket kulit yang ia sampirkan di lengannya seperti baru saja di lepas, memperlihatkan tato di sepanjang tangan pria itu. Apa pria ini adalah komplotan penjahat, atau mungkin preman, atau mungkin juga mafia?
“Kita saling mengenal?” tanya Lila.
“Aku Bobby.”
Bahkan namanya juga sangat asing di telinga Lila. Siapa pria ini?
“Aku bukan orang jahat, kamu bakal tahu kalau kita udah bicara. Kamu punya waktu?”
Lila masih waspada, tapi ia juga penasaran siapa pria ini, lalu bagaimana pria ini bisa mengenalnya. Sangat tak mungkin kalau pria ini adalah klien. “Kamu suruhannya Joshua?”
Pria ini juga menyebut Ibunya, siapa sebenarnya dia?
Karena rasa penasarannya yang tinggi selalu bisa mengalahkan apapun, akhirnya Lila menyetujui untuk ikut dengan Bobby. Mungkin saja, kan, kalau pria ini tahu sesuatu, atau mungkin dia akan mengatakan sebuah rahasia yang tak pernah Lila ketahui.
Mereka duduk di sebuah kafe yang terletak di seberang kantor Lila, Lila juga tak mungkin membawa pria ini ke dalam ruang rapat untuk menceritakan apa yang membuat pria itu menemuinya. Lila hanya akan meminum kopinya, mendengarkan maksud pria ini, lalu kembali ke kantornya. Entah hanya perasaannya saja, tapi sepertinya pria ini membawa sesuatu yang mengejutkan.
“Aku sepupumu,” ucap pria itu.
Lila mengangkat alisnya penuh tanya. Ia memiliki sepupu? Mungkin saja itu terjadi karena selama ini Lila juga tak mengetahui kisah tentang keluarga sang Ibu. Bobby menyodorkan sebuah foto lama yang cukup terlihat jelas untuk mengetahui siapa yang ada di foto itu.
“Itu foto Ibuku dan juga Tante Lara, mereka kakak adik.”
Lila sama sekali tak mengetahui kisah tentang keluarga Ibunya, ia juga tak berniat untuk mencari tahu. Pengalaman menyakitkan ketika tak memiliki Ayah sangat menyadarkan Lila akan satu hal. Ibunya sangat berharga dan sudah menjadi satu-satunya keluarga yang Lila miliki, sepertinya ia tak membutuhkan orang lain lagi, seperti Tante atau Om, atau mungkin sepupu seperti sekarang ini.
“Lalu apa masalahnya?” tanya Lila datar.
Bobby sedikit terkejut mendengar pertanyaan sedatar itu. Setidaknya Lila bisa sedikit terkejut karena tiba-tiba memiliki sepupu yang tak ia kenal, dan semua ucapannya tadi. Kenapa ia justru memberikan ekspresi seperti itu?
Bobby segera menutupi keterkejutannya dengan senyum tipis yang ia selalu tampilkan di hadapan para model. Jika Bobby sudah melakukan itu, hampir semua model akan tersipu atau menunjukkan senyum malu-malunya, singkatnya banyak orang yang menggilai Bobby. Tapi rasanya hal itu tak akan berlaku untuk sepupunya ini. Wajahnya masih sedatar jalanan raya di seberang kafe itu.
“Aku tahu semua masalah kamu dan Kikan, dan juga Joshua. Oh, dan juga pacar baru kamu.” Bobby mengedipkan matanya pada Lila.
Kali ini giliran Lila yang terkejut. Apa selama ini ia di mata-matai? Jika pria ini tahu segalanya, bisa di pastikan kalau ia juga mengetahui penyakit mental yang Lila derita. Hebat sekali pria ini bisa memata-matai dirinya selama ini, entah tentang apa semua ini. Yang jelas, Lila tak akan semudah itu percaya.
“Lalu?”
“Kamu gak percaya sama aku.”
Itu pernyataan. Beberapa tahun mengikuti Lila, membuat ia mengerti beberapa hal. Wanita ini hanya terlihat tangguh di luar, tapi sangat hancur di dalam. Bahkan sampai sekarang pun, Lila masih berusaha menutupi perasaannya.
“Kenapa harus? Aku akan mendengarkan semuanya, ceritakan saja apa yang mau kamu ceritakan. Itu yang terpenting, kan? Kamu juga udah tahu semuanya, kamu berharap aku akan bersikap kayak apa?”
Tak sepenuhnya salah, mungkin Bobby terlalu jujur. Ia bisa saja hanya menceritakan garis besarnya dan tetap menyembunyikan identitas. Tapi begini juga lebih baik, jadi tak banyak rahasia. Mereka juga keluarga, jika Lila memang mempercayai bagian itu.
Bobby memberikan senyumnya. Sepertinya ini sudah cukup. “Aku cuman mau kasih tahu kamu yang sebenarnya, dan kita juga keluarga. Nyapa keluarga sesekali gak papa, kan?”
“Apa kamu masang kamera tersembunyi juga di dalam apartemenku?”
Lila harus tahu ini, karena ia tak ingin ruangan paling pribadinya juga sudah di obrak-abrik oleh pria ini. “Aku tahu
batasannya, Lila. Aku pergi dulu.”
Bobby kemudian meninggalkan Lila yang masih mencerna semua informasi tadi dengan penuh kebingungan. Hanya dalam sekejap, ia memiliki sepupu yang mengetahui semua kehidupan pribadinya, yang tak pernah di kenalnya selama ini. Apa ia harus menanyakan hal ini pada Ibunya?
**
Lila masih menjalani terapi sesekali bersama dokter Alya. Belakangan ini ia merasa jauh lebih baik, karena kehadiran Ryan yang selalu memberinya energi positif. Tapi, ia tetap membutuhkan konsultasi ini. Ia ingin segera sembuh, ia ingin memikirkan semua hal dengan bahagia tanpa perlu memikirkan hal lain.
Pikirannya sudah terlalu sesak. Ini tak seperti ketika ia sedang melakukan sesi curhat dengan Icha. Konsultasi dan curhat sangat berbeda. Icha memang mendengarkan semua kisah Lila dengan penuh kehati-hatian, dan itu selalu membuat Lila lega setelah menceritakannya. Tapi konsultasi, Lila juga membutuhkannya. Ia tak ingin Distimia ini menjadi semakin serius dan mengakibatkan hal lain untuk dirinya.
“Jadi kamu belum menceritakan tentang Distimia ini sama pacar kamu?” tanya dokter Alya memastikan.
Lila hanya menggeleng. Itu adalah hal yang paling Lila hindari karena ia tak percaya diri pada dirinya sendiri. “Aku takut, Mbak. Mungkin aja kami bakal putus kalau aku nyeritain yang sebenarnya.”
Alya memang sebisa mungkin membuat atmosfer yang tak terlalu mengintimidasi. Alya ingin Lila menganggapnya sebagai kakak alih-alih psikiaternya, itu salah satu cara agar Lila nyaman menceritakan segala beban yang ia hadapi.
“Kalau memang dia ngelakuin itu, artinya dia gak serius sama kamu. Kamu sempurna, Lila, coba untuk secara perlahan menghilangkan rasa rendah diri kamu.”
Lila hanya menghadiri sesi konsultasi ini sekali dalam satu bulan, anti depresan juga sudah ia kurangi. “Rasanya sangat asing, Mbak, waktu orang tahu kalau aku ternyata punya penyakit mental.”
Apalagi ketika Bobby datang padanya dan mengatakan kalau dia tahu semuanya. ‘Semuanya’ itu pasti juga mencakup penyakit ini, dan itu membuatnya merasa sudah terlalu banyak mengekspos dirinya sendiri, padahal
ia tak melakukan apapun.
“Coba buka diri kamu secara perlahan, kamu gak harus minder hanya karena hal ini. Justru di saat seperti inilah saatnya kamu membuktikan kalau kamu bisa melalui semua ini. Percaya sama Mbak, semua ini akan indah. Semua proses yang kamu jalani pasti akan indah hasilnya,” ucap Alya. Ia memberikan senyum tulusnya pada Lila.
Bukan hal mudah untuk selalu berpikir positf ketika hal di sekeliling kita justru memberi dampak negatif. Tugas kita untuk bertahan melalui semua itu. Apalagi di saat seperti ini, ketika banyak orang yang menganggap remeh penyakit mental, bahkan menjadikannya bahan lelucon. Melaluinya saja sudah tak mudah, bagaimana rasanya jika orang lain juga menganggap remeh hal itu seolah bukan apa-apa?
Hal seperti itu tak terjadi pada Lila, karena ia memang tak menceritakannya, bahkan pada Ryan. Ia hanya merasa, orang lain pasti akan semakin memojokkannya jika ia bercerita. Terlebih Ryan, pria itu pasti sangat kecewa ketika tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Lila. Nanti, ia akan menceritakan pada Ryan ketika siap. Saat ini, biarlah seperti ini dulu.
**