Trapped in You

Trapped in You
Episode 43



Maaf ya telat dua hari, aku gak akan lupa buat update kok. Happy readingšŸ¤—


**


Ryan membawa Ramona paksa dengannya siang itu. Ia akan memberikan kejutan yang sangat luar biasa untuk sepupu tercintanya ini. Hari sabtu, biasa hanya di habiskan Ramona untuk menyelesaikan semua pekerjaannya. Ramona tak tertarik untuk melakukan hal lain, termasuk kencan. Sejak menggantikan sang Mama mengurus perusahaan, sejak saat itu pula ia mulai mencintai pekerjaannya lebih dari apapun.


"Yan, ngapain kamu ngajak aku ke sini? Kamu gak tahu kalau kerjaanku udah numpuj di rumah?" omel Ramona.


Mereka sudah sampai di restoran sushi favorit Ramona di salah satu mal yang tak terlalu jauh dari rumahnya. Bahkan jika ia ingin memakan sushi favoritnya ini, ia bisa memesan sendiri atau juga datang ke restoran ini sendiri, tanpa perlu paksaan dari Ryan.


"Kamu gak bosen sama kerjaan kamu itu? Setiap hari kamu ngerjain itu aja, dan hampir seharian sebelum Bibi marahin kamu. Kamu yang paling bener harus di paksa buat keluar kayak gini."


"Kamu gak lagi ngerencanain yang aneh-aneh, kan? Jangan bilang ini kencan buta?" selidik Ramona.


Ryan sebisa mungkin memasang raut wajah datar agar misinya mengeluarkan Ramona dari ruang kerja itu berhasil. Termasuk yang satu ini juga. Dan atas permintaan sang Bibi juga. Ramona ini sudah sangat pantas untuk menikah atau setidaknya memiliki kekasih, tapi wanita ini sangat keras kepala, lebih keras kepala di banding Ryan.


"Aku cuma mau makan sushi, Mon. Curigaan banget sih," ucap Ryan.


"Memang kemana pacar kamu? Biasa juga nempel seharian terus kayak perangko," balas Ramona sewot.


"Memang salah kalau aku mau makan siang sama sepupu sendiri?"


"Jelas salah. Ini Ryan, aku kenal kamu luar dalam, lebih dari kamu ngenalin diri kamu sendiri. Jadi aku lebih tahu apa yang ada di pikiran kamu itu."


Ryan menatap Ramona horor, tapi itu juga tak salah. Sepupunya ini tahu segalanya melebihi apapun, melebihi dirinya sendiri juga. Cukup menakutkan memang.


"Oh, itu dia." Ryan melambaikan tangannya pada seseorang yang sudah di tunggu-tunggu sejak tadi. Hanya dia satu-satunya pria yang bisa Ryan percaya untuk di kenalkan pada Ramona.


Ramona menoleh, lalu setelahnya melotot pada Ryan. Benar, kan, jika ini adalah makan siang terselubung. Sialan Ryan dan semua idenya itu.


Ryan dan pria itu saling menyapa sebentar sebelum fokus Ryan kembali pada Ramona dan senyum terpaksanya.


"Mon, kenalin ini Mas Bima, atasanku. Mas Bima, ini Ramona, sepupuku," ucap Ryan dengan senyum polosnya.


Keduanya saling menyapa dengan canggung dan melemparkan senyum tipis. Kenapa Bima? Di balik seseorang yang selalu menistakan dirinya, Bima adalah pria yang sangat bertanggung jawab dan peduli pada bawahannya. Sejak awal mengenal Bima pun, Ryan sudah merasa jika Bima ini adalah pria yang sangat cocok mendampingi Ramona.


Suasana menjadi canggung lagi, Ryan juga tak tahu harus melakukan apa sebenarnya. Ia hanya pernah berada di posisi Bima, ia belum pernah menjadi pihak ketiga yang menjadi mak comblang seperti ini.


Tepat ketika Ryan sedang memikirkan cara untuk mencari topik, ponselnya berdering. Tanpa menunggu lama, ia langsung mengangkatnya dengan semangat yang berlebihan.


"Iya La, kamu udah sampai? Ya udah aku ke sana sekarang."


Panggilan berakhir dengan cepat. Ryan segera memasang wajah tak bersalah pada keduanya. "Aduh, maaf banget. Aku lupa kalau aku harus nemenin Lila ketemu kliennya hari ini. Aku tinggal gak apa-apa, kan?" ucap Ryan.


Tanpa menunggu jawaban keduanya, Ryan segera berlari meninggalkan Bima dan Ramona. Keduanya juga sudah lebih dari dewasa untuk mengerti bahwa Ryan mencoba menjodohkan mereka. Sama seperti yang di lakukan Ramona padanya dulu, anggap saja sebagai timbal balik. Agar Ramona juga merasakan apa yang Ryan rasakan dulu. Cukup impas, jika mereka cocok, itu adalah bonus.


"Aku pikir dia benar-benar mengajakku makan siang tadi," celetuk Bima.


"Ya, dia nyebelin, kan? Aku udah hafal banget sama kelakuannya itu dari dulu," ucap Ramona.


Keduanya mengangguk untuk mengiyakan opini masing-masing. "Jadi gak masalah kalau kita makan siang aja? Aku beneran belum makan dari pagi."


"Ya, apalagi memang yang bisa kita lakuin." Ramona menaikkan bahunya. Tapi ia cukup menghargai usaha Ryan yang membuat dirinya terdampar di restoran sushi favoritnya, karena jika tidak, ia akan benar-benar memberikan pelajaran berharga untuk Ryan.


"Saling mengenal, mungkin?" ujar Bima.


Ramona tersenyum tipis mendengar kalimat Bima. "Well, memang itu tujuan Ryan, kan?"


**


Sudah hampir satu minggu Kikan menjalani rawat jalan. Kondisinya sudah lebih membaik, hanya saja dia memang meminimalisir gerakan yang tak di perlukan, ia bahkan masih lebih suka duduk di kursi rodanya. Ia tak ingin berpura-pura kuat dengan menggunakan tongkat, jadi lebih aman dengan kursi roda.


Selama itu pula Joshua belum pernah menjenguknya, Kikan tak berharap juga. Oke, hati kecilnya sangat menginginkan pria itu datang menjenguknya. Hanya ada asisten rumah tangga yang membantu Kikan, ia juga melarang manajernya untuk sering-sering datang, begitupun dengan sang Ayah yang ingin menyewa perawat untuknya.


Jika ia bisa melakukannya sendiri, maka tak masalah. Ia juga bukan mengalami kecelakaan yang parah, tangan kanannya sudah mulai bisa di gerakkan secara normal, walaupun dengan sangat hati-hati.


Rumahnya sedang kosong, seperti biasa sang Ayah pergi bekerja dan asisten rumah tangga yang sedang berbelanja. Kikan hanya berada di depan kolam renang, pemandangan di kolam renang itu cukup memanjakan matanya. Kebun kecil yang di buat di dekat kolam renang adalah buatan sang Ibu, itulah kenapa Kikan sangat betah berada di sana cukup lama.


"Apa aku sudah boleh menjengukmu?" tanya sebuah suara.


Kikan menolehkan kepalanya ke belakang sedikit, sudah berdiri Joshua dengan kemeja rapi dan celana kain, tak ada dasi ataupun jas. Kikan bahkan tak mendengar suara pintu di ketuk ataupun langkah kaki. Tapi ia sudah tak terkejut, Joshua memiliki akses untuk memasuki rumah besar ini atas izin sang Ayah.


Tak ada jalan keluar untuk Kikan sebenarnya, selain menghadapi pria itu, tapi ia tak ingin. Jadi, Kikan memutar kursi rodanya, bermaksud untuk masuk ke dalam rumah tanpa mempedulikan Joshua. Tapi, ia juga tak tahu sejak kapan pria ini mulai peduli padanya. Joshua menahan kursi roda Kikan yang akan berlalu melaluinya.


"Kenapa selalu menghindariku?" tanya Joshua.


Joshua memperhatikan raut wajah Kikan yang sudah kembali mengeras dan juga angkuh. Kikan yang sebenarnya sudah kembali, dan Kikan yang tak berdaya sudah menghilang.


"Sejak kapan kamu mulai peduli padaku? Tolong, kembalilah pada dirimu yang selalu mengabaikanku."


Joshua masih menahan kursi roda Kikan. Sejak kejadian itu, pikiran Joshua sedikit berubah. Ia tahu betapa Kikan sangat mencintainya, dan selalu mengikutinya kemanapun, bahkan selalu mengganggunya. Joshua merasa itu sangat menyebalkan, tapi ia tak tahu jika Kikan akan mengorbankan tubuh untuknya. Bahkan yang selama ini Joshua lakukan hanyalah menyakiti wanita ini.


"Aku sudah mengatakan pada Papi, tinggal kamu yang bilang pada orang tuamu tentang putusnya pertunangan ini," ucap Kikan lagi.


Kikan merasa kepalanya bertambah pusing dengan kalimat Joshua ini. Harusnya hatinya kali ini berbunga-bunga dan jantungnya yang berdetak tak karuan. Harusnya seperti itu, tapi Kikan tak menginginkan hal ini.


"Sudah ku bilang, jika ingin mengasihaniku jangan seperti ini. Kenapa kamu sangat egois?"


"Sampai kapan kamu mau berprasangka buruk denganku?"


"Yang kamu rasakan sekarang hanya rasa kasihan, jangan pernah menipu diri sendiri dengan peduli padaku. Aku sama sekali tak butuh semua itu," ucap Kikan dengan angkuh.


Joshua melepaskan pegangan tangannya pada kursi roda Kikan. Kesemparan itu langsung di gunakan untuk melarikan diri. Ada satu rintangan yang harus ia hadapi lagi kali ini, menaiki tangga. Kamarnya ada di lantai dua, biasanya ada asisten rumah tangga yang akan membantunya naik. Walaupun kakinya sudah bisa sedikit di gerakkan, ia harus sedikit pincang untuk sampai ke lantai dua. Jika tak ada Joshua, semuanya tak akan sememalukan ini, tapi pria itu masih di sana.


Tak ada pilihan lain selain menaiki tangga itu, ia juga tak ingin berlama-lama berada di ruangan yang sama dengan Joshua.


Semuanya lancar ketika Kikan bangkit berdiri dari kursi roda, anak tangga pertama juga lancar, begitupun dengan anak tangga kedua. Semuanya berantakan ketika Kikan akan menaiki tangga ketiga. Mungkin itulah gunanya Joshua ada di rumah itu.


Joshua memegangi pinggang Kikan yang hampir luruh ke lantai. Jika itu adalah adegan dalam satu ftv mungkin akan romantis, tapi ini Kikan. Ia dengan segera berusaha melepaskan diri dari Joshua, tapi tentu tak bisa semudah itu.


Dengan tiba-tiba, Joshua langsung mengangkat tubuh Kikan yang terasa sangat ringan itu.


"Apa yang kamu lakukan?! Turunkan aku!" Kikan memukul bahu Joshua dengan tenaga yang ia miliki.


"Berpeganganlah. Tak lucu jika kamu kembali jatuh dan di rawat di rumah sakit," ucap Joshua.


Kikan menghentikan pukulannya, tapi tetap tak berniat untuk memegang bahu pria itu. Joshua juga tak akan gila dengan menjatuhkannya begitu saja. Setelah masuk ke dalam kamar Kikan, pria itu meletakkan tubuh Kikan di kasur dengan hati-hati, membuat tatapan mereka bertemu. Kikan menjadi orang pertama yang memutus kontak itu.


"Kamu benar, kayaknya aku hanya menipu diriku sendiri dengan berpura-pura peduli," ucap Joshua.


"Baguslah."


Tak ada kalimat lagi, Joshua pun memutuskan untuk keluar tanpa mengatakan apapun lagi. Mungkin jika ada kalimat lain lagi yang di ungkapkan, percakapan mereka tak akan berakhir dengan baik.


**


Ucapan Ryan yang akan menemui Lila adalah kebenaran, ia sedang bercerita tentang Ramona yang ia jodohkan dengan Bima.


"Memangnya mereka mau?" tanya Lila. Ia masih belum bisa memghentikan tawanya itu.


"Harusnya mau, sih, Bibi juga udah khawatir anak gadisnya belum nikah-nikah."


"Jahat banget kamu sama sepupu sendiri."


Keduanya kembali tertawa. Ini adalah rutinitas baru mereka, yang baru mereka lakukan untuk saling mengenal pribadi masing-masing. Lila sangat menyukai hal ini, banyak hal baru yang tak pernah Lila ketahui dari seorang Ryan.


Seluruh kekhawatiran yang Lila rasakan selama ini atas hubungan mereka buyar setelah semua kegiatan rutin mereka. Tapi Lila terkadang juga masih menyimpan kekhawatiran itu. Sebuah hubungan tak akan berhasil jika tak ada komunikasi yang baik di antara dua pihak.


Mereka sudah melakukannya, tak ada yang mereka tutupi sejauh ini. Lila jujur tentang seluruh sikap Anggara, begitupun Ryan yang masih di kejar-kejar oleh Vania. Yang terbaik dan terbesar selalu di simpan di akhir, kan? Mungkin itu yang sedang mereka lakukan sekarang.


Mungkin mereka hanya ingin menikmati saat-saat bahagia mereka tanpa hambatan sedikitpun. Harusnya memang seperti itu, selama apapun rahasia yang di simpan, pada akhirnya juga akan terungkap. Lalu, kenapa harus repot menutupi?


"Kalau kamu ngerasa gak nyaman sama Mas Anggara, kamu bisa mengundurkan diri. Aku juga punya beberapa teman yang kerja sebagai arsitek dan desain interior. Atau kamu bisa mulai kerja independen."


Lila menaikkan alisnya, tiba-tiba Ryan membahas masalah ini lagi? Padahal selama satu minggu ini, mereka sudah melupakan topik yang satu ini. Karena itu merupakan topik sensitif, dan Lila juga tak berniat untuk membahasnya.


"Aku baik-baik aja, Ryan. Selain yang terjadi, Mas Anggara itu baik dan aku juga udah akrab dengan yang lainnya. Kayaknya kita udah pernah bahas ini, deh," ucap Lila.


"Aku selalu ngerasa gak tenang kalau kamu masih satu tim sama dia. Kamu gak ngerasa aneh sama kebaikan dia itu?"


Lila menopangkan dagu di hadapan Ryan. Ia juga belakangan baru tahu betapa cemburuannya Ryan ini. Selama masih batas, Lila tak mempermasalahkannya


"Kamu gak percaya sama aku?" tanya Lila.


"Aku percaya sama kamu, aku cuma gak percaya sama Mas Anggara ini."


Lila menggenggam tangan Ryan yang ada di atas meja. "Gak akan terjadi apa-apa, sayang. Percaya sama aku," ucap Lila lembut.


"Kak Ryan?"


Lila menoleh ke arah sumber suara. Seorang remaja laki-laki dan seorang wanita paruh baya sedang menatap Ryan. Lila menaikkan alisnya, dan reaksi lain justru di berikan oleh Ryan. Genggaman tadi sudah terlepas, dan Ryan terlihat tak nyaman. Entahlah, mungkin karena kedua orang itu, atau karena ucapan Lila tadi.


Remaja laki-laki tadi mendekat menuju ke arah meja Ryan, lalu memeluk pria itu dengan spontan. Tapi, bentuk wajah wanita paruh baya itu cukup mirip dengan Ryan, ada beberapa yang terlihat oleh Lila, tapi tidak dengan remaja laki-laki yang tiba-tiba memeluk Ryan itu.


Lila tentu saja kaget dengan semua itu. Ia memilih diam dan melihat interaksi memperhatikan apa yang akan terjadi. Apa wanita itu adalah orang tua Ryan? Tapi wajah Ryan sama sekali tak menunjukkan jika wanita itu adalah orang tua Ryan.


"Lila, ayo kita pergi," ajak Ryan.


Pria itu melepaskan pelukan remaja lelaki itu dengan sedikit paksa. Lila terdiam, begitu juga dengan wanita itu. "Tolong jangan memeluk orang lain dengan sembarangan."


Kalimat itu sangat dingin, dan tak berperasaan. Lila merasakannya. Ada apa dengan pria ini sebenarnya? Lila tahu sisi dingin pria ini, tapi ia tak tahu jika akan sangat tajam seperti ini.


Ryan menarik tangan Lila paksa dari meja itu. Lila tak bisa melakukan apapun kecuali mengikuti tarikan tangan itu, sesekali ia menoleh untuk melihat wanita paruh baya tadi. Terlihat guratan kecewa di wajahnya, walau samar. Meskipun bukan siapa-siapa, tapi kalimat Ryan tadi benar-benar sangat tajam. Lila kembali menyadari sisi lain dari pria ini, dan itu cukup mengerikan untuknya.


**