
Hai, Happy reading ya 😊
**
Siang itu, Ramona, Bima, Ryan dan juga Lila memutuskan untuk melakukan makan siang bersama. Sabtu siang, dan anggap saja itu sebagai kencan ganda. Setidaknya Ryan dan Lila menganggapnya seperti itu, sedangkan Ramona dan Bima masih seperti biasa. Mereka sudah tak mempermasalahkan Ryan yang dengan semena-mena menjodohkan keduanya.
Makan siang pertama mereka kemarin juga berjalan cukup lancar. Awalnya sedikit canggung, tapi mereka bisa mengatasi. Usia mereka sudah lebih dari cukup untuk melewati fase canggung dan malu-malu.
"Gimana rasanya hari sabtu ngehirup udara segar, Mon?" tanya Ryan pada Ramona yang masih dengan khidmat menikmati makanannya.
"Biasa aja, sih, kamu aja yang berlebihan."
"Seenggaknya kamu gak ngurung diri di ruang kerja terus-terusan," ucap Ryan lagi.
Lila sudah bisa mengantisipasi yang akan terjadi, pasti kedua sepupu ini akan kembalu adu mulut. Hal yang selalu terjadi ketika mereka sudah di satukan. Lila hanya tersenyum saja, setidaknya keadaan mereka sudah baik-baik saja, tak seperti kemarin.
"Ini karena kamu udah punya pacar, kamu lupa gimana keadaan kamu waktu masih jomblo?" sewot Ramona.
"Aku yang selalu jadi korban waktu itu, dia selalu minta di temenin kemana-mana bareng. Kamu tahu, La, kami hampir di juluki pasangan homo gara-gara dia ini," timpal Bima.
Lila tertawa dengan geli mendengar kalimat Bima, ia menatap Ryan yang wajahnya salah tingkah.
"Sebelum kamu muncul, La, dia ini cuma cowok yang gak punya tujuan hidup. Kasian banget pokoknya dulu," tambah Ramona.
Ryan menatap dua orang di hadapannya dengan tak percaya. Walaupun di ucapkan dengan sedikit candaan, tetap saja itu kenyataan yang memalukan. Harga dirinya bisa jatuh di hadapan Lila.
"Wah, memang paling bener kalian di jodohin. Sifat kalian ini cocok dan persis banget, nikah deh, kalian biar gak berisik." Ryan menunjukkan wajah kesalnya.
Ketiganya hanya bisa tertawa melihat Ryan yang kesal sendiri. Lila tak banyak bicara, ia hanya mengamati yang lain, dan ada kepuasan tersendiri dari hal itu. Ia sangat senang melihat Ryan yang menunjukkan banyak ekspresi dan lebih bahagia. Sepertinya ia tak bisa kembali berhadapan dengan Ryan yang dingin setelah melihat wanita paruh baya kemarin.
Mereka melanjutkan makab siang dengan khidmat sembari mengobrol dan tertawa satu sama lain. Itu adalah waktu yang paling membahagiakan di antara Ryan dan Lila, terlebih untuk Lila. Mungkin ini adalah saat-saat paling membahagiakan miliknya yang ia miliki selama ini. Ia tak pernah sesantai ini sebelumnya dan saling mengobrol dan tertawa, bahkan ia memiliki seorang pria yang sangat mencintainya.
Seumur hidupnya, ia tak pernah membayangkan saat-saat seperti ini. Kebahagiaan selalu tak pernah menghampirinya walaupun ia menginginkan hal itu, sejak saat itu ia tak pernah mengharapkan kebahagiaan lagi. Dengan tetap menjalani hidup bersama sang Ibu tanpa gangguan sedikitpun sudah merupakan kebahagiaan terbesar yang ia miliki.
Tertawa seperti ini adalah kemewahan yang tak bisa ia dapatkan di manapun. Ia tak tahu kapan ini akan berakhir, tapi ia hanya ingin berharap bisa selamanya. Ini adalah kenangan terindah yang tak akan bisa ia lupakan begitu saja.
Setelah di rasa cukup dengan obrolan santai, mereka memutuskan untuk pulang. Ramona bersama Bima, dan Ryan bersama Lila. Langkah mereka terhenti di pintu keluar mal tersebut. Ramona yang berjalan di depan bersama Bima, menoleh ke belakang pada Ryan setelah bertemu seseorang yang menghentikan langkah mereka. Entah ini kebetulan atau kesengajaan. Ibu Ryan dan juga adik tirinya, Ari.
Genggaman Ryan di tangan Lila mengerat, dari samping ini Lila juga bisa melihat perubahan raut wajah Ryan, rahangnya mengeras dan wajahnya berubah dingin. Sama seperti kemarin. Ternyata do'a Lila tak terkabul, ia kembali melihat sisi Ryan yang seperti ini.
Remaja laki-laki itu juga sedikit terkejut, tapi ia segera berjalan menuju Ryan dengan senyuman. Tapi, yang terjadi bukanlah sebuah pelukan seperti kemarin, tapi tonjokan remaja laki-laki itu di wajah Ryan.
"Jangan pernah membuat Ibuku menangis lagi!" teriak Ari. Ia menunjuk wajah Ryan yang tersungkur di lantai keras itu. Tubuhnya memang kecil, tapi bogeman mentah itu benar-benar mampu membuat tubuh Ryan jatuh.
Semua yang ada di sana terkejut, begitupun dengan pengunjung lain yang kebetulan melewati pintu tersebut.
Ryan bangkit dengan senyuman miring di wajahnya, ia sama sekali tak berniat untuk membalas tonjokan itu. Ia menatap Ari dengan dingin, ia menghargai remaja ini yang berusaha membela Ibunya. Ryan menatap Dewi yang berdiri membeku di tempatnya menatap kejadian yang tak terduga itu. Jadi, dialah antagonis di sini, anak durhaka yang selalu membuat Ibu kandungnya menangis. Lucu sekali rasanya.
"Bukankah aku memang sangat pantas di pukul?" tanya Ryan dengan wajah dingin. "Lain kali katakan pada Ibumu juga untuk berhenti menemuiku. Karena jika bertemu dengannya, aku tak bisa mengatakan kalimat yang berisi pujian padanya, dan ia memang pantas mendapatkan hal itu."
Setelah mengatakan kalimat itu, Ryan segera menggandeng tangan Lila dan pergi dari kerumunan yang mulai terbentuk. Wajahnya masih dingin, ia berjalan melewati semua orang, ia bahkan melewati Dewi tanpa mengatakan apapun dan menatap wanita itu.
**
"Ryan."
"Ryan."
"Ryan!"
Ryan segera membelokkan mobilnya ke bahu jalan, dan berhenti di sana. Ia menyembunyikan kepalanya di kemudi mobil, kejadian di mal tadi benar-benar tak terduga dan ada Lila di sampingnya yang kembali menyaksikan semuanya.
"Aku antar kamu pulang," ucap Ryan. Wajahnya masih kaku dan tak menatap Lila sama sekali.
Lila memegang tangan Ryan yang kembali akan menyalakan mobilnya. Ia tak bisa melihat Ryan yang seperti ini, ia ingin menenangkan pria ini dari apapun yang mengganggu pikirannya. Sepanjang jalan tadi, Ryan menyetir dengan pandangan kosong dan wajah yang sangat dingin. Sangat bertolak belakang dengan Ryan yang tertawa lepas di restoran tadi.
"Liat aku, Yan," ucap Lila lembut.
Ryan belum bergerak sedikitpun, lebih tepatnya ia tak ingin melihat Lila dalan keadaan seperti ini. Tapi, ia juga tak bisa menghindari lagi. Nanti, pasti ada kemungkinan mereka akan bertemu secara kebetulan seperti ini.
Lila melepas sabuk pengamannya dan memiringkan tubuhnya menatap Ryan, ia meremas tangan pria itu lembut, berusaha meyakinkan pria itu bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Tak ada pergerakan dari Ryan sendiri, tapi Lila setia menunggu pria itu menatapnya dan tetap meremas jemari Ryan dengan lembut. Tak ada kalimat yang terucap lagi dari bibir Lila, ia membiarkan keheningan mengisi ruangan di mobil itu. Hanya ada bising dari lalu lalang kendaraan di sekitar mereka. Lila tahu, kalimat apapun tak akan mampu menenangkan pria ini, ia hanya akan menunggu.
Lila mengecup punggung tangan pria itu. "Kamu tahu kalau aku akan selalu ada di samping kamu, kan?" ucap Lila lagi.
Butuh lima menit hingga Ryan benar-benar menatap Lila. Mata mereka bertemu, dan Lila memberikan senyum hangatnya. Lila merentangkan kedua tangannya, meminta pria itu untuk memeluknya.
Ryan juga melepas sabuk pengaman miliknya, dan masuk ke dalam pelukan Lila. Ia memeluk Lila dengan erat, seolah takut kehilangan wanita itu. Tapi, ia hanya ingin menyalurkan emosi yang sudah membuncah sejak tadi.
Lila tak begitu pandai merangkai kalimat untuk menenangkan orang lain. Ia bahkan tak bisa menenangkan dirinya sendiri, ia hanya menyimpan semuanya sendiri. Tapi, kali ini ia sangat ingin menenangkan pria ini dari segala hal ataupun masalah yang mungkin sedang di hadapinya. Ia ingin menjadi kekasih terbaik untuk pria ini.
**
Kikan tak pernah pergi ke Milan, ia masih ada di Indonesia tanpa sepengetahuan siapapun. Ia menyepi di kota Bali. Itu semua hanya alasan yang ia buat untuk pergi dari mereka semua. Beresiko memang, tapi ia tak mempermasalahkan semua itu. Jika ia jujur mengatakan ingin liburan di Bali, ia tak bisa lepas dari Joshua. Pria itu menyatakan rasa sukanya setelah Kikan akan pergi, ia ingin tinggal tapi tak ingin.
Jadi, Kikan memutuskan akan tinggal di Bali selama waktu yang ia butuhkan. Entah itu satu tahun, dua tahun, atau mungkin seterusnya. Ia belum ingin kembali pada sang Ayah dan yang lainnya. Kikan sangat tahu betapa sang Ayah masih sangat mencintai Ibu Lila, dan masih sering terlihat sedang melamun dengan foto wanita itu di tangannya.
Kikan tak bisa, ia tak bisa menyaksikan hal itu secara langsung. Jadi ia memutuskan untuk lari, dan memberi kesempatan pada sang Ayah untuk kembalu dekat pada keluarga pertamanya.
Ia tak mungkin menjadi model lagi di Bali, banyak orang akan segera mengenalinya. Kikan mencoba peruntungannya sebagai pelayan restoran. Segala jenis kartu kredit dan bahkan ponselnya tak ia gunakan lagi. Ia benar-benar ingin memulai semuanya dari awal, sebagai Adelia, ia juga tak ingin menggunakan nama Kikan.
"Mbak Adel lebih cocok jadi aktris daripada kerja kayak gini," ucap Gina.
Pekerjaan mereka sudah selesai, dan mereka tengah mengganti baju mereka di loker untuk pulang. Bekerja sebagai pramusaji adalah pekerjaan yang sangat berat untuk Kikan yang baru pertama menjajal bidang ini. Sejak dulu ia tak pernah bekerja keras seperti orang lain, ia memiliki segalanya, apalagi yang di perlukan jika ia harus bekerja, bahkan sang Ayah sangat memanjakannya.
"Emang terkenal enak, ya, Na. Aku lebih seneng kerja kayak gini," ucap Kikan.
Tak ada wajah angkuh, tak ada nada dingin yang Kikan gunakan, ia berubah sepenuhnya. Rambut panjangnya juga sudah ia potong agar semakin meyakinkan penampilan jika ia bukan Kikan lagi.
"Pasti enak, Mbak, gak perlu kerja keras kayak kita ini. Kalo aku sih mau banget jadi aktris, tapi gak memungkinkan."
Gina ini baru memasuki usia dua puluh dua dan masih kuliah. Ia hanya bekerja paruh waktu di restorab itu, dan dia masih sangat polos di tengah-tengah kota yang keras ini. Kikan menyukainya, ini pengalaman pertama memiliki teman, setelah Lila dan Icha. Persahabatan mereka kala itu sangat indah, jika saja Kikan tak merusaknya.
"Selesaikan kuliah kamu dulu, baru jadi aktris," ucap Kikan.
Gina cemberut di tempatnya. Jika tidak ada Gina yang membantunya selama di Bali, mungkin ia tak bisa berada di sini. Mereka tinggal di kos yang sama hanya berbeda kamar, karena Gina juga merupakan anak rantauan dari Bandung.
"Pulang, yuk. Udah laper, nih," ajak Kikan.
Selama Kikan berada di Bali, tak ada masalah ataupun hal-hal aneh yang terjadi. Hanya tekanan pekerjaan saja yang cukup meluluhkan rasa percaya diri Kikan. Ia cantik tentu saja, tapi bukan hanya cantik yang di butuhkan, ia bukan lagi model tapi pramusaji yang melayani tamu. Sejauh ini, walaupun ia bisa mengatasi, ada saat-saat ketika ia ingin menyerah dan kembali ke Jakarta. Tapi ia berhasil menahan semua keinginan itu.
Untuk apa ia jauh-jauh terbang ke Bali jika pada akhirnya ia hanya akan kembali ke Jakarta?
**
Lila terbangun dari tidurnya di tengah malam, ketika ia melihat jam digital di nakas, baru menunjukkan pukul dua dini hari. Terkadang, jika Lila tak menelan pil tidurnya, ia memang selalu terbangun di tengah malam seperti ini. Lila tak pernah mengkonsumsi anti depresan lagi, tapi ia terkadang meminum obat tidur jika di butuhkan. Hal itu sudah di larang oleh dokter yang menangani Lila, ketergantungan pada obat apapun sangat tak baik untuk kondisi tubuh.
Dan inilah yang terjadi jika Lila tak mengkonsumsinya. Ia tak akan bisa tidur lagi jika sudah seperti ini, beruntung besok hari minggu dan ia tak memiliki janji dengan Ryan. Omong-omong soal Ryan, pria itu sudah baik-baik saja. Lila yang memastikan semua itu, walau tak ada penjelasan tentang siapa anak remaja yang memukul Ryan, dan juga wanita paruh baya yang bersama remaja itu.
Tak apa, bukan hal mudah untuk menceritakan semua itu. Lila sendiri menyadarinya, bagaimana Ryan memeluknya dengan erat kemarin.
Lila turun ke lantai satu untuk menuju dapur, mungkin jika ia meminum susu, ia bisa mendapatkan kantuknya kembali. Lampu dapur menyala dengan remang-remang, dan Ibunya duduk di meja makan hanga dengan penerangan seperti itu.
"Ibu?" tanya Lila memastikan. Bagaimana jika itu hanya bayang-bayang Lila saja karena ia baru saja terbangun?
Lara mendongak, dan mendapati putrinya berdiri di pintu dapur. Ia tersenyum dan memanggil Lila untuk mendekat padanya.
"Ibu ngapain gelap-gelapan di sini?" tanya Lila lagi.
"Ibu cuma haus aja tadi. Kamu kebangun?"
"Iya, selalu seperti ini kalau Lila gak minum obat tidur."
Hening. Lara juga tak tahu harus mengatakan kalimat apa lagi, ia tak menyangka anaknya juga akan terbangun seperti ini.
"Ibu lagi ada masalah?"
Lara menggeleng, memberikan senyum terbaiknya pada Lila. Sepertinya sifat tertutup Lila turun dari Ibunya. Jika ada masalah, mereka selalu berusaha menutupi sebisa mungkin, mereka saling mengerti satu sama lain dengan masalah yang ada, tapi mereka juga memilih menutupinya.
"Apa ini tentang Tante Laura lagi?" tanya Lila lagi.
Mereka sudah pernah berjanji untuk saling terbuka, dan tak ada rahasia lagi. Jadi Lila tak akan melepaskan begitu saja.
Lara kembali menggelengkan kepalanya. "Mungkin Ibu cuma kecapean aja, kamu tahu sendiri, kan, kemarin cukup banyak pelanggan di sini?"
Jika sudah seperti ini, Lila tak bisa menanyakan lebih jauh lagi. Lila bukan tipe pemaksa untuk sesuatu yang memang belum saatnya untuk di ketahui.
"Ibu istirahat aja di kamar kalau gitu, nanti Lila coba cari karyawan lagi buat bantu-bantu di toko Ibu."
Lara hanya menganggukkan kepalanya, ia tak ingin menceritakan semuanya dulu pada Lila agar tak merusak kebahagiaan sang putri. Selama hampir enam tahun, ini adalah senyum pertama Lila yang sangat lepas. Dan Lara tak ingin merusaknya begitu saja.
"Ibu ke kamar dulu kalau gitu, kamu buat susu hangat biar bisa tidur lagi," ucap Lara.
Lila hanya tersenyum simpul, ia tahu ada masalah yang sedang di sembunyikan. Nanti, ia akan kembali bertanya pada Ibunya.
**