
Kikan untuk kesekian kalinya meminta untuk bertemu dengan Lila, ia tak tahu untuk apa semua itu. Apa kali ini Kikan akan kembali melabraknya karena mendekati Joshua lagi? Pertemuan mereka hanya sebatas itu,
tak ada hal lain yang akan mereka bahas juga, dan ini hari sabtu. Hari yang selama beberapa minggu ini sudah menjadi kebiasaan Lila untuk menikmati waktu berdua dengan Ryan.
Setelah pertengkaran kemarin, Lila akan memikirkan kembali kapan waktu yang tepat untuk berbaikan dengan kekasihnya itu. Rasa kecewa itu sangat membekas di hati Lila, walaupun karena hal sepele. Pengalaman yang
ada selalu mengajarkan Lila untuk tak menyepelekan sesuatu.
Lila melihat Kikan yang memasuki kafe dengan kacamata hitam, sifat angkuh itu masih bisa Lila rasakan dari jarak yang cukup jauh dari pintu masuk dengan meja yang di pesan Lila. Ya, saudara tirinya ini adalah seorang model yang sangat terkenal, dan juga memiliki sikap angkuh. Tak ada yang bisa di ubah dari semua itu.
“Apa lagi yang ingin kamu bicarakan?” tanya Lila tanpa basa basi. Hubungan mereka tak cukup dekat dan juga tak buruk, hanya ada sarkasme jika keduanya bertemu, serta sedikit pertengkaran kecil.
Itulah realita di antara saudara tiri ini yang juga dulunya bersahabat.
“Kamu gak mau nanyak kabarku?”
Lila menaikkan bahunya. “Apa penting? Sebelumnya juga tak pernah. Kita memang tak pernah akrab, kan?”
Kikan tersenyum tipis, ya, mereka tak pernah seperti itu sejak bertahun-tahun lalu. Setidaknya, kali ini Kikan berusaha untuk bersikap baik. Mereka berbagi darah yang sama dari Ayah mereka.
“Aku akan pergi ke Milan,” ucap Kikan.
“Kamu meminta bertemu karena ingin memberitahuku hal ini? Kamu masih Kikan yang sama, kan? Kikan yang asli tak akan melakukan hal seperti ini.”
Lengkungan bulan sabit itu kembali menghiasi bibir Kikan. Ia juga tak tahu setan mana yang coba merasuki jiwanya. Semenjak sakit, ia merasakan sesuatu yang aneh pada dirinya, yang seperti bukan dirinya. Seperti yang ia lakukan bersama Lila saat ini, mereka saling tak menyukai satu sama lain, tapi memiliki keterikatan satu sama lain juga.
“Pertunanganku dengan Joshua juga sudah berakhir, aku mungkin bakal pergi dalam waktu lama. Aku juga gak tahu kenapa ngelakuin hal ini, kita gak dalam hubungan yang baik, dan kita duduk di satu meja seperti ini.”
Lila menatap Kikan penuh selidik, Kikan benar-benar sangat aneh kali ini, kenapa juga Lila harus mengetahui semua itu? Ia sama sekali tak ingin berurusan dengan hal yang berhubungan dengan Kikan, Joshua, bahkan Ayahnya sekalipun.
“Apa yang bakal kamu lakuin di Milan? Sekolah model? Atau melanjutkan kariermu di sana?”
“Hal-hal seperti itu, mungkin aku akan lama, mungkin juga sebentar. Masih belum pasti, jika aku ingin, mungkin aku akan menetap di sana.”
“Kenapa ucapanmu seperti kamu akan pergi untuk selamanya? Bukankah kariermu sudah cukup baik di sini?” tanya Lila.
Semua orang hanya mengetahui gemerlap kesuksesan selebriti dari luar, mereka tak tahu apa yang terjadi dalam kehidupan mereka sendiri. Kikan kesepian, dan ia banyak mendapatkan tekanan dari berbagai arah, ia sama sekali tak memiliki teman untuk mengungkapkan semua perasaannya. Ia memiliki tunangan yang bahkan sama sekali tak mempedulikannya. Jika di ceritakan lebih lanjut, maka ini semua hanya tentang usahanya untuk bertahan. Ia ingin membuktikan pada banyak orang jika ia mampu, ia bisa melakukan semuanya karena ia memang seorang profesional.
Semakin lama, ia merasakan hampa. Ia memiliki semuanya, tapi hatinya perlahan membeku, dan lagi-lagi taka da yang peduli.
“Aku ingin mengembalikan semua hal pada tempatnya, aku sudah cukup melakukannya selama ini. Termasuk Joshua dan juga Papi,” ucap Kikan.
“Aku gak ngerti maksud kamu apa.” Lila mengerutkan keningnya tak mengerti.
“Aku mau kamu berbaikan dengan Papi, Aku tahu, kesalahannya sangat besar, tapi tetap saja dia adalah Ayahmu.”
Lila mencoba untuk memproses semua hal yang di katakan oleh Kikan. Ia tak ingin salah mengerti, tapi kalimat Kikan juga tak mampu membuatnya salah sangka. Maksudnya adalah, Kikan meminta Lila untuk menemani Ayahnya karena Kikan akan pergi jauh entah untuk apa.
“Aku gak ngerti kamu ngelakuin ini untuk apa, aku tetap akan ngelakuin apapun yang aku mau. Entah itu berbaikan dengan pria itu atau tetap seperti ini, orang lain gak akan bisa ngertiin itu.”
“Aku selalu ngerasa bersalah karena udah jadi orang jahat di sini, itulah kenapa aku ngelakuin ini,” ucap Kikan.
Benar-benar ada yang salah dengan Kikan, ini bukan Kikan yan ia kenal. Dimana semua keangkuhan itu? Kenapa ia bisa seperti ini? Apa mereka harus berbaikan sekarang karena hari ini?
**
Lila masih memikirkan ucapan Kikan bahkan hingga ia dalam perjalanan kembali. Entah apa yang terjadi pada sahabatnya itu, hingga bisa memiliki pilihan seperti ini. Ia akan pergi, ya mungkin memang itu pilihannya. Tapi, hingga memutuskan pertunangan dengan Joshua dan meminta Lila untuk berbaikan dengan pria itu. Tanpa Kikan minta pun, Lila sendiri mungkin tak akan melakukan itu.
Jika itu berbaikan dalam arti mereka harus rukun kembali bersama Ibunya, maka Lila menolak. Hubungan itu jelas-jelas sudah berakhir, dan Lila maupun Ibunya tak ingin hubungan itu kembali terjalin. Biarlah masa lalu itu tinggal di tempatnya, mereka akan melangkah ke depan dengan senyuman dan kebahagiaan. Dan orang-orang yang pernah ada di masa lalu tak akan ikut dalam kebahagiaan itu.
Hari masih sore, Lila tak memiliki tujuan lain, jadi ia memutuskan untuk kembali ke rumah. Mungkin ia akan melakukan pekerjaan yang tertunda, atau membantu Ibunya di toko serta menyiapkan makan malam. Ryan juga
belum menghubunginya sejak kemarin, tapi, ketika mobilnya mulai memasuki pekarangan rumah, Ryan sudah kembali berdiri di sana, bersandar di samping mobilnya. Persis seperti yang di lakukan hari sebelumnya.
Lila keluar dengan santai, mungkin sedikit menghindari Ryan adalah hal terbaik yang ia lakukan. Setidaknya untuk saat ini.
“Lila, aku ingin bicara padamu.” Ryan menahan pergelangan tangan Lila yang akan berlalu meninggalkannya lagi.
“Aku pikir, aku butuh waktu untuk kembali mendengar penjelasanmu, Yan,” ucap Lila. Tapi pegangan di tangan itu tak berusaha ia lepaskan.
Lila menatap Ryan yang terlihat benar-benar berantakan. Ia tak suka di bohongi, apalagi jika taka da penjelasan atas semua sikap yang di lakukan. Menerka-nerka sendiri apa kesalahan kita adalah hal terburuk yang pernah ada, jika bisa saling jujur, kenapa harus berusaha keras untuk melakukan hal itu?
“Kembalilah ke rumahmu dan istirahat, kita bisa bicarakan ini besok,” ucap Lila lembut.
Kantung mata di bawah mata Ryan cukup mengganggu dan Lila tak menyukainya. Mungkin Lila sudah benar-benar jatuh cinta pada Ryan hingga bisa semudah ini luluh, tapi kebohongan itu tetap tak termaafkan.
“Kamu maafin aku?”
Lila menyentuh pipi Ryan lembut. Ia tak tahu dnegan pasti bagaimana proses ia jatuh cinta pada pria ini, semuanya terjadi begitu saja. Mungkin karena mereka memiliki rahasia yang tak bisa di ungkapkan oleh masing-masing mereka, atau karena mereka berbagi rasa sakit yang sama. Mungkin karena hal-hal semacam itu.
Tak ada jawaban yang Lila berikan, hanya usapan itu saja dan mampu membuat Ryan tenang kembali. Inilah kenapa ia sangat mencintai Lila, tak perlu ada kalimat penenang dan hanya sentuhan kecil seperti ini mampu membuatnya melupakan semua masalah. Biarlah jika orang lain menganggap ini sangat menggelikan, cinta memang seperti itu.
“Aku akan pulang, dan akan menghubungimu lagi besok.”
Lila menganggukkan kepalanya. Ryan memberi kecupan hangat di kening Lila sebelum meninggalkan wanita itu. Sekarang, ia tak perlu memikirkan obat apa yang bisa membantunya menenangkan dirinya, ia hanya butuh Lila di sampingnya. Obat mahal sekalipun tak akan menggantikan pentingnya posisi Lila di hatinya.
Sepertinya Lila tak bisa terlalu lama marah pada Ryan. Pada Ryan, ia benar-benar merasakan kesamaan yang sangat mirip. Menyimpan rahasia. Lila belum berniat mengatakan yang sejujurnya, dan ia juga tahu Ryan melakukan hal yang sama. Wanita paruh baya yang tak sengaja mereka temui kemarin, mungkin itu bagian dari rahasia yang tak ingin di ceritakan oleh Ryan
Ia akan mencari alternatif lain. Mereka tak perlu mengatakan rahasia yang mereka miliki, jika memang belum siap, tapi mereka tetap harus memperbaiki hubungan yang ada. Ada semacam retakan dalam hubungan tanpa sebuah kejujuran, dan mereka harus memperbaiki keretakan itu tanpa menceritakan apa yang harus di ceritakan. Pasti ada hal semacam itu, kan?
**
Ini adalah hari terakhir Kikan di Indonesia, besok ia akan berangkat menuju Milan untuk waktu yang ia sendiri belum tahu akan berapa lama. Ia mengatakan akan mengikuti kelas model di sana dan membangun kariernya dari bawah lagi, memang benar. Hanya saja tak akan persis seperti itu, liha saja yang terjadi di sana nanti.
Karena hari terakhir, tak banyak yang Kikan lakukan. Semua barang keperluannya sudah di pastikan masuk ke dalam kopernya, ia tak memiliki teman lain untuk di kunjungi dan berpamitan. Hanya Lila, dan sudah ia lakukan sejak kemarin. Ia hanya bisa diam di rumah, ia tak berniat untuk bermain di luar. Di hari biasanya, mungkin ia akan mengganggu Joshua yang sedang sibuk bekerja.
Pikiran tentang Joshua tak bisa ia hentikan begitu saja, terus menghantuinya seperti ini sejak keputusan yang ia ambil. Kikan masih tak tahu mana yang terbaik, ia hanya ingin melakukan apa yang harus ia lakukan. Ia menatap ke bawah, di pekarangan yang di tumbuhi rerumputan dan bunga-bunga dari berbagai jenis. Semua itu adalah peninggalan sang Ibu, yang kini di rawat oleh tukang kebun untuk menjaga keindahannya.
Ia merindukan wanita itu, Ibunya. Ia tak bisa hidup dengan baik seperti janjinya pada sang Ibu, ia justru hidup dengan menyedihkan sekarang. Sama seperti Lila yang dulu melarikan diri, kini Kikan juga akan melarikan diri. Tak tahu apa yang terjadi nanti, ia hanya ingin melarikan diri dari semua ini.
Mobil yang baru saja masuk ke pekarangan rumah menjadi fokus Kikan. Itu bukan mobil Ayahnya, walaupun sang Ayah akan berjanji untuk pulang lebih awal dan makan malam bersama sebelum kepergian Kikan besok. Itu sangat jelas adalah mobil Joshua, apalagi yang pria itu lakukan di sini.
Kenapa sesulit ini untuk mengusir pria itu dari hidupnya?
“Apa lagi yang kamu inginkan?” tanya Kikan dingin. Ia tak ingin membiarkan pria itu masuk ke dalam rumahnya lagi, ia menghadang pria itu di pintu masuk.
“Kamu gak menawariku untuk masuk dulu?” tanya Joshua dengan senyum hangat.
“Aku tak ingin kamu masuk ke dalam rumah ini, setidaknya sampai aku pergi besok.”
“Aku justru tak akan memasuki rumah ini jika kamu gak ada di dalamnya.”
Sepertinya pria ini benar-benar sudah gila, atau ada makhluk lain yang merasuki tubuh pria ini? Pilihan kedua terdengar lebih masuk akal. Joshua sangat membenci Kikan sepenuh hatinya sejak pertunangan mereka, dan kini setelah tiga tahun, Joshua bersikap baik padanya. Apa dunia akan berakhir besok?
“Ayahmu memintaku untuk menggantikannya menemanimu makan malam, ia tak akan bisa pulang dengan cepat karena masih memiliki rapat,” ucap Joshua.
“Kalaupun benar seperti itu, aku lebih memilih di batalkan. Kamu bisa kembali ke kantormu.” Kikan berniat untuk menutup pintu, namun gerakannya di tahan oleh Joshua.
“Kenapa kamu bisa seegois ini? Kamu mempermainkan perasaanku selama tiga tahun ini, lalu kamu juga melakukan hal yang sama ketika kamu akan meninggalkanku….”
“Sudah kubilang untuk berhenti bersikap peduli padaku. Aku tak pernah sedikitpun merasa mempermainkanmu, kamu hanya mengabaikanku. Apa salah jika aku menyerah setelah tiga tahun ini?” potong Kikan.
Joshua menatap mata Kikan. Keangkuhan di mata itu seolah sudah menghilang dan di ganti dengan sebuah perasaan lain, dan entah kenapa Joshua tak bisa berhenti untuk peduli pada wanita ini setelah semua yang terjadi. Mungkin setelah Haryo memberitahukan semuanya pada Joshua, ia jadi bisa sedikit mengerti apa yang sedang di rasakan wanita ini. Apa itu juga bagian dari simpati?
Tanpa mengatakan apapun lagi, Joshua segera memeluk Kikan. Beruntung tak ada perlawanan dan Kikan bisa dengan tenang ada di pelukannya. “Kalau kamu memang seangkuh itu, lakukan dengan benar. Jangan lakukan
sesuatu yang bisa membautku berubah pikiran,” ucap Joshua.
Kikan hanya diam di pelukan itu, ia tak berniat untuk membalas pelukan itu, ataupun kalimat yang di lontarkan pria itu. Untuk apa menanggapi, jika pada akhirnya Kikan tetap memilih untuk pergi. Ia tak ingin kembali bersikap drama dan menangis di pelukan pria ini, lalu mereka kembali bersama seperti yang di harapkan, dan mereka berakhir bahagia.
Itu hanya kisah di dongeng, yang tak akan terjadi di dunia nyata. Pada kenyataannya, kita harus hidup menghadapi kejamnya kenyataan. Setelah banyaknya kesalahan yang Kikan lakukan saat ini, ia tak yakin bisa mendapatkan akhir yang bahagia. Dia adalah antagonis dalam kisah ini, dan antagonis tak pernah mendapatkan kebahagiaan dengan mudah.
“Sepertinya aku mulai menyukaimu,” ucap Joshua lagi.
Hening. Kikan kembali diam, tak berniat untuk menjawab atau mengatakan kalimat lain lagi. Untuk apa mengatakannya sekarang? Apa dengan mengatakan kalimat itu semuanya akan berubah? Semuanya akan berakhir bahagia begitu saja. Hal seperti itu tak terjadi dalam hidup Kikan.
**