Trapped in You

Trapped in You
Episode 40



Happy reading 🤗


**


Lara memasuki ruang kerja Laura, kakaknya itu masih sibuk mengurusi perusahaan keluarga hingga saat ini. Suaminya sudah meninggal lima tahun yang lalu, berita itu tersebar di semua media cetak dan juga elektronik. Tanpa di hubungi pun, Lara sudah mengetahuinya.


Banyak hal yang ingin ia bicarakan, walaupun tak pernah berakhir dengan baik. Karena emosi keduanya yang mudah terpancing bahkan untuk masalah kecil. Setelah dua puluh tahun lalu, semua sudah berubah walau hubungan mereka masih saudara.


"Ada apa?" tanya Laura.


"Kapan kamu akan berhenti mengurusi balas dendammu itu?"


"Pada Haryo? Kenapa menanyakan itu? Kamu keberatan? Atau masih menyukai pria itu?" Laura menatap Lara di depannya.


Benar, kan? Pembicaraan mereka tak pernah lepas dari emosi, walaupun selalu di awali dengan kalimat yang baik.


"Aku tahu kamu menemui Haryo kemarin, apa dia yang memintamu untuk bertanya padaku?" tanya Laura lagi.


Tak perlu di ragukan lagi bagaimana Laura dapat mengetahui hal tersebut. Entah berapa banyak mata-mata yang di bayar oleh kakaknya ini untuk memantau Lara dan juga Lila. Setelah dua puluh tahun berpisah, lalu tiba-tiba saudara kalian muncul dan mencampuri semua urusannya. Motif yang di munculkan jelas balas dendam, tapi apa harus seperti ini?


"Aku sama sekali tak peduli pada Haryo ataupun dirimu, aku hanya peduli pada putriku. Setelah dua puluh tahun, kamu muncul dengan tiba-tiba dan mengacaukan hidup kami. Apa kamu sama sekali tidak merasa bersalah?" tanya Lara dengan emosi.


Laura menatap adiknya tajam. Laura selalu di kenal sebagai wanita yang tangguh dan juga keras, semua sifatnya menurun dari sang Ayah. Berbeda dengan Lara yang lebih lembut, mereka seperti dua kutub yang saling bertumbukan. Ayah mereka selalu membanggakan Laura untuk semua hal, dan Lara selalu di minta untuk mengikuti jejak kakaknya.


"Aku hanya melindungi kalian, keluarga kita sudah terpecah selama dua puluh tahun, dan aku ingin pria itu membayar untuk semua perbuatannya. Sampai kapan kamu mau mencurigaiku?"


"Jika ada yang harus di salahkan dari terpecahnya keluarga kita, itu harusnya kalian. Aku yang memilih jalanku sendiri untuk keluar dari rumah, dan kalian sama sekali tak peduli. Yang ada di pikiran kalian hanya nama baik keluarga!"


Laura mulai terpancing dengan semua ucapan Lara. Sudah sangat lama ia merencanakan hal ini, dan yang ia inginkan hanyalah sang adik yang ikut bekerja sama. Jika adiknya membenci Haryo, maka ia juga akan membenci pria itu.


"Kamu masih mencintai pria itu," ucap Laura. Tak ada tanda tanya di kalimat itu, itu pernyataan, bukan pertanyaan.


Hening. Keduanya terdiam menatap satu sama lain. Mungkin sudah hampir tiga bulan Lara dan Lila tinggal di rumah yang sama dengan Laura, dan selama itu pula ketegangan selalu berlangsung. Pembicaraan mereka tak pernah jauh dari Haryo dan seluruh rencana yang di susun Laura dan Bobby. Tak heran selalu ada ketegangan yang melingkupi rumah tersebut.


"Kenapa tak muncul lebih awal? Kenapa harus menunggu selama dua puluh tahun ini? Apa kamu tak pernah tahu betapa sulitnya aku menjalani hidup? Aku hanya ingin hidup dengan tenang bersama putriku, dan kamu muncul dengan seluruh ide konyolmu itu," ucap Lara lirih.


Air mata tak mampu keluar lagi, Lara lelah. Ia ingin diam saja dengan semua yang sudah di rencanakan Laura, tapi tak bisa. Jika mereka berdua ingin kembali berperang satu sama lain, maka jangan libatkan Lara.


"Kenapa tak membalas dendam padaku juga? Bukankah aku juga mempermalukan keluarga dan menghancurkan keluarga ini juga?" tanya Lara lagi.


Lara tak akan pernah mendapatkan jawaban untuk semua pertanyaan itu, karena ia langsung keluar dari ruang kerja Laura tanpa mengatakan apapun lagi. Ia tak membutuhkan jawaban itu, karena apapun isinya, Lara akan tetap membenci Laura.


**


Pemandangan itu sebenarnya adalah pemandangan yang cukup familiar untuk sesi pemotretan yang di lakukan Kikan. Joshua yang mengunjungi set pemotretan Kikan. Semua staf sudah tak asing lagi, begitupun dengan beberapa model yang sangat iri dengan Kikan yang memiliki segalanya. Semakin kita memiliki segalanya, maka semakin banyak juga orang yang membenci kita.


"Apa aku bisa berbicara berdua saja dengan Kikan?" tanya Joshua. Ia sedang berada di ruang tunggu Kikan, dan ada beberapa staf yang sibuk merias dan memastikan kostum Kikan sempurna untuk hari ini.


Tak ada yang membantah ucapan Joshua, mereka semua keluar tanpa mengatakan hal lain. Kikan menatap Joshua dengan kesal, karena kejadian kemarin, rasa kesal Kikan semakin bertambah pada pria ini.


"Apa lagi? Aku harus segera bersiap untuk pemotretan nanti," jawab Kikan.


"Aku ingin membicarakan soal pertunangan kita," ucap Joshua.


Kikan terdiam di depan meja riasnya. Dia memang sedikit labil, bisa dalam satu hari ia akan melakukan ini dan itu, tapi beberapa jam kemudian ia akan melakukan apapun selain yang sudah ia rencanakan. Kemarin ia mengatakan ingin mengakhiri pertunangan mereka, tapi setelah ia pulang ke rumah, ia sedikit menyesali ucapannya.


"Aku akan membicarakan dengan Papi, besok malam kita adakan makan malam."


Tapi, keputusan itu juga sudah bulat. Kikan bukan tipe wanita yang akan menarik kembali ucapannya, berlaku untuk semua hal. Lagipula rasanya sudah cukup ia menahan sakit hati selama tiga tahun ini karena sikap dingin Joshua.


Mungkin ia akan mulai merelakan cintanya dan melanjutkan hidup. Semua ini di mulai dengan cara yang salah, dan ia sudah menyakiti Lila. Sahabat dan juga saudara tirinya. Ia juga memiliki hati dan masih bisa berpikir dengan sehat. Joshua juga masih mencintai Lila, apa lagi yang bisa Kikan lakukan untuk itu?


"Aku tak ingin pertunangan ini berakhir," ucap Joshua.


Seharusnya Kikan bahagia mendengar kalimat itu, dan tinggal mengiyakan saja agar hubungan mereka tak pernah berakhir. Tapi, Kikan sama sekali tak bahagia dengan kalimat itu.


"Apa menurutmu, kamu bisa menolak ini? Aku yang memulai semua ini, jadi aku yang akan mengakhirinya. Perusahaanmu akan baik-baik saja, begitupun dengan keluargamu. Aku tak selicik pikiranmu."


Untuk Kikan, semua kalimat Joshua hanya bermuara pada satu hal. Perjanjian bisnis kedua orang tua mereka. Pertunangan itu juga termasuk bisnis untuk membantu kondisi perusahaan Ayah Joshua yang hampir di ambang kebangkrutan kala itu. Haryo dengan baik hati membantu perusahaan itu berdiri lagi, dengan syarat pertunangan anak mereka.


Pertunangan itu juga terjadi karena campur tangan Kikan, dan karena rasa sayang sang Ayah pada putri satu-satunya.


"Aku pastikan pertunangan ini gak pernah berakhir, Kikan."


"Kamu yang mau ini sejak dulu, Jo. Kenapa sekarang kamu kayak gini?" tanya Kikan. Ia menatap mata Joshua dari pantulan di cermin riasnya, ia tak ingin berbalik dan menatap mata itu langsung.


"Berhenti bersikap egois, Kikan. Kamu menyiksaku selama ini, bukankah ini saat yang tepat untuk kamu merasakan apa yang kurasakan saat ini? Jadi, jangan pernah berpikir untuk memutuskan pertunangan kita."


"Kikan, ayo siap-siap," ucap salah satu staf.


"Ya."


Kikan bangkit dari duduknya dan keluar dari ruang ganti itu. Ia sudah kembali memasang topeng angkuh di wajahnya. Hampir semua orang sudah mengenal topeng itu, jadi akan terus Kikan gunakan. Ia tak ingin menunjukkan kelemahannya pada orang lain, sangat bukan Kikan.


Setelah memasuki set pemotretan, masih ada Joshua di sana, pria itu sedang mengobrol dengan salah satu staf. Biasanya pria itu tak pernah melihat pemotretan Kikan, apa pria itu sedang mencari kelemahan Kikan?


Mata mereka bertemu untuk sesaat, tapi Joshua segera mengalihkan tatapannya pada staf yang sedang berbicara dengannya. Apa yang Kikan harapkan? Pria itu tak ingin memutuskan pertunangan mereka karena tiba-tiba mulai mencintai Kikan? Imajinasi seperti itu hanya ada di pikiran Kikan saja.


Joshua berdiri di samping set berbentuk tembok yang terbuat dari triplek. Kikan melihatnya, tembok itu mulai sedikit miring, dan Joshua tak menyadari hal itu.


"Joshua!"


**


Joshua berdiri dengan gelisah di depan ruang gawat darurat. Kikan berada di dalam sana setelah mendorongnya, dan tertimpa dengan properti buatan yang terbuat dari papan tipis itu. Bentuknya memang terlihat tipis, tapi properti itu sudah di bentuk menjadi sebuah tembok.


Ia tak menyangka Kikan akan melakukan itu, sampai harus mengorbankan dirinya sendiri untuk Joshua. Atau Kikan memang sengaja melakukan itu untuk membuat rasa bersalah Joshua semakin besar? Hal-hal kecil seperti itu sudah bisa Joshua tebak, tapi tetap saja ia khawatir


Haryo sedang memiliki pekerjaan di luar kota, dan belum bisa pulang dalam waktu dekat, jadi Joshua yang akan menjadi wali Kikan.


Sudah lebih dari dua jam dokter berada di ruangan itu, dan belum ada tanda-tanda pemeriksaan Kikan selesai. Tak lama kemudian, pintu ruangan UGD terbuka, dan seorang dokter dan juga suster keluar dari ruangan itu.


"Bagaimana kondisi Kikan, dok?" tanya Joshua dengan buru-buru.


"Bahu kanannya mengalami keretakan, tapi beruntung karena cepat di tangani hingga tak terjadi hal yang fatal, dan kaki kanannya terkilir. Selebihnya tak ada hal yang perlu di khawatirkan, ia harus tinggal di rumah sakit sampai bahu kanannya membaik. Malam ini, pasien sudah bisa di pindahkan ke ruang perawatan."


Helaan napas Joshua sudah sedikit teratur mendengar penjelasan sang dokter. Setidaknya tak ada hal yang serius. Joshua berjalan menuju ruangan UGD tersebut, ia belum di perbolehkan masuk, tapi ia bisa melihatnya melalu kaca jendela ruangan tersebut.


Ia melihat Kikan yang terbaring lemah di ranjangnya. Tak ada lagi raut angkuh di wajah itu, ia sangat damai. Dari semua hal yang terjadi, ia masih tak menyangka jika Kikan akan menyelamatkan dirinya. Wanita itu mencintainya sejak dulu, Joshua tahu hal itu. Ia hanya tak bisa membalas perasaan wanita itu lebih dalam lagi.


**


Kikan perlahan membuka matanya yang sangat berat. Ia berusaha menyesuaikan pandangannya pada cahaya di atas matanya. Apa ia berada di surga? Terakhir kali yang bisa ia ingat adalah, ia menyelamatkan Joshua dari properti yang akan jatuh. Apa karena hal itu, ia langsung mati?


"Kamu sudah sadar?"


Samar-samar Kikan mendengar suara tersebut, ia mencoba memfokuskan pandangannya pada seseorang yang berada di hadapannya. Ia belum mati? Atau ini adalah malaikat?


Kikan memcoba menggerakkan tubuhnya, tapi, semuanya terasa sangat ngilu. "Jangan gerakkan tubuh kamu lebih dulu, saya akan memanggil dokter dahulu."


Setelah di rasa pandangannya mulai fokus, Kikan bisa melihat wanita berseragam putih sedang berlari menuju pintu keluar. Ah, ia belum mati rupanya. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan yang berwarna putih. Ada selang infus yang tergantung di sampingnya, tak ada orang lain lagi di ruangan itu selain dirinya.


Memangnya siapa yang ia harapkan? Ayahnya sedang berada di luar kota sampai tiga hari ke depan, Joshua? Mungkin pria itu sedang sibuk bekerja, dan sama sekali tak ingin menjenguk Kikan. Dan tak ada orang lagi, oh, manajernya. Tapi, manajernya itu pasti sedang sibuk mengurus semua berita yang keluar tentang kecelakaan ini.


Tak lama setelahnya, seorang dokter dan dua orang suster memasuki kamar rawat Kikan. Tubuhnya masih sangat lemah dan sangat ngilu di seluruh bagian tubuhnya. Apa separah itu kondisinya? Rasanya, ia tak merasakan apapun ketika tertimpa properti itu.


"Semua tanda vital bagus, sebaiknya jangan banyak menggerakkan tubuh kamu dahulu. Semakin banyak bergerak, maka penyembuhan untuk bagian bahu juga akan semakin lama," ucap dokter tersebut setelah selesai melakukan pemeriksaan.


Kikan hanya tersenyum lemah. Ia tak pernah selemah ini sebelumnya, mungkin ini pertama kalinya. Payah sekali dirinya ini.


"Sebentar lagi suami kamu akan datang, akan ada satu suster yang berjaga sampai suami kamu datang. Jika menginginkan apapun, kamu bisa langsung memintanya."


Suami? Siapa pria yang mengaku-ngaku sebagai suaminya? Apa Joshua?


Sang dokter segera keluar setelah mengatakan semua itu, di ikuti dengan seorang sister, dan ada satu suster yang tinggal. Apa Joshua mampu berbuat hal sebaik ini pada Kikan? Kenapa rasanya sangat aneh.


Joshua berlari dengan tergesa-gesa memasuki ruang rawat Kikan setelah mendapat kabar jika Kikan sudah sadar. Sudah pukul delapan malam, dan ia baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Ini benar-benar saat paling krusial dalam hidupnya, perasaannya yang tak menentu selama rapat sedang berlangsung tadi. Ia tak tahu pengaruh Kikan akan sebesar ini.


Ia memberikan senyum pada sang perawat yang berada di ruangan itu. Manajer Kikan sibuk di kantor agensinya mengurus para wartawan yang berkerumun di kantor sejak berita kecelakaan Kikan. Tak ada pilihan lain selain meminta sang perawat untuk membantunya berjaga.


Kikan sudah sadar, tapi wanita itu sama sekali tak menatapnya. Wajah pucat wanita itu membuat hatinya bergetar, ia tak pernah melihat sisi Kikan yang seperti ini.


"Kenapa kamu melakukan hal itu?" tanya Joshua.


Tak ada jawaban dari Kikan. Ya, ia juga tak berharap wanita ini akan dengan sukarela menjawab pertanyaan Joshua. Wajah angkuhnya boleh hilang, tapi sikap wanita ini di pastikan tetap sama seperti biasa. Tak ada yang bisa berubah dari hal itu.


"Aku akan tetap memutuskan pertunangan ini, tak peduli jika kamu menolaknya. Pulanglah, aku ingin beristirahat," ucap Kikan lirih.


Joshua menatap wanita ini yang masih mengalihkan pandangannya. Ia juga tak mengerti kenapa dirinya tak ingin pertunangan ini berakhir. Padahal ia bisa dengan mudah mengiyakan, dan ia akan terbebas dari hubungan bisnis ini. Tapi, hatinya menolak. Tak mungkin jika ia jatuh cinta pada Kikan, cintanya masih bersama dengan Lila.


"Aku akan tidur di sini, panggil saja aku jika kamu butuh sesuatu."


**