
Sangat jarang ketika Lila merasakan bisa pulang lebih awal dari kampus tanpa sebuah gangguan yang berarti. Sekarang waktu sudah menunjukkan pukul dua siang dan kelas terakhirnya sudah berakhir. Sebenarnya itu adalah jadwal pulang Lila seperti biasa, tapi jika mendapatkan gangguan seperti dua hari yang lalu pasti sangat merepotkan. Ingat ketika Ryan membawa Lila ke pantai? Itu adalah yang Lila maksud.
Toko milik Ibunya tampak sepi. Yah, sebuah usaha tak selalu mulus jalannya, kan? Lila berjalan dengan riang memasuki toko bunga sang Ibu. Di banding dengan toko baju, Lila lebih menyukai toko bunga sang Ibu. Lila
bukan penggemar pakaian, ia lebih suka melihat bunga, termasuk yang sudah di rangkai sang Ibu. Selain wangi, juga indah.
“Ibu, Lila pu—“ ucapan Lila terhenti ketika melihat seorang pria sedang berbincang dengan sang Ibu.
Lara dan juga pria di hadapannya juga terkejut dengan kehadiran Lila. Ekspresi Lara sangat tak terkontrol, ia tak menyangka kalau Lila akan pulang lebih awal tak seperti biasanya. Dan yang paling terpenting, Lara belum menceritakan sama sekali tentang kemunculan pria di hadapannya ini yang lagi-lagi muncul di toko miliknya.
“Oh, Bapak yang waktu itu, kan? Yang bertanya tentang toko bunga ini?” tanya Lila. Ia sangat tak asing dengan wajah pria itu. Pria yang sempat Lila harapkan bisa menjadi Ayahnya itu.
Lara terkejut mendengar ucapan Lila. Jadi mereka sudah bertemu sebelumnya? Lara menatap pria di depannya tapi justru yang ia dapati adalah ia yang bertatapan dengan Lila. Lara benar-benar belum siap untuk menjelaskan semuanya pada Lila.
“Oh ya, Bapak inget, kamu di sini juga?”
“Ah, sebenarnya saya anak pemilik toko ini,” ucap Lila hati-hati.
Pria itu menatap Lara tak percaya. Mungkin ini memang sebuah kebetulan, Lara percaya itu, tapi kenapa harus dalam keadaan seperti ini. Lara memalingkan wajahnya ke arah lain, ia tak ingin melihat ekspresi Lila ataupun pria di hadapannya ini.
“Lila, kamu masuk dulu, ya, Ibu udah siapin makan siang,”
Walaupun Ibunya tak mengatakan apapun, tapi Lila tahu kalau ada sesuatu tentang pria itu. Sejauh yang Lila tahu, Ibunya itu tak memiliki teman pria bahkan sangat menghindari berhadapan dengan pria. Dan dari gerak tubuh sang Ibu juga sangat terlihat jelas. Sang Ibu tak nyaman bersama pria itu. Lila sangat tahu bagaimana Ibunya selama ini bersikap
Pasti ada sesuatu di antara mereka, Lila hanya tak tahu ada apa.
Lila tak ingin berpikir sampai sejauh itu, tapi, bagaimana jika pria itu adalah dari masa lalu sang Ibu. Alasan dari semua tangisan sang Ibu di malam hari. Lila tak pernah tahu foto Ayahnya sejak kecil dan juga foto yang selalu di tangisi sang Ibu. Tapi, jika di pikir lagi, semua itu masuk akal.
Memangnya apa yang akan terjadi jika itu memang Ayahnya? Takkan ada yang terjadi, karena jika semua pikirannya benar, maka Lila akan menarik kembali kalimatnya tentang ingin menjadikan pria itu sebagai Ayahnya.
Ia tak pernah tahu cerita masa lalu kedua orang tuanya, tapi semua itu sangat jelas ketika mendengar tangisan Ibunya setiap malam.
Lila bahkan pernah bersumpah, siapapun orang yang sudah membuat Ibunya seperti ini, ia takkan memaafkan. Biarlah jika ada yang mengatakan betapa sempit otaknya berpikir. Bayangkan jika kalian hanya memiliki Ibu yang selalu kerja keras menghidupi sang anak seorang diri tanpa mengenal lelah tanpa bantuan siapapun, tanpa mengeluh sedikitpun, semua hanya demi bertahan hidup. Lalu di pertengahan malam kalian bisa mendengar tangisan pilu sang Ibu. Tangisan yang sarat dengan kerinduan dan juga rasa lelah.
Lila tumbuh dengan keadaan seperti itu tanpa sepengetahuan sang Ibu. Lila terlalu muda untuk memahami semuanya, lalu sekarang ketika Lila sudah semakin dewasa, ia mulai bisa memahami semuanya secara perlahan. Keduanya adalah wanita yang saling menyembunyikan perasaan, berharap hal itu mampu menghapus kecemasan masing-masing mereka. Tapi, ternyata mereka salah, karena hal itu bukanlah suatu hal yang baik.
Banyak hal yang ingin Lila tanyakan pada sang Ibu, tapi ia tak ingin menyakiti Ibunya. Ia sangat tahu kalau sang Ibu belum siap untuk menjelaskan segalanya, dan mungkin juga Lila belum siap mendengar penjelasannya lebih lanjut.
**
Sejak pertemuan secara sengaja yang di atur oleh sang Bibi dua hari yang lalu, Ryan kembali bersikap dingin pada Ina. Ryan sangat tahu kalau hal itu bukan kesalahan sang Bibi, tapi ia hanya merasa kesal karena harus bertemu dengan wanita yang tak ingin ia temui seumur hidunya.
Kenapa baru sekarang mereka mencari dirinya setelah bertahu-tahun? Apa mereka tak menyadari kesalahan mereka selama ini? Seharusnya mereka cukup berbahagia bersama keluarga mereka masing-masing, karena Ryan tak pernah menuntut apapun dari kedua orang tuanya itu.
Mereka ingin minta maaf, setelah sekian lama? Entah apa yang sedang mereka pikirkan saat ini. Harusnya memang Ryan hanya tinggal memaafkan mereka lalu permasalahan selesai, tapi, apa mereka pikir luka yang
Ryan miliki selama ini mampu terhapus begitu saja hanya dengan satu kata maaf? Ryan tak sebodoh itu.
Ia tak peduli jika ada yang mengatainya tak tahu di untung, harusnya ia merasa bangga memiliki kedua orang tua yang lengkap. Tapi apa yang hebat dari semua itu? Nyatanya kedua orang tuanya sibuk dengan karirnya masing-masing, mereka sibuk mengejar jabatan agar mendapatkan gaji layak, dengan alasan sang putri yang sangat gigih bekerja.
Di sanalah kesalahan mereka, mereka lebih memilih pekerjaan di banding sang anak yang semakin hari semakin bertumbuh dewasa, dan mulai mengerti apa yang sedang terjadi.
“Ryan, sarapan dulu,” panggil Ina ketika ia melihat Ryan baru saja turun dari lantai dua. Ina memperlihatkan senyum tulusnya pada Ryan, walaupun itu tak terlalu memiliki efek pada Ryan.
Ryan tak mengatakan apapun, ia langsung duduk di kursi dengan satu piring nasi goreng yang tersaji di meja makan. Ryan menikmati itu dalam diam, tanpa peduli pada sang Bibi yang duduk di seberannya.
“Bibi minta maaf, Yan. Bibi janji ini gak akan terulang lagi,” ucap sang Bibi. Ia hanya memandangi Ryan yang makan dengan lahap itu.
Hening.
Ryan menyelesaikan sarapannya dalam waktu kurang dari sepuluh menit, lalu ia segera beranjak dari duduknya. Sebenarnya sang Bibi adalah orang terakhir yang ingin ia sakiti, tapi pertemuan dengan Ibu kandungnya itu selalu meninggalkan kesan buruk dalam ingatan. Jadi, Ryan tak bisa berbuat apapun selain menahan emosi yang sudah tumbuh dalam dirinya itu.
“Ryan pergi dulu, Bi.” Itu adalah kalimat pertama yang di ucapkan Ryan, ia bahkan tak menatap sang Bibi sama sekali.
Ina tak menjawab ataupun menganggukkan kepalanya karena Ryan juga tak akan menjawab hal tersebut. Ini seperti kembali ke masa lalu, ketika Ryan pertama kali masuk ke dalam keluarga mereka. Ryan kecil juga sama keras kepalanya seperti Ryan dewasa, hanya saja pada tahun itu, ketika pertama kali Ryan masuk ke keluarganya, ia sama sekali tak ingin berbicara.
Ina juga sangat mengutuk perbuatan sang Kakak yang meninggalkan Ryan begitu saja, bahkan jauh sebelum itu, Ryan sudah mendapatkan pengabaian dari kedua orang tuanya. Tapi, ketika Kakaknya itu mengatakan penyesalan yang ia alami dan ingin menebus dosanya, Ina percaya. Tapi hal itu kembali menjadi bumerang untuknya sendiri.
Ina hanya berharap, hati Ryan mampu melunak hingga mampu memaafkan mereka yang sudah menyakiti Ryang di masa lalu.
**
“Gak ada yang mau kamu jelasin ke aku, La?” tanya Icha. Mereka sedang berada di perpustakaan kota untuk mencari bahan referensi atas tugas masing-masing mereka, tentunya di selingi dengan obrolan ringan dan juga gosip yang sedang beredar.
“Memang cerita apa?” tanya Lila polos. Ia sangat tahu apa maksud pertanyaan dari Icha, ia hanya tak ingin terlalu antusias lalu mempermalukan dirinya sendiri.
Icha menghembuskan napasnya lelah, Lila selalu berusaha untuk terlihat polos dan tak mengetahui apapun, tapi percayalah kalau Lila mengetahui segalanya lebih dulu. “Kenapa kamu selalu nanya hal yang sama? Apa gak bisa langsung jawab gitu?” tanya Icha jengkel.
“Kalo yang kamu maksud itu Ryan, jawabannya udah pasti aku menolak. Lagian kamu juga pasti udah denger semuanya, kamu mau jawaban yang kayak gimana lagi?”
“Kamu yakin kalian gak punya hubungan apapun?” tanya Icha lagi memastikan
Lila terdiam sejenak, ia sedang menimbang apakah perjanjian itu bisa ia bagi dengan Icha. Icha sangat blak-blakan, bagaimana jika tiba-tiba Icha membahas hal tersebut pada orang lain, tapi kemungkinan itu sangat tak mungkin sebenarnya. Icha bukan tipe gadis seperti itu.
“Kami pacaran kontrak.” Lila pasrah. Biarkan saja seperti ini, lagipula itu hanya lisan, orang akan mudah melupakannya.
Icha mengernyit. Kenapa Icha merasa seperti sedang berada di sebuah drama rumit yang sering Ibunya tonton di rumah. “Kamu bercanda?”
Lila menatap Icha. “Tapi Ryan serius waktu bilang kayak gitu sama aku,” ucapnya.
Icha menelisik sahabatnya itu lebih dalam lagi. Ia tak melihat bagaimana Lila bisa menyetujui hal tersebut, padahal ia masih sangat ingat bagaimana rasa kesal Lila pada Ryan. Serta gosip-gosip yang beredar itu memang membuktikan kalau kedua sejoli ini memang memiliki sesuatu.
“Ryan yang usulin itu?”
Lila hanya mengangguk sembari fokus pada buku di hadapannya. Kondisi perpustakaan tak terlalu ramai hingga menyisakan banyak meja dan bangku kosong. Memangnya siapa yang rajin mendatangi perpustakaan di
jaman sekarang ini? Bahkan mahasiswa lain lebih memilih mengerjakan tugas di kafe di banding mendekam di perpustakaan.
“Berarti dia beneran suka sama kamu, kalo gak, gak mungkin dia ngusulin hal aneh kayak gitu.”
“Hubungan kami gak kayak gitu, dia cuma mau nolong aku buat hindarin Joshua, gak ada maksud lain,” ucap Lila acuh.
“Dan kenapa dia harus peduli sama itu semua, La? Itu, kan, masalah kamu dan Ryan bukan siapa-siapa.”
Lila menghentikan tulisannya di buku lalu menatap Icha. Sebenarnya Lila juga menanyakan hal yang sama, dan ketika di tanya, Ryan tak pernah memberinya jawaban yang pasti. Ryan selalu memberinya jawaban yang ambigu, yang selalu berakhir dengan Lila yang kembali mengharapkan hati seorang Ryan.
“Aku juga gak ngerti, Ryan gak pernah bener-bener jawab alasan dia ngelakuin semua ini. Aku cuma bakal ambil positifnya aja, lagian selama ada dia aku aman dari Joshua.” Yah, itu yang terpenting. Lila tak memedulikan hal lain lagi.
Tapi, benarkah seperti itu? Kenapa hatinya seolah menolak?
“Selagi kamu gak masalah, aku setuju-setuju aja. Aku gak mau kamu nambah masalah lagi, kamu tahu sendiri gimana kerasnya hidup di kampus ini.”
Lila tertawa, sangat sulit hidup di kampus ini. Jika tak memiliki hati sekeras baja, maka pastikan jangan mendaftar ke sana. Tapi semoga di semester baru, hal yang di alami Lila tak di alami oleh juniornya.
“Aku harap aku bisa bertahan, Cha. Aku capek mikir semua ini.” Lila menjatuhkan kepalanya di meja. Sangat banyak yang ia pikirkan, belum lagi masalah Ibunya.
Mereka masih bersikap seperti biasa ketika berada di rumah, berinteraksi selayaknya Ibu dan anak, tapi Lila tetap merasa ada yang salah dalam sikap mereka. Lila tahu Ibunya belum siap untuk menceritakan semua yang terjadi, dan Lila hanya akan sabar menanti hingga sang Ibu akan bercerita.
**
Lila sampai di rumah tepat pukul tujuh ketika sang Ibu sudah menunggunya untuk makan malam. Sejak kedatangan pria itu, mereka selalu makan dalam diam walaupun Lila kerap bercanda dengan sang Ibu. Suasana tenang
yang biasanya sudah berubah menjadi canggung walaupun Lila tak melakukan apapun. Ia cukup mengerti dengan permasalahan sang Ibu yang belum ingin di bagi, Lila bisa menunggu.
“Seperti biasa, La.”
Hening.
Lila tak sebaik itu untuk mengembalikan suasana. Ia hanya sudah berusaha keras. Lila memutuskan untuk kembali fokus pada makan malamnya saja. Mungkin nanti ia akan mencoba lagi.
“Lila,” panggil Lara.
Lila menoleh menatap Lara yang juga sedang menatapnya. “Ibu…Ibu…ingin menceritakan tentang Ayahmu,” ucap sang Ibu dengan ragu-ragu.
Sudah sejak lama Lara ingin menceritakannya, hanya saja ia terlalu takut untuk kembali membuka kisah itu dan reaksi Lila. Kisah itu sudah sangat lama terpendam di hatinya, menunggu untuk di keluarkan, tapi Lara bukan wanita sekuat itu. Hatinya tak sekuat itu.
“Apa pria itu?”
Lara terkejut menatap Lila. “Kamu sudah tahu?” tanya Lara tak percaya.
“Lila hanya menebak, jadi benar?”
“Ya, dia Ayahmu.”
Hati Lila bergemuruh mendengar jawaban sang Ibu, sangat bertolak belakang dengan raut wajahnya yang tampak santai. Ia sudah menduga hal tersebut, tapi ketika mendengar jawaban itu langsung, perasaannya bercampur aduk. Lila pernah berharap bahwa pria itu adalah Ayahnya, yang ternyata memang benar.
Lila bahkan tak mampu mengatakan hal lain lagi, ia senang, tapi juga khawatir. Perasaannya tak menentu, rasa senang itu tak mendominasi dirinya. Ia hanya menanti sang Ibu untuk menceritakan lebih lanjut.
“Kami melakukan kesalahan di usia muda, lalu pria itu bertanggung jawab. Usia kami benar-benar sangat muda saat itu, masih di penuhi emosi dan juga egois. Lalu pria itu memutuskan untuk pergi sebelum kamu lahir.” Lara tak berani menatap Lila, ini seperti pengakuan dosa. Lara merasa bersalah karena tak mampu memberikan keluarga yang utuh untuk anak gadisnya ini.
Jadi Lila lahir karena kesalahan masa muda kedua orang tuanya. Ia tak ingin berpikir hal buruk, tapi kalimat itu seakan menusuknya secara tak kasat mata. Lila seakan bisa memaklumi semua perbuatan teman-teman kampusnya, lalu Kikan, Joshua, bahkan Ryan, karena memang Lila terlahir karena sebuah kesalahan.
Lila tak tahu ingin mengatakan kalimat apa lagi, lidahnya sangat kelu hanya untuk mengeluarkan satu kalimat. “Apa…apa kalian saling mencintai?” tanya Lila dengan susah payah
“Ya, tapi sepertinya itu sudah sangat lama.” Lara mencoba menyentuh tangan Lila, ia menceritakan hal itu bukan karena alasan lain, ia tak ingin Lila berpikir hal lain karena itu. “Tapi Ibu sangat bersyukur memilikimu, kamu yang menguatkan Ibu selama ini. Ibu hanya ingin kamu tahu kisah yang sebenarnya.”
Lila hanya mengangguk, lalu apa yang akan terjadi setelah ini? Apa ia akan memiliki orang tua yang lengkap? Kenapa ide itu terlihat buruk untuknya?
“Apa Ibu akan kembali pada pria itu?”
Lara hanya menggeleng. Sebanyak apapun ia merindukan pria itu, sebanyak apapun cinta yang masih Lara miliki untuk pria itu, ia takkan pernah kembali. Tak ada alasan kuat yang membuatnya ingin kembali pada pria itu. Ia justru ingin menyelesaikan semuanya. Sepertinya luka itu masih sangat membekas di hatinya, walaupun sudah dua puluh tahun berlalu.
Ini bukan salah Lila karena lahir ke dunia, menyalahkan kedua orang tuanya juga bukan hal baik. Mereka masih muda saat itu, dan sudah pasti saling mencintai, walaupun perbuatan itu memang salah. Tapi, sudah terjadi, kan?
Tak perlu menyalahkan siapapun, itu hanya akan menambah beban perasaan. Hanya perlu menerimanya, kan?
**
Bohong jika Lila tak memikirkan apa yang di katakan oleh Ibunya kemarin malam. Lila memang tipe orang yang sangat acuh, tapi jika itu menyangkut dirinya dan juga sang Ibu, ia akan memikirkan segalanya. Kedua orang tuanya melakukan kesalahan dulu, membuat sang Ayah meninggalkan sang Ibu begitu saja. Padahal mereka saling mencintai dulunya, kenapa begitu mudah meninggalkan?
Sepanjang kelas pagi itu, Lila hanya menatap dosen yang sedang berbicara di depan sana tanpa minat. Bahkan hingga kelas berakhir, Lila masih setia berada di tempat duduknya. Ia masih memiliki satu kelas terakhir, dan akan di mulai satu jam lagi. Akhirnya dengan berat hati Lila bangkit dari duduknya karena ia sudah merasakan perutnya yang kelaparan.
“Gak nyangka, ya, dia kayak gitu. Padahal ngeliat hubungan mereka kayaknya manis banget, eh taunya suka mainin cowok juga.”
“Aku sih, udah gak heran. Mukanya aja yang keliatan polos, hatinya busuk banget.”
“Padahal cantik gitu, kasian banget Ryan sama Joshua.”
“Cewek cantik jaman sekarang gak punya otak. Asal cantik semua cowok bakal nempel, tinggal manfaatin, deh.”
Itu adalah kalimat-kalimat yang Lila dengar sepanjang ia berjalan di koridor. Semua orang menatapnya dengan jijik sembari memegang ponsel. Lila sama sekali tak membuka ponselnya sejak tadi. Sepertinya ada gosip baru lagi mengenai dirinya. Lila berbelok menuju toilet di lantai satu, ia ingin mengecek ponselnya terlebih dahulu.
Setelah mengunci pintu kamar mandi, Lila segera membuka ponselnya. Di ruang obrolan kelasnya, hampir semuanya memberi kalimat makian pada foto yang di bagikan. Foto-foto Lila yang sedang bersama pria, Ryan, Joshua, bahkan Profesor Dani ketika Lila ingin meminta kuis susulan di ruangan sang Dosen.
“Cewek kayak Lila gini emang kebanyakan sok suci, di luar aja baik tapi dalemnya busuk. Beruntung banget Joshua udah mutusin.”
“Tapi kasian Kikan, si pelacur ini pengen ngegaet Joshua lagi, mungkin Ryan belum cukup. Pak Dani aja sampe jadi korban.”
Lila menutup mulut tak percaya dengan ucapan teman-teman sekelasnya. Entah apa yang mereka pikirkan tentang foto tersebut, tapi semua makian itu tak berdasar. Lila tak merebut Joshua dari Kikan, Lila tak menggoda Pak Dani, tapi foto itu di ambil dari sudut yang membuat semua orang salah paham.
Ia tak bersalah, tapi kenapa harus melalui semua ini. Kenapa ada orang tak bertanggung jawab yang harus menyebarkan foto itu dalam sudut seperti itu? Apa salahnya hingga harus mendapat perlakuan seperti itu?
Lila terduduk di lantai kamar mandi yang dingin, air matanya mengalir perlahan. Pikirannya kacau. Dari semua hal yang pernah di gosipkan, kali ini adalah yang terburuk. Komentar di ruang obrolan kelasnya sangat buruk, di tambah lagi mereka yang secara terang-terangan mengucapkan itu secara tak sadar.
Sepertinya kesalahan terbesar yang Lila miliki adalah terlahir ke dunia ini. Kesalahan orang tua yang harus ia tanggung di masa ini, harusnya memang ia tak pernah lahir. Lila membekap mulutnya dengan tangan, ia tak ingin ada yang menemukannya dalam keadaan seperti ini. Air mata itu juga tak mau berhenti, sarat dengan kepiluan yang dalam. Ini adalah batas dirinya. Semua kepura-puraan yang ia agungkan seolah keluar bersama air mata
yang mengalir di pipinya.
**
Ryan tak mampu menemukan Lila dimana pun. Gadis itu absen di kelas terakhirnya, di perpustakaan pun tak terlihat juga tanda-tanda Lila berada di sana. Icha juga tak terlihat di manapun. Ponsel gadis itu sudah mati sejak tadi. Ryan sudah melihat foto-foto yang tersebar, foto biasa dengan komentar provokatif yang membuat orang lain berpikir hal lain.
Hanya orang bodoh yang akan mempercayai foto seperti itu. Jika saja Ryan mampu menemukan siapa orang yang sudah menyebarkan foto itu hanya untuk menghancurkan orang lain, sayangnya Ryan belum bisa menemukannya.
Tapi sepertinya hampir semua mahasiswa di sini mempercayai foto tersebut. Entah apa yang sedang terjadi pada gadis itu. Ryan sedang berada di lantai satu gedung Fakultas Seni Rupa, apa Lila mungkin sudah pulang?
Penglihatannya seketika tertuju pada toilet yang terletak di sampingnya, bisa saja Lila berada di sana. Ia mencoba membuka pintu toilet tersebut yang sedikit susah untuk di buka. Ketika sudah berhasil di buka, toilet itu kosong dan tak ada tanda-tanda seseorang di sana. Ryan keluar dengan lesu, ia mengeluarkan ponselnya dan kembali menghubungi Lila yang lagi-lagi hanya di jawab oleh operator.
Tapi, kenapa ia harus bersusah payah seperti ini hanya karena seorang wanita? Ia bahkan hampir mengelilingi seluruh Fakultas hanya untuk mencari Lila. Hal yang sangat aneh dan tak pernah ia lakukan sebelumnya, dan lagi-lagi Lila berhasil membuatnya kelimpungan. Entah apa jenis perasaan yang sedang ia miliki saat ini, apapun itu Ryan berharap bukan cinta dan juga sejenisnya.
Sebuah ide untuk mengunjugi rumah Lila seketika muncul di otaknya. Yah, itu pilihan yang paling baik, bisa saja Lila memang sudah pulang sejak tadi dan Ryan hanya membuang waktunya dengan mengelilingi kampus yang sangat luas itu.
Beruntung jarak kampus dan rumah Lila tak cukup jauh. Hanya butuh sekitar dua puluh menit dengan mobil.ketika Ryan keluar dari mobil, ia mendapati Ibu Lila sedang berada di luar mengatur beberapa bunga-bunga yang tak teratur.
“Siang, Tante,” sapa Ryan sopan.
Lara menoleh mendengar panggilan itu, dan terkejut melihat Ryan berada di sana. “Nak Ryan, kan?” tanya Lara mematiskan.
Ryan mengangguk dengan antusias, ternyata Ibu Lila masih mengingatnya. “Ada apa kemari?” tanya Lara lagi.
“Saya mau ketemu Lila, Tante, apa dia ada di rumah?”
Tadinya Ryan ingin berbasa-basi terlebih dulu dengan menanyakan kabar dan hal kecil lainnya. Ketika ia menghitung waktu yang akan di gunakannya, Ryan memutuskan untuk segera bertanya daripada membuang waktu lebih banyak lagi.
“Bukannya dia masih di kampus? Lila biasanya pulang jam dua tepat, Nak Ryan gak ketemu sama Lila di sana?”
Ryan gelagapan, ia sebenarnya tak memiliki bekal apapun untuk menghadapi pertanyaan seperti ini dari Ibu Lila. “Oh ya sudah kalo gitu, Tante, saya dari rumah langsung ke kampus jadi gak sempat ketemu Lila. Kalau begitu saya permisi, Tante, lain kali Ryan mampir lagi.” Ryan tersenyum kecil sebelum meninggalkan toko milik Lara.
Lara tersenyum mengerti. Terlibat langsung bersama urusan sang anak gadis tak pernah masuk dalam daftar yang harus di lakukan, tapi ia terpaksa melakukan hal itu. Entah apa yang sedang terjadi pada Lila, tapi sebagai Ibu ia akan selalu melindungi anaknya dari apapun.
Setelah melihat kepergian Ryan, Lara langsung bergegas menuju lantai dua. Lila sudah pulang sejak tadi, dan gadis itu berpesan pada sang Ibu untuk tak memberitahukan keberadaannya pada siapapun yang akan datang mencari.
Lara mengetuk pintu kamar Lila sebelum memutuskan untuk masuk. Ia melihat Lila yang masih bergelung di atas tempat tidur memunggunginya. Ia mengaku sakit kepala hingga memutuskan untuk absen dari kelas terakhirnya, dan wajahnya memang sedikit pucat ketika Lila baru saja tiba di rumah.
“Sayang, kamu yakin gak mau ke rumah sakit? Apa kepala kamu masih sakit?” tanya Lara lembut.
Lila membalikkan tubuhnya menatap sang Ibu yang sedang tersenyum, tapi wajahnya sangat di penuhi kekhawatiran. “Bu, Lila mau di peluk,” pinta Lila dengan lemah.
Tanpa berkata apapun lagi, Lara segera berbaring di samping Lila dan mulai merengkuh tubuh anak gadis satu-satunya itu. “Tadi Ryan kesini,” ucap Lara. “Dia kelihatan khawatir banget sama kamu.”
Tak ada jawaban dari Lila, ia justru semakin mengeratkan pelukannya pada sang Ibu. Saat ini, ia hanya ingin berada di pelukan Ibunya tanpa memedulikan hal lain. Dunia sudah sangat kejam terhadap dirinya, dan ia semakin takut untuk menghadapi hal tersebut. Bukan ingin menjadi pengecut, tapi ia lelah saat ini dan hanya ingin beristirahat untuk sejenak.
“Bu, Lila mau pindah dari sini.”
**