
Keheningan kembali mengisi Lila dan Ryan saat perjalanan pulang setelah makan malam yang cukup mencekam itu. Benar-benar bukan makan malam yang normal untuk ukuran teman kuliah. Tapi mereka juga tak bisa di bilang sebagai teman kuliah, mereka bahkan tak dekat satu sama lain. Hanya tali takdir yang seperti menyatukan mereka menjadi beberapa orang yang memiliki hubungan aneh.
“Ternyata hubungan kalian udah sejauh itu,” ucap Kikan setelah mendengar jawaban Ryan.
“Gimana dengan kalian? Kalian juga udah cukup lama pacaran, kan?”
Di meja itu, hanya Ryan dan juga Kikan yang aktif berbicara, walaupun itu tak bisa di bilang sebagai pembicaraan. Mereka lebih seperti saling memamerkan siapa yang lebih unggul dari siapa, dan kali ini hubungan privasi mereka yang menjadi sasaran.
Kikan mengangkat bahunya, seolah tak peduli dengan pertanyaan itu. “Kami sibuk membangun karier dan aku gak bisa nikahin pria yang gagal move on kayak dia.”
“Kamu yang belum nerima lamaran aku, Kikan.” Joshua menimpali.
Lila mendongak mendengar ucapan Joshua. Bukan cemburu yang Lila rasakan, bahkan rasa itu tak sedikitpun menghampiri hatinya. Entahlah, ini lebih seperti terkejut dan juga tak percaya. Rasa penasaran itu menjalari tubuh Lila begitu saja dan seperti ingin menggali lebih dalam lagi.
“Anggap aja itu jawaban aku,” ucap Kikan.
“Kayaknya…kalian gak perlu ngomongin masalah pribadi di sini,” ucap Ryan dengan ragu. Pasalnya ia belum pernah menghadapi secara langsung pasangan yang sedang bertengkar.
Setelah obrolan itu, tak ada lagi yang berbicara. Mereka hanya menyantap makanan yang terhidang tanpa mengatakan satu kalimat pun. Itu adalah waktu hampir dua jam yang terasa sangat lama untuk mereka berempat. Mungkin untuk beberapa orang terdengar aneh dan tak akan ada yang mau berada di posisi mereka.
Mobil berhenti di lobi gedung apartemen Lila. “Makasih buat hari ini,” ucap Lila. Ia langsung membuka pintu mobil bermaksud untuk langsung keluar. Tak ada kalimat yang ingin Lila sampaikan lagi, mungkin ada, tapi Lila belum mampu merangkainya dengan baik. Lain kali ketika mereka bertemu lagi, Lila akan menyampaikan itu.
Ryan menahan lengan Lila. “Aku anterin kamu sampe atas.”
Belum sempat Lila menolak Ryan, pria itu sudah keluar dari mobil dan berjalan menuju gedung apartemen Lila. Mau tak mau Lila mengikuti pria itu.
Lila memiliki kesulitan berinteraksi dengan orang baru karena kebiasaannya yang lebih suka menyendiri. Ryan bukan orang baru, tapi mereka baru bertemu lagi setelah sekian tahun, dan segala hal di antara mereka masih terasa canggung. Dan untuk kesekian kalinya, mereka kembali menjalin hubungan rumit seperti tujuh tahun lalu. Mungkin memang mereka lebih menyukai hal-hal rumit di banding hal yang sederhana.
Hanya ada mereka berdua di dalam lift, dan sudah dapat di pastikan kalau keheningan kembali menyelimuti mereka. Lift yang membawa mereka ke lantai lima belas berjalan sangat lama. Lila dan Ryan kembali tenggelam dalam pkiran mereka masing-masing. Mereka mencoba mencari cara untuk menghancurkan keheningan serta kecanggungan di antara mereka, tapi belum ada satupun cara yang terpikirkan.
Setelah mereka keluar dari lift, Ryan kembali mengekori Lila menuju kamar apartemennya. Aneh rasanya karena selama ini Lila terbiasa melakukan semuanya sendiri, tapi kali ini ada seseorang yang setia berada di belakangnya.
“Aku gak akan minta kamu buat mampir, ini udah cukup larut dan aku yakin kamu butuh istirahat setelah perjalanan jauh,” ucap Lila. Mereka sudah sampai di depan apartemen Lila.
Ryan tersenyum. Bahkan sampai saat ini, Lila selalu mengalihkan pandangannya ke arah lain jika mereka sedang saling berhadapan seperti ini. Malam ini Ryan pasti akan tidur dengan nyenyak dan juga mimpi indah karena Lila.
“Aku minta maaf soal di restoran tadi, aku bener-bener gak tahu harus kayak gimana.”
Lila mendongak menatap Ryan yang juga sedang menatapnya. Sepanjang hari ini, Lila tahu kalau Ryan tak pernah berhenti menatapnya. Lila tak keberatan, ia hanya takut rona pipinya akan semakin memerah dan Ryan akan menyadarinya. Ia belum bisa menemukan serum untuk kekebalan diri terhadap Ryan.
“Gak papa, aku ngerti. Tapi aku berharap gak akan ketemu mereka lagi.”
Ada dua arti yang Ryan tangkap dari kalimat Lila barusan. Pertama, itu bisa berarti Lila tak menginginkan Ryan melakukan hal-hal seperti yang baru saja Ryan lakukan ketika bertemu Joshua dan Kikan. Kedua, Lila memang benar-benar tak ingin bertemu dengan kedua orang itu.
“Apa kamu masih punya rasa sama Joshua?” tanya Ryan. “Aku cuman mau mastiin aja, aku gak ada maksud apa-apa.” Ryan buru-buru menambahkan sebelum Lila kembali akan meninggalkan Ryan dengan jawaban dingin.
Kalimat Ryan tadi mampu membuat Lila melengkungkan bibirnya. Ryan benar-benar sangat berhati-hati padanya dan selalu memperhatikan semua kalimat yang akan di keluarkannya. Apa Lila benar-benar membuat Ryan
terintimidasi? Tapi itu sangat lucu untuk Lila.
“Aku bahkan udah lupa kalau aku punya perasaan sama dia.”
Kali ini Ryan yang tersenyum. Jawaban Lila merupakan angin segar untuk dirinya, walaupun semuanya belum pasti tapi kali ini Ryan yakin dengan hatinya dan takkan mengecewakan Lila. Hanya tinggal menunggu waktu sampai Ryan bisa menjadikan Lila sebagai miliknya.
“Kalo gitu aku pulang dulu.” Ryan melambaikan tangannya pada Lila dan berjalan dengan mundur agar bisa tetap memandangi wajah cantik itu, sampai koridor menelan dirinya dan ia benar-benar berpisah dengan Lila. Untuk hari ini saja.
**
Akhir pekan sudah berakhir, dan sudah saatnya untuk kembali bekerja di hari senin, hari yang sangat di benci oleh semua orang. Dulu Lila sangat mencintai hari senin dan malah membenci akhir pekan, tapi kali ini ada yang berbeda. Sejak pagi tadi, Lila merasa ada yang berbeda dengan siklus hariannya. Maksudnya, ia biasa bersemangat dengan hari senin, tapi tadi pagi ia bangun dengan rasa malas yang sangat luar biasa.
Mungkin efek Lila yang menghabiskan hari sabtunya bersama Ryan, dan ia tak ingin hari berganti menjadi senin dengan cepat. Ia menyukai bagian Ryan yang selalu menempelinya, sampai mempengaruhi hari senin terbaiknya.
Ini pertama kalinya terjadi setelah hampir tujuh tahun Lila memilih jalan hidup yang seperti ini. Pernah di katakan kalau kita sendiri yang memilih ingin bagaimana hidup kita ke depannya. Dan Lila memilih dengan menyendiri, ia bukan anti sosial, hanya saja ia sangat menghindari beberapa tipe orang yang sekiranya tak cocok dengan kepribadian Lila.
Karena pilihannya itu, Lila menjadi pribadi yang tertutup. Beberapa teman yang dulu belum mengenal Lila dengan baik selalu mengatakan kalau Lila sangat sombong dan dingin. Tapi begitu sudah mengenal, pendapat itu patah dengan sendirinya.
“Wah, aku kayak ngeliat ada pelangi di bagian ini,” ucap Riana. Ia menunjuk pada meja kerja Lila dan wajah Lila sendiri yang terlihat cerah dan tanpa di minta ia sudah mengeluarkan senyumnya. Itu juga hal yang sangat jarang terjadi.
“Ya ampun, ini pertama kalinya ngeliat pipi Lila merah kayak gitu. Kamu gak lagi sakit, kan, La?” tanya Derek dengan nada menggoda.
Pagi ini, semua orang masih sibuk di meja kerjanya masing-masing dan belum ada satupun dari mereka yang keluar untuk mengunjungi klien lagi. Dan itu semakin membuat Lila terpojok, ia benar-benar tak tahu bagaimana
harus menanggapi hal itu dan semua godaan yang di lemparkan rekan-rekannya.
“Apaan sih, kerja sana!”
“Apa Lila kita lagi jatuh cinta?” Matius ikut menimpali.
“Jadi penasaran sama cowok yang bikin Lila kayak gini, selama satu tahun ini, ini pertama kalinya Lila berseri-seri kayak gini. Inget gak sih, beberapa waktu kemarin Lila yang selalu uring-uringan,” Dimas melanjutkan. Dan semua orang yang ada di ruangan itu menganggukkan kepalanya dengan semangat. Mereka sudah tak peduli dengan kerjaan yang sedang mereka kerjakan.
“Apa jangan-jangan cowok yang kemarin nemuin Lila ke sini?” ucap Riana. Ia sudah dalam mode detektif, apalagi jika itu menyangkut kisah cinta salah satu rekan kerjanya. Kecuali Matius yang selalu mempermainkan wanita, pria itu tak masuk dalam hitungan.
Lila semakin menundukkan kepalanya di balik meja kerja. Ia tak bisa mengelak lagi dengan semua tuduhan itu, karena semua tuduhan itu adalah kebenaran. Kenapa perasaannya sangat sulit untuk di tutupi sebentar saja?
“Lila diam, artinya semua itu benar. Iya kan, La?” tanya Dimas langsung.
Semua mata sudah tertuju pada Lila. Mereka bertanya-tanya apakah itu benar. Sebenarnya yang menjadi masalah bukan salah atau benarnya, mereka sangat bahagia dengan perubahan yang terjadi pada Lila. Senyum itu, dan juga pipi yang memerah itu meruipakan hal yang sangat di syukuri oleh semua rekan-rekannya.
Melihat Lila yang selalu berekspresi dingin itu terkadang membuat mereka semua salah tingkah. Lila tak bercerita tentang masalahnya dan juga membuat benteng pertahanan yang tak bisa di tembus oleh siapapun. Riana yang juga sesama wanita juga tak bisa menembus pertahanan itu.
“Kalian ngapain?” tanya Anggara. Pria itu baru keluar dari ruangannya dan menemukan anggota timnya yang malah berkumpul mengelilingi meja kerja Lila.
“Kita lagi ngerayain Lila yang kayaknya baru jadian sama pacarnya,” jawab Matius asal. Yang selanjutnya Lila hadiahi pelototan tak terima.
Anggara tak mengatakan apapun dan hanya memandangi semua anggota timnya dengan tatapan datar, seperti tak tertarik dengan apapun yang sedang menjadi bahan obrolan mereka.
“Lanjutin kerjaan kalian, kita punya banyak kerjaan sampai akhir bulan ini.” Setelah mengatakan kalimat itu, Anggara berbalik untuk kembali masuk ke ruangannya.
Lila dan yang lainnya hanya saling tatap-tatapan tak mengerti dengan apa yang terjadi pada Anggara. “Mas Anggara kenapa?” tanya Lila heran.
“Tumben banget dia datar aja, lagi ada masalah kali,” ucap Derek.
“Jadi siapa, La?” tanya Matius. Ia seperti tak peduli dengan apa yang baru saja terjadi pada Anggara, yang menjadi fokusnya tetap Lila dan pria yang belum mereka ketahui.
Alih-alih menjawab, Lila justru melemparkan kertas pada Matius sebagai jawaban dan juga pelototan mautnya.
**
Setelah bergelut dengan pekerjaan dan juga ledekan dari semua rekan kerjanya, Lila akhirnya berhasil keluar dari kantornya untuk bertemu dengan kliennya. Sebenarnya ini Ryan, ia masih harus menyelesaikan pekerjaan atas rumah Ryan. Wajahnya sudah memerah sejak tadidan jantungnya juga berdetak tak karuan hanya karena akan kembali bertemu Ryan.
Apa ini yang di namakan jatuh cinta? Sejak kuliah pun Lila sudah merasakannya, hanya saja kali ini rasanya berbeda. Mungkin karena perbedaan dari cara Lila menangani perasaannya, jika dulu Lila akan penuh penyangkalan, kali ini pun begitu, hanya saja kali ini Lila lebih memilih untuk mengambil resiko terhadap apapun yang akan di hadapi ke depannya.
Ketakutan pada masa lalu dan masa sekarang masih sama porsinya, saat ini pun Lila masih merasa ketakutan jika hubungan ini berjalan semakin jauh. Bagaimana jika semua janji yang Ryan katakan ternyata di ingkari? Bagaimana jika kali ini Lila kembali tersakiti, apa Lila masih bisa melanjutkan hidup?
Harapannya pada Ryan sudah semakin bertambah walaupun kebersamaan mereka tak intens, tapi semua itu sangat bermakna untuk Lila. Semakin harapan itu bertambah, semakin besar pula ketakutannya. Lila sudah berjanji pada dirinya untuk bertahan dan terus melanjutkan hidupnya apapun yang terjadi. Hidup adalah tentang mengambil resiko.
Lila memarkirkan mobilnya di luar pagar rumah Ryan, karena ia tak akan lama, mungkin hanya untuk sekitar satu jam saja. Ia juga punya tanggung jawab terhadap kliennya yang lain. Ryan mengatakan kalau ia sudah ada di dalam dan begitu pun dengan beberapa pekerja yang masih memindahkan furniture.
Tak ada perasaan gelisah ataupun takut yang Lila rasakan ketika memasuki rumah itu, Lila juga tersenyum dan menyapa beberapa pekerja yang ia temui di luar. Perasaannya benar-benar ringan, sampai pemandangan itu tertangkap oleh matanya.
Ryan dan juga wanita yang pernah Lila temui waktu itu, jika ia tidak salah mengingat namanya adalah Vania. Dan Vania terlihat sedang menertawakan sesuatu, bersebelahan dengan Ryan. Benar-benar pemandangan yang tak terduga, Lila sama sekali tak pernah menduga hal ini.
Ah, tentu saja. Apakah Lila mengharapkan hubungan yang selalu berjalan dengan mulus dan membuat hatinya selalu berbunga-bunga? Ia baru saja mengatakan kalau akan menerima apapun resiko dari pilihannya ini, lalu ia di hadapkan dengan pemandangan ini. Mungkin ini adalah bagian dari ujiannya.
Lila terpaku di tempatnya berdiri, bingung untuk memilih apakah harus ia berdiri saja di tempatnya atau menghampiri Ryan dan juga wanita itu. Lagipula belum ada kepastian dalam hubungan mereka, lalu apa yang di harapkan Lila dari Ryan. Sudah di pastikan kalau wanita itu lebih dulu menjalin hubungan dengan Ryan di banding dirinya. Lila seperti sudah kalah sebelum bertanding.
“Bu Lila.”
Lila menoleh mendengar panggilan dari salah satu pekerja yang sedang melakukan tugasnya, begitu pun dengan Ryan yang langsung menolehkan kepalanya mendengar nama Lila di sebutkan.
Ternyata pria itu hanya menyapanya, Lila memberikan senyum pada pria itu lalu mengalihkan tatapannya pada Ryan yang juga sedang menatapnya. Apapun yang terjadi Lila harus profesional, ini pekerjaannya dan Ryan hanya klien. Itu saja. Untuk apa ia memikirkan hal lainnya. Siapapun wanita di samping Ryan, Lila tak peduli. Lila takkan peduli.