Trapped in You

Trapped in You
Episode 19



Tak pernah ada penderitaan yang tak berakhir, semua pasti akan berlalu. Seluruh badai yang memporakporandakan kehidupan pasti akan memunculkan pelangi pada akhirnya. Perumpamaan yang cukup indah, tapi ketika sudah benar-benar terjadi pasti akan jauh lebih buruk dari hal itu. Berbicara memang selalu mudah, tapi melakukannya tak pernah mudah.


Selesai dengan badai Ayahnya, Lila harus kembali menghadapi badai yang lain lagi, Ryan. Setelah semua masalah berbondong-bondong menyerangnya, ia harus tetap menjaga kesadarannya dan menghadapi masalah yang lain. Masalahnya ada pada Lila sendiri, Ryan hanya membantunya untuk lepas dari semua keterpurukannya, dan Lila menolak bantuan itu. Lila menolak semua bantuan orang lain yang ingin mendekati dirinya.


Setelah mampir di kantornya sebentar, Lila segera memacu mobil menuju rumah Ryan. Ia akan menyelesaikan pekerjaannya kemarin. Beruntungnya lagi, Ryan tak akan hadir karena pekerjaan. Sebuah kesempatan yang sangat bagus untuk Lila karena ia tak perlu mempersiapkan diri.


Lantai dua rumah Ryan sudah selesai, hanya tinggal mengerjakan lantai satu yang lebih rumit karena memiliki detail yang sangat banyak beserta komponennya. Tapi tentu saja Lila mampu menyelesaikan segalanya. Yang ia sukai dari pekerjannya adalah, ia bisa melupakan urusan pribadi sejenak. Apalagi ketika ia mendapatkan banyak klien dan juga lembur, otomatis nominal dalam rekeningnya akan jadi lebih indah.


Satu hal yang membuat Lila lega mengerjakan rumah Ryan hari ini, pria itu tak bisa memantau pekerjaan Lila. Setelah pesan itu, entah bagaimana Lila harus menghadapi Ryan. Lila benar-benar hanya ingin fokus pada Ibunya terlebih dulu, baru setelahnya ia akan mengurus dirinya sendiri. Tapi, pada dasarnya Lila tak pernah benar-benar mengurus dirinya sendiri. Ia selalu seperti itu sejak dulu.


Lila mengawasi beberapa petugas yang sedang mengangkat beberapa furniture untuk area dapur dan juga ruang tengah. Ia tak bisa terlalu fokus pada pekerjaannya saat ini, kejadian tadi malam masih terpatri jelas di otaknya. Ibunya sudah menolak mediasi setelah surat perceraiannya masuk ke pengadilan. Lila tak bisa melakukan apapun selain menyetujui semua tindakan sang Ibu, ia juga sudah muak dengan semua masalah itu.


Ponsel yang berada di sakunya bergetar,  nomor tak di kenal. Lila segera mematikan panggilan tersebut. Ia tak pernah menyukai ketika ada nomor asing menelponnya, rasa curiganya sangat besar jadi ia  akan membiarkannya begitu saja. Jika itu panggilan penting maka mereka pasti akan mencarinya.


Dua jam kemudian, semua pekerjaan Lila selesai. Belum semua ruangan terselesaikan dengan baik, masih ada beberapa detail yang harus Lila kerjakan lagi, tapi jadwalnya memang hanya sampai jam maka siang. Setelah makan siang, ia masih memiliki janji dengan klien yang lain lagi.


Ketika masalah sedang menghantui kepalanya, hal terbaik adalah dengan bekerja secara terus-terusan. Memang tak baik untuk kesehatannya, tapi ini setidaknya akan membuat otaknya sejenak untuk tak memikirkan hal lain. Jadi, ia akan bekerja secara gila-gilaan sampai masalah itu tak terpikirkan lagi.


**


Ryan lagi-lagi kembali terjebak dalam permainan licik Ramona. Seharusnya sebelum jam makan siang ia bisa mampir sebentar ke rumahnya untuk sekedar mengajak Lila makan siang. Tapi, Ramona dengan segera menyabotase hal itu dengan membuatkan janji makan siang dengan Vania.


“Pulang kerja nanti kamu ada acara?” tanya Vania. Ia memiliki sifat impulsive ketika berada di dekat Ryan, tersenyum secara terus-terusan. Hal itu terjadi begitu saja, secara alami. Ia tahu Ryan belum bisa melihatnya sebagai wanita, tapi tak ada salahnya mencoba, kan?


“Aku ada acara makan malam tim malam ini,” ucap Ryan santai. Itu bohong, ia tak memiliki janji sama sekali malam ini. Sedikit berbohong tak masalah, kan? Ryan hanya perlu menunggu waktu yang tepat untuk mengakhiri hubungannya dengan Vania.


Oh, dan Ryan juga perlu membicarakan hal ini pada Ramona. Ia sudah bisa membayangkan betapa marahnya Ramona jika mendengar pengakuan Ryan. Lagipula siapa yang masih di jodohkan pada tahun ini, sedangkan


wanita itu menolak keras perjodohan untuk dirinya sendiri. Ramona memang sangat egois, apalagi jika menyangkut Ryan.


“Apa kamu belum bisa ngubuka hati buat aku?” Senyum Vania belum luntur, ia menatap Ryan dengan senyum itu yang membuat Ryan sendiri salah tingkah.


Walaupun tak memiliki banyak pengalaman dengan wanita, tapi ia tak bisa begitu saja dengan gamblang mengatakan kalau ia tak memiliki perasaan apapun pada Vania. Ia yakin Vania sendiri sudah mengetahui hal itu. Ryan memang sangat baik pada Vania, tapi tetap ada batasan yang di buat Ryan ketika sedang bersama Vania.


“Van, aku—“


“Kamu gak pernah anggap aku sebagai wanita, kan? Aku bahkan selama ini berusaha keras dan selalu nunggu kamu untuk bilang kalau kamu cinta sama aku, tapi kayaknya kamu gak bisa ngelakuin itu,” potong Vania.


Inilah yang selalu Ryan takutkan. Sudah banyak wanita yang di kenalkan oleh Ramona dan selalu berakhir dengan penolakan. Vania adalah wanita kesekian yang cukup lama mengenal Ryan, biasanya setelah pertemuan pertama Ryan langsung menolak agar gadis yang di kenalkan padanya tak terlalu berharap.


Ryan sudah mencoba, Vania sangat cantik, perhatian, sabar dan selalu mengerti Ryan ketika Ryan sering mengingkari janji temu yang di buat, tapi Vania tetap memberinya senyum. Tapi Ryan tetap tak bisa menerima


Vania begitu saja. Mungkin jika Mas Bima yang ada di posisinya, tanpa berkata apapun pria itu langsung menyatakan cintanya.


“Maaf, Vania. Aku udah mencoba, tapi aku gak pernah berhasil…,”


“Karena kamu gak pernah ingin kalau itu berhasil,” potong Vania lagi.


Vania benar, Ryan tak ingin mencoba untuk mencintai yang lain, ia masih terus mengharapkan Lila yang bahkan sudah terang-terangan menolaknya. Lucu sebenarnya ketika ia lebih memilih wanita yang sudah menolaknya hanya karena hatinya sudah di miliki oleh gadis itu.


“Tapi aku gak akan nyerah gitu aja.”


Ryan menatap Vania tak mnegerti. “Aku akan tetap berusaha buat dapetin hati kamu, walaupun butuh waktu lama aku bakal tetap nunggu kamu. Tiga bulan ini cukup lama, dan aku gak mau berhenti gitu aja.”


Ryan menatap Vania tak percaya, jadi maksudnya gadis itu akan tetap berada di sekitarnya? Walaupun Ryan merasa sedikit bersalah dengan semua ucapan Vania, tapi ia akan lebih bersyukur jika gadis itu segera menyerah. Ia tak ingin menyakiti wanita lagi, karena saat ini ia hanya akan fokus pada Lila.


“Aku gak mau semakin nyakitin kamu, Van,” ucap Ryan.


“Karena itu kamu juga harus berusaha keras buat buka hati kamu.” Vania kembali menampilkan senyum lebarnya pada Ryan yang membuat Ryan semakin merasa bersalah. Ia takkan bisa membuka hatinya kecuali itu untuk Lila.


**


“Gimana progres kerjaan kamu buat DJ Prad itu?” tanya Anggara. Lila baru saja menyerahkan laporan hasil kerjanya pada Anggara.


“udah hampir lima puluh persen, Mas. Mungkin dua minggu lagi bisa selesai.”


“Ada masalah selama kamu ngerjain ini?”


Tak biasanya Anggara menanyakan hal seperti itu. Kalau hanya menanyakan laporan tentang kemajuan pekerjaannya mungkin itu memang hal wajib yang Lila laporkan. “Gak ada, Mas. Apa ada yang komplain langsung sama Mas?” tanya Lila was-was.


 Bisa saja, kan, jika tiba-tiba Ryan melaporkan semua hal pada Anggara?


“Kamu keliatan kurang fokus semenjak nerima kerjaan ini, aku cuman takut kamu punya keluhan yang gak kamu sampaikan.”


“Kalau gitu, saya permisi, Mas.” Lila tersenyum tanpa Anggara yang menatap dirinya, lalu Lila segera keluar dari ruangan Anggara.


Atau mungkin Ryan dengan sengaja memilih dirinya untuk mengerjakan pekerjaan ini, lalu Anggara tak menyetujui hal itu jadi saat ini Anggara sangat khawatir saat ini. Bisa saja seperti itu juga, kan? Kalau di lihat seberapa gigih Ryan mengejar dirinya, pemikiran itu sangat mungkin.


Ponsel Lila yang berada di dalam genggaman kembali bergetar. Nomor tak di kenal yang sama kembali menghubunginya. Apa telepon ini benar-benar penting? Lila menunggu agak ragu sampai deringnya berhenti dengan sendirinya, tak lama setelahnya ponsel itu kembali menyala dengan cepat.


“Halo,” ucap Lila dengan dingin.


“Ini aku, Kikan. Aku mau ketemu kamu,” ucap suara di seberang.


Kikan. Untuk apa lagi dia menghubungi Lila? Apa masih belum puas dengan semua cacian yang ia berikan kemarin malam?


“Aku masih kerja.”


“Aku udah di depan kantor kamu.”


Lila langsung mematikan sambungan dan segera berlari ke lantai satu. Lila sebenarnya sudah tak ingin jika harus berhubungan dengan Kikan, hanya tinggal menunggu proses perceraian itu selesai dan Lila akan memutus semua akses yang bisa menghubungkannya dengan keluarga Ayahnya.


Tiga minggu lagi. Jadwal sidang cerai Ibunya.


**


Lila dan Kikan duduk di kafe yang tak jauh dari kantor Lila. Dulu mereka mempermasalahkan pria yang sama, kali ini masalah mereka tetap pria yang sama, bedanya pria itu adalah Ayah mereka. Dan mereka juga saudara tiri, kenyataan itu tak bisa terelakkan begitu saja.


“Kamu mau apa lagi?” tanya Lila dingin.


Sepertinya dendam di antara mereka takkan selesai begitu saja, malah dendam itu semakin bertambah dengan kenyataan yang baru saja mereka terima setidaknya untuk Kikan. Entahlah, mungkin Lila juga memikirkan hal yang sama, tapi ia rasa sudah cukup. Lila hanya ingin lepas dari semua tentang keluarga Ayahnya dan hidup tenang bersama sang Ibu.


“Sidang perceraian itu, Papi akan di wakili oleh pengacaranya, dia gak akan hadir.”


“Apa pria itu gak bisa dateng langsung, setidaknya temui Ibuku buat bilang itu semua. Apa dia sepengecut itu?”


“Jaga bicara kamu, Lila.”


“Kenapa? Apa yang salah? Aku dan Ibuku cuman mau persidangan ini cepat selesai dan lepas dari keluarga kalian. Aku juga gak mau terus-terusan punya hubungan ini sama kalian.”


Raut wajah Kikan terlihat dingin menatap Lila. Ia juga sangat kaget dengan semua kenyataan yang ia dapat, di saat karirnya sedang di puncak dan otomatis keluarganya juga mendapat sorotan. Bagaimana jika media tahu jika Ayahnya memiliki istri yang di telantarkan sejak dua puluh tujuh tahun lalu itu?


Kikan adalah seorang model, belakangan popularitasnya semakin memuncak karena produk kecantikan yang di iklankan olehnya. Banyak orang dan juga media yang mulai menyoroti kehidupan pribadinya. Lalu Ayahnya juga seorang pebisnis sukses, beberapa surat kabar sudah pernah memberitakan soal sukses Ayahnya, dan Kikan tak ingin berita ini mempengaruhi semua yang sudah ia dapatkan selama ini.


“Kamu gak ngerti, La. Papi dan aku bisa hancur karena berita ini, aku gak mau semua yang udah aku bangun selama ini hancur gitu aja cuman karena persidangan ini.”


Lila tahu setiap manusia memiliki sifat egois yang beragam, dan Lila pun juga memilikinya. Tapi, kenapa saat ini rasanya lebih sakit? Lila tahu kalau Kikan sudah menjadi model, iklan gadis itu sudah bertebaran di mana-mana. Ia juga takkan begitu mudahnya menghancurkan karier gadis itu. Ia tak sejahat itu untuk melakukannya.


“Ya, kayaknya reputasi keluarga kalian sangat penting, kan? Aku bisa ngerti, cukup jangan ganggu aku dan Ibuku sampai persidangan selesai. Aku juga muak sama semua ini,” ucap Lila dingin.


“Aku…Aku bakal transfer berapapun uang yang kalian minta asal jangan pernah omongin masalah ini ke media manapun,” ucap Kikan dengan gugup. Lila tak pernah melihat gadis itu gugup sebelumnya. Kikan sangat dingin dan lebih sarkas di banding Lila, melihatnya gugup saat ini sangat tak biasa.


Ah, tentu saja. Karier dan reputasi keluarganya di pertaruhkan di sini, tapi ketika Kikan menyebut tentang uang, harga dirinya sangat terluka.


“Kamu pikir yag aku butuhin uang? Kalaupun aku mau uang, kamu gak akan bisa kasih itu. Penderitaan aku dan Ibuku selama dua puluh tujuh tahun ini gak bisa kamu nominalkan hanya dengan uang. Bahkan kalau Ayahmu


sujud di kaki Ibuku, itu gak akan menyelesaikan semuanya.”


Kikan terdiam. Ketika Ayahnya menceritakan segalanya, ia seperti hilang arah. Secara hukum, pernikahan orang tuanya tak tercatat, hanya pernikahan di bawah tangan yang tak memiliki jaminan apapun. Sikap angkuh yang bisa ia tunjukkan dengan sangat mudah seolah hilang begitu saja dengan kenyataan yang menghantamnya.


“Kamu pikir cuman kamu aja yang terluka di sini? Aku juga!” teriak Kikan tertahan. Ia tak ingin menimbulkan kehebohan di kafe ini. “Aku terlihat paling bodoh di sini karena gak tahu apa-apa. Hidupku tenang, sampai Papi bilang ingin memperkenalkan seorang wanita yang rupanya istri sah dari dua puluh tahun lalu. Kamu pikir aku baik-baik aja dengan semua hal itu?”


Benar. Kikan sama seperti Lila, bedanya Lila lebih dulu mengalami hal itu dan juga lebih awal mengetahui semua rahasia itu. Walaupun ia membenci Kikan karena yang pernah terjadi di antara mereka dahulu, tapi kali ini bukan tentang hal itu. Kali ini permasalahannya lebih rumit.


“Kita sama-sama terluka, tapi bukan berarti kamu bisa ngelakuin semua hal semau kamu. Walaupun kamu punya segalanya, tapi kami gak serendah itu. Aku cuman mau nyelesain semua ini dan pergi dari hidup kalian. Aku udah terlalu muak.”


Kikan juga merasakan hal yang sama. Ia tak ingin semua kariernya hancur begitu saja hanya karena sebuah masa lalu yang akan segera berakhir. Baru kali ini ia sependapat lagi dengan Lila setelah kejadian tentang Joshua itu.


“Setelah ini, anggap kita gak saling kenal,” ucap Kikan.


Lila tak mengatakan apapun tapi ia mengiyakan pendapat Kikan itu. Setelah ini, ia juga akan menghapus apapun yang berhubungan dengan keluarga Haryo. Untuk seterusnya, hanya ada Lila dan sang Ibu.


**