
Sama seperti akhir pekan sebelumnya, Lila dan Ryan kembali menghabiskan waktu bersama, tapi ada yang beda karena kali ini Ryan membawa Lila menuju studio radio tempat Ryan bekerja. Lila tak pernah berpikir kalau akan menemui rekan kerja Ryan secepat itu. Sebenarnya hal itu sangat wajar dalam suatu hubungan yang memang serius, dan Ryan serius menjalani hubungan itu dengan Lila.
Lila sendiri masih sangat kaku dalam interaksinya dengan Ryan, dia benar-benar mengulang semuanya dengan dari awal. Hubungan romantis yang pernah ia jalani hanya bersama Joshua, jadi Lila tak bisa membandingkannya, karena keduanya benar-benar berbeda. Getaran yang Lila rasakan ketika bersama Ryan, tak pernah ia rasakan bersama Joshua dulu.
Ryan lebih baik dari semua segi, dan Lila adalah wanita beruntung yang merasakan semua itu. Ia janji akan berusaha keras untuk tetap bertahan pada Ryan, karena tak ada hal lain yang bisa menjadi penguatnya kali ini.
“Emang gak papa kalau aku ikut masuk ke studio kamu?” tanya Lila. Itu adalah pertanyaan kesekian kalinya dalam perjalanan menuju studio, dan Ryan juga sudah berkali-kali menjawab hal itu.
“Kamu segugup itu?” tanya Ryan geli. Yang Ryan rasakan selama bersama Lila beberapa minggu ini adalah hal yang sangat baru untuknya. Ryan tak pernah menemukan wanita yang segugup Lila selama ini.
Hal itu semakin membuat Ryan melipatgandakan rasa sukanya pada Lila. Semburat kemerahan yang selalu muncul di pipi Lila ketika Ryan memberikan senyumnya, atau bahkan hanya sekedar menyentuh pipinya, hal-hal sederhana seperti itu mampu membuat hati Ryan menghangat. Harusnya mereka bertemu lebih cepat.
“Aku cuma takut kalau atasan kamu tiba-tiba negur kamu karena masalah ini.” Lila mengedikkan bahunya, berusaha sekuat mungkin agar tak terlihat gugup di depan Ryan. Tapi toh, Ryan sudah melihat semuanya.
Ryan *** jemari Lila yang berada di genggamannya untuk meyakinkan gadis itu. Lila yang penuh dengan kepercayaan diri seperti tujuh tahun lalu sudah hilang, dan kini di gantikan dengan Lila yang rendah diri. Apa mungkin karena pengaruh Ryan membuat Lila menjadi seperti itu?
Bagaimanapun perubahan Lila, Ryan akan tetap menyukainya. Ryan akan dengan senang hati untuk menyukai sifat apapun yang ada pada Lila. Tujuh tahun lalu maupun sekarang, jika itu Lila maka Ryan akan tetap menyukainya.
“Siarannya cuma satu jam, abis itu kita bisa pulang.”
Lila hanya menganggukkan kepala, ia percaya pada Ryan. Lagipula tak ada salahnya juga untuk bertemu rekan-rekan Ryan. Memang beginilah sebuah hubungan.
Tak lama kemudian mereka sampai di tujuan mereka. Ryan akan melakukan siaran pagi hari, hanya siaran musik seperti biasa. Selain acara ‘Melodi Memori’ yang menjadi acara reguler Ryan, ia juga tak jarang melakukan siaran untuk menggantikan rekan penyiar lainnya. Siaran yang di bawakan oleh Ryan selalu mendapatkan peringkat pendengar yang tinggi.
Suara bariton yang di miliki Ryan memang selalu enak untuk di dengar, apalagi untuk para pendengar di rentang usia lima belas sampai dua lima. Dan kebanyakan penggemar adalah para wanita. Bahkan banyak stasiun radio lain yang mulai melirik Ryan dengan tawaran yang sangat menarik.
“Akhirnya dateng juga, Yan. tahu gak sih, kita itu—“
Ucapan Bima terputus ketika melihat Lila yang berada di belakang tubuh Ryan. Selama lima detik pandangannya tak lepas dari sosok wanita yang di bawa Ryan, lalu pandangannya beralih pada genggaman tangan mereka.
Bima berdehem sebentar sebelum kembali melanjutkan kalimatnya yang sempat terputus tadi. Hal mengejutkan ketika Ryan untuk pertama kalinya membawa seorang wanita ke dalam studio mereka.
“Kamu tahu, kan, siaran sebentar lagi di mulai,” ucap Bima. Ia sedikit salah tingkah dengan kehadiran wanita yang di bawa Ryan ini.
Jessica, Baskara dan juga Dio juga hanya memandangi Lila dengan pandangan tak percaya. Ryan juga menjadi pusat perhatian mereka tentu saja. Bibir yang tak lepas dari senyuman, tangan yang juga masih saling menggenggam, dan itu sangat berbeda dari biasanya. Mereka tahu kalau belakangan ini Ryan sangat mudah tersenyum dan juga lebih ramah pada mereka. Padahal biasanya Ryan sangat dingin dan hanya berbicara seperlunya.
“Oh ya, kenalin ini Lila. Gak papa, kan, kalau dia di sini nunggunya?”
Jessica yang berinisiatif untuk menjabat tangan Lila terlebih dahulu. “Hai, aku Jessica, biar lebih singkat biasa di panggil J.” Jessica menjabat tangan Lila dan tersenyum.
Bima, Baskara dan juga Dio juga bergantian menyalami Lila. Mereka saling tersenyum canggung, termasuk Lila yang juga tersenyum sungkan. Mereka memperhatikan Lila seolah Lila adalah hal langka yang baru pertama kali mereka jumpai. Mungkin ini adalah kesekian kalinya Ryan membawa seorang wanita bersamanya, atau mungkin karena saking banyaknya wanita yang di bawa Ryan ke sini hingga mereka semua sangat takjub.
Ryan belum pernah menceritakan tentang kisah asmara sebelum-sebelumnya pada Lila, dan Lila pun tak tertarik untuk bertanya. Seharusnya mereka saling terbuka dalam menjalani hubungan mereka, tapi mereka hanya
menjalaninya saja tanpa pernah melihat ke belakang.
“Maaf kalau kamu kurang nyaman, tapi kami bener-bener kaget karena ini pertama kalinya Ryan bawa pacarnya kesini,” ucap Jessica. Ia bisa merasakan betapa canggungnya Lila di sekitar mereka. “Santai aja di sini, kami gak gigit orang, kok,” lanjut Jessica.
“Oke, oke. Yan, udah waktunya siaran. Lila, kamu gak masalah kalau duduk di kursi itu kan?” Bima menunjuk kursi panjang yang terletak di samping pintu dan membelakangi rekan-rekan Ryan saat ini. Tapi, dari kursi itu Lila bisa melihat ruang siaran tempat Ryan akan melakukan siarannya dengan jelas.
Lila tersenyum. “Aku gak masalah, aku juga gak akan ganggu kerjaan kalian. Jadi kalian bisa kerja kayak biasanya aja.”
Semua yang ada di ruangan itu tersenyum kembali pada Lila dan mulai menempati kursinya masing-masing. Ryan pun langsung melepaskan genggaman tangan mereka dan mengacak rambut Lila sebelum masuk ke ruang
siarannya.
Ada rasa hangat yang menyelip masuk ke dalam hatinya. Semua perhatian kecil yang di berikan oleh Ryan, bagaimana dengan sabarnya Ryan menghadapi Lila yang terkadang di luar kendali, bahkan sudah mengenalkan orang terdekatnya pada Lila. Bagi Lila semua hal kecil itu sangat bermakna, ia merasa sangat di cintai, dan hatinya yang dulu sudah mati rasa seolah mulai hidup lagi karena Ryan.
Lila melemparkan senyumnya pada Ryan yang sebentar lagi akan memulai siarannya. Tak ada yang lebih membahagiakan di banding hal ini selama hidup yang Lila jalani.
**
Mungkin hari ini adalah akhir pekan terbaik yang pernah Lila lewati. Menemani Ryan siaran, menghabiskan seharian hanya bersama pria itu, dan semua tentang Ryan selalu membuat hidupnya menjadi lebih baik. Ryan
memang sumber dari kebahagiaan yang selama ini Lila cari. Jika ini bukan yang terbaik, setidaknya ini adalah yang terindah yang pernah Lila lalui.
“Senyum mulu dari tadi, segitu senengnya jadi pacar Ryan. Kenapa gak dari dulu aja kayak gini?” ucap Icha.
Karena sudah cukup lama tak bertemu, sabtu malam itu Icha memutuskan untuk mengunjungi apartemen Lila. Tentu saja setelah Lila menyelesaikan acara kencannya dengan Ryan. Sebenarnya Icha tak ingin mengganggu
pasangan yang sedang kasmaran itu, tapi kali ini ia ingin menjadi jahat lalu menjadi orang ketiga di antara mereka dengan mengklaim sendiri sahabatnya itu.
“Jelas banget, ya? Ya ampun, aku juga gak tahu bakalan kayak gini. Mukaku bener-bener gak ke kontrol.” Lila menyentuh kedua pipinya yang selalu memerah ketika membicarakan tentang Ryan.
“Jauh lebih baik, normal gak sih, kalau aku kayak gini? Berasa puber kedua.”
Icha kembali tertawa yang juga langsung di ikuti Lila. Lila benar-benar seperti amatir, bahkan remaja sekarang sudah jauh lebih profesional dalam menangani masalah hubungan romantis ini. Tujuh tahun adalah waktu yang lama, wajar saja jika Lila sangat kaku menghadapi semuanya.
“Makanya jangan kelamaan jomblonya, malu-maluin aja kamu ini.”
“Hubungan ini bener-bener baru buat aku, Cha. Tapi aku juga takut.” Senyum Lila berangsur pudar dari wajahnya. Bersama Ryan memang sangat membahagiakan, tapi apakah semua ini akan bertahan lama?
“Apa yang kamu takutin?”
“Semua hal. Semua hal yang bisa bebas aku ceritain ke kamu tapi gak bisa aku ceritain ke Ryan. Tentang orang tuaku, tentang Distimia ini, gimana kalo dia bakal langsung ninggalin aku setelah tahu semuanya?”
Jujur, Icha juga tak terlalu tahu bagaimana untuk menyikapi semua masalah yang Lila hadapi. Icha tak pernah berada dalam masalah rumit seperti itu. Ia sangat tak menyukai Lila yang selalu merendahkan dirinya atas semua masalah yang ia hadapi, bahkan membangun tembok pertahanannya sendiri. Icha sangat membenci hal itu.
“Gak perlu khawatirin sesuatu yang perlu terjadi, kamu tinggal jalanin aja, La. Jangan terlalu banyak mikir, deh, itu cuma bikin kepala kamu makin sakit,” ucap Icha dengan ketus. Ia tak bisa bersikap lembut untuk menghibur Lila, ia takut akan menangis jika melakukan hal itu.
Lila menyandarkan tubuhnya di sofa, mereka berada di ruang tengah apartemen Lila. Lila dan Icha berencana untuk menonton film favorit mereka sampai pagi menjelang, tapi mereka justru berakhir dengan sesi curhat.
“Semua orang berkat bahagia, kan, Cha?”
Icha tak menjawab pertanyaan itu, ia justru menggenggam tangan Lila erat. “Selama aku masih ada di sini kamu harus bahagia, gak ada pengecualian buat bahagia, La. Bahkan orang gila juga berhak atas kebahagiaannya sendiri.”
“Kamu nyamain aku sama orang gila?” tanya Lila tak terima. Ia melepaskan genggaman tangan Icha dengan paksa.
Icha terbahak mendengar suara rajukan Lila. Ya, ia butuh Lila yang seperti ini. Walaupun ketus tapi sebenarnya menyimpan banyak kebahagiaan. “Ya pokoknya kamu harus bahagia La. Mana semua kepercayaan diri kamu kayak tujuh tahun lalu? Lembek banget, sih, jadi cewek!”
“Udah ah, aku mau nonton.” Lila meraih remot yang ada di atas meja lalu menyalakan televisi di depannya. Mereka sudah memasukkan sebuah DVD ke dalam pemutar CD di sana.
“Pokoknya kamu harus bahagia, Lila!” Icha meneriakkan kalimat itu tepat di depan telinga Lila.
**
Lara sangat bersyukur karena akhir pekan kali ini, Lila memutuskan untuk tak pulang. Ada beberapa hal yang belum bisa Lara ceritakan pada anak gadisnya itu. Termasuk kedatangan keluarga yang sudah membuangnya hampir tiga puluh tahun lalu itu. Selama ini juga Lila tak pernah menanyakan tentang keberadaan keluarga sang Ibu.
Tentang apakah Lila memiliki kakek dan juga nenek? Lalu bagaimana dengan Om dan Tantenya? Atau apakah Lila juga memiliki sepupu? Lila tak pernah menanyakan semua itu, dan Lara juga tak pernah menceritakannya.
Bagi Lara, hari ketika keluarganya mengusirnya adalah hari dimana hubungan kekeluargaan mereka sudah putus. Lara kecewa tentu saja, saat itu Lara masih sangat muda dan sedang mengandung. Saat itu usianya baru dua puluh tahun, dan emosinya sedang tak stabil. Keluarga seharusnya mendukung, kan? Bukan malah mendorongnya pergi.
“Ada apa lagi?” Lara menatap Laura di hadapannya dengan tak bersahabat. Seberapapun merindunya Lara pada keluarganya, rasa benci itu tetap menyelip di tengahnya.
Lara sudah merasakan banyak orang yang meninggalkan dan juga membuangnya, dan Lara sama sekali tak ingin untuk membawa masuk orang-orang itu ke dalam hidupnya lagi. Termasuk keluarganya sendiri—dulu—saat ini
keluarganya hanyalah Lila.
“Aku sudah tahu tentang Haryo dan bagaimana kamu menjalani hidupmu selama ini,” ucap Laura tenang.
Pertemuan pertama mereka kemarin tak berjalan dengan lancar, Lara lebih memilih mengusir Laura daripada harus berhadapan lebih lama dengan sang Kakak. Ia dulu berasal dari keluarga yang cukup berada, alasan kenapa hubungannya dulu dengan Haryo tak di restui. Di masa itu, status sosial sangat berpengaruh untu seseorang termasuk keluarga Lara, tapi tidak untuk Lara sendiri.
“Kamu memata-matai kami selama ini?” Panggilan Kakak sudah tak ingin Lara ucapkan, biarlah jika itu sangat tak sopan. Mereka sudah lebih dari dewasa untuk menyelesaikan apapun di antara mereka.
“Kakak lakuin itu buat kamu, kondisi kamu saat itu sangat tak stabil jadi sangat wajar kalau aku ingin memastikan keselamatanmu.”
“Oh ya? Lalu kenapa kalian membuangku? Dan kenapa baru sekarang kalian mencariku?” tanya Lara dengan mata yang sudah memerah.
Seandainya saja memutuskan hubungan keluarga semudah bercerai dari Haryo, maka Lara akan melakukannya juga. Memangnya apa lagi yang bisa ia dapatkan dari keluarganya saat ini, ia sudah cukup bahagia bersama Lila
sebagai keluarganya saat ini.
“Ayah dan Ibu sudah meninggal.”
Mata Lara membulat mendengar kalimat itu. “Lalu? Kita bukan keluarga lagi, aku gak perlu tahu informasi seperti itu.”
Kali ini biarkan Lara menjadi anak yang durhaka, walaupun hatinya saat ini tengah menangis karena kabar itu. Bagaimanapun juga mereka tetaplah orang tua yang membesarkan Lara. Sejahat apapun mereka, Lara tak bisa begitu saja memutus tali keluarga itu.
“Pulanglah, aku tak ingin menjadi lebih kasar dari ini,” ucap Lara.
Laura menatap adiknya tak percaya. Sudah banyak hal yang ia lakukan untuk sang adik tanpa di ketahui oleh Lara sendiri, tapi lihatlah bagaimana ia memperlakukan Kakaknya.
“Karena kamu sudah bercerai dengan Haryo, sudah saatnya aku melakukan bagianku. Aku sudah tak menyukai pria itu sejak awal.”
**