
Lanjut ya? jangan bosen baca cerita ini ya karena lurnya memang agak lambat di banding yang lain. Bagian mana yang kalian suka dari cerita ini?
Lila mematung di tempatnya berdiri mendengar kalimat yang di lontarkan Joshua, bukan berarti ia terpengaruh. Hatinya toh tak akan berubah walaupun Joshua berlutut di hadapannya saat ini, sekali tersakiti, Lila tak bisa menerimanya, dan tak akan kembali bagaimana pun situasinya.
Jika Joshua mengatakan kalimat seperti ini, bagaimana dengan perasaan Kikan? Apa yang mereka jalani selama ini hingga membuat Joshua mengatakan kalimat itu padanya? Tak masuk akal tentu saja. Semua itu justru membuat Joshua semakin terlihat buruk di matanya, sekarang Lila justru merasa beruntung karena sudah putus dari pria ini.
Ada hal bodoh yang ia lakukan karena pria ini. Mencoba untuk balas dendam melalui Ryan, yang justru tak berpengaruh apapun dan hanya membuatnya semakin terlihat aneh. Tapi, pada akhirnya kini mereka bersama. Selalu ada pelajaran dari setiap kejadian, kan? Semua hal yang terjadi dalam hidup kita memang terjadi untuk semakin memberi kita arti kehidupan.
“Lila.”
Lila menoleh, dan menemukan Ryan yang baru saja keluar dari mobilnya yang terparkir di bahu jalan. Semoga saja Ryan tak mendengar percakapan tadi, Lila tak ingin ada kesalahpahaman di sini.
Ryan mengecup kening Lila dan membawa wanita itu ke dalam lingkar lengannya. Pria ini tak pernah bersahabat jika sudah menyangkut Joshua, dan Lila juga memahami alasannya. Pria memiliki sifat teritorial yang kadang muncul dengan tiba-tiba, dan kini sifat itu muncul dalam diri Ryan.
“Apa kalian sudah selesai?” tanya Ryan. Wajahnya di penuhi senyuman, bukan jenis senyuman ramah tentu saja. Senyum itu tak menyentuh matanya, dan hanya sebuah lengkungan bibir tanpa perasaan di dalamnya.
Joshua diam. Ia tak menduga akan bertemu Ryan tentu saja, atau pria ini lupa jika Ryan sudah resmi menjadi kekasihnya? Sepertinya Joshua tak peduli akan keduanya, ia hanya ingin bertemu Lila.
“Jika sudah, aku harus membawa kekasihku pergi,” lanjut Ryan lagi.
Tanpa menunggu jawaban Joshua, Ryan langsung membawa Lila menuju mobilnya. Setidaknya Lila terselamatkan dari keterkejutan pria itu yang datang tanpa aba-aba dan tak mampu mengatakan apapun setelah Ryan datang.
“Kamu baik-baik aja?” tanya Ryan. Mereka sudah berada di dalam mobil.
“Ya, aku baik-baik aja.”
“Mau apalagi Joshua menemuimu?”
Lila menimbang, apa ia harus mengatakan yang sejujurnya atau katakan saja hal lain? Bisa saja, kan, tiba-tiba Ryan dan Joshua bertemu lalu saling adu jotos. Hal-hal seperti itu benar-benar harus di hindari. Tapi, jika Lila tak jujur, malamnya tak akan tenang karena memikirkan banyak hal.
“Dia bilang masih mencintaiku,” ucap Lila. Lebih baik jujur sekarang, di banding ia harus kembali mengatakannya di masa depan. Akan lebih menyakitkan jika Ryan mengetahuinya dari orang lain.
Ryan mengerem mobilnya secara tiba-tiba, karena lampu lalu lintas yang mulai berubah warna menjadi merah. Ryan memusatkan pandangannya pada Lila setelah mobil berhenti.
“Dan kamu?” tanya Ryan lagi.
Wajar sebenarnya jika Ryan marah, karena ia adalah kekasih Lila lalu tiba-tiba mantan kekasihnya datang dan mengatakan jika masih mencintai. “Apa harus aku jawab pertanyaan kamu itu? Dia cuma masa lalu, dan aku gak berniat untuk akrab sama masa lalu itu lagi,” ucap Lila lembut.
Ryan tak meragukan perasaan Lila padanya, bahkan tanpa perlu di tanyakan lagi, Ryan sudah tahu sebesar apa rasa cinta Lila. Dari kejujuran Lila saja, Ryan sudah bisa mengetahuinya, padahal bisa saja Lila mengatakan sebaliknya. Perasaan Ryan hanya menghangat ketika Lila secara tak langsung mengungkapkan perasaannya.
Keduanya tersenyum seperti remaja yang baru saja jatuh cinta. Tatapan romantis itu terputus ketika bunyi klakson
bersahut-sahutan di belakang mobil mereka. Ryan dengan tak rela memutus kontak mereka dan menjalankan mobilnya. Tangannya yang bebas langsung mengambil tangan Lila, ia merasa hidupnya sudah lengkap hanya dengan menggenggam tangan wanita ini.
“Aku ingin mengajakmu bertemu bibiku malam ini, apa gak masalah?”
Lila menatap Ryan dengan pandangan tak percaya. Tak ada pembicaraan seperti ini sebelumnya, dan Lila tak menyiapkan apapun, bahkan mental. “Kamu gak pernah bilang ini sebelumnya,” ucap Lila.
“Maaf kalau terlalu mendadak buat kamu, Bibi tadi tiba-tiba telepon dan ngajak makan malam.”
Lila menatap Ryan. Apa ini artinya hubungan mereka mulai serius? Menemui keluarga juga bagian dari pendekatan menuju hubungan yang serius. Lila tak pernah memikirkan ini sebelumnya, ia sama sekali tak memiliki pandangan menuju arah itu. Pacaran sudah merupakan hubungan terjauh yang Lila lakukan.
“Kalau kamu gak mau, aku bisa batalin. Lain kali aku akan ngomong sama kamu dulu,” ucap Ryan lagi. Tatapan Lila tadi sangat di penuhi dengan keraguan, ia tak ingin membebani Lila dengan hal ini. Ini juga pasti bukan sepenuhnya keinginan Bibi, pasti Ramona turut ikut campur dalam hal ini.
“Gak papa, aku mau. Tapi, kita mampir ke toko kue dulu, ya?” ucap Lila dengan senyum lembut.
**
Tangan Lila sangat dingin dalam genggaman Ryan, ia sangat gugup. Ini pertama kali Lila menemui keluarga kekasihnya, karena Ryan juga adalah kekasih pertama juga, ia tak pernah mengalami pengalaman seperti ini
sebelumnya.
“Kamu gugup?” tanya Ryan.
“Apa perlu di tanya lagi?”
Ryan justru tersenyum geli karena raut wajah Lila yang gugup itu, tangannya juga sangat dingin. Ryan mengecup punggung tangan Lila yang ada di genggamannya, membuat perhatian Lila teralihkan. Mereka baru saja sampai di rumah Bibi Ryan, dan Lila masih menolak untuk masuk ke dalam karena gugup.
“Bibi Ina baik, kok, kamu pasti suka sama dia. Kamu cuma perlu hati-hati sama sepupuku yang cerewet banget.” Ryan sekali lagi mengecup punggung tangan Lila, berharap mampu mengurangi rasa gugup wanita ini.
“Apa lagi yang harus aku cium supaya kamu gak gugup lagi?” tanya Ryan jahil.
Lila menatap pria di hadapannya dengan sengit. Jika itu terjadi, bukan rasa gugupnya yang berkurang, tapi justru bertambah. Berpelukan saja masih membuat jantung Lila berdetak dengan tak normal, apalagi ciuman, tapi memang Ryan selalu seenaknya sejak dulu.
“Ayo masuk. Aku tak akan menciummu di sini, aku akan melakukannya di rumahku mungkin,” ucap Ryan dengan tawa jahil.
Keduanya masuk ke dalam rumah sang Bibi tanpa ketukan lebih dulu, Lila berada di belakang Ryan, masih dengan tangan yang saling menggenggam. Rumah ini sedikit lebih kecil dari rumah tante Laura, juga memiliki dua lantai. Mereka melewati ruang tamu, lalu ruang keluarga, dan berakhir di ruang makan yang sudah menyajikan berbagai masakan.
“Oh, kalian udah dateng.”
Suara itu berasal dari belakang Lila dan Ryan, bukan dari Bibinya yang sepertinya masih sibuk meracik hidangan. Keduanya menolehkan tubuhnya. Pasti ini adalah Ramona, sepupu cerewet yang di ceritakan Ryan tadi, tapi wajahnya terlihat sedikit tak asing untuk Lila. Ia seperti pernah bertemu sebelumnya, tapi Lila lupa kapan itu terjadi.
“Hai, Mon,” sapa Ryan. “Kenalin pacarku, Lila.”
Ramona tersenyum canggung sebelum menjabat tangan wanita di sebelah Ryan. Ide makan malam kali ini memang datang dari dirinya, tapi ia juga tak tahu kalau ini akan benar-benar terjadi. Maksudnya, bukan hanya ada Lila di sini, tapi ada Vania juga di sini.
biasanya, wanita yang di tolak Ryan akan dengan sukarela menjauh karena sikap dingin yang di tunjukkan, berbeda dengan Vania yang justru semakin mendekati, bahkan ketika Ramona memberitahu jika Ryan sudah memiliki kekasih.
“Ah, kebetulan kami masih punya kerjaan yang belum sempat selesai, jadi Vania bantuin aku…,” ucap Ramona dengan gugup.
“Oh, kalian udah dateng,” ucap Ina yang membelakangi Ryan dan Lila.
Ryan tak menghiraukan Ramona yang terlihat gugup dan juga Vania yang mencoba tersenyum semanis mungkin padanya. Ia justru membawa Lila menemui bibinya yang masih berkutat dengan hidangan makan malam mereka.
**
“Aku akan keluar sebentar.” Lara terlihat sudah sangat rapi dengan penampilannya. Baru pukul tujuh malam, dan Lila sudah mengabari jika ia akan pulang terlambat.
“Kamu mau kemana malam-malam begini?” tanya Laura.
“Apa aku juga harus memberitahukan seluruh kegiatanku padamu?” balas Lara. Hubungan mereka belum terlihat membaik, mungkin juga tak akan membaik. Lara hanya menunggu waktu yang pas untuk menerima semua yang terjadi di masa lalu, dan sekarang.
Pernikahannya dengan Haryo sudah berakhir, dan ia tak merasa harus melakukan balas dendam atau semacamnya. Ia benar-benar sudah merelakan itu semua, walaupun masih sesak jika mengingat potongan memori itu. Tapi, harus sampai kapan seperti itu? Bukankah kita harus melihat ke depan, tanpa perlu kembali pada masa lalu yang pahit itu?
“Aku tak peduli dengan semua urusanmu pada Haryo, untukku, semua sudah selesai. Kalau kalian berdua ingin tetap melanjutkan rencana kalian, tolong jangan seret aku dan anakku,” ucap Lara lagi.
“Karena pria itu, keluarga kita berantakan, dan aku tak akan berhenti sampai ia merasakan apa yang pernah kita rasakan dulu.”
Lara menghentikan langkahnya yang hampir mencapai pintu, ia ingin membalas kalimat itu, tapi ia tak ingin semakin memperkeruh suasana. Apa yang kakaknya rasakan dari kejadian di masa lalu? Lara yang harus
mengatakan semua itu pada Laura, selama lebih dari dua puluh tahun ia menderita. Ia sangat yakin, Laura tak merasakan rasa sakit sebesar yang di rasakan Lara.
Tanpa menoleh ke belakang lagi, Lara tetap melangkahkan kakinya keluar dari pintu. Semuanya tak akan selesai dengan mudah dalam keadaan ini, sama sekali tak ada yang ingin mengalah, Lara pun sama.
Malam ini, ia akan bertemu Haryo. Mantan suaminya itu ingin menemuinya kembali setelah sidang perceraian mereka. Lara juga tak yakin apa yang akan mereka bicarakan, tak ada lagi urusan di antara keduanya, Lara juga tak meminta Haryo untuk membiayai kehidupannya. Mungkin mereka akan membicarakan skandal yang di buat oleh Laura itu, entahlah. Berada di rumah Laura untuk waktu yang lama, membuatnya sangat tertekan, ia juga butuh udara segar,
Lara tiba tepat pada waktu yang di tentukan oleh pria itu, dan belum ada tanda-tanda kedatangan Haryo. Bisa di maklumi, pasti banyak pekerjaan yang harus pria itu lakukan. Tak ada rasa canggung yang Lara rasakan, karena memang perasaan itu sudah hilang, hanya sisa perasaan dari masa lalu yang tertinggal.
“Maaf membuatmu menunggu.”
Lara mendongak, dan menemukan Haryo yang tiba dengan napas terengah-engah. Lara memberikan senyum tipisnya. “Aku juga baru tiba,” ucap Lara.
“Apa kamu sudah memesan?”
“Hanya teh, aku sudah makan malam tadi.”
“Begitu. Kupikir kita bisa makan malam di sini,” ucap Haryo. Ada nada kecewa dalam suara pria itu, Lara tak sedang salah mengerti, kan?
“Ada apa?”
Jika dengan Laura, perasaan kesal lebih mendominasi. Maka dengan Haryo, ia sangat muak dan ingin semuanya cepat di lakukan. Jika bisa, Lara hanya ingin menghilang dari kedua manusia ini. Hatinya sudah kebas dan tak mampu untuk menerima apapun dari kedua orang ini.
“Aku…Hanya ingin bertemu denganmu saja,” ucap Haryo lirih.
Lara mendengar itu, walau ia tak sepenuhnya mengerti apa maksud dari kalimat itu. Lebih tepatnya Lara tak ingin mengerti maksud dari kalimat tersebut, karena tak ada gunanya juga jika ia mengerti. Tetap tak ada gunanya, dan mereka juga tak akan langsung rujuk karena hal itu. Pemikiran bodoh sebenarnya, mereka bisa saja berhubungan dengan baik sekarang, usia mereka sudah tak muda lagi.
“Bagaimana kabarmu?” tanya Lara basa basi.
“Tak ada yang berubah, masih sama seperti biasa.”
Lara menanggukkan kepalanya. Baguslah jika seperti itu. Lara juga tak ingin terlalu peduli dengan yang terjadi, itu urusan kakaknya. Kalaupun ada yang terjadi, Lara sama sekali tak terlibat di sana. Akan lebih baik jika ia hanya peduli pada hidupnya dan juga sang putri, urusan masa lalunya sudah berakhir, begitu, kan?
**
Suasana makan malam itu sedikit canggung, tapi, Vania sama sekali tak terlihat terganggu dengan yang terjadi. Ia makan dengan lahap, sesekali berbincang dengan Ina dan juga menyunggingkan senyum pada Ryan dengan terang-terangan. Vania benar-benar gigih, sekalipun ada Lila di samping Ryan.
“Bagaimana makanannya, Lila?” tanya Ina. Ia yang paling menyadari suasana canggung yang sedang terjadi, tapi ia juga tak bisa berbuat apapun. Percintaan muda mudi jaman sekarang benar-benar rumit sepertinya.
“Enak, Bi. Seperti masakan Ibu di rumah,” jawab Lila dengan senyum. Lila tak tahu apa hubungan Vania dengan keluarga ini ataupunnRyan, gadis itu bahkan ada di sini walau Ramona mengatakan kalau ini soal pekerjaan mereka. Ia cemburu tentu saja, bahkan dengan tak tahu malunya Vania melemparkan senyum pada Ryan.
“Baguslah, semua ini Bibi pelajari sendiri tanpa kursus. Di usia seperti ini, harus lebih banyak kesibukan yang di lakukan agar tak bosan, apalagi Ryan sudah tinggal di rumah yang berbeda.” Ina mencoba untuk mencairkan suasana. Makan malam ini seharusnya menjadi suasana yang santai dan juga hangat, bukan canggung.
“Ya, Ibu juga kadang melakukan itu. Ibu juga membuka toko bunga untuk membuatnya lebih sibuk,” ucap Lila. Tak sulit baginya untuk cepat akrab dengan orang yang umurnya jauh lebih tua darinya, obrolannya jadi lebih menyenangkan.
“Ah, benarkah? Kapan-kapan mungkin aku akan mengunjunginya.”
“Kamu udah selesai? Mau pulang sekarang?” tanya Ryan. Tak ada canggung yang ia rasakan, ia hanya sedikit kesal dengan Ramona yang mengundang Vania ke makan malam ini. Ia tak nyaman sejak tadi, dan merasa sedikit bersalah juga pada Lila.
“Sudah mau pulang? Padahal Bibi belum ngobrol banyak.”
“Iya, Bi. Lain kali juga masih bisa, Ryan bisa nyulik Lila kapanpun, kok,” jawab Ryan dengan senyum jahil.
Lila dan Ryan beranjak dari duduknya dan bersiap untuk pergi. “Apa aku boleh ikut mobil kalian? Kebetulan aku tak membawa mobilku,” ucap Vania.
Semua yang ada di sana kaget dengan ucapan tiba-tiba Vania, Ryan segera menolehkan kepalanya dengan dingin. Entah kenapa ia semakin membenci gadis ini, atas semua yang ia lakukan. Ryan sudah sangat jelas mengatakan bahwa hatinya tak akan berubah apapun yang terjadi, tapi wanita ini abai dan terus menemuinya. Sama sekali tak memiliki rasa malu.
“Kamu tenang aja, Van, abis ini aku bakal anterin kamu pulang. Yan, pulang gih, anterin Lila sampai rumahnya, ya?” ucap Ramona dengan sedikit gugup. Ia sangat tahu tatapan tak bersahabat sepupunya itu, jika di lanjutkan, akan membuat Ramona semakin merasa bersalah.
Tanpa mengatakan apapun lagi, Ryan menggandeng tangan Lila dan keluar dari ruangan itu.
**