Trapped in You

Trapped in You
Episode 39



Hai, balik lagi. Alur dari cerita kali ini memang sedikit lambat ya, jadi dinikmati aja sambil minum kopi atau teh. Jangan lupa cemilannya. Happy reading^^


 


Setelah makan malam yang cukup tegang malam itu, Lila kembali menjalani harinya yang sibuk dengan beragam pekerjaan. Bibi Ina sangat ramah pada Lila dan menyambut baik Lila kemarin, hanya Vania saja yang membuat suasana sedikit tegang menurut Lila. Ryan tak banyak mengatakan sesuatu, begitupun dengan Ramona. Ia seperti melihat Lila muda dalam diri Vania.


Ada satu hal yang cukup mengganjal pikiran Lila, kedua orang tua Ryan yang tak terlihat dimanapun. Lila tak mengetahui kisah tentang kedua orang tua Ryan, karena memang pria itu belum menceritakan apapun, dan Lila tak bisa begitu saja bertanya. Lila tak pernah memaksa orang lain untuk menceritakan kisahnya, jika mereka tak menceritakannya, maka itu artinya mereka belum bisa berbagi.


Itu yang selalu di rasakan Lila, ia tak bisa menceritakan tentang kisahnya begitu saja pada orang lain, kecuali memang Lila ingin melakukan itu. Ia tak menyukai paksaan, jika memang sudah waktunya, maka cerita itu akan meluncur sendiri dari mulut Lila.


Lila baru saja menyelesaikan pertemuannya dengan salah satu klien yang di berikan oleh Anggara kemarin. Karena sudah memasuki jam makan siang, Lila segera membelokkan mobilnya ke salah satu restoran yang bisa ia temui. Lila kurang suka berada di keramaian, apalagi di jam makan siang seperti ini. Hampir semua restoran yang jaraknya dekat dengan perkantoran, pasti sudah di penuhi oleh mereka yang sedang istirahat makan siang.


Restoran ayam panggang ini menjadi pilihannya, cukup sepi dan ia menyukai ayam. Ya, siapa yang tak menyukai ayam jaman sekarang. Itu seperti makanan umum orang-orang. Ketika ia ingin turun dari mobil, ponselnya berdering dan menampilkan nomor tak di kenal pada layarnya.


Lila mengerutkan keningnya sebelum mengangkat panggilan itu. “Halo.”


“Oh, hai, Lila. Ini aku Ramona, masih inget, kan? Sepupu Ryan yang tadi malam,” ucap suara di seberang.


“Iya, kak. Inget, kok. Ada apa, kak?”


“Kamu punya waktu siang ini? Makan siang bareng, mungkin? Aku bisa dateng ke tempat kamu.”


“Bisa, kak, kebetulan aku juga mau makan siang. Aku kirimin alamatnya sekarang, kak,” ucap Lila.


Panggilan itu berakhir dengan singkat, Lila sudah mengirimkan alamatnya dan ia segera masuk ke restoran di hadapannya. Tak terlalu ramai, dan bau ayam bakar di dalam sana sudah sangat menggugah perutnya untuk segera menyantap makan siang. Kebiasaannya yang selalu melewatkan sarapan masih belum hilang, dan selalu membuatnya lapar ketika memasuki jam makan siang.


Setengah jam kemudian, Ramona muncul di restoran itu dan tersenyum pada Lila yang melambaikan tangannya. Cukup hebat sebenarnya Ramona bisa sampai dalam waktu yang cukup singkat di tengah jam makan siang yang biasanya sangat sering menimbulkan kemacetan.


“Aku udah pesenin ayam bakar, kak. Katanya yang paling laris di sini ayam bakarnya, gak masalah, kan, kak?” ucap Lila. Untuk menghemat waktu dan agar mereka tak terlalu lama menunggu makanan mereka.


“Santai aja, aku makan apa aja, kok.” Ramona memberi Lila senyum ramah. Pantas saja Ryan sangat tergila-gila dengan wanita ini, selain cantik, ia juga sangat ramah. Mungkin ada beberapa hal yang tak Ramona ketahui dari wanita ini, tapi kesan pertama sangat menentukan, kan?


Keduanya sibuk dengan makanan masing-masing dan mengobrol ringan seperti teman lama. Dari situ Lila mampu mengingat jika Ramona adalah wanita yang pernah ia sangka sebagai kekasih Ryan ketika kuliah dulu.


“Aku mau minta maaf soal tadi malam, aku gak nyangka kalau ada Vania juga di sana, dia gigih banget padahal udah di tolak berkali-kali sama Ryan,” ucap Ramona. Mereka sudah menyelesaikan makanan mereka, dan memang karena permintaan maaf inilah Ramona menemui Lila.


Ramona sudah memutuskan untuk berhenti menjodohkan Ryan dan kenalannya, tadi malam adalah pertama kalinya Ramona melihat tatapan penuh cinta Ryan pada seorang wanita. Sepupunya itu terlalu lama menyendiri


hingga membuat Ramona berpikir jika terjadi sesuatu yang serius. Tapi setela tadi malam, pikirannya berubah. Ryan hanya menunggu orang yang tepat untuk memasuki hatinya, dan sepertinya orang itu adalah Lila.


“Gak masalah, kak. Aku malah bisa ngerasain apa yang di lakukan Vania, dia kayaknya bener-bener suka sama Ryan.”


Ramona menganggukkan kepala, menyetujui ucapan Lila. Ia sangat sering mendengar curhatan Vania tentang betapa ia sangat menyukai Ryan. Awalnya Ramona pikir itu hal bagus, tapi kini, sepertinya itu hal buruk yang akan terus membuat Ramona merasa bersalah terhadap Ryan.


“Aku boleh nanya sesuatu, kak?” tanya Lila.


“Apa?”


“Tentang orang tua Ryan, aku cuma penasaran aja…,”


Raut wajah Ramona seketika berubah mendengar pertanyaan Lila. Pertanyaan itu sangat sensitif bahkan untuk Ryan sendiri. “Ryan belum pernah cerita?” tanya Ramona.


Lila menggeleng kecil, rasa penasarannya benar-benar sangat mengganggu walau ia sebenarnya tak ingin menanyakan hal ini. “Aku minta maaf, aku tak memiliki banyak hak untuk menceritakan semua itu,” ucap Ramona.


Lila mengangguk mendengar jawaban itu, ia sudah tahu jawaban seperti apa yang akan di berikan, dan ia juga tak mungkin memaksa. Ia juga memiliki rahasia yang tak di ceritakan pada Ryan, jadi ini seperti impas. Mungkin ini adalah makna dari kalimat Ryan yang mengatakan bahwa setiap orang memiliki rahasianya masing-masing yang tak bisa di bagi pada orang lain..


**


“Kamu menemui Lila kemarin?” tanya Kikan.


Ia sedang berada di kantor Joshua seperti biasa, hal yang sangat di benci oleh Joshua sebenarnya, tapi Kikan tak peduli. Ia memiliki hak atas tunangannya ini, dan ia bisa bebas berada di sekitar Joshua sesukanya. Anggap saja Kikan egois, setidaknya beberapa orang mengenal Kikan seperti itu, dan Kikan juga tak ingin kebaikannya.


“Apa kamu selalu mengawasiku seperti ini?” Joshua terlihat tak peduli pada kehadiran Kikan, ia tetap melanjutkan pekerjaannya. Bisa di bilang ini sudah seperti rutinitas yang di alami oleh Joshua.


“Aku hanya kebetulan tahu aja. Kamu akan tetap terus nemuin dia walaupun tahu kalau dia udah punya pacar?”


Ryan. Joshua juga sangat tahu hal itu, ia hanya tak bisa menahan perasaannya ketika memikirkan Lila. Tentang kesalahan yang ia buat dan juga penyesalannya. Ia sangat tahu, tak akan mudah untuk membuat Lila kembali melihatnya seperti dulu setelah bertahun-tahun yang ia lalui.


“Kamu gak punya kerjaan lain di sini?”


Sangat sulit untuk membuat Joshua hanya melihatnya. Berbagai cara sudah Kikan lakukan, bahkan pertunangan ini dan yang lainnya, tak ada satupun yang berhasil. Joshua hanya akan melihat Lila sampai kapanpun. Menyedihkan sekali hidupnya sekarang, hampir kehilangan karier modelnya, dan ia bisa saja kehilangan Joshua kapanpun.


“Kamu tahu sendiri kalau beberapa kontrak pemotretan di batalkan karena gosip itu. Jadi aku punya waktu yang cukup buat nemenin kamu kerja,” ucap Kikan.


hubungan ini, tapi sifat posesif Kikan yang sangat keterlaluan. Jika bukan karena kedua orang tuanya yang berteman baik, mungkin Joshua akan memutuskan pertunangan ini.


Kikan masih sibuk membolak-balikkan majalah di pangkuannya, tapi bukan majalah itu fokusnya. Pikirannya selalu di penuhi oleh Joshua yang tak pernah menganggapnya ada sedikitpun. Mungkin ini sudah tahun ketiga pertunangan mereka, dan sama sekali tak ada perkembangan pada hubungan mereka.


“Kapan kamu akan mulai melihatku sebagai tunanganmu?” tanya Kikan tak acuh. Matanya fokus pada majalah di pangkuan, tapi dadanya bergemuruh. Jawaban Joshua sudah pasti akan menyakitinya, tapi ia tetap menantikannya.


“Apa lagi yang kamu mau? Kamu mau di temani di pesta apalagi?”


Ya, mereka memang tak pernah memiliki perbincangan yang normal sebagai pasangan. Kikan bukan orang jahat, ia hanya ingin di cintai pria ini, ia ingin seperti wanita di luar sana yang berbahagia tanpa harus di atur. Sudah tiga tahun, dan sama sekali tak ada perubahan.


“Ayo kita akhiri pertunangan ini saja.”


Joshua menatap Kikan tak percaya. Wanita itu masih sibuk dengan majalahnya, dan mengatakan semua kalimat itu seolah tanpa beban. “Apa maksudmu?” tanya Joshua.


“Ini yang kamu inginkan, kan? Sudah tiga tahun, aku gak mau jadi semakin jahat di matamu. Jadi, ayo akhiri saja pertunangan ini. Aku akan berbicara dengan Papi,” jawab Kikan. Ia juga menutup majalah di pangkuannya dan


menatap Joshua serius.


“Kamu mungkin kecapekan, lebih baik pulang ke rumah dan tenangkan dirimu.”


Kikan menaikkan alisnya tak percaya, ini bukan reaksi yang ia duga. Kikan ingin mengakhiri pertunangan ini, seharusnya Joshua menerima ini dan bahagia. Ia sangat tahu kalau ini adalah kalimat yang di tunggu-tunggu oleh Joshua sejak awal.


“Aku bisa pastikan keluarga kamu tetap sama seperti sekarang, kamu gak perlu khawatir soal itu. Lagipula ini yang kamu inginkan, Jo,” ucap Kikan lagi.


“Keluar dari ruanganku, Kikan. Aku tak ingin membicarakan ini.”


Kikan membanting majalah yang ada di tangannya, ia benar-benar tak mengerti dengan jalan pikiran pria ini. Entah apa yang di inginkan pria ini, Kikan sangat tahu apa yang selalu membuat pria ini membencinya. Pertunangan ini tentu saja. Dan tiba-tiba pria ini marah hanya karena Kikan ingin membatalkan pertunangan ini.


**


Setelah hampir dua bulan tak bertemu, akhirnya Lila dan Icha kembali bertemu. Selain karena rehabilitasi Lila, kesibukan Icha juga membuat mereka sulit bertemu, dan saat ini mereka kembali bertemu. Banyak hal yang ingin mereka bicarakan, tapi waktu tak pernah berpihak pada keduanya.


“Aku gak tahu kamu udah sejauh ini sama Ryan,” ucap Icha. Tentu saja dengan senyum menggoda. Setelah sekian lama, akhirnya Lila berhasil membuka hati, Ryan tak buruk tentu saja.


“Bukan apa-apa, Cha. Kemarin itu cuman makan malam biasa, dan ada Vania juga di sana.”


“Vania yang ngejar-ngejar Ryan itu? Kenapa aku ngerasa dejavu, ya? Kayak kamu waktu jaman kuliah dulu, yang ngebet banget sama Ryan.”


Lila tertawa, ternyata sahabatnya ini juga merasakan hal yang sama. Pria seperti Ryan sangat mustahil tak ada yang menyukai. Lila hanya beruntung saja karena pria itu masih mencintainya, tapi tetap masih ada yang mengganjal di hatinya.


“Rehabilitasi kamu lancar?” tanya Icha.


Lila mengangguk, semuanya berjalan lancar untuk dirinya sendiri, ia tak tahu apa yang terjadi dengan orang lain. Seperti Ryan yang mungkin juga memiliki masalah dengan kedua orang tuanya. Ekspresi Ramona ketika Lila membahas kedua orang tua Ryan sangat menunjukkan jika ada yang salah dengan semua itu, tapi Lila juga tak bisa bertanya lebih jauh.


Ia sendiri juga memiliki rahasia yang tak bisa ia ceritakan pada Ryan, sangat tak adil jika Lila ingin mengetahui semua tentang pria itu. Beruntung ia sudah tak terlalu bergantung pada anti depresan, karena satu dan lain hal mampu ia tangani dengan baik, ia juga menghindari stress berlebihan. Hanya hal-hal kecil seperti itu, ia tak ingin kembali mengalami stress yang mampu menguras emosinya.


“Joshua kemarin nemuin aku, dia bilang masih cinta sama aku.”


“Mungkin dia cuma nyesel karena udah nyakitin kamu dan mulai sadar kalau kamu memang yang terbaik. Kamu tahu, pria kadang selalu nyesel setelah semuanya berakhir,” ucap Icha. Ia kembali menyuapkan nasi dan ayam goreng ke dalam mulutnya.


Tadinya, Lila ingin membuat pertemuan yang ceria dan hanya obrolan lucu saja yang mereka bahas. Tapi, ketika bertemu dengan Icha, Lila selalu ingin mengeluarkan semua perasaannya. Ia tak bisa melakukan itu pada Ryan, karena hanya Icha satu-satunya teman dekat yang ia miliki. Seandainya saja persahabatan mereka bertiga belum berakhir.


“Kamu orang pertama yang tahu soal semua ini, aku dan Kikan sebenarnya saudara tiri,” ucap Lila. Setelah pertimbangan panjang, Lila akhirnya mengatakan ini. Ia ingin setidaknya satu orang saja mengetahui rahasia ini.


Kunyahan Icha berhenti, ia menatap Lila tak percaya. “Kamu gak lagi ngelawak, kan? Ini gak lucu, asal kamu tahu.”


Lila tersenyum tipis. “Bagian mana yang harus aku bercandain, Icha. Mantan suami Ibu ternyata selingkuh sejak aku masih di kandungan, dan waktu dia menghilang, dia menikahi Ibu Kikan,” ucap Lila. Tak ada ketegangan yang ia rasakan ketika membahas masalah keluarganya, karena memang itu sudah berlalu, dan tak akan kembali lagi.


Fokus Kikan kini sudah pada Lila sepenuhnya. Ini benar-benar berita baru yang tak pernah ia duga. Mungkin kebencian mereka juga sudah tertulis di takdir hingga mereka seperti ini. Kisah keluarga Lila benar-benar rumit dan di luar dugaannya. Siapa yang menyangka jika hubungan mereka ternyata seperti ini?


“Aku masih benci sama Kikan, tapi aku juga gak suka kalau Joshua deketin aku lagi dan mengabaikan pertunangan mereka. Setidaknya Joshua harus bertanggung jawab sama apa yang dia lakuin di masa lalu.”


“Aku gak nyangka kita bisa ngomongin ini, kayaknya beberapa bulan lalu kamu masih gak berani nyebut tentang Joshua ataupun Kikan sedikitpun,” ucap Icha dengan senyum tulus.


Lila tersenyum, ia juga tak menyangka bisa seperti ini. Harusnya ia melakukan rehabilitasi lebih cepat agar bisa membicarakan masa lalu dengan santai, tanpa takut tersakiti lagi. Ia juga sedikit demi sedikit mulai merasakan rasa percaya diri mulai naik. Perlahan, ia berharap semuanya akan membaik, dan hubungannya dengan Ryan juga bisa lebih baik.


Hanya memberitahukan tentang penyakit Lila pada Ryan yang belum ia lakukan, ia berharap ketika Lila mulai bicara, pria itu masih di sampingnya.


**