Together Again

Together Again
Ngintip



Saat sedang asik melihat chat yang mereka sadap, tiba-tiba ada suatu chat yang menarik perhatian.


Tring.


Suara pesan masuk di komputer Sasya.


"Guys, Grace diajakin check-in." ucap Sasya dan para sahabatnya pun langsung menghampirinya.


"Mereka suka yang modelan sugar daddy." ucap Quira.


"Kalau nggak sugar daddy, nggak cepet kaya." Nita menaiki sebelah alisnya.


"Mereka kayaknya punya Onlyfans." ucap Sasya.


"Emang punya, nih !!!." Quira menyodorkan ponselnya.


"Dapet dari mana?." tanya Sasya.


"Ada di chatan Lisa ngasih tau pelanggannya untuk subscribe Onlyfans mereka."


"Ini akun rame-rame." tanya Nita.


"Entah, gw belum subscribe."


"Subscribe donk." tegas Sasya.


"Sasya, pakai uang lo ya."


"Hmm." seketika tatapan mata Sasya yang beriubah jadi tajam memandang Quira.


Setelah mereka ngescroll akun onlyfans milik Grace dan kawannya, kalau disana tidak ada video yang berbau ****. Mereka hanya memperlihatkan lekuk tubuh indahnya tanpa busana.


Sasya, Nita dan Quira pun pergi menuju hotel, sebelum mereka pergi mereka me-log out sadapan mereka agar tidak ketahuan. Selain Grace ternyata para kawannya juga sudah di booking oleh sugar daddy.


Pukul 23.00 WIB


"Ini hotel yang di booking sugar daddy -nya Grace kan." ucap Quira setelah mereka sampai di hotel tersebut.


Mereka sengaja datang lebih awal daripada mereka, masih ada misi dan penyamaran untuk memperkuat bukti-bukti masalah ini. Berhubung hotel ini milik teman dekatnya papah Nita jadi mereka bebas keluar masuk. Kali ini mereka cosplay menjadi pelayan dihotel dengan balutan fail makeup dan memakai gigi tonggos atau tompel atau kacamata bulat.


Karena Grace dan kawannya dibooking di hotel terpisah, kecuali Vita dan Silvi yang di booking bersamaan. Sasya membagi tugas kepada Nita dan Quira untuk berpencar, mereka memiliki peran sebagai porter yang memudahkan mereka masuk ke kamar yang telah dibooking dan meletakkan alat penyadap suara dan video dibawah meja yang berada dikamar tersebut.


Setelah tugas mereka selesai, mereka sepakat dan setuju bila bertemu di apartement Sasya.


"Berhasilkan?." tanya Sasya yang sudah sampai terlebih dahulu di apartement-nya.


"Pastilah." jawab Nita dan Quira hanya mengangguk.


Sasya duduk di sofa lalu ia membuka laptop yang sudah terhubung dengan penyadap yang mereka sudah pasang.


"Welcome to the show, girl." ucap Sasya.


"Gila, Vita sama Silvi mainnya giliran." ucap Quira.


Terlihat dari layar laptop Sasya, mereka ber-empat mulai melakukan aksinya


plok, plok, plok.


"Eungh, shhhh, akhhh." ******* demi ******* mereka ber-empat menyatu dalam satu.


Sasya, Nita dan Quira tercengang melihat yang berada di layar, sambil menelan ludah kasar dan mereka mematung dengan suasana hening dan senyap.


"Astagfirullah, akhi-akhi masih kuat yah." ucapan Quira yang seketika lolos begitu saja dari mulutnya.


"Kayaknya belum, akhi-akhi banget." sambung Nita sambil menelan ludah kasarnya.


"Mungkin sekitar umur 40 tahun-an."


"Live streaming guys." ucap Quira tanpa mengedipkan matanya.


"Itu yang dinamakan gede, panjang dan perkasa." Nita menunjuk kearah junior dilayar laptop Sasya.


"Heh." Sasya langsung menepis tangan Nita. Sasya pun langsung menutup laptopnya. "Udah malam tidur." memercikkan air di gelas ke wajah mereka berdua yang masih tercengang. Sasya pun bangun dari duduknya. "Udah biarin aja, nanti videonya kesimpan otomatis." ucapnya sambil berjalan menuju kamarnya.


Quira yang melihat Sasya sudah berlalu masuk kedalam kamarnya. "Nonton lagi yuk." ajak Quira.


"Oh my god." Nita pun terdiam langsung menutup mulutnya. "Gaskeun."


Quira membuka laptop dihadapannya yang berada diatas meja dan menyalakannya. Terkejut bila tiba-tiba laptop tersebut memakai password lockscreen.


"Pakai password weh."


"Coba pakai tanggal lahir Sasya." saran Nita.


Quira pun mencoba tapi hasilnya nihil, saking penasarannya ia mencoba terus dengan angka dan huruf acak. "Ahhh, nggak bisa." Quira yang mulai frustasi.


"Sasya passwordnya apa?." teriak bernada Nita.


"Hey, ntar dia bangun terus kita diomelin."


Tiba-tiba Sasya pun berteriak dari dalam kamar. "J."


"Buru ketik itu pasti passwordnya." suruh Nita kepada Quira.


"A." teriak Sasya lagi.


"Baik banget sumpah, Sasya." kagum Quira.


Sasya pun kembali berteriak dari dalam kamarnya. "M - D - U - A."


"Dua karakter huruf atau angka lagi nih." ucap Quira.


Sasya tiba-tiba menggebrak pintu."Jam dua goblok, tidur." teriak Sasya yang diambang pintu kamarnya. Tanpa disadari melihat sahabatnya belum kunjung tidur dengan angka dijarum jam yang menunjukkan pukul dua dini hari.


Mereka pun berlari memasuki kamar yang biasa dipakai bila menginap di apartement Sasya.


...⚘⚘⚘...


Pagi pun tiba, matahari mulai menyinari seluruh bumi cahaya nakalnya mulai memasuki celah-celah jendela kamar. Keadaan hening di apartement Sasya walaupun jam sudah menunjukan pukul delapan pagi, mereka satupun belum ada yang terbangun.


Pukul 10.00 WIB.


Dengan terpaksa Sasya mulai membuka kelopak matanya perlahan dan mengucek matanya, pandangan yang pertama ia lihat adalah ponsel yang berada di atas nakas samping tempat tidur.


"Hah, udah siang." Sasya pun terkejut langsung mendudukan tubuhnya dan membuka gorden otomatis menggunakan remote.


Tempat yang Sasya tuju terlebih dahulu adalah kamar Quira, ia membangunkan satu persatu para sahabatnya dan membuka gorden otomatisnya. Setelah semua terbangun, Sasya pun membuka laptop di atas meja yang berada diruang tamu. Melihat cuplikan video yang disadap, ada salah satu percakapan yang cukup menarik untuk di ungkap antara mereka.


Saat Sasya sedang menatap layar laptopnya seseorang memanggilnya.


"Morning." ucap Quira yang menghampiri Sasya yang dan meregangkan tangannya hendak memeluk Sasya.


Nita berlari seperti kilat sambil berteriak. "No, no, no, she's mine !!!." Nita pun berhasil menyelak pelukan Quira.


Quira pun nggak mau kalah, ia berlari cepat dan memeluk Sasya. Mereka berdua mendusel di badan Sasya.


Kedua tangan Sasya berusaha melepaskan pelukan mereka. "Anying, risih gw." teriaknya.


Seketika hening sesudah Sasya teriak, Quira dan Nita pun sudah melepaskan pelukannya.


"Listen." Sasya pun menatap mata Quira dan Nita bergantian. "Gw nemuin hal menarik didalam video ini."


"Gw tau apa." Quira pun memejamkan matanya untuk berpikir.


"Apa?." ucap Sasya dan Nita kompak.


Quira pun membuka matanya. "Pasti." sambil menyatukan kedua tangannya, lalu terdengar bunyi plok,plok,plok.


"Bangsat." Sasya menoyor kepala Quira.


"Gw udah serius dengarnya njim." kesal Nita.


Quira pun malah cengar-cengir.


Saat Sasya ingin memutar video rekaman penyadapnya, lalu tangannya ditepis Quira.


"Sasya." panggil Quira sambil menggenggam tangan Sasya. "Please, kali ini gw mau nanya penting."


"Nanya apa?."


"Sebenarnya ini pertanyaan yang selalu menghantui pikiran gw."


"Nggak usah banyak basa-basi lo." Nita langsung memotong pembicaraan dan menepis paha Quira.


Quira pun berdecak dan memandangi Nita dengan tatapan tajam. "Sebenarnya...... itu om-om pada punya istri nggak sih?." tunjuknya ke-layar laptop.


"Maybe, ada atau duda atau memang lajang."


"Gila sih, kalau masih lajang." ucap Nita.


"Bisa jadi Ta, kan kita nggak tau umur mereka."


"Iya juga, kali aja emang mukanya boros, jadi keliatan tua." jawab Quira.


"Zaman era modern nyari kerja susah, banyak orang yang menghalalkan segala cara untuk mendapat uang." ucap Nita.


"Dizaman sekarang, apa sih yang nggak dipakai dari uang?." sambung Nita lagi.


Sasya yang sambil menyenderkan badannya di sofa, mendongakkan kepalanya menatap langit-langit atap plafon. "Uang memang bukan segalanya, tapi segalanya membutuhkan uang, cara tercepat mendapatkan uang adalah....." Sasya menggantungkan ucapannya.


"Adalah apa?." tanya heran kompak Quira dan Nita.


"Jual diri...."


Quira pun bertepuk tangan. "Anjir, slebew."


"Plus, jadi simpanan om-om konglomerat." ucap Sasya lagi.


Nita pun berdecak kagum. "Woyyy, jadiin quotes eh !!!."


"Skuy." jawab Quira yang semangat.


Setelah itu meraka pun melihat cuplikan yang Sasya berikan dan selanjutkan mereka pun bersiap untuk menemui seseorang yang sebelumnnya mereka sudah selidiki.


...⚘⚘⚘...


"Sya, ini benarkan tempatnya?." tanya Quira.


"Menurut informasi, ini benar tempatnya."


"Kita tunggu aja, dia datang." ucap Nita.


Tidak sampai sepuluh menit seseorang itu pun datang memasuki cafe tersebut, lalu mereka pun menghampiri seseorang tersebut.


"Hai, Alif 'kan." sapa Sasya.


Namun seseorang yang yang bernama Alif itu pun seperti kebingungan saat di sapa oleh Sasya.


"Gw Sasya." Sasya memperkenalkan dirinya dan tidak lupa memperkenalkan sahabatnya. "Ini Nita dan ini Quira."


"Hai, Alif." jawab kompak Quira dan Nita sambil melambaikan tangannya.


Alif pun mengjawab dengan lambaian tangannya.


"Gimana kalau kita sambil duduk ngobrolnya?." Nita pun lengannya bertaut membawa Alif kesalah satu meja cafe.


Setelah mereka duduk, mereka pun melanjutkan obrolannya. Walaupun raut wajah Alif yang masih kebingingan.


"Alif, lo nggak kenal kita?." Sasya menyakinkan.


Lalu Alif menjawab dengan gelengan kepalanya sambil mengerutkan dahinya.


"Kita 'kan, pernah sekelas." ucap Quira.


"Dari kelas tujuh sampai kelas delapan semester satu dan habis itu lo pindah sekolah." sambung Nita.


Raut wajah Alif pun berubah. "Ohhh, sorry gw lupa."


"Sans." ucap Sasya.


Seorang pelayan menghampiri mereka dan memberikan daftar menu. "Kita pesan minum dulu ya." ucap Nita.


Mereka pun memesan sebuah minuman dan setelah itu melanjutkan obrolannya.


"Alif." panggil Sasya. "Gw boleh tanya sesuatu?."


"Tanya aja."


Sasya pun menunjukkan foto ke Alif di ponselnya. "Lo kenal dia?."


"Oh, nggak kenal."


"Please, jujur aja sama kita !!!."


"Cuman kita aja, yang tau rahasia lo." sambung Quira.


"Sebenarnya Grace itu teman kita juga, pas dikelas sembilan, dia murid pindahan." Nita pun memancing pembicaraan.


"Really, kenapa dia jadi pengedar narkoba?." Alif pun berbicara dengan suara yang kecil dan perlahan-lahan Alif mulai terbuka dengan mereka.


"Gw juga nggak tau." ucap Sasya


"Gw akan cerita lebih banyak kekalian, tapi kita lanjutnya di dalam mobil gw."


Sasya dan kedua sahabatnya mengangguk dan mereka pun berlalu dari cafe tersebut dan menuju ke dalam mobil Alif.


Alif pun mulai bercerita. "Seminggu yang lalu dia suka DM, gw fikir dia cuman mau ngajak temanan aja. Memang sebelumnya juga gw pernah ketemu dia nggak sengaja, gara-gara dia nambak gw di cafe tadi. Setelah itu Grace merasa bersalah atas perbuatannya yang sudah numpahin kopi gw, habis kejadian itu kita mulai deket dan dia suka DM gw. Baru tadi pagi dia call pakai nomor telepon gw, ntah dari mana dia dapat nomor telepon gw dan sebelumnnya gw nggak pernah ngasih nomor telepon gw kesembarangan orang. Setelah call dia minta ketemuan di cafe tadi, tapi pas gw sampai tiba- tiba dia masuk kedalam mobil gw dan dia nawarin ini." Alif pun merogoh kantung celananya dan menunjukan sebuah serbuk putih yang sudah di bungkus rapi dengan ziplock size kecil.


Alif pun melanjutkan ceritanya lagi. "Setelah dia memberi sabu ini, dia bilang ke gw. Intinya kalau gw jadi pecandu narkotika, gw bisa hubungi dia lagi."


"Coba gw mau megang." ucap Quira yang mencoba membuka kepalan tangan Alif yang menutupi narkotiba tersebut.


"Jangan !!!." Alif pun menolak. "Ini mau jadi barang bukti untuk kekantor."


"Tuh 'kan, pasti lo iltel/polisi?." tebak Sasya.


"Sebelumnya apa kalian punya bukti lainnya?." tanya Alif.


"Ada, nanti gw kirim." ucap Sasya.


"Soalnya gw harus memperkuat bukti, biar surat penangkapan dari kantor cepat turun."


"Gw sebelumnya minta maaf, tapi teman kalian sudah bersalah dan harus dikenai hukuman."


"Iya, nggak apa-apa."


Emang sebenarnya itu tujuan gw, untuk ngancurin hidupnya. batin Sasya.


"By the way !!! Makasih sudah bantu ngeringanin tugas penyelidikan gw."


"Iya, sama-sama." jawab Nita dan yang lainnya hanya mengangguk.


"Gw minta nomor telepon lo." Sasya pun menyodorkan ponselnya.


"Oke." Alif pun melaksanakan permintaan Sasya.


"Thank you." ucap Sasya. "Kalau gitu kita pamit ya, maaf soal tadi di cafe yang belagak SKSD."


"Gw yang seharusnya minta maaf, nggak bisa ngenalin wajah kalian, soalnya wajah kalian berubah dari yang dulu."


"Dan lo juga, wajahnya berubah lebih ke baddas dan bad boy handsome." ucap Quira sambil membuka pintu mobil Alif.


Setelah mereka keluar dari mobil Alif dan berdiri sejenak. "Bye." ucap mereka kompak sambil melambaikan tangannya lalu berlalu dari mobil Alif.


...⚘⚘⚘...


Mereka pun sudah sampai di apartement Sasya lagi, hari pun semakin gelap dan matahari mulai terbenam.


Quira yang berjalan menuju meja makan dengan membawa segelas susu yang ia sudah tuangkan di top table kitchen. "Sasya, kali ini lo benar-benar punya mata elang." sambil menepuk bahu Sasya yang sambil memakan sebuah cake di meja makan.


"Untung gw nggak tersedak, markonah !!!." Sasya pun menepis tangan Quira.


"Ehhh, nama gw sudah bagus, jangan diganti-ganti." jawab Quira sambil meminum susunya.


Nita pun berdeham. "Patut di apresiasikan mata elang Sasya, seteliti itu lo tau dia megang narkotika di tangannya, pas di telepon Alif."


"Beri tepuk tangan yang meriah donk !!!." sambung Quira.


Lalu mereka pun bertepuk tangan sekencang-kencangnya dan bersorak.


"Lo sudah kirim video ke Alif?." tanya Quira.


Sasya pun mengangguk. "Tinggal nunggu waktu yang pas buat ngungkapin aib-nya."


"Liat aja, mereka belum tau siapa kita." Nita yang sambil menaiki sebelah alisnya.


"Yoi." jawab Quira.


"Bersyukur ada Alif yang mempermudah urusan kita." Nita yang sambil menyuapkan cake Sasya kedalam mulutnya.


"Lagi juga, itu kok Grace berubah jadi bodoh sih." heran Quira.


"Ya karena cinta, orang bisa jadi bodoh dan kehilangan akal sehat demi memperjuangan seseorang." ucap Sasya sambil berjalan menuju kulkas untuk mengambil air dingin.


"Iya juga sih, konsepnya si Grace naksir sama Alif."


"Secara Alif ganteng, cewek mana yang nggak tertarik." ucap Nita.


"Termasuk lo tertarik ya?." Sasya lalu menunjuk Nita.


"Nggak, biasa aja."


"Atau lo?." Sasya beralih menunjuk Quira.


Quira pun menggeleng.


"Jujur kalian berdua." tegas Sasya.


"Nggak, apaan sih." Nita yang mulai menaiki nada bicaranya.


"Gw tanya sama lo." Quira menghampiri Sasya yang tengah duduk menyender di top table kitchen dan kemudian mereka bertatap-tatapan. Kurang dari satu menit mereka pun melepaskan tawanya yang sedari awal sudah menahan tawa.


"Nggak kuat gw, jangan gitu." Sasya yang sambil tertawa.


Quira pun melakukan teknik relaksasi menarik dan membuang nafas, agar tertawanya terhenti. "Tadinya gw pingin bilang ke lo, kalau lo suka 'kan sama Alif?."


"Nggak ada, jangan ngadi-ngadi lo."


flashback off


*


*


*


Note:


SKSD: Sok Kenal Sok Dekat


¤


¤


¤


¤


¤


¤


🖍Jangan lupa Like and Vote 🖍


📖 Selamat Membaca 📖