Together Again

Together Again
Kemana Lagi?



Sasya memasuki kamar Brydean tanpa mengetuk, lagi pula pintu tersebut tidak tertutup rapat. "Permisi pak, makan sore." Sasya masuk dengan membawa baki makan. Terlihat Brydean sedang duduk di kursi gaming dengan headphone yang terpasang di kedua telinga, tatapan matanya sangat fokus menghadap komputer sampai-sampai Sasya masuk pun tidak terdengar. Sasya menaruh baki tersebut di atas nakas. Menghampiri Brydean yang tengah asik bermain game, berdiri di samping Brydean selama sepuluh detik dengan menyilangkan tangan. Tetap saja Brydean tidak menyadari Sasya yang berada di samping tersebut. Sasya menemukan ide untuk mengusili Brydean. Pertama ia akan menutup layar monitor komputer dengan kedua tangan. Kedua ia akan menggangu Brydean mengetik tombol keyboard asal, ketiga Sasya akan melepas headphone Brydean. Brydean tampak kesal saat Sasya ganggu dan langsung terdiam. "Nanti lanjut nge-game lagi, sekarang makan sore setelah itu minum obat." ucap lembut Sasya, tanpa ada jawaban dari Brydean. Sasya mematikan komputer tersebut. "Maaf, saya pinjam tangan kanannya pak." Sasya berpindah ke sisi sebelah kanan, melihat darah di selang infus Brydean sudah naik. "Bapak banyak gerak jadi darah yang ada di vena naik keselang infus, tetesan infus juga ngga netes karena macet." Sasya segera mengambil tindakan, mengganti cairan infus dengan yang baru karena cairan sebelumnya sudah sedikit lagi habis. Bila setelah di ganti tetesan infus tetap macet, Sasya harus spooling¹via bolus² atau dengan mempelintir selang infus. Memegang dahi Brydean masih teraba panas. "Kita pindah ke tempat tidur ya, saya bantu papah." Sasya yang bersiap untuk memapah Brydean.


"Saya bisa sendiri." Bangun dari duduk berjalan perlahan dengan Sasya bantu menuntun standar infus sampai ke dekat tempat tidur.


Merapikan selimut Brydean. "Saya suapin ya pak, nanti makanannya keburu dingin." duduk di tepi ranjang, mengarahkan sendok ke mulut Brydean.


Brydean mengambil sendok tersebut. "Saya bisa sendiri."


Sasya merebut sendok tersebut. "Bapak belum boleh banyak gerak, biar saya bantu ya. Sekarangkan saya perawat pribadi bapak." ucap Sasya meyakinkan Brydean di iringi dengan senyuman.


...⚘⚘⚘...


Jarum jam mengarah ke pukul sembilan malam, Sasya memasuki kamar Brydean untuk memastikan keadaan. Mengganti cairan infus yang sudah habis, merapikan selimut dan memegang dahi Brydean. "Syukur udah mulai turun demannya, ternyata ucapan itu doa ya, baru kemarin dia bilang ngga pernah sakit jadi sekarang sakit. Beruntung hanya deman biasa karena kemungkinan kecapean." gumam Sasya. Berdiri dari duduk hendak pergi dari kamar tersebut. Tetapi tangan kekar Brydean menggenggam pergelangan tangan Sasya membuatnya menghentikan niat untuk pergi. Sasya memandang wajah Brydean yang masih tampak terlelap dengan mata tertutup, pikirnya hanya mimpi mungkin. Menyingkirkan tangan Brydean dari pergelangan tangan Sasya. Ah, susah. Sasya sekuat tenaga melepas genggaman di pergelangan tangannya, tetapi usaha tersebut hanya sia-sia karena Brydean menggenggam sangat erat. Sasya kembali duduk di tepi ranjang.


...⚘⚘⚘...


Pagi ini Sasya keluar dari rumah Bunda Arumi untuk berbelanja ke mini market terdekat. Berjalan menelusuri komplek, menikmati udara pagi yang sejuk.


Sasya 'pov


Perasaanku mulai ngga nyaman, seperti ada penguntit. Terus menoleh kebelakang, semakin lama langkah kakiku semakin cepat. Hingga tidak pandanganku tidak fokus berjalan.


trinnn, trinnn


Suara dari klakson motor tersebut, yang hampir menabrakku. "Hati-hati neng, kalo nyebrang." ucap pengendara motor itu kesal dan membentak. Aku sontak kaget saat mendengar klakson tersebut, tuhan masih melindungi keselamatanku yang nyaris saja tertabrak motor. Aku pun mulai berlari kembali tetapi dengan pandangan yang fokus, mini market sudah terlihat di depan mata. Tiba-tiba seseorang misterius membekap mulut Sasya dari belakang, membawa Sasya kearah mobil.


"Masuk !!!." bentak pria misterius memaksa masuk dengan kasar. Aku mencoba melakukan perlawanan, tetapi tangan kekarnya tidak bisa aku kalahkan. Pria tersebut memborgol tanganku kebelakang, menyuntikkan cairan di lengan atas. Obat tersebut berefek membuat tubuhku lemas tak bertenaga. Setelah masuk kedalam mobil ia memasangkan seatbelt. Aku belum melihat siapa yang menculikku, sampai saat ia masuk kedalam mobil. "Bimo, lo gila." suaraku lemas, ingin rasanya membentak dan memberontak lari dari hadapannya. Tanpa di sadari air mata menetes membasahi pipiku.


Smirk. "Hey, jangan nangis." ia mengusap air mataku, lalu memelukku. Tetapi aku berusaha menolak saat dia ingin memelukku. Memberontak dengan tenaga yang tersisa sampai Bimo melepaskan pelukkannya. "Apa yang lo mau?."


"Singkat aja, abang mau adek."


Aku membuka mata dengan perasaan yang panik dan napas yang tergesa-gesa. Cuman mimpi. Mendudukkan diri, memijat dahi merenungkan mimpi yang baru saja terjadi. Mataku menelusuri kamar, ternyata kamar tersebut tidak asing dan aku menoleh kearah samping kiri. Memalingkan wajah saat melihat seseorang di sampingnya masih terlelap dengan tenang. Membangunkan diri perlahan agar Brydean tidak terbangun, mataku tertuju melihat tetesan infus tidak menetes dengan lancar karena efek tangan kanan Brydean menjadi bantalku untuk semalaman.


"Suster." panggil Brydean, terlihat ia langsung mendudukkan diri. Aku hendak kabur, tapi sudah terlambat. Menjawab pertanyaan Brydean dengan senyuman.


"Kenapa tangan kanan saya sakit sus." Brydean memegangi tangannya yang sakit.


Pasti itu gara-gara tangannya di jadian bantal semalaman, semoga dia ngga sadar akan kejadian itu. batinku memikirkan kejadian yang baru saja terjadi. Tetap tersenyum walaupun sebenarnya malu mengebu-gebu di dalam diriku. "Mungkin pengaruh efek terpasang infus atau posisi tangan bapak menekuk saat tidur." alasan yang cukup logiskan. "Permisi pak." untuk saat ini karena keadaan cukup mendesak, maka lari dari kenyataan di perbolehkan.


...⚘⚘⚘...


Pagi ini adalah jadwal bertemu klien penting. Sasya sedang menunggu klien di sebuah cafe yang berada di daerah Bandung. Karena sebelumnya mereka sudah berjanjian terlebih dahulu melalui telepon. Tidak lama Sasya duduk, dua orang berpakaian formal menghampiri. Sasya bangun dari duduk untuk menyambut kedatangan mereka. Bersalaman memperkenalkan diri. Sasya berjabatan tangan. "Sasya, saya sebagai sekretaris pak Brydean." ucap ramah Sasya dengan iringi senyuman. "Silahkan duduk."


"Saya liat anda tidak bersama pak Brydean hadir ini? Saya butuh berbincang dengannya." ucap seseorang klien berpakaian formal duduk di hadapannya.


"Maaf sebelumnya, tetapi pak Brydean berhalangan tidak hadir karena sedang sakit. Kalau begitu izinkan saya untuk mempresentasikan project terbaru perusahaan kami. "


"Siapa yang sakit? Tidak ada yang sakit." ucap datar Brydean yang tiba-tiba datang menarik kursi di samping Sasya. "Maaf atas keterlambatannya, There is a bit of a problem." Berjabatan tangan, menoleh ke arah Sasya. Mereka saling bertatapan, Sasya bingung dan terkejut kenapa Brydean tiba-tiba datang. Seharusnya ia masih berada di kamar untuk masa pemulihan, ia belum pulih seratus persen. Sejak awal kedatangan Brydean, Sasya terus menatap tanpa henti karena kebingungan.


"Baiklah pak, silahkan kita mulai meeting hari ini." ucap klien di hadapan mereka.


Setelah 30 menit pertemuan, mereka mengakhiri dan berpamitan. Sasya yang melihat janggal dengan tangan kanan Brydean yang selalu di masukkan dalam saku celana. Bahkan bila di lihat sejak awal kedatangannya ia sama sekali tidak menggunakan tangan kanan. Brydean bangun dari duduk. Sasya langsung menarik lengan kanan atas Brydean, membawanya menuju toilet pria memasang wet floor sign di depan pintu toilet dan mengunci pintu toilet dari dalam.


Sasya melepas genggaman tangan, melihat Brydean hendak menuju pintu toilet untuk keluar. Sasya langsung menghadang di hadapannya. "Tunggu pak !!! boleh saya pinjam tangan kanan bapak?." izin Sasya seraya menarik tangan kanan Brydean secara paksa. Brydean menahan tangannya enggan untuk di pegang.


"Ihhh, tangan bapak kenapa? Biar saya bantu sembuhkan." tawar Sasya sambil menarik tangan Brydean.


"Stop, none of your bussines." bergegas keluar dari kamar mandi.


"Ckkkk, pasti dia marah. Heran sensi banget jadi orang mau di tolong juga." Sasya pun ikut bergegas keluar dari kamar mandi dan merapikan wet floor sign ke tempat awal.


Sasya berlari menuju parkiran untuk bisa menyusul Brydean, tetapi itu hanya sia-sia saja. "Yah, kalah cepat gw."


...⚘⚘⚘...


Sasya telah tiba di Jakarta, kini Sasya sudah berada di depan pintu rumah Ibu Arumi, tangan cantiknya menekan bell dengan berdiri membawakan obat di dalam paper bag untuk Brydean.


Tidak menunggu lama seseorang dari dalam rumah itu pun membukakan pintu. "Maaf nona, cari nyonya ya." ucap seorang pelayan di rumah tersebut.


"Iya, Ibu Arumi ngga ada?."


"Sekitar 1 jam yang lalu nyonya keluar nona, katanya ia ingin bertemu temannya."


"Oalah, tapi kalo Brydean ada ngga?."


"Kalau tuan muda juga sejak tadi pagi belum kembali lagi, ya sudah masuk dulu nona sambil nunggu nyonya."


"Owh makasih, tidak usah saya mau langsung pamit aja deh."


"Nona sebelumnya mau titip pesan apa ke nyonya, nanti saya sampaikan."


"Tidak ada sepertinya, saya permisi dulu." Sasya bergegas kedalam mobil dengan raut wajah pasrahnya. "Baik, akan kemana kah kita kali ini, aduh gw males banget ke rumah Brydean." dumelnya sambil menyetir.


---------------‐----------------‐-----------


Spooling¹: tindakan seorang perawat menyuntikan cairan steril, tujuannya agar melancarkan kembali aliran infus.


Via bolus²: ketika seorang perawat menyuntikkan obat atau cairan melalui vena. Jika pasien terpasang selang infus, perawat menyuntikkan obat di tube selang infus atau injection connector.


¤


¤


¤


¤


¤


¤


🖍 Jangan lupa Vote dan Like 🖍


📖 Selamat Membaca 📖