
Mobil dengan berserta supir pun sudah siap menungguku di depan rumah untuk mengantarkan ke bandara. Siap sudah semua koperku telah di masukkan kedalam bagasi, menghembuskan napas panjang dengan mata yang terus menelusuri seluruh detail rumah yang akanku tinggalkan kembali. Masuk kedalam mobil, seorang supir pun bergegas untuk mempijak pedal gas memacu mobil. Sepanjang jalan Ibu Kota Jakarta tak henti untukku pandang selama di perjalananku menuju bandara. Tak terasa perjalananku pun usai tiba di sebuah lobby bandara. Turun dari mobil dengan seorang supirku yang telah siap menurunkan koper, baru saja selangkah berjalan di lobby bandara setelah ku berdiam mematung memandang mobil yang di kemudikan supirku telah hilang dari pandangan. Seseorang tiba-tiba menarik pergelangan tanganku menahan agar ku tidak melangkah lebih jauh. Aku menoleh kearah seorang yang menggengam pergelangan tanganku dengan terlihat sekilas ia memakai pakaian formal dengan tangan berurat nan kekarnya. Oh, **** Brydean. Aku pun langsung memutar kedua bola mataku saat melihatnya kini berada di hadapanku. "Lepas." ucap tegasku seraya mencoba melepaskan tangan kekarnya dari pergelangan tanganku, hingga saatku muak dan geram aku berteriak memanggil security. "Pak tolong, ada yang ganggu saya." dengan cepat dua security tersebut berlari ke hadapan kami seraya Brydean pun langsung melepas gengamannya dan memberi celah untukku langsung bergegas mengejar waktu penerbanganku yang sudah mepet itu.
Brydean 'pov
Setelah ku pulang dari Rumah Sakit Jiwa, lalu Nico pun mengantarku kembali kekantor, tetapi saat Nico menurunkanku di depan lobby, aku tidak langsung keruangan tetapi malah menuju basement mengambil mobil untuk mengunjungi rumah Sasya. Ku tahu pasti dia sedikit trauma dengan kejadian tersebut, terlebih lagi yang ku ketahui Sasya pernah mengalami mental ilness karena kejadian penculikan sekaligus percobaan pemerkosaan oleh Bimo. Mungkin ia tidak memberi tahu tentang kondisinya saat itu, tetapi aku berusaha untuk mencari tahu kenapa Sasya terus mengurung diri di rumahnya itu saat terlihat aneh, ku mengenal kepribadian ia yang sebelumnya Sasya bukan tipe kepribadian yang seperti itu.
Sekitar jarak lima puluh meter dari rumah Sasya, aku melihat mobil baru saja keluar dari rumah Sasya, lalu ku ikuti kemana perginya. Samar-samar terlihat bahwa Sasya berada di dalam mobil tersebut bersama seorang supirnya. Terus ku ikuti sampai mobil itu berhenti di sebuah lobby Bandara Soetta. Sengaja ku parkir jauh mobilku agar tidak begitu terlihat seperti penguntit, berlari bergegas menghampiri Sasya dengan tanganku cepat menarik pergelangan tangannya. Ku lihat raut wajahnya seperti muak dan jijik melihatku, ntah aku tidak tahu di mana letak kesalahanku sampai ia seperti itu. Mungkin ada hubungannya karena surat pengunduran diri? Tapi aku pun tidak paham dengan sikapnya saat ini. Ia terus memberontak di minta untuk di lepaskan, keras kepalanya aku terus menahannya dengantanganku agar tidak bisa ia lepaskan, tetapi bodohnya aku ini tempat umum semua orang berhak bersuara meminta pertolongan jika dirinya mulai terancam. Sasya pun berteriak memanggil security yang cepat menghampiriku, sebelum security itu menghampiri pun aku sudah melepas genggaman tanganku.
"Maaf pak, mohon untuk tidak membuat ketidak nyamanan pengunjung bandara." ucap salah satu security tersebut dan syukurnya mereka tidak menahanku hanya mereka memberi nasihat dan peringatakan kepadaku, cukup dengan kata maaf masalah pun selesai. Setelah itu ku langsung bergegas menghampiri mobil memacunya dengan kecepatan tinggi menuju rumah bunda dengan perasaan kecewa dan kesal.
"Bunda." teriakku di ambang pintu rumah mencari keberadaannya seperti anak kecil.
"Apa nak? Bunda di dapur." teriak lembut bunda Arumi.
Berlari menghampiri sumber suara tersebut dan terduduk di mini bar melihat bunda sedang asik membuat kue. "Bunda." tersenyum kearahnya.
"Apa sayang? Pasti mau cerita ya." ucap lembut bunda sambil meledekku, ia selalu bisa membaca pikiran dan perilakuku.
"Seratus buat bunda." seraya bertepuk tangan kecil. Mungkin jika tidak ada bunda, aku tidak tahu harus mengadu dan bercerita kepada siapa lagi yang ku percayai. Aku tanpa sesosok ibu seperti boneka tanpa pemilik. "Jadi Luke suka sama Sasya bunda, tapi...." ucapanku terpotong saat bunda berbicara pada salah satu pelayan untuk meneruskan adonan kue yang hampir jadi tersebut.
"Jangan cerita disini." bunda langsung menarik tangan ku berjalan membawa menuju taman belakang. "Sekarang boleh teruskan nak." kami pun terduduk di kursi taman seraya bunda mengusap lembut rambutku.
"Tapi sepertinya Luke gagal untuk membuat Sasya jatuh cinta, terlebih lagi Sasya sudah menghindari Luke dan pergi jauh ke luar negeri."
"Anak bunda ngga boleh lemah, bunda memang sudah feeling perlahan ada rasa cinta di hatimu untuk Sasya, tetapi kamu salah memperlakukan sikapmu pada Sasya." ucap bunda sambil mengetuk pintu hati di dadaku. "Pergilah dan kejar cinta itu, jika Luke sudah berusaha tetapi sang cinta tidak kembali maka ikhlaskan mungkin ia bukan yang terbaik." menarik senyuman manis di wajah bunda yang tetap awet muda di usianya.
"Luke berangkat ya bunda." memeluk bunda dan mencium pipinya, berlari melangkahkan kaki dengan bersemangat gembira penuh harapan. "Come to California." teriakku excited seraya berlari menghampiri mobil, tak peduli para pelayan rumah di sana melirikku. Bersyukurnya aku sempat melihat elektronik tiket yang berada di ponsel Sasya dengan tujuan California, sangat mudah untukku lacak karena ia memakai ponsel yang ku beri. Ia tidak tahu kalau ponsel tersebut terdapat pelacak untuk memudahkanku mencarinya karena ia selalu hilang kabur-kaburan dariku. Tidak ada yang sulit untukku mendapatkan semua yang ku inginkan, private jet siap untuk membawaku terbang kemana saja.
...⚘⚘⚘...
California - Amerika Serikat
Perasaanku saat ini sangat senang dan lega terlepas dari seseorang yang terus menggekangku untuk tunduk pada perintahnya. Taksi bandara pun telah berhenti menurunkanku di sebuah apartement mewah yang berada di pusat ibu kota California. Dengan sumringah aku bergegas cepat menuju kamar apartementku, karena setelah ku merapihkan semua barang yang berada di koper aku akan berjalan-jalan menikmati musim gugur di sana.
ting nong....
Terdengar seseorang menekan bell dari luar apartement-ku saat tengah merapikan baju di dalam koper. "Pasti itu kurir yang mengantar makanan." gumanku bergegas melangkahkan kaki membukakan pintu apartement.
"Ca." terdengar suara berat memanggil namaku dan langsung memberi pelukkan. Aku bisa mencium aroma parfumnya saat berada di pelukkan pria tersebut adalah Brydean, aroma parfum yang khas dan suara berat yang sangat familiar melengking di telinganku. Dia seraya mendorong perlaham tubuhku berjalan kebelakang, aku bisa mendengar suara pintu yang tertutup. Aku pun berusaha memberontak melepaskan pelukkannya.
"Lepas !!!." dengan sekuat tenaga aku akhirnya lepas dari dekapannya, aku rasa ia memang tidak menahanku untuk kali ini dengan tangan kekarnya. "Apa lagi Brydean? Gw capek, gw pingin sendiri dulu." ucap sedikit frustasiku dengan nada yang naik satu oktaf. "Sana pergi !!!." bentakku seraya mendorong tubuhnya.
"Ca dengar gw dulu." seraya erat memegang bahuku. Aku pun risih memberontak agar melepaskan cengkraman tangannya di bahuku. "Gw mau jelasin tentang..." ucapan Brydean terhenti.
Aku yang langsung memotong pembicaraannya. "Tentang apa?." jawabanku yg penuh emosi. "Gw ngga butuh perjelasan dari lo, paham !!!." ucap nyolotku. "Gw ngga perduli lagi tentang omong kosong lo." seraya mendorong-dorong tubuhnya dengan jari mungilku.
Brydean menyeringai. "Asal lo tau, gw itu cinta dari sejak awal kita bertemu." seraya menggoyangkan bahuku dengan tangan kekarnya dan wajah kita kini sangat berdekatan dengan tatapan mata elang Brydean yang menakutkan. Sontak aku pun langsung memalingkan pandangan dan menelan ludah kasar.
Brydean membelai rambutku, lalu ku langsung tepis mentah-mentah. "Alah, bullshit." seraya menyeringai memutar kedua bola mataku.
"Bullshit?." jarinya mengangkat daguku, mendongak melihat wajahnya. "Ikut gw pulang ke Indonesia sekarang, besok kita langsung nikah. Itu kan yang lo mau selama ini, ngga banyak basa basi."
Memutar kedua bola mataku seraya memasang muka muak mendengar semua apa yang di utarakan Brydean. "Pergi dari sini !!!." usirku seraya melepaskan kedua tangan dia yang berada di bahu.
"Tidak !!!." menggelengkan kepala. "Ayo nikah !!!." ia lalu meraih tanganku.
"Ngga !!!." seraya menepis tangan Brydean.
Dengan cepat Brydean mendorong tubuhku sampai terhentuk ke dinding, badan kekarnya dan tanganya memblokirku untuk tidak bisa kemana-mana. Raut wajahnya pun sudah berubah menjadi sangat menyeramkan. "Hi cantik." ucapnya seraya memainkan jari lentiknya di wajahku. Cepatku memalingkan wajah karena wajah kami saling berdekatan. "Jika aku tidak bisa menikahimu, maka akan ku buat kau mengandung anakku, agar kau terus mengejar meminta pertanggung jawaban dariku atas anak yang ada di dalam rahimmu." bisiknya di telingaku, membuat seluruh badan merinding mendengar setiap suku kata yang di ucapnya.
Sekuat tenaga aku memberontak mendorong tubuh kekarnya. "Pergi !!!! Dasar cowok bejad, gw benci sama lo." teriakku memberontak di hadapannya.
"Cup, cup, bagus sayang, semakin kau benci maka semakin pula bertumbuh rasa cinta." ucapnya seraya menenangkan namun mematikan bagiku, tangannya mengusap lembut rambutku.
Aku mengambil ponsel di saku celana dan mengetik nomor polisi. "Pergi atau gw panggil polisi."
"Baiklah, sampai bertemu di pelaminan." seraya mengusap lembut rambutku dan tersenyum sebelum ia membalikkan badannya.
"Hallo mbok." ucapku saat penggilan tersebut tersambung.
"Nona sudah sampai?." ucap mbok Ani dengan nada khawatir.
"Iya mbok sudah, maaf tadi lupa ngabarin."
"Iya tak apa nona, alhamdulilah kalau sudah sampai. Ya sudah mbok tutup teleponnya, mbok masih ada pekerjaan rumah lagi yang belum selesai."
"Iya mbok, terimakasih sudah khawatir." menarik senyum di wajahku.
...⚘⚘⚘...
Sebelum matahari terbenam aku berjalan sore keluar dari apartement. Berjalan menikmati banyak pepohanan dengan daun yang sudah menguning berjatuhan perlahan ke tanah membuat menutupi jalan dengan daun yang berserakan itu. Merogoh saku celanaku mengambil ponsel. "Hallo Nita." ucapku saat telepon sudah tersambung. "Nita gw ada di California, lo bisa temui gw? Gw kirim lokasinya." setelah Nita memberi jawaban, aku langsung menutup ponselku. Terduduk disebuah kursi taman yang berada tidak jauh dari pandanganku seraya menunggu Nita datang. Alasan aku datang kesini untuk bertemu Nita.
Tak menunggu lama Nita datang menghampiriku. "Sorry nunggu lama ya." ucapnya sambil berpelukkan menemuiku. "I miss you Sasya, akhirnya gw bisa peluk lo lagi." tampak sumringah Nita menemuiku kembali.
Aku membalas baik dan excited atas semua perilaku yang di ungkapkan Nita saat ini, aku tidak mau jika ia kecewa dengan tiba-tiba perubahan sikapku karena masalah pribadi yang baru saja ku alami. "Apa kabar?."
Nita pun menyilangkan tangan di dada, menatap sinis kepadaku. "Hey, jaman nanya apa kabar? Udah kayak orang asing yang ngga pernah ketemu dan chatingan aja."
Aku tertawa renyah mendengar bualan yang keluar dari mulut Nita. "Baiklah maaf, ingfo lokernya kakak." mengelus bahu Nita.
"Bowleh, lima puwluh !!!." Nita tertawa lepas dan di ikuti olehku juga. Ntah aku pun tak mengerti apa yang lucu, tapi yang pasti kami bahagia bisa tertawa lepas bersama, walau tanpa Quira. Aku rasa Nita tidak tahu tentang keadaan Quira saat ini, tak apalah biarkan perlahan Quira yang memberi tahunya sendiri agar tersampaikan dengan jelas tidak ada kesalah pahaman.
"Besok gw mau ketemu manager buat menyudahi ke vakum-an ini, nanti tolong temani ya."
"Berkabar aja, oke." dengan insyarat tangan OK seraya wink. "By the way, Sya kita 'kan semakin dewasa nih. Gw kalau bisa milih pasangan yang rasa cintanya lebih besar dari gw, ngga apa jika awalnya gw belum mencintainya, tapi perlahan seiring berjalanannya waktu gw akan belajar untuk mencintainya. Biasanya Sya, cowok yang kayak gitu tulus dan dia ngga bakal ninggalin kita untuk mencari wanita lain."
"Tumben sekali Nita logis pikirannya, habis baca buku ya." ledekku.
"Iya, sekarang gw jadi suka baca macam-macam judul buku. Nah yang tadi judulnya How To Love, dari buku itu gw berambisi untuk lebih memilih di cintai dari pada mencintai. Bukunya rekomen buat di baca, nanti kalau gw udah selesai bacanya lo boleh minjam." ucapnya seraya tersenyum lebar memperlihatkan barisan gigi rapinya.
Aku tiba-tiba teringat sesuatu saat perkataan Nita tadi terngiang di kepalaku. "Hmm, tapi jika seseorang yang mencintaimu sangat posesif itu termasuk kedalam hubungan toxic yang merugikan salah satu dari mereka."
"Posesif dalam hal apa? Saat dia mengejar untuk mendapatkan atau saat ia sedang pdkt namun perilakunya sudah ngatur-ngatur ngga jelas?."
"Mengejar untuk mendapatkan."
"Hal biasalah, cowok makhluk teritori 'kan. Mungkin konteks posesif-nya itu mereka mau apa yang mereka ingankan terwujud dan sebisa mungkin dia ingin melindungi wanita yang membuatnya nyaman, jadi khawatiran gitu perasaannya." tiba-tiba bola mata Nita memandangku sinis. "Oh, lo lagi deket sama cowok ya." ledek Nita sambil mencolek pipiku dengan terus berulang kali mengangkat alisnya. Aku yang melihatnya sangat merasa risih.
Aku menepis telunjuk Nita yang terus mencolek pipiku. "Ih stop !!! Gw cuman nanya aja kok."
"Affah iyah kidz?." Nita yang terus meledek. "Lo kayaknya salah mengartikan kata posesif saat mengejar untuk mendapatkan deh, sejauh ini ada beberapa yang mungkin pas pdkt sudah posesif tapi saat sedang mengejar biasanya mereka romantis. Kalau ingin tau dia posesif atau ngga, coba sesekali lo sempetin buat hargai perjuangannya, jangan terlalu cuek terus, kalau diajak ketemu jangan kabur mulu." Nita full menyindirku seraya mendecak dan menggelengkan kepala. Karena itu memang fakta yang terjadi, karena dulu aku malas untuk mempunyai relationship.
Membangunkan diri dari duduk. "Dahlah lo bikin gw tambah pusing, gw mau balik. Bye !!." beranjak pergi meninggalkan Nita yang masih terduduk di kursi taman.
"Dih, ngambekan. Jangan lupa besok berkabar ya." teriak Nita.
¤
¤
¤
¤
¤
¤
🖍 Jangan lupa Like dan Vote 🖍
📖 Selamat Membaca 📖