Together Again

Together Again
Bayi



Brydean memacu mobil sportnya sangat laju membelah malam di Jalan Ibu Kota. Jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan 20.40 WIB. Bergegas berlari dari basement menuju lift yang kebetulan pintunya belum tertutup sepenuhnya.


Brydean 'pov


Sesampainya di depan pintu apartement seharusnya Sasya sudah menunggu di depan pintu, tetapi Sasya pun belum kunjung datang. Aku pun terheran karena sikap Sasya yang kadang selalu menyalahgunakan waktu berharga. Aku dengan perasaan sedikit kecewa karena Sasya selalu membuatku naik darah oleh tingkah lakunya. Ber-effort berlari-lari sampai hingga saat ini aku masih mengatur deru napas tetapi tidak membuahkan hasil. Mencoba untuk meneleponnya berulang kali hingga ku muak karena teleponnya tidak kunjung di jawab oleh Sasya. Dengan raut wajah kesalku langsung berlari menghampiri lift untuk turun menuju ke basement. "What the f*uck." melihat mobil Sasya sudah terparkir khusus di parkiran apartement milikku. Setiap apartement selalu menyedikan parkir khusus pemilik sesuai nomor apartement. Kembali mencoba menghubungi Sasya dengan raut wajah kebingungan. Aku rasa Sasya baru datang dan kini berada di dalam lift, tetapi di sisi lain dengan logika kap dan body mobil Sasya dingin seperti mobil sudah lama terparkir di sana.


"Sasya tadi udah lewat?." melangkahkan kakinya dengan cepat langsung bertanya di depan seorang resepsionis. Sasya adalah seseorang yang ramah dan murah senyum, tidak heran jika banyak orang yang mengetahui dan kenal dengan dirinya. "Sepertinya sudah agak lama tadi pak." jawab ramah resepsionis seraya tersenyum.


"Oke, thank's." jawabku bergegas menaiki lift kembali. Ku berpikir mungkin saatku menuruni lift untuk menuju basement Sasya hendak menaiki lift menuju lantai apartement ku. Seseorang membuka pintu lift di lantai empat, aku melihat jelas sebuah dokumen tergeletak tidak jauh dari pintu lift. Aku menaruh curiga terhadap dokumen tersebut dan seperti ada yang janggal dengan dokumen tersebut. Tiba-tiba pikiranku terbesit mengenai Sasya yang seharusnya membawa sejumlah dokumen untukku hari ini. Batinku menggerakkan jiwaku untuk menghampiri dokumen tersebut dan keluar dari lift yang hampir tertutup. Dengan rasa penasaran mengambil dokumen yang tergeletak di lantai begitu saja, perlahan membuka dokumen tersebut yang terbungkus dengan map ordner hard cover dan membaca isi tersebut. "Oh, ****." saat di lembar halaman pertama terkejut melihat nama Albern Grup lalu melempar dokumen itu sembarang. Tidak memungkinkan untuk ke lantai dasar menggunakan lift yang tidak bisa di tunggu dengan cepat. Berlari menuruni tangga dengan perasaan kesal, khawatir dan penasaran menjadi campuk aduk, apa yang terjadi pada Sasya?.


Sesampainya diruang CCTV mencari bukti dan memikirankan siapa musuh Sasya yang berani melakukan penculikkan. Tetapi aku berusaha berpikir positif agar kejadian itu tidak terjadi. Lima belas menit memutar rekaman CCTV mencari bukti yang akhirnya mengetahui siapa pelaku dibalik penculikkan ini. Riuh-riuh Staff yang berada di apartement pun cemas dan khawatir mendengar berita ini dengan cepat menyebar. Menunggu bantuan polisi militer datang untuk mempidana dan menangkap seorang tentara yang melakukan tindakan penculikkan yang melumpuhkan korban dengan menyuntikkan cairan ke dalam tubuh korban sampai tak berdaya. Sebanyak lima personil polisi militer datang dengan dua orang yang mengumpulkan sejumlah barang bukti dan tiga orang menangkap pelaku. Kebetulan polisi militer yang membantu meringkus pelaku mereka masih teman dekatku.


Kami langsung menuju TKP dan menggrebek aksi yang kemungkin besar pelaku akan melakukan tindakan asusila melecehkan korban. Kami bermain sedikit cantik dengan di bantu salah satu staff apartement yang memberikan card cadangan apartement yang di singgahi pelaku. Samar aku mendengar tangisan yang berada di dalam kamar, melihat jelas Sasya di sana yang di sandera dengan ikatan kaki dan tangannya dengan kondisi yang sangat tak berdaya, syukur Sasya masih berpakaian lengkap dan Bimo sebagai pelaku belum memulai aksinya. Melihat itu hati kecilku menangis dan sedikit sakit, aku tidak bisa membayangkan bagaimana sakitnya jika di posisi korban yang akan membuat trauma dan mental health down. Timah panas melesat mengenai jendela kamar. Aku bergegas membantu Sasya sekaligus menenangkannya dengan para polisi militer sedang rusuh menangkap pelaku.


...⚘⚘⚘...


Brydean memutuskan langsung membawa ku pulang kerumahnya, yang sebelumnya ia menawarkan untuk singgah di apartement tetapi ku tolak dengan mentah. Lebih baik aku aman di dalam rumahku sendiri. Selama di perjalanan hanya terdiam kepala yang tersender di jendela dengan pandangan yang terus melihat keluar jendela dengan tatapan kosang. Berusaha melupakan apa yang terjadi tadi, badanku masih lemas dan kaku di daerah kaki yang terbius. Brydean menyadari sikap itu langsung mengusap lembut rambutku. Air mata pun jatuh seketika membasahi pipi dengan cepat segera menyeka air mata itu. Sial Brydean pun sadar akan itu dan membantuku menyeka air mata. "Don't worry, i'm fine." menoleh kearah Brydean seraya tersenyum.


Brydean menepikan mobilnya. "Menangislah sampai merasakan ketenangan di hatimu." memeluk erat Sasya seraya terus mengusap lembut rambut. "Aku tidak akan pernah bosan untuk mendengar tangismu di pelukanku. Cari aku dan peluklah jika kau ingin meluapkan tangismu." Tangisku pecah seketika mendengar ucapan Brydean.


Brydean mengantarku mengendong ala bridal style sampai ke atas ranjangku dengan penuh kelembutan dan hati-hati. Aku akui ia baik, tetapi aku tidak bisa terus larut dalam permainannya yang membuatku akan terus jatuh cinta pada akhirnya membuat hari kecilku sakit menerima kenyataan pahit kalau ia segera memiliki keluarga kecil. "Thank's, tolong tinggalin gw sendiri." tersenyum selepas Brydean membantu menyelimutiku dan membalikkan tubuh membelakanginya, walaupun masih terasa sedikit kaku di kaki, tetapi aku harus bisa melawan ke kakuan karena efek bius yang apabila dibiarkan akan membuat kelumpuhan. Aku merasakan Brydean mengelus lembut rambutku sebelum dia pergi dan menutup pintu kamar. "Mulai detik ini aku berjanji akan menghindar darinya." gumamku meraih telepon rumah di tas nakas. "Hallo mbok, jangan terima tamu selain sahabatku ya mbok."


"Baik nona." jawab mbok Ani di seberang telepon tersebut, aku pun mengakhiri telepon setelah mengucapkan terimakasih. Jujur semenjak kejadian yang ku alami baru-baru ini membuatku sedikit trauma dan takut untuk keluar dari kamarku menemui banyak orang di luar sana. Sesegera setelah matahari terbit sudah di atas kepala, aku akan panggil psikiater untuk konsultasi agar kesehatan mentalku cepat pulih.


...⚘⚘⚘...


Sudah hampir dua bulan aku tidak pernah keluar rumah semenjak kejadian itu, selalu terus mengurung diri di kamar dengan merenungkan kejadian yang terjadi. Jika aku mulai memikirkan kejadian tersebut aku akan mulai gelisah dan stress yang sebisa mungkin aku harus ku lawan dengan meminum obat dari psikiater untuk meredakan semua itu. Berjuang sendirian untuk kesembuhan mental itu sangat sulit. Berusaha untuk selalu baik-baik saja dan menutupi mental health kepada orang terdekat, hanya mbok Ani yang tahu kondisiku sekarang dan aku berpesan pada mbok Ani agar tidak memberi tahu siapapun bahkan Brydean pun tidak tahu tentang ini. Aku ingin mereka tidak cemas dengan kondisi yang sedang ku alami. Bahkan saar ini aku belum berani untuk bertemu orang sekitar luar rumahku bahkan tetanggaku.Terduduk di kursi taman menghirup udara segar pagi ini, aku merasa pagi ini lebih baik dari sebelumnya dan yakin kesembuhan akan segera datang jika terus mau berjuang untuk kesembuhannya. Sedang asik terduduk aku melihat mobil masuk ke dalam rumahku dan memparkirkan mobil di halaman rumahku. "Hah, Brydean." dengan cepat aku membereskan buku yang ku bawa, berlari masuk rumah melalui pintu samping bergegas cepat untuk segera ke kamarku.


Suara pintu kamarku terketuk saatku sedang berada di balkon kamar melihat Brydean yang berlalu pergi dari rumahku. "Nona ada bunga dari pak Brydean." ucap mbok Ani yang membuka pintu kamarku.


Aku berlari mengambil bunga tersebut. "Lagi?." meraih buket bunga mawar putih yang sangat harum tersebut. Hampir setiap hari Brydean mengirim bunga untukku sejak aku hilang tanpa kabar setelah kejadian tersebut. Wangi bunga mawar putih selalu membuatku menjadi tenang, semakin lama aku menjadi suka terhadap bunga mawar putih.


"Nona percaya tidak, kalau mawar putih itu melambangkan kesetiaan, sepertinya pak Brydean berhak mendapatkan sebuah cinta tulus dari bidadari seperti nona." goda mbok Ani.


"Mbok jangan mudah tertipu daya melihat sikap manisnya, mungkin saja dia hanya simpati." menepuk bahu mbok Ani.


"Tapi mbok lihat dia orangnya baik nona, jika dia yang terbaik maka dia akan mengajak nona untuk lamgsung menikah bukan berpacaran." mbok Ani tersenyum lebar seraya mengusap lembut rambut Sasya. "Mbok tinggal ke dapur ya, kalau ada apa-apa langsung panggil aja." mbok Ani pun melangkahkan kaki keluar dari kamarku dan perlahan menghilang dengan pintu kamar yang tertutup.


"Huft." menghela napas panjang dan segera membuka laptop. Mengetik surat yang harusnya ku ketik sejak awal Brydean merubah sikapnya menjadi sangat manis.


Suara bell terdengar, aku pun yang sedang fokus mengetik seketika buyar karena penasaran siapa yang datang. Berlari menuju balkon kamar melihat mobil siapa yang terparkir di halaman rumahku. Karena tidak mungkin jika Brydean balik lagi kerumahku sebab Brydean bila berkunjung tidak pernah menekan bell rumah. Omg, my bestie. Tertawa dengan kegirangan sambil melompat-lompat kecil, berlari dengan cepat menuju ruang tamu dan memeluk Quira yang hendak memdudukkan diri. "I miss you." kami bersama memeluk erat dengan perasaan bahagia, tetapi raut wajah Quira seperti tidak bahagia seratus persen. Aku merangkulnya untuk duduk bersama. "Nita ngga pulang ke Jakarta." seraya tersenyum tanpa henti memandang Quira.


"Harusnya dia yang lagi free, tapi dia yang gantiin job gw." tersenyum seraya menggenggam tanganku. "Gw mau cerita boleh?." kikuk Quira.


"Tentu boleh, ceritalah." aku yang sudah siap mendengar semua cerita keluh kesah sahabatku.


Quira menghembuskan napas. "G-gw hamil..." tiba-tiba air matanya jatuh. "D-di luar n-nikah." ucapnya yang terbata-bata dengan di iringi dengan tangisnya yang pecah itu aku langsung memeluk erat berusaha menenangkan. "Apa yang harus gw lakuin lagi untuk gugurin kandungan ini? Gw takut bilang ke nyokap sama bokap kalau gw hamil."


"Hey, look at me." melepas pelukkan dan menyeka air mata yang membahasi pipi Quira. "Dia berhak hidup." mengelus perut Quira. "Apapun yang terjadi sekarang pada kita, seburuk-buruknya anak, orangtua akan selalu menerima dengan lapang dada walaupun hati mereka sakit. Kita ngga pernah tau musibah kapan akan datang, gw tau ini sulit tapi semua sudah terjadi." seraya tersenyum menyeka air mata Quira yang terus terisak tangis. "Lo berharga, jangan pernah sesekali untuk mencoba mengakhiri hidup dengan bunuh diri. Gw selalu menginkan lo untuk pulang dan berkumpul bersama dengan Nita juga. Kita besarkan anak ini bareng-bareng ya, sekalipun ayah dari anak ini tidak menginginkannya. Siapa yang buat semua ini Quira? Tell me, siapa ayah dari anak ini?." aku tidak sedikit percaya dengan Quira katakan, seakan itu hanya mimpi pengantar tidur. Tetapi keadaan berpihak pada kenyataan pahit yang sedang sahabatku jalani. Aku yang tahu sahabatku mungkin tidak melakukan sebuah hubungan terlarang yang membuatnya akan rugi, aku yakin ada keterpaksaan di balik semua ini.


...⚘⚘⚘...


Pagi ini dengan cuaca yang sedikit mendung aku bersiap untuk berangkat kekantor setelah hampir tiga bulan tidak ada kabar berita. Aku usai melewati beberapa fase sampai detik ini aku sudah sembuh dari traumaku. Mulai memberanikan diri untuk menjelajah betapa kerasnya dunia. Sesaat sebelum perjalanan menuju kantor aku baru saja menyalakan ponselku, lihatlah notifikasi masuk setelah hampir tiga bulan tidak di nyalakan seperti bum tawuran terjadi di dalam ponselku dengan berbagai macam notifikasi dari semua aplikasiku yang berhubungan dengan chatingan. Aku perlu acungkan jempol pada Brydean dengan notifikasi terbanyak call dan pesan chat. Hampir setiap hari Brydean meneleponku tanpa henti. Sebelum aku ingin hilang kabar, aku menghubungi Alma bahwa aku beralasan akan cuti sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Yakin pasti jika semua orang kantor yang menanyai keberadaanku Alma akan menyampaikan cuti. Sebelumnya aku ingin mengucapkan juga terimakasih untuk Brydean yang meng-handle semua masalah kasus Bimo di pengadilan untuk menjadi saksi dan tuntasnya terdakwa pada hukumannya dengan hakim mengetukkan palu.


Aku kini sudah berada di lift kantor, seseorang di hadapanku berpakaian jas rapi tengah menggendong bayi perempuan yang lucu, bayi itu pun selalu memandang aku dan ia tersenyum. Aku pun tak sungkan langsung meledeknya dan mengajaknya bermain dengan tanpa suara agar orangtua bayi tersebut tidak mengetahuinya. Lucu ihh, jadi ingin culik. Yah tapi bayi gemoy itu keluar dari lift duluan satu lantai sebelumku, sebelum berpisah aku melambaikan tanganku.


Aku bergegas keluar dari lift menuju ruang kerjaku. Sempat ragu menuju ruang kerjaku, karena apakah ruang kerjaku sudah terisi dengan staff baru atau tidak. Tapi tidak apa, jika sudah terisi staff baru pun memudahkanku untuk resign dengan cepat dari kantor ini, lagi pula tujuan hari ini aku ingin memberikan surat resign pada Brydean. Memasuki ruang kerjaku dan sedikit mengintip keruang kerja Brydean yang masih kosong. Ternyata dugaanku benar atau salah ya? Karena tidak ada staff baru yang mengantikanku di meja sekretaris, jikalau adapun seharusnya sekretaris sudah datang karena jarum jam pun sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi dan saat bersapaan dengan Alma pun ia tidak memberikan informasi apapun. Aku mulai mendudukkan diri di kursi yang selama ini mungkin merindukan bokongku. Melihat sebuah vas bunga terisi bunga mawar putih yang harum, sedikit pelik sejak kapan di mejaku ada vas bunga. Ah tapi biarkan aku tidak perduli. Mari tunggu Brydean sejenak setelah itu kita berikan surat resign. Aku yang bahagia itu pun tersenyum-senyum sendiri.


Sejam aku telah duduk di meja kerjaku, tetapi Brydean belum kunjung datang seraya aku menyelesaikan laporan-laporan dan sayang sekali aku tidak tahu schedule Brydean hari ini, seperti biasa selalu ada upgrade di tiap hari yang akan datang. Saat mataku terfokus seseorang lewat langsung memasuki ruangan, tetapi membuatku penasaran karena sebelum pintu ruangan Brydean tertutupi aku melihat sekilas ada tangan imut kecil seperti bayi yang tadi ku temui di lift. Saking penasaran aku langsung membuka pintu ruangan Brydean tanpa mengetuk. "Luke." teriakku pada seseorang yang menggendong bayi dengan setelas jas yang ku temui itu di lift membelakangiku.


¤


¤


¤


¤


¤


¤


NB : yang penasaran boleh mari kepoin cerita-nya Quira yuk, next jangan lupa baca novelnya Quira juga ya.


🖍 Jangan lupa Like dan Vote 🖍


📖 Selamat Membaca 📖