
Hari sudah mulai sore, sore ini Sasya akan mengunjungi sebuah supermarket untuk membeli camilan yang berada dekat rumahnya dan perlu di garis bawahi kali ini bukan supermarket milik kedua orang tua Nita. Karena supermarket orang tua Nita termasuk kedalam supermarket yang terlengkap dan terbesar yang dapat di temukan di pusat-pusat kota saja.
Setibanya di supermarket ia memilih beberapa camilan yang di sukai, kali ini Sasya melupakan mengambil troli belanjaan-nya. Tangan Sasya penuh dengan camilan yang ia dekap. Saat sedang berjalan hendak mengambil troli belanjaan-nya.
Bruk
Sasya menabrak seseorang pria sampai ponsel pria itu pun terjatuh ke lantai dan camilan yang ia pegang pun jatuh berantakan. Kali ini Sasya tidak fokus, karena ia sangat sibuk dengan banyak camilan yang ada di dekapan-nya.
"I'm so sorry, sir !!." Sasya pun dengan sigap langsung mengambil ponsel seorang pria itu dan dia pun tidak peduli dengan camilannya. Yang terpenting sekarang adalah ponsel milik pria tersebut.
Sasya pun bangun hendak memberi ponsel yang sudah ada di genggaman-nya tersebut. Ia pun menoleh kearah wajah pria tersebut, tak disangka ternyata pria itu adalah Nico. Pria di hadapan Sasya yang berdiri tegap sambil memasukkan kedua lengan-nya di saku dengan memakai baju formal.
"Hai, nona." ucap Nico yang bergaya sok cool (memang nyata-nya dia tampan dan cool).
Sasya pun menarik senyuman di bibir-nya. "Kaka, aku tebak ini ulah kaka buat sengaja nabrak aku kan." Sasya sambil menyilangkan tangan di dada-nya.
"Kalo emang iya, kenapa?." Nico pun membantu Sasya mengambili camilan yang terjatuh di lantai.
"Terimakasih." ucap Sasya karena Nico sudah membantunya.
"Terimakasih kembali." ucap Nico karena Sasya juga telah membantu-nya tadi, di iringin dengan tawa renyah Nico. "Beli jajan-nya, segini doank?." Nico pun membantu membawa camilan Sasya dan mereka pun berjalan menuju troli belanja.
"Hmm, masih ada sedikit lagi."
"Apa jajanan ini untuk sebulan?." heran Nico karena camilan yang Sasya ambil sudah hampir se-troli.
"Mungkin bisa jadi atau mungkin bisa juga tidak sebulan."
Setelah ia puas memilih camilan yang ia sukai, mereka pun menuju kasir untuk membayar camilan.
"Kaka tunggu di luar supermarket, soalnya ini pasti lama atau kaka boleh pulang duluan juga nggak apa-apa." ucap Sasya karena keadaan supermarket tengah ramai orang yang berlanja dan saat ini tengah mengantri untuk membayar di kasir.
Nico pun beranjak pergi dari hadapan Sasya, bukannya ia pulang meninggalkan Sasya atau pun menunggu di depan supermarket, tetapi ia malah menunggu di samping mbak kasir tersebut.
Sekarang giliran Sasya untuk membayar camilan-nya. Sasya sedang menunggu mbak kasir menghitung belanjaan-nya dan menyebutkan total hasil belanjan-nya. Di saat Sasya sudah sedang membayar belanjaan-nya Nico pun berjalan pergi meninggalkan Sasya. Sasya pun melihat bahu lebar Nico yang kelamaan menghilang dari pandangannya.
"Sudah ya, terimakasih sudah berbelanja." ucap kasir tersebut setelah selesai memasukkan camilan Sasya ke dalam hand bag besar.
Sasya mengeluarkan kartu debit dari dompet-nya. "Total-nya jadi berapa mbak?."
Nico pun berjalan pergi meninggalkan Sasya. Saat detik terakhir mbak kasir memasukkan camilan Sasya ke dalam hand bag.
"Sudah di bayar mbak, sama mas ganteng yang tadi disamping saya. Ini kartu nya." ucap kasir itu memberikan kartu black card milik Nico.
Sasya pun mengambil belanjaan-nya di kasir dan membawa menggunakan troli untuk ia dorong sampai ke dekat mobil-nya. Sebelum ia berjalan mendorong troli-nya, ia sempat mematung terlebih dahulu. "Gila sih, black card seberapa kaya-nya dia?." gumam saya sambil membolak balik kartu tersebut. "Gw juga punya, tapi kan itu peninggalan bokap." Sasya pun berjalan mendorong trolinya keluar dari supermarket.
"Sasya." panggil Nico yang tiba-tiba di samping Sasya.
"Aku fikir kaka udah pulang duluan dan aku kebingungan bakal balikin kartu unlimited ini kemana?."
Nico pun tertawa renyah saat mendengar perkataan Sasya. "Kita duduk dulu, di sana." tunjuk Nico kearah bangku tunggu yang ada di depan supermarket. Nico pun membantu Sasya mendorong troli-nya.
"Ohh iya, total belanjaan ku berapa? Aku mau ganti uang kaka."
"Gak usah." Nico pun menolak.
"Ya udah, kalo kaka uang-nya nggak mau di ganti, aku bakal balikin belanjaan ini ke kasir."
"Hey, jangan."
"Kalo kaka nolak aku gantiin uang-nya, aku akan kekeh kembaliin jajanan ku." Sasya pun berdiri dari duduk-nya. Oke, ini suatu ide yang bagus walaupun nanti gw bakal malu gara-gara gw kembaliin jajanan ini ke kasir, tapi nggak apa biar gw nggak ngerasa berhutang budi sama dia dan gw nggak mau jatuh-nya nanti gw bergantung dengan dia.
"Nah gitu doank." Sasya pun kembali mendudukkan badannya dan ia pun mengeluarkan uang cash di dompet-nya. "Tapi tunggu, kok murah banget. Biasanya aku kalo beli jajan nggak pernah 100 ribu dan ini jajanan-nya banyak."
"Ada potongan diskon."
Sasya menatap Nico dengan tatapan mata yang sangat ragu.
"Ya udah, kalo nggak percaya." Nico pun mengambil uang merah yang Sasya pegang sejak tadi ia mengeluarkan uang-nya dan memasukkan uang tersebut ke dalam saku celananya. Ia pun berdiri dari duduk-nya.
"Ihhh uang ku." rengek Sasya sambil menarik jas Nico.
"Uang ini sebagai ganti yang tadi dan gw udah terima, jadi uang ini udah my mine, kan di bilang ada diskon nggak percaya sih."
Sasya berusaha mengambil uang itu, tapi Nico menggenggam uang itu dan mengangkat tangannya agar Sasya tidak bisa mengambil uang tersebut. Tinggi Sasya hanya sebahu Nico. "Oke, aku percaya." Sasya pun menyudahi perselisihan mereka.
Nico pun kembali mendudukkan badan-nya. "By the way, makasih atas bantuan kalian 4 tahun yang lalu. Di kasih gratisan lagi"
Sasya pun tertawa saat Nico berkata 'gratisan' . "Ya sama-sama, makannya kaka berusaha balas budi karena di kasih gratisan."
"Sebenarnya nggak ada niatan untuk balas budi, gw dianggap rendahan yang tidak mampu untuk membayar-nya, itu gw nggak terima."
"Oh, sekarang marah?." Sasya sambil tersenyum. "Seorang anak pemilik bengkel yang menyuruh pekerja-nya untuk mengerjakan sesuatu di perintah-nya, apakah harus bayar kepada bapaknya?."
"Jadi.." bingung Nico
"Quira anak pemilik bengkel itu, jadi apa harus Quira bayar?."
"Owh, ask with Quira i'm very thank you atas kebaikannya."
Sasya pun mengangguk. "Jadi yang tadi kaka sengaja nabrak aku, kaka penguntit ya?."
"Big no, tadi nggak sengaja mau beli minuman di supermarket ini dan ada gadis cantik sedang asik memilih camilan-nya, ternyata nggak asik kalo nggk sedikit ganggu dia."
"Awas aja, aku bakal balas itu." goda Sasya sambil tertawa.
Nico pun berdiri dari duduk-nya dan tidak menghiraukan perkataan Sasya. Membuat Sasya yang sedang duduk melihat wajah-nya dengan mendongakkan kepala. "Lain kali kalo punya sosmed di buka, jangan dianggurin."
"Malas buka, banyak netizen DM di instagram. Karena kejadian itu aku harus ngumpet-ngumpet dari netizen dan wartawan."
"Yes i know, semua orang sudah tau kejadian itu. Tapi beruntung-nya bagiku, aku jadi tau keberadaan seorang Sasya dan teman-teman. Nanti pulang jangan lupa untuk lihat DM dan ada banyak DM dariku." kali ini Nico benar-benar meninggal kan Sasya dan berjalan menuju mobil-nya.
"Huh, sebenarnya aku malas banget buat buka instagram." Sasya pun ingin mengambil ponsel yang ada di saku celana pendek-nya. Tapi ponsel itu tidak ada di saku-nya. "Kok, nggak ada sih? Perasaan tadi gw bawa ponsel." mencoba memeriksa saku-nya kembali, lalu Sasya pun panik dan mendorong troli belanjaan-nya dengan cepat menuju mobil dan ia pun membuka bagasi mobil-nya memasukkan belanjaan ke dalam bagasi, lalu Sasya mencari ponsel di dalam mobil. Setelah tidak ditemukan ponsel tersebut, ia pun bergegas kembali ke rumah untuk mengecek keberadaan ponsel-nya.
Sesampainya di ruang tamu rumah, Sasya menumpahkan semua belanjaan yang berada dalam hand bag, ia terus mencari ponselnya. "Ahhh, masa hilang lagi sih !!!." frustasi Sasya mencari ponselnya di seluruh penjuru rumahnya, sampai ia pun menanyakan kepada pelayan atau pekerja yang berada dirumahnya.
¤
¤
¤
¤
¤
¤
🖍Jangan lupa Vote dan Like 🖍
📖 Selamat Membaca 📖