Together Again

Together Again
Move On



Hari sudah gelap, Sasya kini sedang merenung di dalam kamar, menyenderkan badan di headboard bed dan menyilangkan tangan di dada. Mematikan lampu kamar dan menyalakan LED lights strip yang di pasang di tepi atas plafon.


Sasya 'pov


Pandanganku kosong melihat langit-langit plafon yang terdapat bintang dan bulan yang menyala saat kamarku di padamkan lampu. Bahkan aku tidak bisa menyimpulkan alur yang sedang ku jalani ini, membawa ku lebih baik atau malah sebaliknya. Sedang mengingat kejadian tadi siang yang membuat overthinking semalaman.


flashback on


Arumi menyadari bahwa Sasya mulai tidak nyaman dengan pertanyaan-pertanyaan yang membingungkan. Arumi merasa bersalah dan ia membawa Sasya pergi dari pertanyaan yang menjebak, membawa Sasya ke tempat yang indah yaitu pantai. Berjalan menelusuri hamparan pasir putih dan terhenti di sebuah cafe yang berada di tepi pantai.


"Maafin bunda ya, bunda salah udah bawa kamu ketempat yang membuatmu tidak nyaman." seraya menggenggam tangan Sasya yang berada di atas meja cafe.


"Bunda ngga salah, aku yang salah tidak mengerti tentang semua itu." Sasya membalas genggaman tangan dengan erat.


"Sejauh ini bunda selalu tidak percaya dengan orang yang baru di kenal, tapi ntah mengapa? bunda merasa kita sudah jauh lebih kenal dan dekat sebelumnya dan kamu anak baik, i believe you."


Sasya menjawab dengan senyuman manis. "Terimakasih udah percaya sama aku, i promise, i will not break my promise." mengangkat sebelah tangan sejajar dengan telinga, sebagai tanda sumpah.


Arumi mengelus lembut rambut Sasya. "Hmmm, sebelum bunda mulai cerita, mari kita pesan makanan atau minuman terlebih dahulu." membuka satu daftar menu bersamaan dan memilih makanan sambil senda gurau, tertawa bersama, membuat hidup Sasya semakin berwarna.


Arumi bercerita tentang ia sangat menginginkan seorang anak perempuan setelah ia berhasil melahirkan anak laki-lakinya yang tampan. Setelah usia Luke menginjak 3 tahun, Arumi memutuskan untuk program kehamilan yang di setujui dengan ayah Luke. Ikhtiar mereka selama 2 tahun menjalani program kehamilan, tuhan menjawab doa mereka. Memberi kepercayaan kepada mereka untuk menjaga dan merawat janin tersebut. Mengetahui janin tersebut perempuan Arumi sangat senang. Tapi tuhan berkata lain, menginjak usia kehamilan 24 minggu Arumi di haruskan aborsi, karena indikasi medis dengan alasan terdapat miom di rahim yang menyebabkan harusnya di aborsi dan pengangkatan rahim.


Mendengar cerita tersebut sungguh membuat air mataku turun membasahi pipi. Aku jadi merasakan bila sedang berada di posisi tersebut, rasa sakit kehilangan orang yang tersayang dan harus di paksakan mengikhlaskan kepergiannya.


flashback off


...⚘⚘⚘...


Pagi yang sibuk di kota Jakarta, segelintir orang sudah lalu lalang ramai menuju ketempat kerja, bersekolah atau pun ke pasar. "Ahh... muka gw bakal kusam karena ngga bisa tidur." teriak frustasi Sasya. Menenggelamkan kepala ke bantal mencoba untuk tidur kembali.


Bunda tunggu kamu besok datang ke kantor ya... seketika perkataan kemarin itu muncul di telinga dan pikiran. Menghentukkan kepala ke bantal berulang kali. "Arkhhhh......." teriak Sasya merendam suaranya di bantal. Ia lantas lari menuju kamar mandi.


...⚘⚘⚘...


Masuk kedalam gedung pencakar langit yang dulu ia pernah datangi sekali. Menaiki lift menuju ruangan yang ia tuju. Saat ia sedang berjalan melewati ruangan sekretaris Brydean, sesuatu yang menarik patut untuk dilihat, memundurkan langkah kaki-nya memasuki ruangan sekretaris Brydean. "Hai, Naomi." ucap Sasya sambil melambaikan tangan. "Apa kau ingin resign?." melihat Naomi sedang membereskan barang-barang-nya memasukkan ke dalam box.


"Hai, Sasya." Naomi membalas lambaian tangan Sasya. "Aku tidak resign, hanya saja aku di pindahkan di cabang Surabaya."


Melihat Naomi sedang membereskan barang-nya, Sasya pun membantu Naomi seraya mereka berbincang-bincang. "Hmmm, apa nanti kita bisa bertemu lagi?." mereka terhenti sejenak saat sibuk meng-pack barang Naomi.


Naomi pun memeluk Sasya. "Terimakasih untuk pertemuan kemarin, kau orang baik." Sasya membalas pelukkan Naomi. "Aku harus bergegas untuk terbang ke Surabaya." Naomi melepas pelukan, lalu menutup box yang sebelumnya sudah di kemas. Seorang Cleaning Service pun datang untuk membantu membawa barang Naomi menuju lobby.


"Tunggu !!!." merogoh tas mencari sesuatu. "Ini untukmu." memberikan boneka kecil kelinci lucu. "Jangan pernah lupain aku." tersenyum manis di pipi Sasya. "Kalo ada masalah cerita aja, semoga bisa jadi rumah terbaik."


Naomi mengangguk dan tersenyum seraya mengusap boneka kecil tersebut. Saat Naomi hendak pergi berlalu seseorang pun masuk menghampiri ia.


"Naomi, i believe you." ucap Arumi seraya memegang bahu Naomi. "Sudah tidak ada yang ketinggalan?." ucap Arumi memastikan.


"Tidak ada bu, terimakasih sudah mempekerjakan saya dengan sangat baik." Naomi menunduk badannya 90 derajat, lalu berjabat tangan.


"Ya, hati-hati." ramah Arumi. "Sasya mari ikut saya meeting." titah Arumi dan Sasya menuruti. Saat Sasya melalui Naomi, ia melambaikan kedua tangan.


Berjalan menuju ruang meeting yang telah ramai di isi dengan para staff. Sasya hanya bisa membuntut dan duduk bersebelahan Arumi. "Baik sehubung Luke sedang keluar kota, saya di sini akan mengumumkan bahwa gadis cantik yang berada di samping saya, dia adalah sekretaris baru Luke."


prok, prok, prok.


Seluruh staff bertepuk tangan meriah.


Sasya hanya bisa diam mematung, menelan ludah kasar kebingungan dengan semua yang dia lihat. Kali ini Sasya tidak bisa memotong pembicaraan Arumi, mengelak atau kalau ia menolak di hadapan semua orang yang akan membuat malu nama Albern Grup.


"Silahkan perkenalkan diri anda." ucap Arumi mengarah kepada Sasya. Lalu bertepuk tangan dan ikuti dengan staff lainnya.


Sasya berdiri dari duduk, menarik nafas panjang agar tidak terlihat nervous. Harus tetap terlihat elegan. "Hai everyone." melambaikan tangan. "Namaku Sasya, nice to meet you." membungkukkan badannya dan kembali duduk.


"Nice to meet you too." ucap kompak para staff.


Setelah itu Arumi memberi kode anggukan untuk pergi meninggalkan ruang meeting. Mereka pun berjalan berlalu meninggalkan ruang meeting. Banyak staff berbincang-bincang mengenai Sasya. "Dia cantik dan juga sopan ya." ucap salah seorang staff memuji Sasya walaupun dengan suara kecil yang sedang berbisik kepada rekan kerja saat Sasya berjalan keluar ruang meeting.


Sasya 'pov


Sibuk memikirkan sesuatu hal sambil ia berjalan membuntuti Arumi. Pantesan kemarin di ajarin tentang bisnis, ternyata karena ini, ah tapi aku harus bagaimana? bahkan ini bukan kompetensiku, kompetensiku hanya sebagai perawat. Sebagai modeling saja sudah terpaksa karena keadaan dan aku pun harus terpaksa juga untuk jadi sekretaris, tidak kali ini aku harus bisa mengelak.


"Saya suka dengan kesopananmu, bahkan saat kau sedang menjadi seorang publik figure pun kau tidak pernah sombong." ucapnya sambil meminum teh hangat.


Aku hanya tersenyum, tapi aku harus bisa mengelek pekerjaan ini. "Ma-af bun-da, tapi aku tidak bisa menjadi sekretaris Luke, karena...." ucapku sedikit terbata-bata dan sedikit harus berpikir keras untuk mengutarakan ucapan yang mungkin sangat sensitif. "Karena aku masih.... men-jadi mo..del, ya itu. Hahaha." Sasya tertawa walaupun sebenarnya tidak ada yang lucu agar mereka tidak canggung.


"Aaa... jadi itu alasanmu, tapi untuk saat ini kamu masih cuti. Jadi itung-itung ngisi waktu luang." ucap ramah, lalu melontarkan senyumnya.


Aku pun tertawa mendengar-nya yang sebenar-nya tuh, ngga ada yang lucu "Ahh.. iy-a yaa...." frustasi sudah hidupku.


Gw ngga ngerti tentang perbisnisan woy.... inginku berteriak ya tuhan.


"Jadi selamat bergabung di perusahaan Albern Grup, bunda percaya denganmu." kami pun berjabatan tangan dan saling melontarkan senyuman. (Senyum fake ngga ikhlas pokoknya mah).


Noteku hari ini adalah..... mulai sekarang apapun yang terjadi, maka terjadilah. Aku ikhlas karena aku sudah muak dengan ekepetasiku.


tring....


Notifikasi pesan masuk di ponsel Sasya.



...⚘⚘⚘...


Dua hari sebelumnya...


"Hallo, Naomi apa kita bisa berbincang sebentar?." ucap Arumi di panggilan telpon tersebut. "Kita bertemu di cafe favorite saya." Arumi memutuskan sambungan telepon tersebut bergegas ke cafe yang ia tuju.


Sampai di sana, ternyata Naomi sudah menunggu di dalam cafe dekat kasir. "Permisi, bu." sadar melihat bos besar sudah di ambang pintu cafe, Naomi langsung pergi menghampiri. Membuntuti bos besar memilih tempat duduk, sebelum mereka memulai pebincangan Arumi menawarkan untuk memesan minuman terlebih dahulu.


"Sebelumnya, apa kau mau jika saya pindahkan ke Surabaya?, anggap saja sebagai perjalanan bisnis." tanya ragu Arumi.


"Asal saya masih bisa bekerja saya siap, apapun itu." jawab tenang Naomi. Aku ikhlas meninggalkan pak Brydean, justru ini adalah satu cara untuk move on. Karena sampai kapan pun pak Brydean tidak bisa untukku miliki dan aku sadar akan itu.


"Baik posisimu akan sama seperti sebelumnya, silahkan tanda tangani kontrak, kalo kau menyetujui pindah bekerja di cabang kami yang ada di Surabaya."


"Baik bu." Naomi pun menandatangani kontrak tersebut.


"Apa kau tidak keberatan sama sekali?." Ragu Arumi untuk memastikan.


"Tidak bu, saya ingin mencari pengalaman baru. Terimakasih ibu sudah memperlakukan saya dengan baik." Naomi melontarkan senyuman.


"Baik, terimaksih atas kerja sama-nya. Semangat dengan bos baru dan selamat untuk bergabung di cabang Surabaya Albern Grup." Arumi mengulurkan tangan untuk berjabat tangan. Di terima oleh Naomi jabatan tangan tersebut. Setelah mereka berjabat tangan Arumi pun beranjak pergi meninggalkan Naomi yang masih terduduk.


...⚘⚘⚘...


Keluar dari kamar mandi menuju walk in closet, memilih baju dan mencocokkan di depan cermin full body. Memakai satu set setelan formal ala-ala sekretaris jaman now. Siap untuk mulai pekerjaan baru Ibu Kota Jakarta. Berjalan keluar dari kamar, menuruni anak tangga.


"Nona, sarapan dulu." titah pelayan di rumahnya saat melihat sedang menuruni anak tangga.


Menghampiri meja makan, lalu meminum sedikit susu yang sudah di siapkan di meja. "Mbok, aku berangkat dulu... takut telat." melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan cantik-nya, lalu berpamitan dan beranjak pergi menuju garasi mobil. Memakai mobil sport-nya, siap menggerungkan dengan knalpot racing membelah jalanan Jakarta.


Sesampainya Sasya di basement kantor, ia membuka bagasi mobil mengambil box berisi barang yang sudah di prepare semalam untuk di letakkan di atas meja kantor. Berjalan melalui lobby, ia di bantu oleh Cleaning Service membawa box barang-nya sampai ke ruangan.


¤


¤


¤


¤


¤


¤


🖍 Jangan lupa Vote dan Like 🖍


📖 Selamat Membaca 📖