
Waktu terus berjalan, kini Nico telah mengantarkanku kembali ke villa dengan selamat setelah melewati sewaktu yang sangat menyenangkan dengan canda dan tawa, ia memarkirkan mobilnya di depan villa. "Thank's and see you." ucapku seraya fist dump dan turun dari mobil. Sesaat itu pun Brydean menghampiri mobil Nico bergantian dengan ku masuk kedalam mobil. Aku yang terheran dan bingung dengan tingkah mereka. Terutama Brydean seakan sama sekali tidak mengenaliku. Dih, kok Brydean mulai aneh ya, atau dia ngambek sama gw. Seraya mengacak-acak rambutnya, menirukan yang biasanya Brydean lakukan padaku. Aku mulai melangkahkan kaki masuk kedalam villa, di sela-sela aku sedang melangkahkan kaki, aku mendengar suara knalpot racing Nico yang mulai di gerungkan dan perlahan hilang dari pendengaranku. "Huft, sepi ya." aku mendudukkan diri diatas sofa seraya memeluk lutut. "Ihhh, apa yang harus gw lakukan biar ngga sepi, gw bingung?." perlahan mulai menumbangkan tubuh hingga menidurkan di atas sofa dengan posisi meringkuk.
Brydean 'pov
Disaat mulai terdengar suara knalpot khas milik Nico, aku langsung keluar dan masuk kedalam mobilnya. "Hurry up." titahku pada Nico.
"Calm down." Nico yang cepat membanting stirnya memutar arah posisi mobil, lalu memacu mobil-nya dengan kecepatan penuh hingga tiba di sebuah coffe shop. "What's wrong?." ucap Nico setelah mereka sudah mendapatkan meja dan mendudukkan diri dengan tenang setelah pelayan caffe shop datang menghampirinya.
"Lo pernah dengar cerita gw yang punya teman kecil pas umur gw duabelas tahun."
Nico mulai membakar rokoknya. "Si cantik Iza, yang selalu lo cari keberadaannya? Gw juga sebenarnya tau tentang kenapa lo terima michale jadi pacar, sebab untuk pengalihan isu scandal waketos." Pelayan pun datang menghampiri dengan baki yang berisi pesanan mereka. "Sekarang lo tau Iza dimana?." ponsel Nico berdering notif pesan. Brydean memberi kode untuk secara bukan pesan chat-nya. "Oh ****, jangan bilang Sasya adalah Iza temen kecil lo?." Nico yang sudah melihat CV Sasya yang tertera nama sekolah dasar yang sama dengan Brydean. "Dunia itu sempit." tertawa kecil.
"Lo tau gw semalaman nyari informasi detail tentangnya setelah dia kasih CV itu yang berakhir gw drop dan terakhir gw cari informasi ke rumah-nya."
"This Crazy, Bravo." bertepuk tangan kecil seraya mengisap rokok. "Apa yang lo dapetin dari rumahnya?."
"Zonk, gw belum dapat informasi yang mem-valid'kan bahwa dia teman kecil gw."
"Jadi lo masih ragu? Sedikit susah kalau lo ngga ada foto kecilnya. Sebenarnya apa yang lo cari dirumahnya?."
"Dulu gw pernah kasih barang ke dia." Mengeluarkan dompetnya. "Dia ngasih ini ke gw." menunjukkan sebuah kalung emas kepada Nico.
"Oh, ****." mengambil kalung yang berada ditangan Brydean. "Kalau lo kasih barang ke dia, lo yakin kalau barang itu masih di simpan?."
"I don't know." menaikan kedua bahu.
"Ya udah buat sekarang cari yang pasti-pasti aja bro, jangan mengharapkan yang sudah pergi kembali." menepuk bahu Brydean. "Listen, Kalau Sasya adalah Iza coba lo pancing kasih kalung ini." memberi kembali kalung tersebut ke genggaman Brydean.
"Ngga, gw gengsi." tolak mentahku.
"Baiklah, gw cuman mau bilang jangan pernah lo gores sedikit pun luka di hati Sasya, apalagi dengan tingkah bejad lo. Calm down, lo harus bisa kendaliin diri. Gw juga bejad, tapi c'mon setan selalu ada dalam diri kita, mungkin bisa aja hal yang tidak di inginkan terjadi." khawatir Nico.
"Thank's buat sarannya, dari awal gw tau kalau dia anak baik." seketika aku ingat detik-detik Sasya yang selalu melindungi dirinya dengan selalu kabur dariku.
"Ayo cabut, bro !!!." titahnya setelah melihat ponsel. "Gw harus ngambil berkas penting buat buat besok." membangunkan diri dari duduk yang terlihat terburu-buru.
"Lo duluan, lagi juga dari cafe ke villa ngga jauh." aku yang baru saja membakar rokok.
"Nice, gw tunggu lo malam ini di club." Nico berlalu meninggalkan Brydean. Responku terhadap ucapan Nico menghembuskan asap rokok seraya smrik.
...⚘⚘⚘...
Aku yang mulai jenuh di dalam villa, sejenak ingin merehatkan pikiran yang sudah mulai overheat. Aku bergegas mengambil jaket dan kunci motor sport milik Brydean. Brydean said "Kalau mau pakai motor atau mobil, pakai aja selagi gw jgga pakai. Anggap itu sebagai fasilitas dari gw." Aku yang masih terngiang-ngiang di kepala oleh ucapan Brydean. Saat aku sedang menggeber motor belum begitu jauh dari villa, terlihat seseorang yang aku kenal tengah berjalan. "Kiw, cowok." menurunkan pedal gas motor menghampiri seseorang itu adalah Brydean. "Cih, masa ganteng-ganteng jalan kaki." tengilku.
"Bocah biadab." ucap datar Brydean dengan tatapannya yang mematikan. Tak apa aku sudah kebal dengan tatapan mematikannya yang malah aku tatap kembali. "Mau kemana bocil? Ini motor gw ngga usah tengil." mencabut kunci motor dan menaruh di saku celana.
Aku berdecak. "Ihh, kok di ambil kuncinya?."
"Turun !!! Gw mau pakai motornya." titahnya. Aku yang mendadak seperti ingin menoyor kepalanya karena kesal dan turun dari motor. "Lo mau kemana? Ayo gw antar !!!." ucap Brydean seraya menyelipkan rambut Sasya kebelakang telinga.
Aku cepat-cepat menepis tangannya, ia selalu bertingkah manis. Kalau dalam jangka panjang selalu bertingkah manis lama kelamaan siapa pun akan baper oleh tingkahnya. "Ckk, apaan sih lo !!!." ketusku.
"Baiklah gw tinggal, awas di culik om burhan." Brydean menyalakan motornya. Aku yang tengah di landa kebingungan, karena jarak villa dari tempat ku berdiri lumayan jauh jika untuk berjalan kaki dan tidak mungkin aku jalan sendiri menuju villa, itu bahkan akan mempermudah kalau tiba-tiba ada bahaya yang menimpaku seperti begal atau penculikkan. "Bye." ucap Brydean yang bersiap memutar arah motornya.
Aku sontak menarik t-shirt yang di pakainya. "Ihh, tunggu !!!." Aku pun langsung naik ke motor. "Ayo ke cafe !!!."
...⚘⚘⚘...
Brydean mengantarkan Sasya menuju cafe yang sangat jauh dari villa, walaupun nekat tidak memakai helm. Seperti yang di ketahui Brydean membawa motornya seperti ngeprank malaikat maut, selalu ada maksud di balik ugal-ugalan di jalanan agar Sasya tidak memberi jarak antara mereka yang berboncengan. Sesampainya mereka duduk di meja bar cafe memilih menu yang tersedia. "Ca, lihat gw !!!." titah Brydean yang sambil menunggu pesanan tiba-tiba mempotret itu. Sasya yang terlihat terkejut tiba-tiba di foto. "Bagus hasilnya." Brydean langsung menunjukkan hasil fotonya, agar meminimalisir adanya perdebatan yang tak kunjung usai.
Selesainya mereka berkunjung ke cafe, Brydean mengajak Sasya untuk snorkling menikmati pemandangan sore di bawah laut yang cantik dan indah. Puas dengan snorkling mereka ber-sepeda mengelilingi pantai menikmati senja di bali dengan gowesannya. Brydean memandu perjalan yang terhenti di sebuah restaurant untuk sejenak mengisi energi yang mulai habis. Senja mulai memudar tanda gelap malam segera tiba, mereka bergegas pulang mengembalikan sepeda yang di sewa dan setelah itu mengambil motor pulang menuju villa. Menikmati angin malam ditemani gelapnya malam yang di sinari bulan dan bintang di langit yang sangat indah dengan mengayuh sepeda tanpa mengenal lelah menciptakan kenangan baru yang sangat menyenangkan. Brydean pun kali ini banyak berbicara, membicarakan tentang bagaimana yang ia lihat di hadapannya dan memberikan apresiasi tentang apa yang ia lihat. Membuat perjalanan yang awalnya Sasya pikir akan monoton tidak seru, tapi berbanding balik dengan yang di pikirkan.
...⚘⚘⚘...
Jarum jam menunjukkan pukul sebelas malam, Brydean memeriksa keadaan terutama memeriksa Sasya apakah masih terbangun atau tidak, setelah sekiranya aman sepertinya Sasya pun sudah terlelap di kamarnya. Brydean beranjak keluar dari villa menggeber mobilnya memuju club yang di janjikan oleh Nico. Sesampainya di club seperti biasa wanita penggoda sudah siap untuk melakukan aksinya dengan tangan nakalnya saat Brydean melewati mereka. "Hi, Bro." ucap Brydean setelah bertemu dengan Nico yang terduduk di bar dan bersalaman. Brydean yang langsung memesan alkoholnya tanpa basa-basi pada bartender.
"Lisa."
Nico membuka ponselnya dan menunjukkan sosmed Lisa. "Dia udah punya pacar, lo masih aja fwb-an. Lo tinggalin lima bulan pasti dia nyari pelampiasan." menunjukkan sebuah foto sedang berkencan dengan caption yang sangat manis. "Gw yakin pasti malam ini lo udah ada janji sama dia."
"F*ck." memukul meja bar dan beranjak pergi meninggalkan Nico. Brydean dengan cepat melangkahkan kakinya menuju mobil seraya menghubungi Lisa. Tidak menunggu lama Lisa pun datang lalu memasuki mobil Brydean. "Sebagai imbalan." Brydean menyerahkan cek dengan nominal yang cukup membeli satu unit mobil.
"No." merobek cek itu. "Gw ngga mau ini selesai, ya benar gw memang egois tapi please !!! Jangan lakuin ini." memohon dengan raut wajah memelasnya seraya memegang lengan Brydean. Sudah setahun mereka menjalahkan hubungan FWB.
"Keluar dari mobil gw, nanti gw transfer imbalannya ke-rekening lo." ucap datar Brydean tanpa melihat ke arah Lisa.
Lisa yang tampak frustasi. "Gw hamil, anak lo." memberikan sebuah testpack.
Smrik. "Bukti yang gw ngga butuhkan." membuang testpack tersebut keluar. "Lo harus terima konsekuensinya, ingat hanya sebatas fwb. Hamil di tanggung sendiri."
Lisa yang benar-benar kali ini stuck tidak punya rencana lain dengan raut wajah kesal. "Lo harus nikahin gw." mengoyangkan tangan Brydean.
"Untuk apa gw nikahin lo? Bahkan anak yang lo kandung belum tentu anak gw."
"Lo yang ngambil kegadisan gw." Lisa yang terisak menangis. "Lo harus tanggung jawab."
"Kegadisan? Lo yang rusak sendiri dengan meng-iya-kan persetujuan FWB." Brydean tertawa dan bertepuk tangan. "Sandiwara apalagi?." bisik Brydean dengan tangannya menyelinap masuk kedalam lubang kenikmatan.
Lisa yang mengerang kenikmatan. "Jangan pergi, gw suka tubuh lo dengan big **** dan cara permainan panas lo." melakukan hal yang sama pada Brydean, mengelusnya dengan lembut di adik kecil yang besar itu.
"Tell me, kalau itu bukan anak gw." bisik Brydean.
"Y-yes, dia anak pacar gw. Karena sebelum lo balik ke bali gw udah hamil dua bulan." ucapnya yang terbata-bata seraya merasakan kenikmatan.
"Nice, ikuti perintah yang pernah lo setujui dan di tanda tangan." Brydean menyudahi aktivitas tersebut, menyeka tangannya dengan tisu dan merapihkan pakaiannya yang berantakan. Tidak peduli walaupun adiknya masih tegang. Ia mengambil berkas di laci mobil, memperlihatkan peraturan yang tersusun rapi di atas kertas tersebut. "Lo mau apa dari gw?."
Lisa menghebuskan napas panjang. "Baiklah deal kita selesai, sebelumnya gw mau uang satu milyar berserta rumah dan mobil sport."
"Silahkan keluar dari mobil ini, besok ada staff gw datang memberikan semua yang lo minta."
Sasya 'pov
Streaming drama tidak ada salahnya sebelum tidur seraya mengisi kegabutan yang hakiki ini. Sesaat aku sedang serius menonton menggunakan headphone, terdengar samar-samar suara knalpot mobil sport yang Brydean biasa pakai. Aku pun langsung keluar dari kamar dan melihat jam dinding yang berada di ruang tamu. Wah pasti ke club nih. Mata ku langsung terfokus pada dompet yang di atas meja makan. "Mari kita lihat foto KTP nya Brydean." gumanku seraya senyum liciknya yang terlalu kepo. "Definisi foto KTP pun tetap tampan, tidak kayak opet, contohnya foto KTP gw dulu." Setelah di rasa cukup puas melihatnya ia langsung mengembalikan KTP itu ketempat semula dan beranjak menuju kamar Brydean untuk menaruh dompetnya di atas nakas dan seraya membereskan kamar Brydean seperti kapal pecah. Setelah selesai aku pun melangkahkan kaki keluar dari kamar Brydean, suatu gorden jendela dekat pintu utama terbuka, aku pergi mencari remot gorden otomatis itu untuk menutupnya.
Brak.
Suara pintu terbuka dengan kencang, seperti di tendang. Aku pun sontak kaget dengar suara pintu tersebut, mengira itu adalah orang jahat tetapi selang beberapa menit pintu terbuka Brydean berlari masuk. "Luke, are you oke?." teriakku.
"Don't worry, i'm fine." teriak Brydean yang sudah masuk kedalam kamarnya yang cepat mengunci kamar dan berlari menuju kamar mandi memuaskan adik kecilnya yang tertunda kepuasannya itu.
NB: let's see the picture in instagram @_pink.colour03
¤
¤
¤
¤
¤
¤
🖍 Jangan lupa Like dan Vote 🖍
📖 Selamat membaca 📖