
Sepulang dari kantor Brydean terbang ke Lombok menemu Nico menggunakan private jet miliknya. Sesampainya di Lombak International Airport. Seorang pria dengan badan kekar menggunakan setelan formal menunggu kedatangan Brydean di lobby mematung dan berdiri tegap ia adalah salah satu staff Brydean. Selain punya banyak relasi dimana-mana, Brydean pun punya banyak staff keamanan di setiap penjuru yang sekaligus bisa jadi tameng jika sewaktu-waktu ada bahaya yang mengancam dirinya. Dengan kejayaan Brydean saat ini yang semakin meroket, ia selalu di idam-idamkan oleh banyak wanita, selain dengan gaya cool dan tampannya yang selalu mencuri hati banyak wanita. Seorang staff pria tersebut mengarahkan Brydean menuju parkiran mobil, memberikan kunci mobil sport kepada Brydean setelah mereka berada tepat di depan mobil sport tersebut. Brydean pun langsung memasuki mobil dan menggebernya, seorang staff pria tersebut membungkukkan badan sesaat Brydean pergi berlalu meninggalkannya. Brydean mengendarai mobilnya melesat sangat cepat itu pun sudah berada di depan rumah mewah Nico. "Hi. Bro." sapa Brydean setelah menemukan Nico sedang berada di dalam perpustakaan langsung terduduk di meja baca yang berada di dalam perpustakaan.
"Kenapa lo tiba-tiba nyamperin gw?." tanya heran Nico karena itu adalah hal aneh yang di lakukan seorang Brydean yang terbiasa selalu menyuruh Nico untuk menemuinya. Melihat Brydean seperti memendam banyak masalah dengan wajahnya yang di tekuk.
Menghembuskan napas panjang. "Lisa berulah." mengirim bukti foto yang ia sempat potret sebelum isi kotak kecil itu ia hancurkan.
"Damn, stupid." menggulir foto yang Brydean kirim. "Congrast bro, akhirnya lo punya anak." menepuk bahu Brydean dengan menyeringai.
"Lol, itu bukan anak gw." Brydean menaikan nada biacaranya satu oktaf dengan tatapan mata yang tajam.
"Lalu?."
"Lo yang ngasih info ke gw bahwa Lisa punya pacar, lalu dia making love sama pacar bulenya dan terjadilah kehamilan di saat gw ketemu dia udah hamil dua bulan." jelas Brydean. "It's clear?." menyilangkan tangan di dada.
Nico menganggukkan kepalanya. "Waw, impressive. Langsung sat set nyari pengganti yang sama besar rudalnya." bertepuk tangan seraya tertawa devil. "Tapi yang bikin gw penasaran kenapa dia masih ngejar lo? Atau karena rudal pacarnya kurang besar?." menyeringai.
"Maybe, i don't know about it. Dia cewek gila and mungkin dia juga gila harta."
Nico berdecak. "Hmm, masuk di akal juga. By the way lo ingat kejadian kecelakaan kita sekitar empat tahun yang lalu? Yang mengakibatkan dua orang suami istri itu tewas mengenaskan."
"Yes, selalu ada di memori gw dan sekarang gw mau buang memori itu jauh-jauh karena tragedi konyol itu kita hampir mati."
"Lo pasti ingat siapa nama suami istri tersebut?." menunjukkan sebuah dokumen. "Ini dokumen Sasya yang lo kasih pas kita di Bali. Jangan bilang lo ngga stalk isi dokumen secara menyeluruh." menunjukkan soft file kartu keluarga di ponselnya.
flashback on
Sepulang Brydean dan Azka dari dinas keluar kota, Nico pun ikut bersama menumpang di mobil dinas yang di kendarai oleh Brydean karena selepas sampai di Jakarta mereka akan menghabiskan weekend bersama. Brydean melajukan mobil toyota fortuner dengan melesat di jalan tol. Saat Brydean ingin menyalip mobil di lajur pertama yang bergerak sangat lambat itu, dia berpindah ke-lajur dua untuk menyalip. Sudah di rasa aman maka Brydean menyalakan sen kanan sesegera mungkin akan menyalip ke lajur satu, tetapi ntah apa yang sedang terjadi tiba-tiba mobil sekelas sedan camry itu ingin menyenggol mobil besar yang sedang Brydean kendarai. Brydean sontak terkejut membanting stir ke kiri dengan menginjak rem sampai menabrak beton pembatas jalan tol. Seseeorang pengendara yang menyaksikan kejadian tersebut langsung menghubungi pihak jasa marga. Karena terdapat dua mobil yang mengalami kecelakaan tersebut. Sesegera mungkin tim medis dan ambulans datang membawa korban kecelakaan tersebut. Nico, Azka dan Brydean mengalami luka kecil yang bersyukur masih dengan kondisi sadarkan diri walaupun mobilnya ringsek sedangkan mobil di belakanganya yang menghindari hilangnya kendali mobil Brydean justu menabrak sebuah truk tronton dan akhirnya mobilnya ringsek parah. Saat perjalanan menuju rumah sakit terdekat Azka menelpon komandan memberi informasi bahwa kami mengalami kecelakaan saat perjalanan pulang. Sampainya di Rumah Sakit kami langsung di bawa ke UGD dan tim medis pun dengan cepat menangani kami. Tak lama komandan datang melihat kami yang masih terbaring di bed UGD Rumah Sakit. Menyapa komandan dengan hormat, Nico hanya sebagai penonton saat kami di jenguk oleh komandan. Komandan memberi tahu kalau kami boleh langsung pulang setelah cairan infus yang terpasang habis atas saran dokter. Kebetulan Azka dan Brydean masih memakai seragam lorengnya. Pihak jasa marga mengirimkan sebuah video rekaman CCTV kecelakaan yang kita alami kepada komandan dan langsung mengusut pelaku di balik ugal-ugalan sedan di jalan tol. Mendengar komandan bercerita terdapat dua korban jiwa atas kecelakaan tersebut dengan status suami istri dengan nama bapak Adam Hariz dan Ibu Rania Safira. Mereka terkejut dan sama-sama mengucapkan turut berduka cita atas meninggalnya korban jiwa.
Keesokkan harinya kami mendapatkan kabar bahwa pelaku bernama Michale Anna. Sontak Brydean terkejut karena itu seperti nama mantan kekasihnya yang sampah itu. Setelah memastikan melalui foto ternyata benar itu adalah mantan kekasih Brydean, dengan motif pelaku ingin mencelakai Brydean karena frustasi di putuskan oleh pacarnya. "Jika bersamamu aku tidak bisa, maka akan ku buat siapa pun tidak bisa memilikmu." ucap Michale di akhir introgasi polisi mengenai alasan yang terkait. Nahas tapi takdir membuatnya harus mendekam di penjara karena ulah bodohnya.
...⚘⚘⚘...
Langit di pagi hari ini sedikit mendung, Sasya bergegas menuju rumah Brydean agar tidak kehujanan saat di perjalanan. Walaupun kehujanan ngga akan membahasi diri-nya sih, karena Sasya memakai mobil menuju rumah Brydean. Tetapi keadaan hujan diperjalanan itu tidak mengasikkan, banyak hambatan yang akan terjadi seperti harus mengurangi kecepatan akibat resiko jalan licin atau pun terjadi banjir misalnya jika curah hujan sangat tinggi. Sesampainya di rumah Brydean, Sasya mencari keberadaannya hingga bertanya kepada pelayan di rumah Brydean pun menjawab mereka tidak melihat Brydean pulang sejak kemarin sore dan Sasya berusaha menghubungi Brydean hingga tiga kali panggilan tersebut tak terjawab, Sasya terus berusaha untuk menelepon. "Halo, pak." ucap Sasya setelah panggilan tersebut tersambung.
"Iya hi Sasya, Brydean masih tidur." ucap seseorang dengan suara yang masih serak bangun tidur mengangkat telepon tersebut.
"Ini siapa?." heran Sasya yang mendengar panggilan tersebut bukan suara khas Brydean.
"Nico."
"Kak Nico, Brydean sekarang dimana?."
"Di rumah gw, di Lombok bukan di Jakarta. Nanti kalau gw bilangnya ngegantung, lo kerumah gw yang di Jakarta buat nyamperin Brydean." jelas Nico di seberang panggilan tersebut.
"Terus dia ngga pulang ke Jakarta hari ini? Ada banyak schedule meeting hari ini kak. Tolong sampaikan ke Brydean suruh pulang hari ini ya."
"Pasti gw sampaikan, tapi gw ngga janji Brydean langsung flight pagi ini. Lo kalau bertahan jadi sekretaris Brydean gw acungin jempol, karena ngga ada yang betah sama atasan yang kerjanya seenak jidat. Kadang rajin kadang malas."
"Ihh, usahakan suruh langsung pulang ya. Kalau ngga pulang langsung usir aja, nanti Sasya coba handle masalah kantor. Sebelumnya terimakasih sudah membantu dan mau direpotkan."
"Baiklah, tawaran di terima."
Nico 'pov
Aku mulai menampar pipi Brydean untuk membangunkannya. "Bangun, jing. Udah siang Sasya minta lo pulang." Brydean hanya mengusikkan badannya. "Cepat sana pulang !!!." membuka gorden kamar agar cahaya masuk mengusik tidur Brydean. Tidurku terganggu saat suara ponsel Brydean terus berdering. Ku yang hanya berniat untuk mengambil segelas air dan melanjutkan tidur malah ku harus mengangkat panggilan masuk di ponsel Brydean. Jikalau bukan Sasya yang menelepon aku tidak akan sudi menerima panggilan tersebut dan mengabaikannya kembali ke kamarku.
Brydean merasakan silau dari sinar matahari yang masuk. "Ck, ngapa sih nyet ganggu lo !!!." Brydean menenggelamkan badannya di selimut.
"Gw tuan rumah berhak ngusir lo secara kasar." menarik selimut Brydean sampai ke kakinya. Brydean hanya memakai boxer dengan suhu ac yang cukup dingin, membuat ia mendudukkan dirinya untuk menarik selimut tersebut. "Sasya nyuruh lo pulang sekarang."
"Iya nanti pasti gw pulang." Brydean mencari keberadaan ponselnya, meraih ponsel yang tergeletak di atas nakas dengan nyawa yang sepenuhnya belum terkumpul. Semalaman mereka menghabiskan waktu bermain billiard dan game seraya meneguk alkohol. "Sasya call?." kejut Brydean saat ia membuka ponselnya terdapat panggilan tak terjawab.
"Iya jing, dari tadi gw bilang." menoyor kepala Brydean dengan perasaan yang kesal.
"Lo kalau bukan teman udah gw gorok." membangunkan tubuhnya dan berlari menuju kolam berenang, menyeburkan diri. "Nico, gaskeun diving habis itu balap jet ski sama selancar." teriak Brydean melihat ku yang memantau dirinya mematung dari kejauhan mengacung ibu jari. Brydean pun langsung bergegas naik ke tepi kolam. Sangat menyayangkan waktu bila ke Lombok tidak mencoba diving, karena Lombok termasuk surga bawah laut yang sangat indah memanjakan mata walaupun Raja Ampat masih menduduki posisi pertama, tetapi Lombok juga cukup jauh menarik. Menghabiskan waktu sehariannya dengan diving di lanjut dengan jet ski dan terakhir berselancar di temani dengan senja di langit Lombok.
...⚘⚘⚘...
Aku memacu mobil-nya menuju apartement Brydean, sebuah laporan penting harus Brydean revisi untuk besok yang di antarkan oleh ku di temani gelapnya malam dan sinar bulan dan bintang di langit Jakarta. Sebelum mengunjungi apartement untuk membawakan laporan tersebut aku menghubungi Brydean yang menanyakan kapan ia akan pulang ke Jakarta, Brydean menjawab secepatnya ia akan datang. Huft, aku menunggu ia dari pagi untuk laporan penting yang harus di revisi tetapi ia malah pulang selepas isya. Sekitar pukul delapan malam di jalan Ibu Kota Jakarta masih terbilang ramai orang yang hilir mudik. Sesampainya aku memparkirkan mobil di basement apartement dan bergegas menuju depan pintu apartement Brydean. "Sepertinya Brydean sudah sampai." masuk ke dalam lift melihat jam yang melingkar di tangan menunjukkan pukul 20.15 WIB. Perjalanan dari Lombak ke Jakarta dapat di tempuh dengan waktu dua jam menggunakan pesawat. Di dalam lift aku mulai merasakan firasat yang tidak menyenangkan, angka lift yang baru menunjukkan sedang berada di lantai empat, seketika pintu lift terbuka dan segerombolan pria yang berjumlah enam orang hendak masuk di lift yang keberadaannya ada aku. Syukurnya aku yang berdiri tidak jauh dari pintu lift pun bergegas keluar dari sana karena takut hal yang membahayakan terjadi. Lebih baik menunggu lift lain di sebelahnya. Lumayan lama menunggu karena ke empat lift yang berdekatkan tersebut itu sedang mengarah naik lantai, masih duapuluh empat lantai untuk sampai ke depan pintu apartement Brydean.
Tiba-tiba....
Seseorang membekap mulutku dari belakang dan memaksa mengikutinya dengan ia menyeret tubuhku. Aku tiba-tiba mendadak lemas tak berdaya setelah seseorang yang membekapku dengan tanganya menyuntikkan cairan di pahaku. Aku melihat tangan kekarnya yang membekapku, yakin akan seorang pria yang membawaku seperti ini dan sedikit samar aku melihat bayangan tinggi dan kekar memantul di pintu lift, tidak jelas bagaimana wajahnya karena pantulan bayangan di pintu lift tidak jelas karena samar sebelum mataku terlelap. "Hi, girl !!!." ucap samar suara berat dari telingaku yang mulai sadarkan diri. Terkejut aku sedang berada di sebuah kamar seraya kaki dan tangan yang di ikat di tepi ranjang dengan posisi terduduk. Melihat seseorang yang hanya memakai boxer berdiri di depan ranjang dengan menyilangkan tangan di dada seraya menatapku tajam tanpa henti. Aku tahu di adalah Bimo yang menculikku. Memberontak dan menangis tersedu-sedu kali ini kenyataan bukan hanya mimpi. "Lepasin gw." teriakku.
Ia mendekatkan diri. "Don't cry." mengusap air mataku. Tangan kekarnya mencengkram rahangku. "Jika aku tidak bisa memilikimu, izinkan aku untuk memberikan anak lucu yang akan bertumbuh di rahimmu." ucapnya berbisik di telingaku, ia terus mendekatkan wajahnya dan hendak menciumku. Apa daya rahangku dicengkram dengan sekuat tenaga, aku tidak bisa menghindari itu.
Dorrr, clakk, pyarrrtttrrr
Terdengar suara pecahan kaca jendela yang di tembak dengan pistol. Kami terkejut terlebih lagi dengan Bimo yang langsung menoleh kebelakang dan sejumlah polisi militer terdiri tiga personil menangkap Bimo lalu memborgolnya dan dengan cepat menyeratnya keluar. Brydean datang membantu melepaskan ikatan di tangan dan kakiku. Ikatan pun terlepas aku langsung memeluknya dengan erat. Brydean yang selalu dengan physical touch-nya selalu mengusap rambutku dengan lembut. "Are you oke?." tanyanya. Aku hanya menjawab mengangguk. Tidak tahu bagaimana nasibku jika Brydean tidak datang menyelamatkan, ia selalu bersikap seperti pahlawan yang siap melindungiku di mana saja dan kapan saja, yang mengerti apa yang akan terjadi denganku. Tangisku pecah di pelukkannya, aku yang sebelumnya sangat ketakutan dengan pikiran yang kosong di culik oleh iblis yang sangat terobsesi denganku.
¤
¤
¤
¤
¤
¤
🖍 Jangan lupa Like dan Vote 🖍
📖 Selamat Membaca 📖