Together Again

Together Again
Sunmori



Selepas pulang kantor, Brydean bertemu teman-temannya disebuah cafe tempat biasa mereka berkumpul untuk ngopi dan berbagi keluh kesah. Ia sebelumnya sudah izin pada Sasya melalui telepon untuk bertemu dengan teman-temannya. Sesampainya disana Brydean salam sapa riang. Kali ini mereka lengkap tak ada satu pun yang tak berkumpul.


"Aura pengantin baru emang beda." celetuk Vito seraya menghembuskan asap rokok dari mulutnya.


Brydean terduduk di sebelah Nico. "Lo kapan ngundang gw Vito, Nico. Gw mau makan gratis di nikahan lo." sindir Brydean seraya membakar sebatang rokoknya.


"Ckkk, sabar bro. Kita belum nemu yang tepat." Nico yang membela dirinya seraya memberikan kode pada Vito tuk fist dump.


"Dengerin nasihat gw Vito, Nico. Kalian butuh pewariskan? Kalau ngga, harta kalian buat gw aja, kan mudah." ucap Adit menaiki kedua alisnya.


"Mau gw lempar asbak ke kepala lo." jawab Vito sedikit emosi yang di satukan dengan candaan seraya mengangkat asbak.


"Gimana Luke? Tabur benihnya langsung jadi ngga? Belajar dari sepuh Kevin yang seminggu nikah udah tekdung. Puh ajarin doang puh, sepuh." ucap Rama seraya meledek Kevin si paling sepuh.


"Kevin di percaya, dia tidurin dulu sebelum nikah, jadi memang plan-nya sudah di set seminggu nikah udah jadi." sambung Dito.


"Yang bener, tidur sama cewek lain sebelum nikah." Danny yang tertawa terbahak-bahak di ikutin dengan teman yang lain. Kevin yang terbully pun ikut tertawa, karena memang faktanya Kevin di jodohkan dengan putri teman ayahnya yang lulusan Fakultas Kedokteran Kairo - Mesir.


"Skill terpendam gw nih." ucap sombong Kevin. "Ayo Luke, lo bisa pemecah rekor kedua dari gw di era gempuran teman-teman kita yang tekdungin istrinya lama."


"Wah sulit bro, gw baru masuk setengah, belum setengah juga sih, dia langsung nangis." ucap Brydean.


Serempak para temen Brydean berdecak. "Tetap semangat ya wir, ini cobaan. Gw dulu juga gitu, tapi bedanya gw kasih kata-kata mutiara ke dia biar sabar menghadapi dunia." ucap lirih Danny.


"Beda size lo sama Luke anjay." Kevin yang berada di sebelah Danny langsung menoyor kepalanya.


flashback on


Selepas selesai membersihkan diri secara secepat kilat Brydean keluar dari kamar mandi dengan raut wajah sumringah masih memakai handuk yang di lilitkan di pinggangnya. "Ayang." teriak Brydean yang menggema memenuhi isi kamar. Bola matanya menelusuri isi kamar mencari keberadaan Sasya. Setelah tidak di jumpai di dalam kamar, ia bergegas langsung memakai baju di walk in closet, lalu keluar dari kamar hendak mencari Sasya. "Ara, Sasya mana?." teriakku kepada salah satu pelayan disana.


"Nyonya sedang keluar tuan." ucap Ara.


Berdecak. "Emang ngeselin ni anak satu." gumam Brydean.


...⚘⚘⚘...


Matahari sudah terbenam, kini bulan sudah menyinari bumi. Sampai saat ini Sasya pun belum pulang kerumah. Brydean yang tengah merokok berdiri menyenderkan tubuhnya di balkon kamar seraya menunggu Sasya pulang. Akhirnya yang ditunggu-tunggu terlihat wujudnya sedang berjalan di halaman rumah membawa jinjingan paper bag. "Baru pulang lo bocil ?!." teriak Brydean dari balkon.


Sasya pun mematung memberhentikan langkahnya, mencari sumber suara tersebut. "Yes baby, aku habis menghamburkan uangmu." ucap Sasya dengan nada slay, alay bin jametnya. "Bye." melambaikan tangan dan bergegas masuk kedalam rumah.


Brydean pun mematikan rokoknya dan berlari turun dari kamar menuju lantai bawah untuk menghalang Sasya. "Habis dari mana lo?." Sasya yang melewati Brydean tengah berdiri mematung menyilangkan tangan di dekat tangga.


"Biasa shopping tadi baru pulang di antar selingkuhan." menaiki kedua alisnya.


"Buset, keren juga." Brydean yang memahami sandiwara yang dimaksud Sasya.


"Dah, aku capek. Bye, paksu." melewati Brydean seraya menepuk bahunya.


Brydean pun tanpa basa basi langsung membalikkan badan dan merangkul Sasya. "Selingkuhannya lebih ganteng dari aku ngga? Atau mokondo dia."


"Wooo, jelas lebih tampan dari Brydean Luke Albern."


"Aku sawer nih, cepat pakai baju haramnya !!!." Brydean membuka pintu kamar mereka.


Sasya memberontak untuk di lepas rangkulannya, mendorong tubuh Brydean menjauh darinya. Sasya melemparkan paper bag yang di jinjing. Membuka satu persatu pakaian di hadapan Brydean yang dikenakan sampai menyisakan hanya pakaian dalam lingering. "Berani sawer berapa mas?." ucapnya seraya menggoda Brydean.


Brydean membalikkan badan Sasya, mendorong sampai terhentuk kedinding. "Jangan berani menggoda, jika tidak mau bertanggung jawab." ucap Brydean tepat di depan wajah Sasya, tangan Sasya yang di keataskan dengan Brydean memegang kedua lengan Sasya dengan satu tangannya.


Sasya balik menatap penuh Brydean menaiki satu alis. "Nodai aku."


Brydean menyeringai, mengusap lembut rambut Sasya dan turun mengusap bibir pink itu dengan jarinya. "Bibirmu sangat cantik, aku selalu menahan egoku agar tidak larut dalam ciuman singkat itu." Brydean cepat ******* bibir Sasya hingga lidah mereka saling bertautan. Brydean melepas ciuman tersebut dan tangannya beralih merangkup wajah Sasya seraya merapikan rambut Sasya yang berantakan. Brydean melepas semua pakaiannya hingga tak menyisakan sehelai benang pun. Perlahan ia melapas pakaian dalam Sasya. Meremas gunung kembar yang sintal itu. Mengenggam, lalu menarik tangan Sasya membawanya menuju terduduk di sofa kamar. Melebarkan paha Sasya agar ia bisa berdiri setengah duduk di hadapannya. Tiap inci tubuh Sasya ia telusuri dengan kecupan seraya mencium aroma tubuh Sasya yang membuatnya candu. Sasya yang menerima kecupan tersebut menggeliatkan tubuhnya.


"You're mine." ucapnya setelah membuat kissmark di perut Sasya. Brydean kembali ******* bibir cantik Sasya dengan salah satu jarinya perlahan masuk kedalam lubang kenikmatan, cepat ia pun menambah satu jarinya lagi. Sasya merasakan ada sesuatu yang mengoyak daerah kewanitaannya sedikit sakit namun nikmat, mulutnya dibungkam oleh bibir Brydean. Jarinya terus menelisik antara helai rambut Brydean seraya menjambak. Tiba-tiba Brydean sengaja melepas ciumannya dan jarinya dari kewanitaan itu.


"Kenapa?." ucap frustasi Sasya saat Brydean menyudahi aktivitas tersebut.


"Sangat menyenangkan bukan?." bisik Brydean di telinga Sasya seraya meremas gunung kembar dan ia kembali menurunkan kepalanya untuk menggigit ****** merah muda itu. Satu gigitan membuat tubuh Sasya bergetar melepaskan desahannya. Brydean kembali ******* panas bibir Sasya dan bergerak memasukan sesuatu yang sudah mengeras sejak tadi.


Sasya melepas paksa ciuman tersebut, lalu memalingkan wajah. Meringis kesakitan dibawah sana saat sesuatu benda tumpul yang mengoyak kewanitaannya. "Aww, stop sakit Luke." teriaknya di iringin isakan tangis dan berderai air mata membasahi pipinya.


flashback off


...⚘⚘⚘...


Sesampainya di sebuah villa private milik keluarga Nita berlokasi di puncak. Aku bergegas cepat untuk menemuinya. Kami hanya healing berdua tanpa Quira yang tidak bisa diganggu untuk saat ini. Melepas penat sejenak menikmati udara segar disana. Jarang sekali di Jakarta bisa menghirup udara segar yang jauh dari polusi udara. Recananya kami akan menginap selama dua hari di villa ini. "Sya, nasib suami lo gimana?." ucap Nita tampak mengkhawatirkanku yang statusnya sudah menjadi istri orang.


"Santai, LDR-an gw dari kemarin sore." ucapku mengambil aba-aba memukul bola ping pong. Kami berbincang seraya bermain tenis meja.


"Kok lo ngga ikut?." suara renyah pukulan bola ping ping pun terdengar menggema menyatu dengan perbincangan kami.


"Ngga dulu, gw pingin di rumah." jawabku tanpa menghilangkan fokusku pada permainan tenis meja


"Tapi lo di rumah terus bosen 'kan? makannya lo main sama gw. Btw lo udah izin ke paksu?."


Aku yang mendengar kalimat tersebut sontak langsung terhenti napasku, lantaran aku belum main tanpa izin kepada Brydean. Jika tidak izin siap-siap akan ada bencana besar yang terjadi. "Pause dulu." menangkap bola ping pong, lalu mengambil ponsel di saku celanaku. "PAP dulu guys." men-selfie kegiatan kami berdua. "Lanjut." tanpa menghiraukan balasan dari Brydean, lagi pun ia sibuk dengan urusannya dan aku pun sibuk dengan kegiatanku. Pasti Brydean pun akan menjawabnya slow respon


"Sekretaris baru dia cantik?."


"Cantik, kan perempuan."


"Awas main belakang pas lagi perjalanan bisnis. Hayo loh overthinking." Nita memulai memancing amarahku.


"Penghasut lo, dia kan perjalanan bisnis sama direktur eksekutif-nya jadi aman."


"Yakin nich? Dia disana ngga ketemu cewek?." Nita yang terus memancing amarahku.


"Udah anjir, udah. Kan gw overthinking, dahlah." melempar bet tenis meja sembarang.


Nita yang tahu bagaimana bisa membujukku jika sedang marah. Kami memacu mobil menuju lapangan golf yang lumayan jauh dari villa, kami melilah lapangan golf terbaik di Bogor sesuai rekomendasi google. Sesampainya di sana kami berganti pakaian khusus. Dengan keterampilan dan skill terpendam yang kami kuasai. Golf adalah olahraga yang sering kami mainkan jika di saat waktu cuti kami jika tidak ada job pemotretan. Tak di sangka kami pun semakin lama, semakin mahir memainkan golf. Kami terlalu asik bermain golf sampai lupa waktu dan melihat matahari sudah mulai tenggelam. Akhirnya kami bergegas pulang karena lapangan golf pun akan di tutup pukul enam sore. Karena perjalanan dari lapangan golf ke villa lumayan jauh, kami harus cepat bergegas pulang agar tidak kemalaman.


...⚘⚘⚘...


Nita menghampiri kamar Sasya, lalu membuka gorden agar sinar matahari masuk menggangu tidur pulasnya. Nita terus membangunkan Sasya dengan menggoyang-goyangkan tubuhnya. Sasya mulai terganggu tidurnya yang tengah asik dirinya di kendalikan oleh alam bawah sadar. Semalaman kami bergadang menghabiskan waktu untuk bercerita tentang hal random seraya menikmati jagung rebus di malam yang dingin. "Sya, bisa yuk bangun. Sunmori ngga sih? Mumpung minggu nih !!!." ucap Nita yang terus membangunkan Sasya.


Sasya pun terusik dan risih. Memaksakan membuka mata dan mendudukkan diri. "Ihh, kenapa sih?." ucap nada serak khas bangun tidur seraya ia mengusap kasar wajah, masih menunggu nyawa terkumpul.


"SN kuy." ajak Nita yang bersemangat.


Menggelengkan kepala. "Ngga dulu, mau SN gimana motornya aja ngga ada." seraya mengucek matanya.


"Aman say, lihat aja di depan." ucap percaya diri Nita menaiki satu alisnya.


Sasya yang mendengar itu pun sontak langsung melihat ke jendela kamar. "Anjay, gas lah, udah lama ngga riding ketemu mereka." Sasya yang sangat bersemangat membangunkan dirinya. "Wait, PAP dulu." mengambil ponselnya dan men-cekrek asal yang penting keliatan wujud wajahnya di foto. "Ayo cepat Mandi !!!." ucap kini semangat Sasya yang mengebu-gebu seraya menarik tangan Nita agar membangunkan diri dari duduk dan segera beranjak ke kamarnya untuk membersihkan diri.


...⚘⚘⚘...


Mereka pun sudah rapih ber-outfit keche selayaknya lady bikers. Melangkahkan kaki menuju motor yang terparkir di depan villa. "PAP dulu ngga?." ucap Nita yang sudah menjadi terbiasan mendengar kalimat Sasya yang setiap melakukan aktivitas harus mengirim bukti laporan foto pada suaminya. Nasib LDR gitu.


"Boleh, tapi nanti yang di SN jangan, ntar gw diomelin." cepat Sasya mengambil ponselnya dan mereka berselfie.


Selepas itu mereka memastikan memakai perlengkap yang aman dan selamat sebelum berkendara. Memakai helm full face dan sarung tangan motor. Mereka berbarengan menyalakan motor sport, terdengar suara knalpot racing yang mengguncang kenyamanan segelintir orang. Siap menggeber jalanan menuju SN, jarak perjalanan yang lumayan cukup jauh. Mereka harus cepat tiba dilokasi, sebelum memacu kecepatan mereka tidak lupa untuk fist dump terlebih dahulu.


Karena mereka belum sarapan, di pertengahan jalan mereka terhenti di sebuah warung nasi sekedar untuk sarapan agar tidak lemas, khawatir oleng saat mengendarai motornya. Seperti biasa saat dulu masih suka sunmori, bila kami terhenti di sebuah warung kecil atau warung nasi tak habis-habis pembeli yang ada di sana memandang kita sampai tidak berkedip dan banyak pula dari mereka kadang yang suka menggoda atau pun kami terkadang ketemu ngabers lainnya di perjalanan menuju SN.


Note:


SN : Sentul Nirwarna


¤


¤


¤


¤


¤


¤


🖍 Jangan lupa Like dan Vote 🖍


📖 Selamat Membaca 📖