
'Pukul 16.40 WIB '
Sasya bergegas menuju kantor Albern Grup.
flashback on
Setelah frustasi mencari keberadaan ponsel kesayangannya tidak kunjung jumpa. Ia pun mengambil laptop 2 in 1 yang bisa dijadiin tablet. Ntah ada gerangan apa? Sasya mendadak sangat penasaran dengan isi DM Nico. Dan ia pun menyalakan tabletnya membuka instagram yang sudah terhubung dengan akunnya.
flashback off
Sungguh keadaan yang tidak baik, ketika Sasya baru saja masuk dan sedang berjalan di lobby sebuah kantor mewah dan megah milik Albern Grup.
"Sasya." panggil Naomi sambil melambaikan tangan yang sedang berdiri tegap di depan meja resepsionis.
Aduh mampus gw kok ketemu dia disini? apa gw balik pulang aja yaaaa, tapi ponsel gw ada di kantor ini. Banyak data-data dan kenangan di ponselku yang tercintahhh.
Sasya pun berjalan menghampiri Naomi dan Naomi pun sebaliknya seperti itu.
"Hai, Sasya." ucap Naomi yang excited bertemu dengan Sasya.
"Halo." jawab kaku Sasya sambil melambaikan tangannya.
"Ohhh, gw tau mau ketemu pak Brydean kan? ayo gw antar !!." Naomi pun langsung menarik tangan Sasya dan berlari menuju ruangan pak Brydean.
Sesekali Sasya menahan saat Naomi menarik tangannya, tapi hasilnya nihil. "Naomi stop." teriak Sasya dan akhirnya Naomi pun berhenti di depan lift. "Nah akhirnya, gw kesini bukan mau ketemu pak Brydean." ucap Sasya sebelum Naomi menanyakan kata yang mungkin 'Kenapa atau apa' kata-kata yang tidak penting buat Sasya saat ini di dengar.
"Terus mau ketemu siapa?." pintu lift terbuka Naomi pun menarik tangan Sasya lagi untuk menaiki lift.
"Gw mau ke-te-mu...." ucap Sasya dengan nada penekanan dan akhirnya terhenti saat Naomi membungkam mulut Sasya.
"Gw tau lo gugup, calm down." pintu lift terbuka, seperti biasa Naomi menarik tangan Sasya dengan excited, kali ini Sasya betul-betul tidak berdaya saat Naomi menarik paksa tangan Sasya. Tidak ada kesempatan Sasya untuk berbicara sambil teriak, cukup kata 'Naomi stop' pun sudah membuat Sasya malu karena seluruh staff di sana memandangi Sasya yang berbuat kebisingan.
Naomi berhenti di depan sebuah ruangan. Perasaan Sasya mulai tidak enak, ia pun menelan ludah kasarnya. "Udah capek kan, lari tadi." Sasya yang sambil memegang pergelangan tangan yang Naomi sedari tadi di genggam kuat dan Sasya mulai mengatur napas.
Hening Naomi tidak menjawab pertanyaan Sasya, saat Sasya masih sibuk mengatur deru napasnya. Sialnya Naomi membawa Sasya memasuki ruangan yang sejak tadi, mereka berdiri membelakangi-nya.
Ya betul ruangan itu adalah ruangan CEO yang di hadapannya ada seorang pria yang bernama Brydean pria yang pernah body shaming-in Sasya. Pria itu sedang sibuk menandatangani berkas yang bertumpuk di atas meja-nya.
"Permisi pak, ada tamu." ucap sopan Naomi menghampiri meja CEO tersebut, lalu ia berlalu meninggalkan Sasya yang masih gemetar berdiri mematung.
Tangan Sasya dengan sigap menahan tangan Naomi yang hendak ingin meninggalkan-nya. Tapi Naomi hanya memberi tepukan pada bahu Sasya dan melepaskan tangan-nya, beranjak pergi meninggalkannya. Rasa ingin Sasya mengikuti pergi dari ruangan pria body shaming itu.
Sasya melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan yang cantiknya. Kenapa gw harus terjebak disini, ya tuhan. Mana tinggal semenit lagi jam 5 sore. Hancur sudah. pasrah Sasya yang harus meratapi nasib tersebut.
Klik
Terdengar suara pulpen yang di tutup.
Sasya mulai gelisah dan ia melihat ke arah CEO yang melangkah mendekat ke arah Sasya dan berdiri tepat dihadapan Sasya. "Apa anda tidak lelah sejak tadi hanya berdiri saja nona? saya persilahkan duduk nona."
Sasya menatap pria body shaming, tidak lupa untuk tarik napas dalam dahulu. "Kenapa nama anda selalu berubah tuan Brydean? bukannya nama anda Luke, apa anda selalu seperti itu ke setiap semua wanita?."
"Dan kenapa anda tidak jujur bahwa sekretarismu lah yang menggantikan bajuku, dan saya tidak perlu susah payah untuk overthinking." ucap Sasya setengah marah itu.
prok, prok, prok
Pria itu sambil bertepuk tangan kecil dan memberi senyuman iblisnya. "Ingat satu hal saya tidak pernah memalsukan nama untuk siapa pun nona, dan untuk apa anda menjadikan overthinking untuk hal sepele seperti itu? asal anda tau saya tidak tertarik dengan wanita seperti anda." tegasnya. "Menurut anda sepele... gw bukan gadis murahan yang lo pikirkan." nada bicara Sasya mulai meninggi.
"Benarkah, bukannya anda ja**ng?."
Sasya mulai terbakar emosi dengan perkataan yang di lontarkan pria tersebut. Tangannya mulai mengepal menahan amarahnya, Sasya memutuskan untuk kembali pulang membalikkan badannya menjauh dari hadapan pria body shaming.
bruk
Sasya menyenggol seseorang saat sedang berjalan keluar ruangan. "Maaf bu, apakah anda terluka?." Sasya menatap wanita yang cukup berumur tapi sangat cantik.
"Tidak nak, i'm fine."
"Syukurlah." Sasya menghembuskan napas lega. "Kalo seperti itu, saya permisi." ucap sopan Sasya.
Saat Sasya hendak membuka pintu untuk keluar dari ruangan tersebut. Suara lembut wanita itu memberhentikan langkah Sasya. "Tunggu gadis cantik." lalu wanita tersebut menggenggam pergelangan tangan Sasya membawanya duduk di sofa ruangan tersebut.
"Hey anak nakal, apa kau tidak ingin menyiapkan minuman untuk kami?." ucap wanita tersebut kepada Luke.
"What??." Luke dengan wajah kebingungannya sambil menunjuk dirinya.
"Iya, cepat sana !!!." suruh wanita tersebut sukses membuat Sasya yang mendengar tertawa gembira sambil membungkam mulut agar tertawa-nya tidak lepas. Luke pun dengan pasrah menuruti perintah-nya.
"Kita belum kenalan." wanita tersebut mengulurkan tangan-nya.
"Oh ya, namaku Sasya." Sasya pun menerima jabatan uluran tangan-nya.
"Nama yang indah, namaku Arumi ibu dari Brydean Luke."
"Salam kenal, senang bertemu dengan anda." senyum manis Sasya yang menghiasi wajah cantiknya.
"Apa kau pacar anakku?."
"Ohh, bukan." elak Sasya.
"Kau terlihat anggun dan sexy dengan gaun hitam yang melekat dengan kulit putih yang mulus." puji Arumi kepada Sasya yang memakai gaun diatas lutut-nya.
Kan udah di puji-puji gw, pasti habis itu nggak lama di campakkan dan dilempar uang untuk meninggalkan anaknya. Yakin banget kayak di Drama-drama. Sasya menarik senyum di wajahnya "Terimakasih atas pujianmu, kau pun cantik dan awet muda."
tok,tok,tok
Seseorang dari luar mengetuk pintu ruangan CEO tersebut. "Masuk." ucap Ibu Arumi.
"Permisi bu, ini pesanan teh yang diperintah oleh pak Brydean." ucap Naomi yang datang sambil membawa nampan.
"Terimakasih, kamu tau kemana Luke sekarang?."
"Maaf bu, tapi sepertinya beliau pergi keluar."
Arumi pun mengangguk dan Naomi beranjak pergi meninggalkan kita berdua. Arumi pun melihat jam yang melingkar dipergelangan tangannya. "Sasya next time kita ketemu lagi ya. Hari sudah sore ibu pamit pulang, tolong maklum sikap anak ibu ya."
Sasya melihat Arumi sudah hilang dari pandangan-nya. "Huh, cobaan apa lagi nih? nggak ngerti." gumam Sasya sambil berdiri berjalan meninggalkan ruangan tersebut. Tapi ada sesuatu hal yang membuat Sasya penasaran akan ruangan tersebut. Tidak di sangka cowok body shaming itu CEO di sini, saking banyak cuan-nya pasti suka having s*x. Udah nggak aneh cowok dewasa yang banyak duit pasti punya ja**ng tiap malam-nya. Sasya sambil berjalan mendekat ke arah meja CEO tersebut. Ternyata di atas meja CEO masih terdapat sebuah ponsel milik Luke dan tiba-tiba ponsel itu pun bergetar tanda ada panggilan masuk, sayang-nya nomor yang memanggil di ponsel Luke tidak terdaftar di kontaknya. Lagi pula Sasya tidak berani untuk mengangkat telepon tersebut. Setelah panggilan di ponsel tersebut mati, sekarang giliran telepon kantor yang berada di atas meja Luke berbunyi. "Angkat nggak ya? pasti ini job penting dari klien."
Sasya pun mengangkat panggilan tersebut.
"Selamat sore, dengan Albern Grup. Ada yang bisa saya bantu?."
"Maaf, tapi pak Brydean saat ini tidak di tempat. Anda bisa meninggalkan pesan untuk-nya atau menelpon-nya kembali nanti."
"Baik, saya akan sampaikan kepada pak Brydean."
"You're welcome, sir." Sasya pun mengakhiri panggilan tersebut.
Luke datang menghampiri Sasya yang sejak tadi ia sudah mematung di ambang pintu dan melihat aksi Sasya. "Bravo, apa kau sedang berlakon sebagai sekretarisku nona?." ucap-nya sambil bertepuk tangan.
Sasya pun membalikkan badan, tatapan-nya menatap bola mata Luke. Matanya indah dan menenangkan. "Ada seorang klien meminta pak Brydean untuk meeting bersamanya besok, nanti klien akan menelpon kembali bapak. Maaf sebelumnya kalo saya sudah lancang menerima telepon tersebut."
"Hai bro." seseorang masuk keruangan Luke. Ya ternyata itu Nico. "Sasya, lo gw tungguin malah di sini." Nico berjalan menghampiri mereka berdua. Sasya yang terkejut dengan kedatangan Nico.
"Lo kenal dia bro?." tanya Nico sambil menepuk bahu Luke. Belum sempat Luke menjawab ia malah kembali bertanya. "Dia cewek yang dulu gw pernah ceritain ke lo."
flashback on
Saat Sasya dan temannya sudah berlalu meninggalkan Nico. Ia pun langsung menghubungkan panggilan untuk boss nya.
"Luke, mobil lo bermasalah. Sekarang gw ada di bengkel terdekat exit tol, gw belum bisa mastiin dampai kapan mobilnya selesai."
"Untuk dana gw akan urus, masalah klien kita handle nanti. Gw bakal suruh orang lain yang ketemu klien, sekarang lo bisa langsung kembali ke jakarta karena gw butuh lo sekarang !!!. segera share lokasi nanti akan ada yang jemput lo secepatnya." ucap pria yang ada di sebrang panggilan tersebut. Lalu langsung mematikan panggilan telepon.
...⚘⚘⚘...
''Jakarta - Indonesia'
Sesampainya Nico di Jakarta dengan di jemput menggunakan private helikopter milik Luke. Bergegas menuju ruangan bapak CEO. "Sebesar apa perusahaan membutuhkan sosok Nico yang kompeten." Nico yang menyombongkan diri-nya.
"Kita harus segera terbang ke Itali, ada problem dengan proyek kita di sana." Ucap Luke membangunkan diri-nya dari duduk di kursi kebanggaan.
"Please bro, gw baru sampai senggaknya kita ngopi dulu lima menit." keluh Nico sambil berjalan mengikuti Luke keluar dari perusahaan.
Mobil mewah yang sudah tepat berada di hadapan Luke. "Nggak ada waktu, kita harus cepat !!!." Luke pun memasuki mobil di ikuti dengan Nico.
"Kenapa transfer gw di tolak sama bengkel, apa mereka tidak butuh uang?." tanya Luke sambil di perjalanan menuju bandara.
"Gw lupa, semua biaya ditanggung sama tiga bidadari cantik yang nolong gw sebelum mobil-nya di bawa kebengkel."
"Really, apakah mereka anak konglomerat? kau punya foto-nya, siapa tau gw kenal."
"Sayang, gw nggak ada foto atau nomor telepon mereka, gw hanya tau nama mereka. Sasya, Nita dan Quira wanita yang luarnya feminim tapi mereka ngerti mesin bro. Cewek gini cocok di jadiin istri karena biasanya mereka cewek mandiri dan pekerja keras, tipikal cewek yang nggak bakal nyusahin."
"Sasya?." tanya Luke penasaran.
"Nice, cewek putih tinggi body-nya bak model. Lo pasti bakal tertarik dengan salah satunya." Nico melihat ke arah Luke yang hanya diam hening tidak menjawabnya. "Kenapa lo diam? iri sama gw karena i'm lucky boy. Kalo bisa semua kenapa harus satu."
Mereka telah sampai di bandara yang persis di depan private Jet milik Luke, ia pun keluar dari mobil tersebut meninggalkan Nico yang sedang asik mengoceh membanggakan diri-nya.
flashback off
"Gw pernah bilang sama lo, kita harus membayar biaya kerusakan yang di bengkel. Karena kita mampu untuk membayar dan tidak menerima gratisan." Luke yang sambil duduk bersandar di meja-nya. "Berapa total biaya kerusakannya? gw transfer sekarang."
"Tapi dia menolak, karena Sasya tidak ada sangkut paut dengan biaya tersebut. Karena Quira yang memiliki bengkel tersebut." Nico menjelaskan.
Ribet banget ini pria body shaming pake segala gengsi lagi. Sasya semakin muak dengan pembicaraan itu. "Bapak-bapak yang terhormat itu sudah berlalu, biarin aja ya. Saya pusing dengar-nya." Sasya sambil memijat keningnya. "Lagi juga mana ada anak pemilik bengkel yang nyuruh pekerja-nya mengerjakan sesuatu harus bayar ke bapaknya?." nada bicara Sasya yang mulai melembut karena lelah dengan pembicaraan 'gratisan'. "Kaka, aku mau minta ponselku !!!." tangan-nya sambil mengadah.
"Wait, kita keruangan gw dulu." Nico pun berlalu meninggalkan Luke yang masih dengan posisi sama sejak tadi, di ikuti dengan Sasya yang membuntut dibelakang-nya.
¤
¤
¤
¤
¤
¤
🖍Jangan lupa Vote dan Like 🖍
📖 Selamat Membaca 📖