
Hari sudah pagi, matahari pun sudah menunjukannya sinar cahayanya.
Sasya 'pov
Sasya mulai membuka matanya. "Hah, gw dimana?." kaget Sasya sambil mendudukkan tubuhnya, ia menyadari kalau itu bukan kamarnya. Lalu ada seorang cowok yang keluar dari kamar mandi, memakai handuk yang dililitkan di pinggangnya.
Sasya menelan ludah kasarnya.
So sexy. batinku saat melihat rambut basah yang di kibaskan dan badan atletis -nya. Membuat jantungku berdegub sangat kencang.
"Sedang lihat pemandangan yang indah nona."
Sial, aku tersadar saat mendengar suara berat cowok itu, fokusku jadi buyar karenanya. Lalu aku pun menggeleng dan menyangkal. Aku pun melangkah kedekatnya. "Gw tadi lagi liat pintu kamar mandi kok, soalnya gw mau kekamar mandi."
Setelah berada di didalam kamar mandi, aku pun ngedumel. "Stupid, kenapa harus ke ciduk sih?." gumam ku sambil melihat diriku di cermin. Setelah puas ngedumel, aku pun keluar dari kamar mandi.
Saatku menutup pintu kamar mandi dan berbalik, lagi-lagi human meresahkan itu bertelanjang dada diatas kasur sambil meraba perut sixpack -nya, lalu menarik-narik kulit kering pada roti sobeknya. Tidak bisa di biarin, lagi-lagi fokusku tertuju pada perut sixpack -nya.
"Sudah membaik nona?." tanya human meresahkan sambil fokus mengetik laptop yang di pangkunya.
Lagi dan lagi dia membuat gw sadar. "Hah?."
"Tidak ingat kejadian tadi pagi nona?".
"Semalam gw ke bar, terus teman-teman gw ke-mana?." dan aku pun menaikan suaraku dan mulai panik.
"Perlu saya ingatkan kembali?." menoleh menatapku.
"Bentar !!!." aku pun berusaha mengingat kejadian tadi pagi, tapi hasilnya nihil. "Ahh, nggak ingat." kesalku.
"Dengar baik-baik." suruh cowok tersebut dan aku pun menghampirinya dan duduk di tepi kasur.
Lalu cowok yang ntah siapa namanya dan aku pun tidak mengenalinya dan ia pun memulai bercerita.
"Sekitar pukul empat pagi, tiba-tiba lo lari nyebrang jalan tanpa lihat sekeliling lo. Untung lo nggak gw tabrak, terus saat mobil gw berhenti, lo juga ikut berhenti di depan mobil gw, lalu lo tiba-tiba jatuh begitu aja. Gw nggak mau pergi begitu aja donk, karena kalau ada warga lihat, terus gw disangka nabrak lo dan urusannya makin panjang. Akhirnya gw bawa lo, ke rumah gw. one more again tubuh lo bau alkohol. Emang sih, gw temuin lo nggak jauh dari tempat club dan nggak lama lo sampai kerumah gw, lo muntah-muntah..."
Aku pun memotong pembicaraannya. "Disini." unjukku di atas kasur.
"Nggak, lo lari kekamar mandi terus keluar dari kamar mandi pakaian lo basah semua."
Lagi-lagi aku memotong pembicaraannya. " Gw mandi gitu?."
"Mungkin, bisa dibilang ya. Setelah itu gw ganti pakaian lo, gw takut lo sakit gara-gara baju lo basah dan habis itu gw kasih lo teh jahe, biar ngurangin hangover setelah minum alkohol."
Mataku membulat. "Anjing." lalu aku menyilangkan tangan menutupi dada dan melihat bajuku berbeda dari yang semalam dipakai. "Whattt !!." aku berteriak sambil menjambak rambutku dan mulai frustasi.
"Kalem, berisik suara lo !!."
Aku pun terbingung sambil memijat dahi. "Terus lo, udah liat semuanya?."
Hening, cowok itu pun tidak menjawab pertanyaanku.
"Woyy !!". teriak ku.
"Menurut lo?".
Mataku membulat. Mampus gw.
"Kalo gw hamil, lo tanggung jawab ya."
"Lo hamil anak siapa?." dia pun mengerutkan dahinya. "Gw nggak ngapa-ngapain sama lo."
"Benar !!!".
Smirk. "Dan gw, nggak nasfu sama lo."
"Lo tau triplek, itu bentuk tubuh lo. Nggak ada indahnya sama sekali."
"Wah, body shaming." aku pun sangat kesal dengan perkataannya. Lalu aku pun pergi berlalu meninggalkan kamar tersebut.
"Hey." panggil cowok tersebut di belakangku.
Aku pun berbalik menghadapnya dan bagusnya dia sudah memakai bajunya.
"Lo mau kemana?."
"Balik lah." sambil berjalan menuruni tangga.
"Punya uang emang?."
Aku pun menggeleng. "By the way, gw pinjem telepon rumah yaaa?."
Ia pun mengangguk, lalu aku pun menghampiri telepon rumahnya, memanggil supirku agar datang kerumah mewahnya. Saat panggilan terhubung aku tidak tahu alamat rumah cowok tersebut dan aku langsung menanyakan alamatnya. Tidak menunggu lama supirku lalu datang.
...⚘⚘⚘...
Setelah Sasya sampai rumah, ternyata Alex, Saddam, Raka dan dua sahabatnya menunggu Sasya di ruang tamu. Mereka khawatir dengan keberadaan Sasya yang tiba-tiba menghilang tadi pagi.
"Sasya." Quira yang cemas akan keberadaan Sasya langsung memeluk Sasya saat tiba di hadapannya dan disusul oleh Nita.
"Lo dari mana aja?." Nita yang sambil mengelus bahunya.
"Sya, tadi pagi kita berdua mabuk." Quira sambil menunjuk Nita. "Untungnya, Raka orang pertama yang cerita ke kita tentang lo."
"Lo, nggak apa-apa 'kan?." tanya Raka cemas yang menghampiri Sasya.
Sasya pun tersenyum. "Gw butuh waktu sendiri." lalu Sasya pun menuju kamarnya.
Sasya 'pov
Aku pun memandangi dariku di cermin dan meratapi nasib sambil ngedumel.
"Kenapa sih? harus dia yang liat tubuh gw tanpa satu helai benang." ucapku kesal.
"Kasian suami gw, sudah keduluan orang lain."
"Mana gw nggak kenal lagi orangnya."
"Terus dia bilang, badan gw kayak triplek." aku pun memukul meja.
"Stupid banget gw." aku pun memukul kepalaku. "Kenapa? gw nggak nanya namanya sih."
"Terus kenapa gw pakai acara nyiram diri gw tanpa buka baju?." aku pun sambil mengusap kasar mukaku. "Gw, kayaknya kalau lagi mabuk ekstrim."
"Ahhhh, kacau." teriak ku.
Aku pun terus berbicara sendiri. "Ponsel gw mana sih?." aku pun mencari di sekeliling kamar dan rumah tapi tidak ada. "Gw coba call, pakai telepon rumah deh." tanpa harus keluar kamar, telepon rumah sudah tersedia di atas nakas kamarnya.
"Ihss, nggak aktif lagi." aku pun menjatuhkan diriku di atas kasurku yang sangat empuk dan nyaman. "Ahhh, bodo lah, frustasi lama-lama gw mikirinnya."
"Mending gw tidur aja sebagai pelepas penat."
...⚘⚘⚘...
Hari pun sudah sore, Sasya pun merasakan perutnya sangat lapar, terlebih lagi belum makan sejak pagi tadi. Ia pun turun menuju meja makan dan menyantap makanan yang sudah disediakan oleh pelayan di rumahnya.
"Mbok, yang lain sudah pulang?." Sasya menanyakan perihal teman-temannya.
"Sudah, nona."
Sasya pun mengangguk.
Saat Sasya baru saja menyelesaikan makannya. Tiba-tiba ada suara cempreng memanggilnya.
"Sasya." teriak Quira sambil berlari menuju Sasya sambil tergesa-gesa.
"Ihs, pengang nyet !!!." melemparkan sendok kearah Quira.
Dengan sigapnya, sendok itu pun meleset. "Alhamdulilah." sambil mengelus dadanya.
"Ahhh elahh." kesal Quira.
Quira pun menyodorkan sendoknya ke Sasya. "No !!." Sasya pun menggeleng. "Taruh ke wastafel babe."
"Same like babu gw." setelah menaruh sendok di wastafel, Quira pun mencuci tangannya. Lalu setelah ia mendekat kearah Sasya, ia pun memercikkan air dari tangannya yang masih basah.
Melihat Quira yang tertawa riang gembira. "Aihs." Sasya pun mengusap mukanya dan memandangi Quira dengan tatapan yang tajam.
Quira pun duduk di samping Sasya sambil menuangkan air kedalam gelasnya. "Lo, nggak nanya gitu?." memandangi Sasya. "Gw nggak sama Nita dateng kesini."
Gw tau ini bukan waktu yang tepat untuk menanyakan hal yang tadi pagi. batin Quira.
"Tadinya gw mau nanya itu, tapi keduluan lo."
Setelah meleguk segelas airnya, Quira pun menghentakkan gelasnya di atas meja. "Nita lagi di kelilingi wartawan, di depan gerbang rumah lo !!!."
Sasya pun lalu memandang ragu Quira. "Masa sih, lo kan suka bohong sama gw."
"Coba aja, lo liat sendiri !!!."suruh Quira sambil mendudukan tubuhnya di kursi meja makan.
"Nggak, ah !!!." Sasya pun mendekat ke arah Quira dan memegang pergelangan tangan Quira yang berada di atas meja rersebut. "Magerrrr." Sasya pun menekan panjang huruf R, sambil mendekatkan wajah Sasya ke wajah Quira.
"Terserah lo deh." Quira pun menjawab dengan nada kesal.
Tiba-tiba seorang pelayan di rumah Sasya memanggil dan menghampirinya. "Nona, ada telepon."
Sasya 'pov
Aku pun langsung menerima telepon rumah yang tadi sempat terjeda. "Hallo." tidak lupa Quira pun ikut menguping di sebelah ku.
"Woy, nyettt !!!." teriakan cempreng Nita terdengar tepat tidak jauh di belakang ku dan terdengar juga tepat di telinga ku saat masih terhubung dengan panggilan telepon.
Gendang telinga ku terasa ingin pecah saat mendengar teriakan Nita yang lebih cempreng di sambungan telepon, sebaliknya juga Quira merasakan apa yang ku rasakan. Diam seperti patung saat mendengar teriakan Nita dan kami pun menunggu gendang telinga kami berhenti berdengung.
Plak......
Tiba-tiba aku dan Quira terkejut saat ponsel melayang memantul ke tembok yang hampir mengenai kami.
"Lo berdua jahat." ucap Nita sambil menjatuhkan dirinya kelantai dengan posisi terduduk. "Terutama buat lo, yang namanya Quira." menunjuk kearah Quira.
Quira pun hendak melarikan diri, namun ku tahan dengan menarik kerah bajunya dari belakang. "Lo mau kemana?."
Quira pun berbalik badan menatapku. "Hehehe." jurus andalan saat melakukan kesalahan adalah tertawa dahulu, setelah itu mengakui kesalahan yang di buat sambil tersenyum lebar.
"Gw di kepung sama wartawan yang ada di depan gerbang rumah lo." nada bicara Nita pun berubah menjadi melow. "Terus lo, ninggalin gw sendirian dan lo janji bakal datang secepatnya bawa bantuan, dan lo enak kabur sendiri."
Sasya 'pov end
...⚘⚘⚘...
Setelah melalui pertengkaran yang saat dahsyat, mereka pun akhirnya berbaikan dengan sendirinya. Dan hari pun sudah semakin gelap.
"Sya, ponsel lo nggak aktif sih?." tanya Quira.
Sasya pun menaikan bahunya. " Hilang ponsel gw."
"Gimana kalo kita shopping?." ajak Nita. "Gw beliin lo ponsel model terbaru, kali ini gw yang traktir."
"Really?." ucap Sasya.
"Sure?." lalu Quira pun bertanya.
"Yes, of course !!."
Sasya dan Quira pun memeluk Nita.
"Kira-kira wartawannya udah pergi, belum ya?." tanya Nita.
"Kayaknya udah deh."
"Ngapain sih, mereka ngeliput kita?." Sasya yang heran.
"Mendadak lupa, kan lo nggak ada ponsel jadi nggak up to date." kerus Quira.
"Emang kenapa sih, Ta?." beralih tanya kepada Nita.
Nita pun langsung membuka ponselnya. "Kita trending di twitter number one, gara-gara kemarin yang balapan."
"Nggak cuman twitter, semua sosial media, dan berita ditelevisi juga."
"Kayaknya kita hari ini nggak usah keluar rumah dulu, nanti takut ketemu wartawan gimana?."
"Terus, nggak hadi shopping donk?."
"Nggak usah dulu ya Ra, demi keselamatan kita. Next time gw bakal tepatin janji gw."
"Jadi kalian mau nginap kan?." ucap Sasya.
"Bo..." ucapan Quira terhenti, karena Nita membekap mulut Quira..
"Kayaknya, kita pulang aja deh." menarik tangan Quira. "Bye, stay healthy." berlalu meninggalkan Sasya.
"Bye, take care guys."
...⚘⚘⚘...
Saat mereka berdua telah sampai di depan mobil Nita tepat dihalaman parkir Sasya. Quira pun melepaskan genggaman tangan Nita.
"Lo kenapa, Ta.?"
"Ingat, saat ini Sasya butuh ketenangan. Biarkan 1 sampai 2 hari dia sendiri dulu, nanti gw lanjut pas diperjalanan. Takutnya Sasya ngelihat kita berdebat, terus curiga gimana?."
"Oke." Quira pun masuk kedalam mobil Nita.
Sekiranya mereka sudah jauh dari rumah Sasya, Nita pun memberhentikan mobilnya dipinggir jalan.
"Jadi ini berita masih belum pasti. Saat kejadian tadi pagi yang Sasya alami itu, ada salah satu dari teman alex yang ngeliat Sasya kabur dari club dalam keadaan mabuk dan tiba-tiba saat mau menghampiri Sasya, ada seorang cowok yang menggendong Sasya masuk kedalam mobilnya."
"Jadi kesimpulannya Sasya kemungkinan depresi gara-gara diperkosa?."
"Ini belum pasti, tunggu masa yang tepat pasti dia akan cerita sama kita. Apapun permasalahannya dan apupun resikonya Sasya sahabat kita, kita harus selalu dukung dia dalam keadaan apapun."
"Kapan Alex cerita ke lo?."
"Sebelum gw jemput lo, untuk kerumah Sasya. Sialnya rumah Sasya dikerumunin wartawan."
"Ohh, pantes lo tiba-tiba jemput gw. Karena masalah ini lo jadi cemas, right?."
"Yes, ini udah malam gw harus cepat anter lo sampai rumah." sambil memasang kembali seat belt dan menyalakan mobilnya.
¤
¤
¤
¤
¤
¤
🖍Jangan lupa Vote dan Like 🖍
📖 Selamat Membaca 📖