Together Again

Together Again
Imajinasi



Teriknya matahari menyinari langit Jakarta, terlihat segelintir di jalan raya hanya rame dengan kendaraan saja, pejalan kaki maupun sejumlah cafe hits pun sepi. Saking teriknya matahari membuat orang pun enggan keluar jika tidak mengendari kendaraanya dengan hal kepentingan darurat. Jangan tanyakan keberadaan anak ekstrovert yang sudah pasti mereka sedang bersembunyi di rumah ketimbang berada di luar sana dengan cuaca yang lumayan panas dan bisa membakar kulit. "Cuaca panas gini enak ke mixue nih." guman Sasya. Kemudian gerai es krim yang sedang viral pun tidak jauh keberadaannya setelah Sasya bergumam.


"Mbak oreo sundae satu ya, dine in and cash." ramah Sasya pada pelayan gerai es krim tersebut.


"Ditunggu ya kak, ini antriannya nanti dipanggil." pelayan tersebut memberikan secarik kertas.


"Oke, thank's." Sasya pun mencari tempat duduk yang nyaman.


"Sasya, lo dicariin pak bos di kantor." seseorang itu berbicara seraya menarik tangan Sasya.


"What?." menoleh kearah seseorang yang memanggilnya ternyata itu Alma sekretarisnya Nico. "Eh, Alma."


"Syukur deh, gw ketemu lo di sini. Tapi lo ngga kenapa-kenapa kan, soalnya ponsel lo mati ngga bisa di hubungi." cemas Alma.


"I'm fine Alma, wait soal ponsel gw silent atau mungkin juga ponsel gw lowbat Al." ucap Sasya sambil cengengesan.


"Ya udah lo langsung balik ke kantor ya." titah Alma.


"Iya Al, by the way thank's ya. Gw ambil es krim gw dulu." Sasya bergegas mengambil pesanannya. "See you Al." melambaikan tangan meski raut wajahnya panik.


"See you too, take care Sya and good luck." melihat Sasya yang cepat menghilang dari pandangan Alma.


...⚘⚘⚘...


"Wah mampus gw, pasti diomelin." bergegas lari kearah lobby dan langsung memasuki lift yang beruntungnya tengah terbuka. Semua orang yang berada di dalam lift melihat Sasya dengan tatapan yang sangat tajam. Mungkin seluruh kantor sudah tahu mengenai gosip Sasya yang langsung menyebar itu.


"Pak, maaf." ucap Sasya langsung masuk kedalam kerungan Brydean tanpa mengetuk,


napasnya pun masih terengah-engah. "Bentar pak ta-han emosi-nya, sa-ya masih ngatur napas." ucapnya yang terbata-bata.


"Lihat di atas meja." titah Brydean yang masih sibuk menandatangani tumpukan berkas di meja kerja.


Matanya menelusuri meja yang ada di ruangan Brydean. "Ohhh, yang di atas meja sofa pak." ucap Sasya namun Brydean tidak mengubrisnya. Sasya pun membuka paper bag yang berada di atas meja itu. Terkejut melihat isi paper bag tersebut, lalu menghampiri meja kerja Brydean. "Bapak sebelumnya maaf, kan tadi saya berbuat salah terus kenapa bapak ngga marah?." sambil menyembunyikan paper bag di belakang tubuhnya.


"Tadi bilang saya harus tahan emosi." ucap Brydean tanpa menatap Sasya sama sekali.


"Ohhh iya, saya lupa." dengan senyum tipisnya.


"Sudah di buka paper bagnya?."


"Hmmm, tapi sebelumnya maaf pak, itu hadiah buat siapa?."


"Buat yang ponselnya ngga bisa di hubungi, nanti siapkan meeting jam 3 dan jangan lupa untuk cek schedule saya untuk besok."


"Buat saya pak? Wah kayaknya saya ngga bisa terima ponsel yang bapak beri karena ponsel saya pun masih berfungsi dan maaf ponsel saya sebelumnya lowbat." menaruh paper bag di atas meja kerja Brydean. "Maaf pak, saya ngga bisa terima, sebelumnya terimakasih."


Brydean langsung menatap Sasya dengan tatapan tajamnya. Membuat Sasya merasa takut saat di tatap seperti itu. "Ponselmu mana?." tegas Brydean seraya menaruh bolpoin dengan di hentak diatas meja.


Sasya pun merogoh saku celananya. "Ini pak." menaruh ponsel tersebut di atas meja kerja Brydean.


Brydean bangun dari duduknya hendak melempar ponsel Sasya. Syukur Sasya mengetahui gerak gerik Brydean. "Ahhh, Bapak mau ngapain, ihh jangan di lempar pak." rengek Sasya. "Saya nangis nih pak terus teriak minta tolong." menahan lengan Brydean yang memegang ponselnya.


"Ya sudah saya sita, kalau ngga mau di sita terima ponsel yang saya beri, itu ponsel model terbaru yakin ngga mau?."


"Ya deh, saya ambil." matanya yang mulai berkaca-kaca dengan perasaan pasrah mengambil paper bag tersebut. "Mana ponsel saya, lagi kenapa ngga dibalikin ponsel yang ini?." kesalnya.


"Intinya yang sudah dibeli tidak dapat dikembalikan lagi." menyodorkan ponsel Sasya.


"Lah, terserah bapak deh, saya bad mood mau pulang aja." pergi meninggal ruangan Brydean.


"Yang bos siapa sih sebenarnya? Kalau bukan Bunda yang bawa dia keperusahaan ini, gw udah fired dari awal." gumamnya.


Setelah menyelesaikan semua berkas yang ditanda tangani, tidak terasa waktu berjalan begitu cepat. Brydean harus memulai mempersiapkan meeting. Menyambungkan telepon kantor dengan Alma. "Siang pak, ada yang bisa saya bantu?." ucap ramah Alma.


"Alma, tolong siapkan ruang meeting dan tolong kerja samanya hari ini anda yang presentasi menggantikan Nico." tegas Brydean, langsung mematikan sambungan telepon tersebut.


Saat Brydean hendak bersiap keluar ruangan seseorang mengetuk pintu. "Bapak, apa yang harus saya bawa saat meeting?." ucap Sasya seraya tersenyum.


"Tadi katanya mau pulang?." duduk di tepi meja menghadap ke Sasya dan membuka bungkus rokok.


"Ngga jadi saya pulang, nanti bapak potong gaji saya lagi." Merebut sebungkus rokok di tangan Brydean. "Apaan sih pak? Nanti alarm kebakaran bunyi." Sasya selalu sigap saat Brydean selalu ingin merokok didalam ruangan.


"Siniin rokok gw !!! Lo duluan keruang meeting bawa ipad terus kalau lo mau nyatet juga boleh, terserah mau dibuku atau di ipad. Yang jelas gw stress gw butuh rokok." merebut sebungkus rokok ditangan Sasya.


"Terus bapak mau ngerokok dimana?." tanya polos Sasya.


"Dikamar mandi, mau ikut?."


"Ngga dulu, terimakasih." berlalu meninggalkan Brydean.


...⚘⚘⚘...


Matahari sudah tenggelam, terdengar suara air mengalir dari shower, aktifitas mandinya pun usai dan melilitkan handuknya di badan mungil, berjalan menuju walk in closet. "Akhirnya bisa rebahan juga setelah seharian kerja rodi." menikmati kasurnya yang nan empuk itu setelah Sasya membersihkan tubuhnya. "Bentar kayaknya tadi pagi gw bawa sekantong obat buat Brydean deh." Bangun dari tidurannya bergegas lari menuju mobil yang tadi pagi dikendarai. "Hmm, diantar sekarang atau besok ya?." bingung Sasya.


...⚘⚘⚘...


Terdengar beberapa kali suara bell ditekan dari luar sana, bergegas untuk membuka pintu tersebut. "Hi bapak." ucap Sasya yang berdiri diambang pintu melihat Brydean shirtless.


"Bapak, bapak, saya bukan bapakmu."


"Oke Luke, saya bawa obat." menyodorkan paper bag yang berisi obat. "Ini bagus untuk mempercepat masa pemulihan."


Menaiki sebelah alisnya. "Saya sudah sembuh." ucap sombongnya. "Tau dari mana gw di apart?."


"Soalnya saya punya mata batin." seraya memperagakan membuat mata sipitnya.


"Lo ngga takut ke apart cowok lajang malam-malam?."


"Ini masih jam delapan kok, belum terlalu malam." melihat jam yang melingkar di tangannya. "Ya sudah kalo gitu saya mau langsung pulang, bye." memaksa Brydean untuk memegang paper bagnya. Berlari dari hadapan Brydean.


"Wait." kejar Brydean menarik lengan baju Sasya.


"Apa lagi? Saya mau pulang, setelah dipikir ternyata ada benarnya ngga boleh ke rumah cowok lajang malam-malam, ntar kalau saya di perkosa gimana?."


Brydean sontak langsung menutup mulut Sasya karena ada kata-kata yang membuat semua orang yang lewat menoleh kearah mereka. "Syutt, bisa ngga bicaranya pelan sedikit?." bisik Brydean ditelinga Sasya. Sasya pun mengangguk mengikuti perintah Brydean, lalu memukul tangan Brydean agar melepaskan bekapan tangan.


Sasya menghembuskan napas panjang. "Oke, maaf." suara pelannya.


"Ya sudah sana pulang." usir Brydean.


"Dihhhh, ngga jelas banget jadi orang, dasar labil kayak remaja." kesel Sasya dengan suara cepatnya seperti kereta express. Membelakangi Brydean dan berlari kecil menuju lift.


...⚘⚘⚘...


Brydean menggelengkan kepala. "Belum, saya tinggal di apart." jawab datarnya seraya berdiri dari duduk.


"Ihh malah ditinggal bukan diminum, ya sudah nanti saya ambil." Tangan mungilnya cekatan merapikan jas dan dasi Brydean.


"Tidak ada yang lebih sopan bajumu?." melihat dress kantor yang ketat membentuk tubuh indah Sasya.


Sasya menunduk melihat pakaian yg sedang dipakai. "Tapi kalau tidak sopan kenapa banyak orang dikantor pakai dress kantor yang lebih ketat dari saya?." heran Sasya.


"Mereka pas sejajar dengan lutut, tidak diatas lutut seperti lo pakai."


"Iya kah? Perasaan saya ada yang lebih pendek dari saya."


"Terserah lo, jangan kekantor sebelum ganti baju yang lebih sopan atau lo mau dijadiin bahan diimajinasi?. Sepuluh menit lagi akan datang kurir paket, jadi tetap stay disini sebelum kurir paket datang." Berlalu meninggalkan Sasya yang sedang mematung.


"What? Dia sangat diluar mars kelakuannya." memijat dahi daan berusaha untuk mencerna dan mendudukkan diri dikursi meja makan.


...⚘⚘⚘...


Brydean 'pov


Seseorang mengetuk pintu ruangan kerjaku. Berharap sekretarisku yang kayak siput itu datang, tapi itu Alma yang memberikan soft file untuk materi presentasi hari ini yang harusku pelajari. Setelah Alma berbincang banyak untuk materi yang akan dibahas hari ini, Alma pun beranjak pergi. Saat ia sudah berada di ambang pintu aku mendengar samar suara Sasya memanggil Alma, hanya itu yang aku dengar karena Alma langsung menutup pintu ruangan. Tidak lama itu pun pintu terketuk kembali, tapi kali ini bukan Sasya yang masuk melainkan cleaning service yang membawakan segelas kopi.


Bruk


Suara hentakan meja terdengar renyah dipukul. Terlihat seorang cleaning service pun terkejut.


"Maaf pak, saya salah apa?." ucap seorang pria cleaning service.


"Ekhem, ngga ada yang salah. Lihat Sasya dimeja kerjanya?."


"Ada pak, tadi saya lihat sama Bu Alma. Perlu saya panggilkan?."


"Tidak perlu." ucap datarku. Stupid girl, dia makin seenaknya aja dikantor gw. Cleaning service itu pun menundukkan badan dan pergi keluar dari ruangan.


"Permisi." Alma pun kembali masuk setelah mengetuk pintu dan menghampiri meja kerjaku. "Bapak ini berkasnya sudah divalidasi ya."


"Sasya kemana? Tadi dia yang bawa berkas ini dari rumah saya." bingungku.


"Permisi pak." Sasya masuk setelah mengetuk pintu. "Alma ini ketinggalan juga." ucap Sasya mengahampiri Alma dan menunjukkan berkas yang tertinggal.


"Ini Sasya pak." ucap polos Alma menunjuk Sasya.


"Alma silahkan kembali ke meja kerja." titah tegasku.


"Baik, pak." menunduk dan lekas pergi, tetapi Sasya pun malah membuntuti Alma.


"Hi Sasya come here."


Membalikkan badan dengan pasrah dan berlari kecil kehadapan meja kerja Brydean. "Siap, saya disini pak."


"Baju yang saya berikan terlalu kecil?."


"Lebih tepatnya terlalu besar and no match sama saya pak." seraya tersenyum. "Tapi sebelumnya saya mau nanya pak, maksud dari di imajinasiin itu apa?."


flashback on


Brydean meninggalkan mereka berdua berlari menuju kamar terdekat, memasuki kamar mandi dan melepas seluruh pakaian yang di kenakan. Sesuatu di bawah sana sudah mengeras sejak tadi yang harus segera di puaskan, tidaklah mudah menahan hasrat yang sudah mengusai bukan?. "Let's play." menuangkan sabun cair kedalam genggamannya. "I'm so sorry Sasya, kali ini lo akan jadi imajinasi dalam pikiran gw."


"Hmm... ****." desahnya. Sampai di detik ******* Brydean pun meneriaki nama Sasya. "Owh, Damn." Menghembuskan napas panjang cepat, mengatur deru napas yang sebelumnya hampir kehilangan oksigen. Melanjutkan untuk berendam di dalam air hangat.


tring, tring, tring


Ponsel Brydean berdering saat ia sedang berendam di dalam bathtub.


"Bapak, saya sudah menyelesaikan tugas. Saya pamit untuk pulang terlebih dahulu bersiap ke kantor." ucap Naomi di sebrang panggilan tersebut


"Tunggu saya di ruang kerja." Brydean pun menutup panggilan tersebut dan menyudahi berendam keluar dari bathtub.


Brydean menghampiri Noami di ruang kerja. "Tolong reschedule, ada problem yang harus saya selesaikan."


"Baik, pak." Naomi menghembuskan napas panjang, hendak bersiap untuk menanyakan sesuatu hal yang membuatnya terheran-heran sejak awal kedatangannya. "Maaf pak saya lancang, sebelumnya Sasya itu pacar bapak?."


Brydean menggelengkan kepala.


"Lalu, siapa dia pak?."


Brydean menceritakan tentang siapa sebenarnya Sasya kepada Naomi. (Cerita Brydean pernah di jelaskan dengan Naomi pada bab Nikah).


Setelah mendengar penjelasan dan membuatkan sarapan untuk Brydean sekaligus Sasya, Naomi pamit pulang dan setelah itu ia harus meng-handle pekerjaan Brydean hari ini. Brydean hendak menuju kamar berjalan menaiki anak tangga. Memasuki kamar melihat Sasya sedang terlelap bersandar di headboard, lalu pandangan mata Brydean tertuju pada gelas yang masih tersisa minuman di atas nakas. "Jus lemon." meraih minuman tersebut. Brydean menyadari bila minuman itu Naomi yang buatkan. Smrik. "Pereda hang over." menaruh gelas itu kembali, lalu membenarkan posisi tidur Sasya. "Turn on again. Ntah gw yang sangean atau gimana sih?." berdecak kesal. Kali ini Brydean harus memuaskan adik kecilnya lagi yang sudah mengeras.


...⚘⚘⚘...


Setelah Sasya pergi dari rumah Brydean, raut wajah Brydean tampak kesal dan mencoba menghubungi seseorang di balkon kamar-nya.


"Bro, kali ini gw udah masturbasi dua kali dan tegang tiga kali." ucap Brydean dengan nada pasrah pada Nico di sambungan telepon.


"Baguslah normal, cewek semalam yang bikin lo gini?."


"Gw kan tipe orang yang sekali pakai. Gw capek masturbasi, gw butuh pemuas. Cari cewek virgin di tunggu setengah jam dari sekarang di apart gw." tegas Brydean.


"Hey Bro, it's still morning. Maybe sedikit sulit karena mereka biasa memuaskan klien pada malam hari."


"Gw ngga peduli, hitung mundur setengah jam dari sekarang atau lo bersiap untuk kehilangan pekerjaan." menutup panggilan tersebut dan bersiap menuju apartement.


NB: let's see di bab selanjutnya masih ada sambungan flashbacknya nihhhh


¤


¤


¤


¤


¤


¤


🖍 Jangan lupa Vote dan Like 🖍


📖 Selamat Membaca 📖