
Luke berjalan menuju ruangan dengan suasana hati yang tidak baik, kali ini ia telat 2 jam. Sampai ia masuk ruangan pun sekretaris yang sudah seharusnya menyambut kedatangan-nya tidak membuntuti. Duduk di meja kerja dengan muka yang sangat kesal, menelpon sekretaris dengan telepon kantor. Hening saat panggilan tersebut tersambung, Sasya bahkan tidak mengucapkan satu kata apapun dari mulut mungil-nya, karena ia menunggu penelpon awal berbicara dengan raut wajah yang kebingungan. Luke menutup panggilan telepon tersebut dengan kasar, berjalan menuju ruang sekretaris.
"Bisa kerja ngga?." bentak Luke dengan nada tingginya di ambang pintu. Sasya pun yang tengah fokus di hadapan laptop, sontak langsung berdiri dengan menundukkan kepala.
"Heh, berani bentak anak kesayangan bunda." ucap Arumi seraya menarik telinga Luke, kedatangan Arumi belum lama dan sempat melihat Luke membentak Sasya. Situasi yang sangat menguntungkan tidak ada seorang staff pun yang melihat aksi tersebut. "Dia harus banyak belajar, ngerti....!!!." tegas Arumi.
Luke mencoba memberontak melepas tangan Arumi yang menarik telinga-nya yang sudah memerah. "Ckkk, iya Luke latih dia supaya bisa." jawab Luke dengan raut wajah memelas. "Tapi lepas dulu." memohon Arumi melepaskan telinga-nya yang di tarik. Arumi pun menuruti perkataan Luke. Dengan sigap Luke kembali berdiri tegak dan merapikan jas yang sudah berantakan. Luke menghampiri Sasya, membuktikan bahwa ucapan-nya bukan omong kosong. "Duduk !!." bisik Luke kepada Sasya. Ia menarik kursi kosong lalu duduk di sebelah Sasya.
"Sasya, bunda ada urusan. Kalo Luke jahatin kamu, bilang ke bunda, see you !!." Arumi mengusap halus rambut Sasya, lalu beranjak pergi meninggalkan mereka.
Sekiranya sudah hilang punggung Arumi dari pandangan Luke, ia menatap sinis kepada Sasya. Meninggalkan Sasya sendiri di ruangan.
"Huft.... ahh... kan gw udah bilang ini bukan kompetensi gw." guman Sasya menyenderkan badannya di kursi. Tiba-tiba tersadar Luke membuka pintu ruangan, Sasya segera kembali posisi siap dan duduk tegap menghadap laptop.
Menghampiri Sasya. "Keruangan saya." titah Luke. Sasya mengangguk dan mengikuti perintah. Sasya berdiri di depan meja kerja CEO dan Luke melempar sebuah note berserta pulpen ke atas meja, tidak lupa Ipad sudah di atas mejanya. "Saya yakin anda bijak dengan benda-benda yang ada di hadapanmu dan tidak perlu di beri tahu kegunaannya."
Sekurang-kuranganya gw ngerti dikit, ada faedahnya juga nonton Drakor tentang CEO dan sekretaris. Sasya mengangguk, lalu membungkukkan badan sebelum kembali ke ruangannya.
...⚘⚘⚘...
Hari kedua Sasya menjadi sekretaris....
Setelah kemarin seharian penuh mempelajari bagaimana menjadi sekretaris yang baik, bahkan kemarin malam sebelum ia tidur, Sasya menelpon Naomi untuk menanyakan hal-hal yang di lakukan sekretaris. Kali ini Sasya mengunjungi rumah Luke melaksanakan tugas sebagai sekretaris. Memarkirkan mobil di basement bawah tanah rumah Luke. Disana bahkan seperti showroom mobil, berbagai macam dan jenis mobil berada di basement tersebut. Jajaran koleksi mobil mewah dan mobil sport-nya membuat hati Sasya sedih bagaikan debu-debu pasir yang beterbangan. Ketika Sasya bertemu seseorang yang lebih berduit dari-nya. Menaiki lift dari basement menuju lantai satu.
Luke 'pov
Berdiri di balkon lantai dua rumah, melihat Sasya sedang memasuki halaman rumah kearah basement. Menuruni anak tangga menunggu Sasya di depan lift.
...⚘⚘⚘...
Sasya 'pov
Pintu lift terbuka aku sontak kaget karena Brydean sudah berada di depan lift. Berjalan keluar dari lift, tidak lupa untuk menyapanya dengan membungkukkan badan. "Pagi pak." tapi aku heran kenapa Brydean sudah berpakaian rapi, Naomi mengatakan kalau aku harus menyiapkan kebutuhan yang diperlukan sebelum ke kantor termasuk setelan kemeja dan jas.
"Pukul tujuh.... seorang sekretaris seharusnya tidak datang pada pukul tujuh." ucap Brydean seraya melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan.
Mengerutkan dahiku. "Hah, bukannya tidak telat pak?." aku pun ikut melihat jam di pergelangan tangan. Brydean terus menatapku tanpa menjawab pertanyaanku. Tatapan yang berubah menjadi tatapan tajam seperti elang yang ingin menerkam mangsanya, membuatku ngeri dan takut saat memandang bola mata tersebut, aku hanya bisa menunduk untuk menghindari eye contact. Tiba-tiba ponselku bergetar di dalam saku dress selutut, ya aku bisa merasakan getaran tersebut.
Aku membuka pesan tersebut di hadapan Brydean yang masih menatapku ngeri, pesan teks tersebut dari Naomi. Betapa terkejutnya aku melihat pesan teks tersebut, sontak tanganku pun menutup mulutku yang ingin berteriak. What, gw harus gimana nih? huft ya, ya... gw harus minta maaf. Kembali menatap Brydean dan menelan ludah kasarku. Tidak lupa untuk ketawa andalan. "Bapak, saya benar-benar minta maaf. Saya mengaku kalau saya telat."
"Ulangi." ucap Brydean dengan nada dingin.
Wah, emang benar-benar orang satu ini, bikin gw emosi. Menarik napas panjang. "Maaf pak saya telat." membungkukkan badannya.
"Ulangi." menatap dengan tatapan mematikan.
Ah..... kata-kata apa yang kurang di kalimat permintaan maaf gw?. Emang ini orang ngajak ribut. "Maaf pak ini salah saya, saya janji tidak mengulangi-nya lagi." tersenyum manis.
"Ulangi, dengan kalimat siap salah saya telat, tidak diulangi lagi....." nada bicara Brydean meninggi. "Lari keliling rumah saya 100 putaran !!!." tegas Brydean.
Sasya mematung mendengar perkataan tersebut. Perkataan tersebut membuat kaki Sasya lemas.
"What... sekarang pak? bapak becanda kali." dengan cengengesan. Damn... gila ini orang emang. Perasaan gw kerja kantoran bukan jadi mahasiswa militer.
"Now !!!." ucapnya dengan wajah datar nan dingin.
Sasya hanya pasrah ia pun berjalan menuju halaman depan rumah Brydean. Help me... sanggup ngga ya, ini kan rumah besar dan luas banget. Gw aja yang lari di GBK suka berhenti di pertengahan apalagi ini kayaknya ngga ada toleransinya. Sasya pun mulai berlari dengan Brydean yang memantau pergerakannya di halaman depan. Sudah sejauh setengah perjalanan ia berlari, berhenti sejenak mengatur deru napas.
"Come, run." ucap Brydean tepat di belakangnya.
Sasya menoleh ke arah belakang. Ah, manusia ini ngapain sihh?. "Pak, berhenti sebentar ya.... saya ca-pek." ucapku dengan deru napas ngos-ngosan.
"Go, run... hukumanmu masih 99 setengah putaran." kini Brydean pun ikut berlari mengikuti Sasya, dengan baju yang sudah berganti dengan setelan olahraga sedangkan Sasya masih dengan baju dress yang ia pakai sebelumnya.
...⚘⚘⚘...
Akhirnya 99 setengah putaran pun telah usai dengan waktu 3 jam. (Lama banget ya, rumahnya keluasan sih.) Sasya pun terbaring lemas di teras depan dengan deru napas yang sangat cepat dan tentu dehidrasi. Tapi karena Brydean orang penting yang selalu di kunjungi banyak orang. Ia selalu menyediakan air mineral botol di meja ruang tamu. Sasya berlari mengambil air mineral di meja tersebut. "Pak saya minta air ya..." teriak Sasya dengan Luke yang sedari tadi setelah lari, ia langsung masuk ke dalam rumah-nya ntah kemana. "Huh, gila emang hari ini. Besok kalau masuk pendidikan militer langsung masuk ngga perlu tes." guman Sasya.
"Belum tentu langsung masuk." celetuk Brydean yang kali ini sudah rapi dengan setelan jas dan kemeja. "Push up 20 kali." tegas Brydean.
"You make a lot of mistakes." menyilangkan tangan di dada. "Sadari dan pelajari selama seminggu."
Menelan ludah kasar, Sasya pun mengikuti perintah Brydean. "Oh ya pak, saya ngga bisa push up, hehehe."
"Lakukan sebisa mungkin."
Sasya menemukan alasan agar ia tidak melakukan push up. "Pak kita ngga ke kantor?."
"Setelah hukumanmu selesai." ucap nada dingin.
"Pak, tapi kita udah telat loh..."
"Lakukan hukumanmu sekarang." nada bicara Luke naik satu oktaf.
"Tapi pak.."
"I'm big boss, saya yang punya peraturan semua itu dan kalian staff harus mematuhi semua perintah bos." sombong Brydean.
...⚘⚘⚘...
Sesampainya di kantor Sasya dengan penampilan kucel dan berantakan. Sebelumnya ia sudah memohon untuk membersihkan diri terlebih dahulu, tetapi Brydean tidak mengizinkan dengan alasan tidak ada waktu lagi, mereka harus cepat kembali ke kantor. Setelah membuntuti Brydean sampai ke ruangan dan menjelaskan schedule hari ini. Sasya mencuri-curi waktu untuk pergi dari ruangan-nya, pulang ke rumah membersihkan diri. Memesan taxi online karena mobil Sasya berada di rumah Brydean. "Ah... ternyata enak juga lari dari CEO ribed itu." gumam Sasya. Sasya meraba saku, tetapi tidak menemukan ponsel-nya. "Sepertinya tertinggal di meja ruangan." gumamnya dengan santai.
Satu jam kemudian Sasya kembali dengan aman dan selamat, rencana berhasil tidak ada masalah sedikit pun. Berjalan memasuki lobby. "Sasya." panggil staff resepsionis. Langkah kaki Sasya terhenti lalu menghampiri staff resepsionis wanita tersebut. "Tadi pak bos nyariin." tiba-tiba staff yang berada di depan Sasya menundukkan badan. Sasya bingung lalu ia menoleh ke sekitar dan ternyata Brydean berada tepat di belakanganya. Menelan ludah kasar saat melihat Brydean dengan tatapan mematikan. Sasya hanya bisa menunduk.
"Keruangan saya." bisik Brydean.
...⚘⚘⚘...
Memasuki ruangan Brydean. "Siap salah, saya janji untuk terakhir kali tidak mengulangi kesalahan saya." sambil menunduk tidak mampu Sasya untuk menatap mata Brydean kali ini.
Brydean menyentuh dagu Sasya untuk tidak menunduk lagi dan menatap Sasya. Tetapi tetap Sasya enggan menatap Brydean karena sangat takut. "Hey, dua kali kesalahanmu berturut-turut hari ini. Setiap perusahaan punya peraturan tersendiri yang harus di patuhi dan di taati oleh staff yang bekerja, sama seperti negara yang punya peraturan tersendiri yang harus di patuhi warga negara yang tinggal di dalam-nya, tidak ada yang seperti dirimu bertingkah semaumu dengan membuat peraturanmu sendiri. Kalau bukan karena nyokap gw, lo udah gw pecat hari ini."
Sasya hanya bisa terdiam mendengar ucapan Brydean. Nada bicara Brydean biasa saja tapi perkataan yang keluar dari mulut-nya, membuat hatiku tertusuk-tusuk.
"Oke, hari ini kita ada meeting dengan investor." ucap Brydean yang membaca schedule hari ini di Ipad.
Sasya memberanikan diri menghampiri Brydean. "Pak, saya minta maaf ya... Saya janji tidak akan mengulanginya lagi." mengangkat tangan kanan sebagai sumpah dengan senyuman manis di wajah-nya.
"Apa bisa di pegang janjimu?."
"Siap bisa pak, saya janji." tersenyum dengan menunjukkan gigi rapi Sasya.
...⚘⚘⚘...
Hari ketiga.....
"Semoga lebih baik dari hari sebelumnya, aamiin." guman Sasya sebelum membuka pintu rumah Brydean yang di dalam-nya selalu ada kejutan yang sangat tidak di duga. Memasuki rumah tersebut lalu berjalan menuju kamar Brydean. Jarum jam menunjukkan pukul 05.56 WIB. Mengetuk kamar Brydean terlebih dahulu. Naomi pernah mengatakan ketuk dahulu pintu baru kita masuk kedalam kamar tersebut, itu sudah termasuk sopan karena mungkin saja dia sedang berada di kamar mandi. Sasya terkejut melihat Brydean masih terlelap dengan kertas-kertas yang berserakan di atas ranjang dengan laptop yang masih menyala. "Wah, dia nyuruh gw dateng pagi, tapi sendirinya belum siap." merapikan kertas-kertas yang berserakan di atas ranjang tersebut. "Apa gw kepagiaan ya?." melihat jam yang berada di atas nakas. "Ngga kayaknya, kata Naomi sebelum jam 6." gw harus tungguin dia bangun atau bangunin ya? bingung ihs... tapi kalo liat pas dia lagi tidur mukanya enak di pandang tentram banget. "Oke, sambil nunggu dia bangun gw masak dulu aja, bapak maaf ya saya atur alarm di jam atas nakas bapak. Nah nanti kan dia bangun dengar alarm itu."
Sasya membuka kulkas memilih sayuran dan daging untuk di masak. Tapi Sasya tidak jadi masak dengan pilihan bahan pertama, karena jatuhnya bukan sarapan malah makan berat. Memutuskan untuk bikin sandwich. Setelah selesai membuat sandwich, tepat perkiraan waktu yang Sasya sudah atur di alarm tersebut, Sasya selesai dengan selang waktu 5 menit alarm tersebut sudah berbunyi. Bergegas ke kamar Brydean menyiapkan pakaian untuk hari ini, berjalan menuju walk in closet memilih setelan jas yang pas untuk Brydean. "Hmmm, ngga sia-sia kan gw bisa mix and match outfit." ucapnya setelah selesai memilih setelan jas tersebut. Brydean masuk walk in closet dengan bathrobe hendak memakai celana dan kemeja di ruang ganti yang berada di walk in closet. Sasya sibuk memilih dasi dan jam tangan untuk Brydean. Setelah Brydean memakai celana dan kemeja, Sasya pun dengan sigap langsung memakaikan dasi. Sudah terlihat rapi, lalu mereka ke lantai bawah untuk sarapan. Seselesainya mereka sarapan Sasya memakaikan jas untuk Brydean. Lalu mereka bergegas menuju kantor.
¤
¤
¤
¤
¤
¤
¤
🖍Jangan lupa Like dan Vote 🖍
📖 Selamat Membaca 📖