Together Again

Together Again
Pancake



Brydean memarkirkan mobil di lahan parkir restaurant. Sasya tengah sibuk bercermin di sun visor. "Ayo Ca !!!." titah Brydean melepas seatbelt dan hendak bersiap turun.


Sasya berdecak. "Gw ngga jadi turun lah, gw malu kayak orang habis nangis." dengan raut wajah memelas.


Brydean turun dari mobil, menutup pintu mobil dan berputar membuka pintu mobil depan penumpang. Brydean membungkuk melihat wajah Sasya. "Realitanya memang lo habis nangis kan, come on dinner." duduk di pinggir kursi samping Sasya yang masih tersisa. Brydean mencari keberadaan tas Sasya. Jujur itu cukup menggangu Sasya yang sedang bercermin. Melihat wajahnya yang sembab itu. "Tas lo mana Ca? Gw butuh korek sama rokok."


Sasya dengan sigap menyembunyikan tas-nya agar Brydean tidak bisa mengambil pemantik dan rokok. "Ngga ada rokok hari ini, come dinner." Sasya mengusir Brydean yang duduk di sampingnya, karena Sasya ingin keluar dari mobil. Tidak lupa sun visor itu di tutup kembali, sebelum turun pun Sasya mencabut kunci mobil. Lalu turun menutup pintu mobil dan menekan lock remote mobil. Mendorong lembut Brydean agar terus berjalan memasuki restaurant.


Tidak jauh dari pintu masuk Brydean pun memilih meja yang ada di hadapannya dan mendudukkan diri. Melihat Sasya yang tampak pasrah menopang wajah dengan tangannya yang menempel di atas meja. Melihat Sasya yang seperti itu dengan mata sembabnya Brydean dengan cepat memotret Sasya. Tetapi Sasya sadar kamera ia pun berusaha merebut ponsel Brydean. Berdecak kesal. "Ihh, coba lihat hasil fotonya."


Brydean berusaha menghalangi Sasya agar tidak mengambil poselnya. "Stttt, bagus kok. Bisa jangan berisik ngga Ca ?!!!, kasian customer lain." tegas Brydean.


Sasya kesal seperti anak kecil mendudukkan diri di samping Brydean, lalu menidurkan kepalanya di atas meja dengan wajah yang membelakangi Brydean. Pelayan tampak menghampiri mereka dengan raut wajah terheran yang melihat Sasya menidurkan kepala di atas meja. Pelayan memberikan menu kepada Brydean. Brydean hendak memilih menu. "Maaf pak, pacarnya nangis. Apa sebaiknya jangan terus diabaikan?." tiba-tiba seoarang pelayan perempuan tersebut melontarkan ucapan.


"Saya mau pesan semua menu yang paling favorit disini." Brydean menutup menu tersebut dan mengembalikannya. Pelayan pun menunduk dan cepat pergi dari hadapannya. "Brydean menarik kursi Sasya agar mendekat padanya, supaya ia bisa memastikan kalau Sasya menangis atau tidak. "Lo nangis Ca?." mencoba mengangkat kepala Sasya agar tidak meniduri kepalanya di atas meja, setelah berhasil mengangkat kepalanya, Sasya malah meniduri kepalanya lagi di atas meja.


"Ihs, gw ngga nangis. Kan memang dari awal juga mata gw sembab karena habis nangis." ucap Sasya yang berbicara sambil meniduri kepalanya di atas meja membelakangi Brydean.


Brydean menemukan ide agar Sasya tidak terus meniduri kepala diatas meja. "Lo mau lihat foto yang tadi ngga?." membuka ponsel. "Tapi harus duduk yang benar." titahnya.


"Iya, mau !!!." dengan penuh semangat Sasya bangun dan duduk tegap, menanti Brydean memberikan ponsel kepadanya.


Setelah beberapa hitungan detik ponsel yang sudah berada di tangan Sasya di rebut kembali. "Udah cukup." memasukkan ponselnya kedalam saku.


"Nanti fotonya kirim ke ponsel gw ya." Sasya berusaha membaik-baikan Brydean dengan raut wajah memelas seraya tersenyum.


"Lah, mendadak amnesia. Lupa kalau lo udah ngga punya ponsel." mengacak-acak rambut Sasya.


Sasya hanya cengenggesan. "Besok beli gw." Sasya merasa tertampar oleh kenyataan.


...⚘⚘⚘...


Night ride with Brydean yang diam seribu bahasa. "Kita mau kehotel yang tadi?." Sasya berusaha memecahkan suasana yang hening.


"No." Brydean tiba-tiba memberhentikan laju mobilnya dan memparkirkan mobil di sisi jalan begitu saja.


Sasya yang terheran Brydean turun dari mobilnya. "Mau kemana?." tanyanya. Tetapi Brydean pergi begitu saja tanpa menjawab pertanyaan Sasya. "Dih, apaan sih ngga jelas banget orang satu ini." kesal Sasya menyilangkan tangan di dada.


Brydean kembali membuka pintu mobil. "Nih, buat lo." menyodorkan paper bag.


"Ini apa?." Sasya yang bingung enggan menerima paper bag yang di sodorkan Brydean yang masih berdiri di ambang pintu mobil.


"Terima aja, apa susahnya !!! Bukan bom." tegas Brydean. "Cepat, kita harus pindah mobil." Brydean menaruh paper bag di kursi kemudi lalu meninggalkan Sasya.


Sasya melihat kemana arah Brydean berjalan, tepatnya Brydean berjalan kearah belakang mobil dan menaiki mobil sport yang terparkir di belakang. Sasya pun bergegas turun dari mobil, tidak lupa membawa paper bag dan mengambil kopernya yang berada di bagasi. Saat Sasya membuka bagasi kopernya sudah tidak berada di sana. "Maaf nona, kopernya sudah saya pindahkan." seseorang pria berpakaian santai dengan penampilan gagah dan tinggi menghampiri Sasya yang tengah kebingungan dengan ucapan ramah dan sopan menunjuk kearah mobil yang berada di depan mereka. Maybe dia salah satu pegawai Brydean. Brydean mengklakson agar Sasya naik kedalam mobil sport tersebut. "Terimakasih ya." seraya tersenyum kepada pria yang berada di hadapannya dan bergegas masuk kedalam mobil.


...⚘⚘⚘...


Mereka berhenti disebuah villa yang menyuguhkan pemandangan nan indah serta terdengar deburan ombak pantai. Sasya hanya bisa membuntuti Brydean masuk kedalam villa yang sangat aesthetic itu. Brydean membawakan koper Sasya hingga kedalam villa. Saat tengah matanya menelusuri se-isi villa tersebut seraya berjalan membuntuti Brydean. Seketika Brydean menghentikkan langkahnya dan berbalikkan badannya begitu cepat, Sasya yang sedang tidak fokus itu pun menabrak Brydean. "Aww." rintih Sasya yang terkejut menahan kesakitan, walaupun sakitnya tidak seberapa jika menabrak dinding.


Brydean merebut paksa paper bag yang berada di tangan Sasya. Brydean berjalan, lalu melompati meja sofa agar cepat mendudukkan tubuhnya. Sasya hanya diam melihat kelakuan Brydean dan berjalan menghampirinya. Brydean menyenderkan tubuhnya membuka paper bag. "Kenapa lo belum buka, Ca?." mengeluarkan box ponsel dan juga ponselnya. "Ini kan buat lo." menyalakan ponsel tersebut.


Sasya yang tadinya hendak berdiri saja di hadapan Brydean, kini ia duduk bersebelahan Brydean. Mengambil paper bag yang terlihat masih terisi dengan barang. Sasya mengeluarkan box ipad di dalam paper bag tersebut. Tentu saja Brydean merebut box ipad tersebut menukarnya dengan ponsel yang sebelumnya ia pegang. Sasya yang semakin terheran-heran menggaruk kepalanya walaupun tidak gatal. "Gw udah masukin nomor gw di situ." ucap Brydean yang sedang fokus mengotak-ngatik ipad.


"Ponsel yang kemarin di kasih juga belum kepakai, saya rasa ini ngga usah." menyodorkan ponsel kehadapan Brydean.


Brydean tidak mengubris sodoran ponsel di hadapanya. "Ngga apa, buat koleksi lo." menaruh ipad di atas meja, membuka t-shirtnya menaruh kesembarang tempat. "Lo juga butuh buat komunikasi. By the way schedule buat besok udah ada di ipad." bangun dari duduknya meninggalkan Sasya, berjalan keluar villa. Brydean pergi dari hadapannya. Sasya mencoba untuk mengecek schedule di ipad. Brydean yang kembali membawa koper dan hendak memasuki kamar.


Berdiri di ambang pintu kamar. "Dari pada satu hotel seranjang berdua. Ini kamar gw, lo pakai yang di sana." Brydean menunjuk kamar yang tersisa tidak jauh dari kamarnya. Ia langsung memasuki kamar dan menutup pintu tanpa menunggu Sasya menjawab.


Menghembuskan napas panjang. "Huft, ya sudahlah. Gw capek debat sama dia." guman Sasya pasrah. Berlari mengambil koper, memasuki kamar tidak lupa kamar itu pun di kunci.


Brydean keluar dari kamarnya dengan pakaian santai namun rapi. Berlari kecil menuju mobil sport yang terparkir di depan villa.


...⚘⚘⚘...


Terdengar suara dentuman musik saat Brydean memasuki beach club. Menelusuri setiap tempat mencari seseorang. "Hai, Lisa." sapa Brydean setelah ia menemukan seseorang yang ia cari, lalu duduk di samping perempuan cantik nan sexy.


"Mau pesan alkohol?." tawar Lisa seraya meneguk alkohol.


"No for now !!!." menyilangkan tangan dan menyenderkan tubuhnya. "Lo ngga ada rokok?."


"Oh, i see." jawabnya seolah tahu apa yang di maksud Brydean. Mengambil rokok dan pemantik di dalam tas. "Selalu ada buat lo." seraya tersenyum memberikan sebungkus rokok dan pemantik.


Brydean langsung dengan cepat menerima sebungkus rokok dan pemantik, kemudian ia bakar rokok tersebut tanpa basa basi. "Lisa, pesenin gw coffe americano." titahnya.


"Oke, tunggu ya." Lisa menuruti perintah Brydean, ia bergegas menghampiri pelayan. Lisa kembali duduk di samping Brydean. "Lo ngga kangen sama gw?." membuka dua kancing kemeja atas Brydean, menyelipkan tangannya di dada Brydean. Mencium lembut dada hingga leher Brydean. Membuat Brydean merasakan kenikmatan dan deru napasnya pun mulai berat.


Brydean mencengkram rahang Lisa, mengangkatkan kepala. Lalu ia berciuman panas dengan waktu yang cukup lama. "Let's play !!!." melepas ciumannya lalu berbisik tepat pada telinga Lisa. Brydean mengeluarkan sejumlah uang cash, ia letakkan di atas meja. Kemudian mereka bergegas pergi dari beach club. Sesampainya diparkiran dan sudah berada dekat dengan mobil sport. Brydean menarik Lisa kepelukkannya dan mereka mulai berciuman kembali seraya membuka pintu mobil. Brydean menuntun Lisa seraya berciuman memasuki mobil.


Lisa melepas ciuman tersebut. "Use condom?." tawarnya karena tangan Brydean mulai nakal seraya memeras payudara.


"I don't like use that, babe." menyelipkan rambutnya di belakang telinga. "Selama gw di Jakarta, lo having *** sama siapa?." tegas Brydean seraya megegang pinggang Lisa yang duduk di pangkuannya, menatap Lisa dengan tatapan menyeramkan.


"Gw ngga pernah main sama orang lain selain lo, i'm your mine." tangan nakal Lisa mulai beraksi meraba dada bidang Brydean. Membuka semua kancing yang masih tersisa. Lisa mulai berciuman dengan Brydean kembali. Tangan nakal Brydean mulai meremas paha Lisa dan perlahan tangannya naik ke pinggang. Lisa melepaskan ciuman membuka kancing dan zipper celana Brydean, mengeluarkan sesuatu tumpul yang sudah mengeras. Lisa melepaskan dress yang di pakai, menunjukkan tubuh sexy-nya di hadapan Brydean tanpa sehelai benang pun. Perlahan tapi pasti, Brydean mulai memposisikan juniornya masuk kedalam lubang kenikmatan seraya menggesekkan pada ********, membuat Lisa mengerang menggeliat kenikmatan. Tak tahan Brydean hanya menggesekkan pada klitorisnya, Lisa menuntun junior itu, masuk kedalam lubang kenikmatan dengan perlahan sambil menahan sedikit sakit dan perih. Lisa mulai berciuman kembali dengan Brydean agar mengurangi rasa sakit. Brydean memegang pinggang Lisa, perlahan mulai menghentakkan memasukkan semua di lubang kenikmatan yang sedikit sempit itu. Membuat Lisa membungkam mulutnya agar tidak berteriak.


...⚘⚘⚘...


Suasana indah di pagi yang cerah di Bali, memanjakan mata membuat setiap orang jatuh cinta, terdengar suara deburan ombak pantai yang khas. Self healing terbaik yang menenangkan. Saat sebelum matahari terbit Sasya sudah berada di balkon yang mengarah ke pantai dengan duduk di lantai duduk memeluk lutut. Sejak tadi di balkon Sasya sudah banyak berpindah posisi dari duduk di kursi balkon, lalu menopang tubuhnya menggunakan tangan di atas pagar balkon. "Ca, kamar lo ngga di kunci?." Brydean memanggil Sasya yang tengah terduduk di lantai balkon.


Sasya menoleh kearah suara Brydean yang tengah berjalan menghampirinya dan duduk di kursi balkon, seperti biasa always shirtless dengan celana pendeknya. "Semalam gw udah kunci kok, tadi pagi gw buka soalnya gw haus, jadi kedapur buat ngambil segelas air." seraya tersenyum Sasya pun bangun dari duduk di lantai, berpindah duduk di kursi balkon.


Brydean ikut tersenyum dan mengecak-acak rambut Sasya. "Gw mau masak, lo ngga mau bantuin gw?."


Sasya tersenyum lebar. "Boleh, cmon !!!." menarik tangan Brydean karena Sasya se-excited itu. Mereka berjalan menuju dapur. Menyiapkan bahan-bahan untuk breakfast. Setelah berdebat panjang, akhirnya mereka sepakat untuk membuat pancake. Mereka banyak berdebat dan banyak tertawa pula saat sedang membuat breakfast, ya Brydean sedikit jahil pula. Tapi akhirnya mereka pun selesai membuat pancake bersama.


NB: Let's see sad picture Sasya on ig @_pink.colour03


¤


¤


¤


¤


¤


¤


🖍 Jangan lupa Vote dan Like 🖍


📖 Selamat Membaca 📖