
Sasya masih memandangi sungai tersebut dan membalikkan badan dengan perasaan penuh kebahagian. Tak sadar hingga saat Sasya membalikkan badan ia menabrak seseorang di hadapnnya, tepat pada dada bidang pria tersebut. Seseorang tinggi menghadang jalan Sasya. Sasya berdecak kesal dan memandang wajah pria tersebut. OMG, ihhh gw harus gimana god?. Melihat pria yang tertabrak itu adalah Brydean dengan raut wajah devil dia yang berhasil menangkap mangsanya. Sasya seketika tubuhnya panas dingin dengan perasaan campur aduk tetap tersenyum sambil menatap Brydean. Sasya sedang mencari cara untuk kabur lagi darinya. Melihat sekeliling mencari celah agar bisa kabur. "Ihh, air sungainya deras ya pak." mencoba untuk mengalihkan perhatian Brydean. Brydean tak henti memandangku dengan raut wajah yang menyeramkan berdiri tegak di hadapanku dengan menyilangkan kedua tangan. Posisi Brydean tepat menghalangi pintu taksi bahkan Sasya pun bingung mencari cara untuk kabur. Tetapi Sasya tidak pernah kehilangan berbagai ide dan cara liciknya. Sasya berlari membalikkan badannya menghampiri mobil Brydean yang syukurnya Brydean mempunyai kebiasaan selalu lupa mencabut kunci mobil yang berada di dalam, memberi Sasya kesempatan untuk mengendarai dan kabur dengan mobil Brydean. "Kesempatan selalu berpihak padaku, goodgirl." gumanku setelah sampai didalam mobil Brydean. Tidak banyak basa basi Sasya langsung mengendarai mobil tersebut, menurunkan power window jendela penumpang depan samping supir. "Bye, cowok bejad." teriakku seraya melambaikan tangan, memberi salam jari tengah dengan menjulurkan lidah.
Brydean 'pov
Melihat Sasya berlari dengan cepat menghampiri mobil yang ku pakai, Sasya memberi tipu muslihat saat aku sedang lengah melihat air yang mengalir di sungai. Aku tidak sempat untuk mengejarnya saat menghampiri mobil. "Anjing, kelepas bangsat." teriak kesalku. Saat itu pun supir taksi merusuh meminta bayaran kepadaku dan memberikan koper Sasya di hadapanku. Kepalaku ingin meledak dan melampiaskan emosi yang sedang ku pendam kepada supir taksi tersebut. Tapi aku menghela napas mencoba untuk tenang. "Saya bayar bapak berapa pun yang bapak minta, tapi antarkan saya untuk mengejar cewek yang mencuri mobil Sasya." tegasku. Supir taksi pun menuruti permintaanku dan memasukkan kembali koper kedalam bagasi.
Sasya 'pov
Hari menjelang gelap, tak terasa waktu yang di habiskan cukup menguras tenaga. Berjam-jam mereka kejar-kejaran layaknya seperti tom and jerry. Aku tidak jelas tujuan ingin kemana, menelusuri sepanjang jalan bali dan menikmati pemandangan senja nan indah di atas lautan yang biru. Mungkin aku sudah berada tiga jam duduk mengendarai mobil, sudah pasti jauh dari Brydean yang sudah tertinggal jauh atau mungkin tidak bisa melacak jejakku lagi. "Yey, bebas." teriakku membuka jendela. Waktu menjelang magrib, aku terhenti di sebuah lingkungan masjid. Aku turun dari mobil, memasuki wilayah masjid, mengambil air wudhu seraya menunggu muadzin mengumandangkan adzannya. Setelah selesai sholat aku berjalan keluar masjid seraya memikirkan. "Habis ini gw nginap di hotel, lalu besok baru terbang ke singapore nyusul sahabat gw." membayangkan hal tersebut Sasya sangat bahagia seraya tersenyum sendiri. Tiba-tiba seseorang menarik ranselnya, membuatku tertarik kebelakang. "Ihhh." kesalku. "Gaya lo mau ke singapore." terdengar suara yang tidak asing tepat di belakanganya. Pasrah lah gw, Brydean pasti. Menghela napas dan memberanikan menoleh kebelakang. "Cenayang ya lo." curigaku.
"Lo nya yang kalah cerdik dari gw. Lo pikir coba, ponsel gw ada di dalam mobil itu berarti, apa?." Brydean yang sambil berjalan menuruni tangga batas suci lalu memakai sandalnya.
Aku mengikuti Brydean tapi kemudian terdiam satu anak tangga sebelum batas suci, menolak lupa karena aku tidak memakai alas kaki. Jadi selama ini gw sia-sia gitu kabur, ujung-ujungnya ketemu lagi. Kalau gw tau ada ponsel di dalam mobil tersebut tadi, udah gw buang kali biar ngga kelacak sama dia. Sasya menekuk wajahnya.
"Ca, kunci mobil mana?." pinta Brydean sambil mengulurkan tangan seraya mengadah.
Aku memberikan kunci mobil tersebut dengan raut wajah datar. Melihat Brydean memasukkan koperku kedalam bagasi yang sejak tadi berada di depan mobil tersebut. Aku merasakan pegal karena terus berdiri dan mulai merasakan sakit di kakiku karena berlarian mengejar taksi. Mendudukkan badanku di tangga di depan masjid. Setelah selesainya Brydean menghampiri Sasya dengan duduk di sampingku.
"Capek kan?." melihat Sasya yang terus menundukkan kepala.
Aku menoleh dan menatap Brydean. "Yeah." menghembuskan napas panjang.
"Mau resign?." tawar Brydean seraya memainkan ponselnya.
"Iya." jawab lemasku. Mataku terbelak saat melihat Brydean tengah menghubungi seseorang dan terlihat nama Bunda Arumi di sambungan telepon tersebut. "Eh, jangan donk." panikku yang hendak merebut ponselnya.
"Itu yang lo mau kan? Gw mau bilang ke nyokap dulu." Brydean berdiri yang menjauhkan ponselnya agar tidak terebut oleh Sasya.
"Ahhh, tapi gw yang bilang." rengekku seperti anak kecil yang merajuk kemauannya tidak terpenuhi.
"Syutt, ini masjid ngga boleh gitu, ngga boleh senonoh. Ini tempat suci." Brydean terus menyingkirkan Sasya dari hadapannya yang ingin merebut ponselnya.
"Sok suci, lo." tengilku sambil berusaha meraih ponsel Brydean.
"Dengar !!! Gara-gara ngejar lo, gw ngga sholat jumat njir." Brydean mendorong wajah Sasya dengan hanya sebelah tangannya saja dapat meremas wajah Sasya.
Aku memukul tangan Brydean dengan sekuat tenaga yang meremas wajahku. "Ihhh." kesalku.
Terlihat Brydean tertawa kecil melepaskan tanganya dari wajah Sasya. Lalu berjalan menghampiri mobil, tetapi Sasya tidak membuntuti. Sasya diam seperti patung sambil memajukan bibir dan menyilangkan tangannya di dada. Brydean menghampiri Sasya kembali. "Gw lupa lo ngga punya sandal, dasar gembel." melepas sandalnya yang menyodorkan agar Sasya pakai. "Pakai punya gw, cepat !!!." tegasnya.
Aku memukul lengan atas Brydean dengan sekuat tenaga karena kesal. "Lo yang gembel." Brydean tidak ada respon kesakitan saatku pukul.
"Pakai cepat sandalnya !!!." tegas Brydean sambil menatap Sasya. "Gw tinggal ya, lama banget cuman tinggal pakai."
Aku berdecak. "Ngga usah, buat lo aja yang pakai." ketusku.
Menepuk dahi Sasya lembut. "Cepat pakai, lol !!!."
Aku memakai sandal tersebut dengan perasaan kesal, lalu berjalan dan memasuki mobil dengan Brydean tidak lama membuntutiku memasuki mobil.
Terdengar suara panggilan telepon berbunyi yang pasti bukan ponselku, karena menolak lupa sudah tidak memiliki ponsel, cuakss. Terlihat Brydean menerima panggilan tersebut sambil menyetir dengan tangan satu. "Bun, tadi katanya Sasya mau..." ucap Brydean terjeda, saat ku menekan klakson sebanyak empat kali. Membuat Brydean memutuskan panggilan tersebut dengan terlihat raut wajahnya kesal sambil berdecak. "Oh, ****." ucapnya. Karena aku tahu siapa yang berada disambungan telepon tersebut, oh god itu Bunda Arumi.
Brydean 'pov
Mobil yang ku bawa oleng, hampir menyerempet kendaraan lain. "Lo kenapa sih? Kalau marah sama gw ngga gini caranya. Bahaya, paham !!!!. Bicaraku naik satu oktaf.
"Turunin gw di depan." Sasya menunjuk ke depan.
"Mau ngapain?." heranku.
"Tinggal turunin gw aja, apa susahnya?." ketus Sasya.
"Don't touch me." Sasya memberontak supaya Brydean melepaskan genggamannya. Tetapi aku terus mengenggam tangan Sasya dengan sekuat tenaga.
"Kasih gw alasan kenapa lo kabur dari gw terus?." tegasku sambil menatap penuh bola matanya.
Smrik. "Dasar bejad." seraya mendorong Brydean dari hadapannya, ya seperti biasa Brydean tidak goyah sama sekali.
Aku mendekatkan wajahku dengan wajah Sasya, menatap penuh seraya smrik. Puas aku menatap Sasya, aku menjauh dari wajahnya, tertawa lepas seperti devil. Menertawakan apa yang keluar dari ucapan Sasya. "Gw bejad." tertawa terbahak-bahak. Melepas genggamanku dari lengan Sasya dan bertepuk tangan kecil.
Sasya yang terlihat sangat bingung dan teheran-heran yang terus menatap tingkah absurd Brydean di hadapannya. "Lo kenapa sih?." menggoyangkan tangan Brydean.
"Gw ngga habis pikir aja, lo sangat-sangat negative thinking." mengacak-acak rambut Sasya.
"Terus gw harus positif thinking, jika ada seorang laki-laki dengan perempuan satu hotel bersama tidak dengan twin bed." jelas Sasya.
"Biasanya check in hotel itu jam berapa?." mengeluarkan sebungkus rokok dari saku.
"Jam dua siang." Sasya berdecak. "Jangan ngerokok dulu ihh." kesalnya mengambil sebatang rokok yang sudah berada di bibir Brydean seraya mengambil bungkus rokok beserta pemantik dan memasukkan kedalam tas.
Aku hanya pasrah memasukkan tangan kedalam saku celana. "Nah terus check out customer jam dua belas siang, jadi kesimpulannya kita datang sekitar jam sebelas siang, keadaan hotel ramai customer dan president suite room yang tersisa just only one. Logikanya lo kan harus nunggu customer kamar samping check out jam dua belas, belum lagi house keeping ngerapihin sama bersih-bersih. Kurang lebih room hotel itu ready jam dua siang kalau mau check in. Karena gw kasian dari pada lo nunggu di lobby sampai jam dua siang, jadi mendingan lo nunggu di room gw sampai kamar samping gw itu ready."
Sasya yang terlihat bingung dan menarik rambutnya sendiri. "Ahhh, iya gw salah." merasakan kakinya mulai lemas dan terduduk di trotoar jalan.
Aku yang terkejut melihat sikap Sasya itu pun ikut duduk di trotoar jalan yang berusaha menenangkan agar Sasya tidak terus menarik rambutnya. "Stop melukai diri lo sendiri."
Sasya meneteskan air matanya. "Ihh, gw capek-capek kabur sampai gw ngga tau ada dimana sekarang. Cuman gara-gara gw negative thinking aja, ponsel sama Ipad yang sepenting itu gw ancurin, stupid banget sih gw." Sasya menangis sesegukan seraya menyeka air matanya yang mulai membasahi pipinya
"Hey, look at me !!!." seraya menyeka air mata Sasya. "Udah, jangan nangis lagi." mengusap lembut rambut Sasya. "I always stay beside you. Please don't cry !!!." memeluk Sasya.
"I'm so sorry Brydean, i'm stupid girl." Sasya membalas pelukkan Brydean. Membuat perasaan Sasya jauh lebih baik.
"You not stupid girl but you smart girl, gw tau jika cewek pintar yang merasa dirinya terancam pasti akan memberi perlindungan pada dirinya, jika dia berada di posisi sama kayak lo." seraya mengusap lembut rambut Sasya yang berada di dalam pelukkan ku. "Jangan pernah dengar jika medsos, staff kantor atau staff luar kantor ngomongin sisi gelap perkantoran, ngga semua atasan atau bos seperti itu sama staff atau sekretarisnya."
Sasya melepas pelukkan eratnya. Tertawa kecil sambil menyeka air mata dan menghembuskan napas panjang, ia mulai merasakan ketenangan dan memberhentikan menangisnya. "Iya kemarin gw dengar staff luar kantor lain ngeghibah tentang itu, pas gw beli pomade." terus menghapus air matanya. "By the way, thank's for your hug."
"Terus lo jadi overthinking?." menatap Sasya dengan tatapan penuh.
"Iya." cengenggesan Sasya.
Mengacak-acak rambut Sasya. "Anjir parah sih, mikir gw bejad pasti." bangun dari duduk, mengulurkan tangan. "Bangun ca, gw udah kelewat minum obat siang sama makan siang, masa gw harus kelewat juga makan malam sama minum obat malam."
Sasya menerima uluran tangan Brydean. "Oke, come on." siap Sasya yang telah bangun dari duduknya.
¤
¤
¤
¤
¤
¤
🖍 Jangan lupa Like dan Vote 🖍
📖 Selamat Membaca 📖