Together Again

Together Again
Flashback



Matahari pagi yang menyinari kamar Sasya, masuk dari celah jendela yang membuat ia terbangun dari tidur nyenyak-nya. Hari ini Sasya tidur di apartement yang baru saja ia beli semalam bersama kedua sahabatnya.


Setelah bangun Sasya bergegas mandi dan berjumpa para sahabatnya di sebuah cafe yang sebelumnya sudah di janjikan mereka semalam.


"Hai." sapa Sasya kepada kedua sahabatnya setelah ia sampai di cafe tersebut, narik kursi cafe dan duduk. "Kalian nunggu lama yah?." tanya cemas Sasya.


"Nggak kok." jawab Nita.


"Oh ya, Sasya besok lo kerja bareng kita di Rumah Sakit Medika Farma." ucap Quira.


"Gila sih, kerja dirumah sakit terkenal." sontak Sasya pun terkejut.


"Ra, besok kita pindah ke apartement deket Sasya !!!." ucap Nita yang mengajak Quira untuk pindah ke privat apartement mengikuti Sasya.


"Oghey."


...⚘⚘⚘...


Sasya 'pov


Sudah seminggu aku dan kedua sahabatku kerja di Rumah Sakit tersebut.


"Aduh !!!." baki yang berisi peralatan medis jatuh yang saat ku bawa hendak masuk keruangan perawat.


Seorang pria yang berpakaian casual terlihat cool dan tampan menyenggol ku, namun ia sangat angkuh dan sombong. Bahkan ia tidak peduli saat barang bawaan ku jatuh dan ia terus berjalan menelusuri koridor Rumah Sakit sampai bahu lebarnya menghilang dari pandangan ku.


"Sasya, lo nggak apa-apa." saat Nita sahabat ku keluar dari ruang perawat ia berlari, menyadari saat aku sedang memunguti peralatan medis yang terjatuh dilantai dan untung saja tidak ada yang rusak.


"I'm fine." Aku pun berdiri dari dari jongkok ku.


"Kok, lo bisa jatuh?." cemas Nita.


"Tadi gw tabrakan."


"Sama siapa?."


"Ntah, gw juga nggak kenal. Mungkin itu keluarga pasien."


"Arrogant yah, dia."


Aku pun mengangguk.


Awalnya Nita memapah ku tapi aku menolaknya karena tidak sama sekali ada yang terluka dan sakit.


"Hai guys." sapa Quira saat ia masuk kedalam ruang perawat, Nita dan aku sedang menulis dokumentasi keperawatan.


"Eh, lo mau tau nggak !!!." ucap Nita.


"Apa?."


"Sini gw ceritain." Nita pun menceritakan kejadiaan yang ku alami tadi, memang sebelumnya aku sudah menceritakan kronologi kejadiannya.


"Sabar ya, Sya." ucap Quira sambil mengusap bahu ku, setelah ia tau kejadian yang ku alami.


Aku pun mengangguk.


"Gimana, kalau sepulang nanti ke cafe favorit kita?." ucap Nita mengajak kami.


"Nah, setuju." ucapku dan Quira kompak.


...⚘⚘⚘...


Kebetulan kami masuk kerja shift 1 dan kami pulang jam 2 siang. Setelah pergantian shift kami bergegas mengganti baju dan memacu motor kami menuju cafe.


"Kalian mau pesan apa?." tanya Sasya. "Gw yang bayar."


"Gunanya teman tuh, gini." jawab Quira.


Pesanan minuman kami telah sampai. Kami sedang mengobrol sambil menyedot minuman dan tiba-tiba ada seseorang wanita menghampiri kami.


"Lo, Sasya kan." ucap wanita yang menegur Sasya sambil menarik kursi untuk duduk dan berikut dengan tiga temannya juga.


Sasya langsung terkejut melihat mereka.


"Iya, lo bukannya Grace?." ucap Sasya saat melihat wajah familiar yang ternyata meraka adalah teman SMP-nya.


"Bukannya masalah kita sudah selesai?." sambung Nita.


"Awalnya sudah tapi teman lo, nyari masalah lagi sama gw." ucap Grace sambil menunjuk Quira.


"Wah, apa-apaan ini !!!. ucap Nita yang emosi sambil berdiri dari kursinya sedangkan Quira yang tertekan.


"Udah sabar, masalah nggak bakal selesai kalau api di lawan api." pungkas Sasya sambil berbisik dan menenangkan Nita, menarik tangannya untuk kembali duduk. Menyarankan untuk menyelesaikan masalah dengan kepala dingin.


Grace menyerahkan secarik kertas perjanjian untuk kami baca.


"Lo, liat'kan Quira sudah tanda tangan di sini?." ucap Grace


"Berarti, Quira sudah menyepakati perjanjian tesebut." sambung Lisa yang mulai bersuara membela Grace.


"Gw mau kalian taruhan balapan mobil sama kita, kalau salah satu dari grup lo menang, masalah kita selesai. Kalau misalnya kalian kalah, kalian harus bayar kekalahan kalian dengan uang Enam Milyar tunai, serahin uangnya langsung saat kalian kalah dan masalah kita selesai." Grace yang menantang Sasya dan dua sahabatnya, lalu ia menjelaskan detail taruhannya.


"Gila lo, enam milyar !!!." sontak Quira yang terkejut.


"Alah, nggak usah pura-pura miskin." ucap Grace.


"Kita tau kok, ortu lo tajir." sambung Lisa.


"Apa susahnya, lo tinggal minta?." sambung Vita.


Emang minta enam milyar segampang minta beli permen apa?, ortu gw yang kerja keras mati-matian, masa gw minta sambil morotin sampai bangkrut. batin Nita.


"Kita tunggu minggu depan di sirkuit." ucap Silvi.


"Semoga menang yah !!!!." Grace yang mengejek dan merendahkan mereka sambil tertawa terpingkal-pingkal nan licik.


"Oh iya, kalian boleh ngajak siapa aja untuk jadi penonton saat balapan berlangsung." ucap Grace.


Mereka berlalu pergi dari hadapan Sasya dan dua sahabatnya.


"Sumpah ya Sya, Nita. Gw minta maaf." Quira yang merasa bersalah. "Gara-gara gw, lo semua jadi kena imbasnya."


"Gunanya sahabat adalah membantu disaat susah maupun senang, jadi apapun masalahnya kita harus sama-sama selesaiin." Sasya pun mengelus punggung Quira.


"Setuju sama Sasya, jadi lo nggak usah merasa kita terbebani."


flashback on


Suatu hari dimana kami masih menginjak kelas IX SMP, ada siswa baru yang suka dibilang sok ke-pede-an yang mau nyayingin ke populeran Sasya dan kedua sahabatnya di sekolah. Anak baru itu namanya, Grace (Aplha ), Lisa, Silvi, dan Vita.


Grace dan tiga orang temannya memasuki kelas kami saat jam istirahat berlangsung. Sebelumnya Wali Kelas kami sudah menyampaikan akan ada kedatangan murid baru di kelas. Kami sempat berpapasan dengan mereka saat berada di ambang pintu, sebagian teman-teman di kelas pun membuntuti kami keluar kelas untuk beristirahat.


"Mereka siapa?." tanya grace kepada teman kami yang masih berada di kelas, ia heran saat melihat kami sangat di segani oleh teman sekelas.


"Yang mana?." jawab teman kami yang masih kebingungan saat grace menanyakan seseorang.


"Yang paling depan, pas keluar kelas." lanjut Grace.


"Liat aja di mading sekolah dekat lapangan basket !!!." teman kami pun berlalu dari hadapan Grace dan teman-temannya.


"Maksudnya?." Grace yang masih kebingungan, menanyakan kepada ketiga temannya.


"Coba kita liat mading -nya dulu." ucap Lisa sambil menarik tangan Grace menuju mading.


"What?" Mereka yang kaget saat melihat mading sekolah yang terpanjang foto Sasya dan dua sahabatnya yang berhasil meraih piala olimpiade internasional dan juga menjadi siswi terpopuler di sekolah dari hasil voting semua siswa siswi disekolah yang diadakan tiap tahun ajaran baru.


# Sasya juara satu International Mathematics and Science Olympiad (IMSO).


# Quira juara dua International Physics Olympiad (IPhO)


# Nita juara satu International Chemistry Olympiad (IChO)


"Nggak apa-apa Grace, dia bertiga kita berempat." ucap Lisa.


Suatu hari dimana Grace dan teman-temannya mencari masalah dengan Sasya dan dua sahabatnya.


"Heh lo, jauhin Raka. Raka cuman milik gw !!!." labrak Grace sambil menarik tangan Sasya dari belakang. Saat Sasya sedang berjalan di koridor menuju kelas. Ia mengetahui bahwa Sasya deket dengan ketua osis yang tampan dan coolboy yang populer disekolah.


"Apa, maksud lo?." ucap Sasya yang berusaha melepaskan tangan Grace yang menggenggam pergelangan tangan Sasya kasar. Sasya kali ini tidak berangkat bareng dengan para sahabatnya.


"Pegangin dia !!!." suruh Grace kepada tiga temannya.


"Lepasin gw." Sasya yang memberontak dan terus berusaha untuk bisa melepas genggaman kasar oleh grace dan kawannya.


"Berani lo nyakitin Sasya, langkahin mayat gw dulu !!!." Raka yang datang langsung merangkul Sasya saat Sasya sedang di tarik tangannya dengan kasar lalu mereka menyeret Sasya agar ia mau berjalan oleh Grace dan kawan-kawannya.


"Sasyaaaa." teriak dua sahabatnya dari kejauhan dengan raut wajah panik dan menghampiri Sasya yang masih berada dihadapan Grace dan kawannya.


"Awas, permisi !!!." ucap Quira membelah kerumunan para siswa siswi yang berbondong-bondong ingin melihat adanya keributan antara Sasya dan Grace.


Saat sampainya Nita yang membelah kerumunan ia langsung menatap Grace dan kawannya dengan tatapan tajam. Tangan Grace dan kawannya dipegang sekuat mungkin oleh teman laki-laki yang sekelas oleh Raka.


"Lo anak baru, baru seminggu lo sekolah disini. Udah cari ribut aja." smirk Rendy lalu memutar bola matanya.


"Biasa, mau jadi jagoan bro." sambung Saddam. "Udah bubar, Sasya nggak apa-apa kok !!!." peringatan halus dari Saddam yang melihat raut wajah cemas mereka yang berkerumun dan ingin melihat keadaan Sasya.


"Bro, gw bawa Sasya ke UKS dulu !!!." ucap Raka sambil memapah Sasya dan berjalan kecil untuk membelah kerumunan. "Saddam, Gilang lo buburin kerumunan dan jangan lupa laporin ke guru BK soal kejadian yang tadi." ucapnya lagi kepada sahabatnya. "Rendy lo ikut temenin gw !!!."


Saddam, Gilang dan Rendy mengangguk dan langsung mengikuti perintah Raka. Nita dan Quira membuntuti Raka dan Rendy yang memapah Sasya.


Sesampainya di UKS, Sasya dibaringkan di bed pasien.


"Sebenarnya, gw nggak apa-apa kok." ucap Sasya yang merasa dirinya baik-baik saja.


"Tangan lo lebam gini, di bilang nggak apa-apa." marah Nita yang sambil mengompres dingin ke lengan Sasya.


"Coba ceritain kronologi yang tadi lo alamin ?." tanya Raka. "Bisa-bisanya dia ngelabrak, cuman gara-gara lo deket sama gw."ucapnya di iringin dengan tawa Raka yang terbahak-bahak. Saat ia telah mendengar cerita Sasya.


"Aneh 'kan." ucap Sasya sambil mengernyit.


Tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu UKS dan seorang wanita ini langsung masuk. Ternyata itu Bu Maya wali kelas Sasya dan dua sahabatnya. Sedangkan Raka dan kawannya berbeda kelas dengan Sasya.


"Sasya, mau pulang sekarang nak?." tanya Bu Maya yang khawatir. "Ibu telpon orang tuamu yah !!!."


"Nggak usah bu, aku nggak mau pulang." jawab Sasya.


"Tapi......" ucapan Bu Maya terpotong.


"Pliss ya bu, aku nggak mau pulang." kekeh Sasya.


"Ya sudah, tadi ibu sudah berbincang dengan guru BK kalau Grace dan temannya di pindahkan di kelas Raka dan Raka bersama tiga temannya dipindahkan di kelas Sasya." jelas Bu Maya khawatir Grace dan temannya berulah lagi.


"Jadi tukeran bu." ucap Saddam.


"Iya, jangan lupa mapel kedua kalian harus masuk kelas yah, kecuali Sasya." perintah Bu Maya.


"Tapi bu, saya kuat kok." ucap Sasya memohon.


"Baik, ibu sampai lupa. Raka kamu keruang BK sekarang untuk ber-saksi yah." ucap Bu Maya.


Raka pun segera keruang BK untuk ber-saksi di atas kejadian tadi.


"Fine, boleh kita sekarang kalah. Tapi nanti kalian yang akan menerima kekalahannya." guman Grace setelah mereka sudah mensekesaikan masalahnya di ruang BK.


"Sya, kenapa sih lo nggak lawan si Grace itu?." heran Nita yang berjalan disamping Sasya. Saat mereka ingin menuju kelas setelah Sasya terbaring di UKS. Awalnya Sasya di papah, tapi Sasya menolaknya.


"Tau nih, keluarin jurus bela diri lo." sambung Quira.


"Nita, Quira, kalau gw lakuin itu malah urusannya tambah panjang dan jadi rumit." jawab bijak Sasya. Alasan Sasya di kagumi di sekolah karena ia memiliki hati yang baik, penolong, murah senyum dan rendah hati.


Hari dimana Grace ingin menuntut kekalahannya sejak sekian lama. Hari ini adalah tiga hari sebelum kelulusan mereka.


"Quira." panggil Grace sambil menyenggol minuman Quira dan akhirnya tumpah. Hari ini adalah kesempatan Grace dan temannya melakukan aksinya.


"Aihs." kesal Quira saat minumannya mengenai seragam sekolahnya dan saat itu keadaan kantin pun sepi. Hari ini Quira pulang terlambat karena harus membantu Bu Maya terlebih dahulu. "Mau lo apa sih?."


"Oww, selaw kawan." ucap Grace yang pura-pura sambil menenangkan amarah Quira dan tidak lupa ia bersenyum licik.


"Kalian langsung to the point aja, nggak usah basa basi. Waktu gw terbuang sia-sia cuman karena gw ngurusin orang yang nggak penting yang ada di hadapan gw." Savage Quira.


"Masa sih, kita nggak penting." Grace yang langsung mencengkram kasar rahang Quira.


Quira tidak bisa menahan emosinya. Ia langsung menepis cengkraman Grace, lalu ia dorong kasar Grace sampai ke tembok dan mencekiknya.


"Jangan anggap gw lemah." iblis yang bersarang didirinya sudah mengelurkan amarah terbesarnya. "Satu lagi, jangan ngira Sasya sama Nita juga lemah." tegas Quira.


"Lepasin gw." ucap Grace. "Lisa tolong gw." Grace yang meminta tolong kepada Lisa napas Grace terengah-engah menahan rasa sakit. Teman-teman Grace tidak berani melakukan perlawanan karena ia melihat Quira memperlakukan Grace dengan kejam.


"Quira, lepasin teman gw."ucap Lisa yang memohon.


"Please, kita bakalan lakuin apapun itu !!!." sambung Vita yang memohon juga.


"Kalian janji, kalian besok harus berlutut sama gw, Sasya dan Nita didepan seluruh siswa-siswi yang ada disekolah ini." suatu permintaan Quira.


"Ya, kami janji." ucap Lisa. Lalu Quira pun melepaskan cekikannya.


Vita dan Silvi langsung meraih Grace yang lemas tak berdaya. Quira pun langsung pergi meninggalkan mereka. Tapi saat Quira hendak meninggalkan mereka tangan Lisa menarik menggenggam pergelangan tangan Quira.


"Eits, lo juga harus tanda tangan di surat ini." ucap Lisa gemetan saat Quira sudah membalikan tubuhnya. Tanpa dibacanya terlebih dahulu Quira langsung menanda tangani surat tersebut.


flashback off


...⚘⚘⚘...


"Setiap orang mempunyai pandangan yang berbeda untuk menilai diri kita, ada yang memandang kita secara positif dan adapula yang memandangnya dengan cara negatif. Jadi bersiaplah untuk semua itu, inilah hidup. Ikuti alurnya dan nikmatilah prosesnya." _Sasya


...⚘⚘⚘...


"Aku memang terlihat diam dan tidak bisa apa-apa, tapi percayalah dibalik diamku ada sebuah rencana besar untuk menghancurkanmu."_Nita


...⚘⚘⚘...


"Jangan pernah berani membangunkan iblis yang ada dalam diri seseorang yang terlihat diam dan yang menurutmu lemah tak berdaya, ketika kau mengusiknya terus menerus iblis itu akan bangun melenyapkan dirimu."_Quira


...⚘⚘⚘...


*


*


*


Note:


Alpha: pemimpin suatu genk


¤


¤


¤


¤


¤


¤


🖍Jangan lupa Like dan Vote🖍


📖 Selamat membaca 📖