
Sesampainya mereka disana langsung bertemu orangtua Nita, Nita yang didampingi papahnya dan Sasya yang didampingi mamah Nita. Mereka duduk bersampingan Nita yang melihat Sasya seperti memikirkan sesuatu.
"Sya, lo kenapa?." bisik Nita yang cemas.
"Ta, gw nggak enak sama Quira tadi pagi pas dimobil juga dia diemin gw, kayaknya Quira marah sama gw deh." jawab Sasya.
"Kayaknya dia nggak marah sya, udah jangan dipikirin lagi, gw tad......" ucapan Nita terpotong saat namanya tersebut oleh mc yang segerakan mengambil ijazah.
Sasya pun menghembuskan nafas pasrahnya saat Nita berjalan menuju panggung dan mengambil ijazah tersebut.
Quira masih marah nggak sih sama gw. batin Sasya cemas.
Nita kembali dari depan sudah menerima ijazahnya dan ingin melanjutkan bicaranya.
"Sya, gw lanjutin ngomong yang tadi, jadi gini tadi gw li......." dan terpotong kembali ucapannya.
"Bentar, gw dipanggil." Sasya langsung berjalan kedepan bersama mamah Nita.
Sasya 'pov
Ku berjalan kedepan menuju panggung dan menghampiri guru-guru, kepala sekolah dan mc, sontakku kaget dengan apa yang mc katakan kepada seluruh warga sekolah yang ada di hadapanku.
"INI SALAH SATU SISWA PINTAR DAN BERPRESTASI YANG DAPAT KERJA DI RUMAH SAKIT TERBESAR DAN TERKENAL YANG ADA DI JEPANG, BOLEH UNTUK TEPUK TANGAN." teriak mc yang sambil memegang mic.
Dan air mataku tiba-tiba jatuh membasahi pipiku yang sudah rias oleh makeup flawless, sontak aku langsung memeluk mamah Nita yang sudah aku anggep mamah keduaku. Keluarga Nita dan Quira adalah salah satu keluargaku yang tersisa yang selalu mendukungku dan menyanyangiku sama seperti anak-anak mereka.
prok prok prok
Suara meriah tepuk tangan dan aku melihat Nita dari jauh matanya berkaca-kaca sambil tersenyum lebar. Sebelumnya aku sangat-sangat bersyukur atas do'a ku yang di ijabah oleh tuhan yang maha esa, tapi aku sedih disaat yang berbahagia aku tidak didampngi oleh orangtua ku mengingat semua jasa yang mereka berikan dan selalu men-support kepadaku, seakan-akan aku terpental oleh kenyataan yang kini menyisakan kenangan indah bersama mereka aku tidak akan pernah lupa perjuangan mereka. Aku harus menjaga martabat keluargaku dengan baik dan menjaga semua peninggalan mereka kepadaku, aku tidak boleh menangis terus karena mungkin mereka akan sedih juga kalau aku menangis terus. Mulai detik ini aku harus berjuang untuk membanggakan mereka walaupun semua terlambat aku yakin mereka melihatku dari alam yang berbeda.
Mendali kelulusan berserta slongsong pun diberikan oleh staff petinggi serta kepala sekolah dan seluruh dokumen-dokumen pentingku untuk berangkat ke Jepang. Aku pun tinggal menunggu ijazah selesai di cetak dan pergi mengambilnya kembali kesekolah.
"Teruslah berprestasi dan semangat ya sayang !!!!." ucap kepala sekolahku sambil memeluk dan menjatuhkan air matanya di bahuku.
"Ibu jangan nangis." Aku pun dengan cepat mengusap air matanya.
"Kamu salah satu murid yang terus mengharumkan nama sekolah ini, ibu bangga denganmu."
"Iya bu, terimakasih berkat ibu juga saya bisa seperti ini." dan dijawab anggukan oleh ibu kepala sekolah.
Setelah seluruh guru dan staff yang ada disekolah memberiku ucapan selamat dan terus menyemangatiku aku. Berasa hidupku kembali dari jurang kegelapan akibat kesedihanku yang mendalam. Aku pun kembali ketempat dudukku dan langsung memeluk sahabatku. Tak lupa papah Nita pun memberiku ucapan selamat. Hidupku semakin berwarna dan berarti, hatiku bahagia, perlahan aku bisa mengikhlaskan kepergian orang tuaku agar mereka tenang dialam sana.
"Congrast, ya ampun nggak lama lagi lo ninggalin gw." ucap Nita yang tersenyum dan meneteskan air matanya. Aku langsung membalasnya dengan pelukan.
Mau tidak mau, suka tidak suka, rela tidak rela. Aku harus menanggung semua keputusan awalku yang sudah aku jalanin selama tiga tahun ini. Rasa berat dihatiku untuk meninggalkan mereka mungkin seminggu lagi aku masih bisa mereka mereka dengan nyata dan tidak berjauhan.
...⚘⚘⚘...
Matahari yang tadi menyinari bumi sudah berganti bulan yang menerangi bumi dengan indah dan tidak lupa banyak bintang yang berkelap-kelip. Mereka bertiga sedang berbelanja pakaian untuk...
flashback on
Acaranya pun telah selesai dan mereka berjalan keluar dari tenda besar didirikan dilapangan sekolah yang memeriahkan acara kelulusan. Setibanya mereka sudah sampai keluar gerbang sekolah, tapi Nita menarik tangan Sasya yang hendak ingin menaiki mobil orangtua Nita yang sebelumnya mengajak untuk mereka pulang bareng, tapi Nita terus menggelengkan kepalanya.
"Ya udah nak, mamah pulang ya sayang, jagain Sasya ya !!!." sambil melambaikan tangannya dan bergegas mobilnya melaju dengan cepat.
"Pasti mah, aku selalu jagain." teriak Nita.
"Terus kita mau kemana dulu, aku malu masih pake baju kayak gini?." tanya Sasya bingung.
"Liat aja nanti."
Tin Tin Tin
Suara klakson mobil fortuner dihadapan mereka berbunyi dan menyorotkan lampu jarak jauh sampai mereka silau oleh cahaya. Sasya menarik baju Nita agar minggir dari hadapan mobil tersebut.
"Yok ikut gw, kedalam." ajak Nita sambil menarik tangan Sasya, tapi Sasya enggan untuk mengikutinya karena takut.
Seseorang keluar dari mobil tersebut.
"Hai, jalan-jalan yuk !!!."sapa Quira yang menghampiri dan Quira meminta tukaran mobilnya kepada papahnya sebelum ia kembali menjemput mereka berdua.
"Astagfirullah gw takut, dikiranya gw pengen dijual sama sahabat gw sendiri ke om-om mesum atau sugar daddy." sambil memukul kap mobil Quira lantaran kesal dan Nita tertawa terbahak-bahak.
"Pliss, ini mobil bokap ntar gw di omelin kalo lecet-lecet." sambil melihat kap mobilnya yang dipukul heels Sasya.
Begitu saja Quira melempar kunci mobil kepada Sasya, Sasya pun kaget lalu hampir meleset menangkapnya. Sasya pun langsung menaiki mobil disusul Quira yang duduk disamping Sasya dan Nita duduk dibelakang. Memacu mobilnya dengan cepat yang dikemudikan Sasya dan berhenti di sebuah mall atas permintaan Quira lalu membeli beberapa pakaian. Sadar mereka kalau tidak ganti baju akan malu dengan pakaian yang masih menempel dibadan.
flashback off
"Ra, lu yang bayarkan bajunya?." ucap Nita yang dijawab Quira dengan anggukan yang sedang mau membayar pakaian mereka didepan kasir. Sebelum mereka keluar dari mall tersebut mereka mengganti baju mereka ditoilet dengan baju yang tadi mereka beli.
"Eh, kita ke supermarket yang nggak jauh dari sini ya, kali ini gw yang bayarin." ujar Nita yang bersemangat setelah berjalan keluar dari mall.
"Padahal di mall ini ada supermarket bukan!!!kenapa nggak yang disana aja?." goda Quira.
"Ah, lu kayak nggak tau aja." jawab Sasya.
"Oh, mau minta jatah dia sama mbak Irna."
Nita yang pura-pura mengabaikan perbincangan kedua sahabatnya.
Mereka pun langsung melajukan mobilnya ke supermarket milik orangtuanya. Sesampainya mereka disana memilih makanan dan menelusuri setiap rak camilan yang disusun rapi di supermarket sebesar ini. Saat mereka sampai dikasir, pegawai kasir tersebut hanya membungkusi makanan tersebut kedalam sebuah kantong. Sedangkan Nita sedang berbincang sama mbak Irna selaku manager yang dipercaya papahnya dan pastinya Nita hendak meminta uang jajan.
"Mbak aku ngambil jajan ya, bilang sama papah bill pembayarannya nggak aku bawa buat tanda bukti, terus aku minta uang." rengek Nita.
"Berapa?" ucap mbak Irna
Nita pun membisikkan nominalnya.
"Yey, udah masuk mbak." ucap girang Nita yang melihat notif transfer dari mbak Irna. "Nanti jangan lupa bilang papah kasian kalo papah bingung uangnya berkurang."
"Okey."
"Makasih mbak, aku jalan dulu sama temenku, bye." sambil melambaikan tangannya dan keluar pergi.
Sesampainya dimobil Nita langsung di introgasi oleh sahabatnya.
"Ehem, dapet berapa nih?." tanya Quira penasaran. Nita langsung menunjukan bukti transferan di ponselnya.
"Heh, kayaknya lo lagi morotin bokap lo?." ujar Quira yang kaget melihat nominalnya sangat banyak nolnya.
Sasya yang hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. "Udah jangan ribut." Sasya langsung memisahkan mereka berdua sebelum perdebatan dimulai. "Kita mau kemana nih?." tanyanya bingung.
"Sya gantian." seakan mengerti Sasya dengan kode mata yang menyuruhnya bergantian untuk mengemudi. Sasya pun pindah ke kursi yang paling belakang.
"Lah, gw kok kayak supir." tanya Quira bingung.
"Semangat ya, lo pasti bisa kok." jawab mereka kompak sambil pewe tiduran di kursinya.
...⚘⚘⚘...
Hari pun sudah pagi matahari mulai menyinari mereka tembus lewat kaca mobil, Nita dan Sasya baru terbangun dari tidurnya yang terlelap sangat nyenyak mau sedang perjalan. Semalam Quira melajukan mobilnya dengan kecepatan 120 km/menit di tol menembus angin malam perjalan yang sangat dingin dan sekarang mereka ada direst area tepatnya rest area cipali sudah berjam-jam Quira terhenti untuk tidur mengistirahatkan tubuh dan matanya.
"Quira." panggil Sasya yang menyadari mereka terhenti dan diiringi dengan mendudukan tubuhnya. Dengan hati-hati saya melangkah melewati kursi yang ada di depannya tanpa membangunkan Nita. Tapi nihil Nita malah terbangun saat Sasya ingin melewatin kursi tersebut.
Setelah mereka berdua bangun dari tidurnya lalu mereka meninggalkan Quira yang sedang terlelap terlihat sangat capek sekali dan mereka berdua bergegas untuk kekamar mandi dahulu. Setelah selesai mereka memesan makanan di resto yang berada di rest area tersebut.
"Ta, lo tunggu sini biar gw yang bangunin Quira." Nita hanya mengangguk, Sasya pun berlari menuju mobil Quira, tapi tiba-tiba ada seseorang yang menarik tangan Sasya sehingga terhenti berlari.
¤
¤
¤
¤
¤
¤
¤
🖍Jangan lupa Vote dan Like yah🖍
Semoga kalian suka dengan karyaku🤗
📖 Selamat membaca 📖