
Pagi ini Brydean harus terbang ke Solo, Sasya bergegas untuk kerumah Brydean. Menyiapkan segala keperluan yang harus di bawa. Memasuki rumah Brydean yang telah di sambut dengan para pelayan di sana. Mengetuk pintu kamar Brydean tetapi tidak kunjung ada jawaban, Sasya pun masuk kedalam kamar tersebut memastikan Brydean dalam kondisi baik. "Permisi pak." ucapnya. Terlihat di atas ranjang tidak terdapat Brydean, Sasya pun menelusuri se isi kamar mencari Brydean. Setelah frustasi mencari keberadaan Brydean yang tidak kunjung terlihat batang hidungnya, Sasya keluar dari kamar menanyakan pada pelayan. "Brydean mana ya?." tanya Sasya yang menghampiri pelayan.
"Tuan sedang berolahraga di ruang gym, nona."
Memegang kedua tangan pelayan tersebut. "Jangan panggil nona, panggil nama Sasya saja." tersenyum manis. "Boleh tunjukkan di mana ruang gym tersebut."
Pelayan melepas genggaman tangan Sasya. "Tidak nona itu tidak sopan ketika seorang pelayan memanggil tamu di rumah ini dengan nama."
"Hmmm, baiklah." Sasya menghargai keputusan tersebut. Sebenarnya Sasya selalu risih ketika ia di panggil nona atau panggilan formal.
"Mari saya antar." ucap pelayan tersebut, berjalan menunjukkan di mana ruang gym itu. Sesampainya di sana pelayan pun pergi meninggalkan Sasya.
Sasya mematung di depan ruang gym private yang berada di halaman belakang rumah Brydean. Aduh lemah gw, kalo di suruh lihat orang ngegym. "Permisi pak." memasuki ruangan tersebut dan menghampiri Brydean yang sedang berlari di atas treadmill.
"Nanti saya berangkat jam sembilan, tumben datang lebih awal?." ucap Brydean sambil berlari di atas treadmill.
"Saya sedang merubah diri agar lebik baik pak !!!." semangat Sasya. "Sebaiknya, bapak pakai baju. Kan ada saya." shirtles Brydean membuat sedikit tidak nyaman, karena body-nya terlalu perfect dengan keringat membasahi badan membuat terkesan sangat sexy.
Mematikan treadmill dan mendekatkan diri pada Sasya. "Memang kenapa kalau ada Sasya?." Membuat Sasya harus mendongakkan kepala melihatnya, Sasya merasa pendek kalau berada di samping Brydean yang tinggi bak seperti tiang listik.
Terdengar sedikit asing karena pertama kali Brydean memanggil dengan nama "Ngga apa sih, maksud saya takut bapak malu gitu." sedikit canggung. Menurunkan kepala-nya dan kini pandangan yang terlihat di hadapannya adalah badan kekar dan dada bidang. Sasya menelan ludah kasar, memalingkan pandangan.
"Hanya ada saya dan anda di sini, lagi pula seorang sekretaris harus terbisa dengan hal wajar tersebut." berjalan mengambil barbel. "Saya masih satu jam lagi untuk workout, temani saya." dengan wajah datar-nya.
"Satu jam." membayangkan satu jam saja sudah membuat bosan, harus menunggu dan hanya melihat Brydean nge-gym.
"Ya, atau ingin coba alat gym di sini. Silahkan."
Melihat baju yang Sasya kenakan, terlihat sangat tidak cocok untuk berolahraga. "Hmm, tidak usah pak."
Melihat raut wajah Sasya seperti ingin coba tetapi pakaiannya tidak cocok. "Sasya tolong temuin pelayan di halaman depan."
"Baik pak." Sasya menuruti perintah Brydean. Berjalan menuju halaman depan.
Pelayan tersebut menghampiri Sasya yang tengah menjalan menuju-nya. "Nona, ini baju pesanan tuan untuk nona pakai." memberikan paper bag kepada Sasya. Setelah di terima oleh Sasya pelayan pun menundukkan badan lalu bergegas pergi.
Sasya masih kebingungan dengan banyak hal yang terjadi, membuka paper bag tersebut terisi setelan baju olahraga. "Waww, impresif. Act of service yang memuaskan ya. Kalau aku tau dari dulu jadi sekretaris senyaman ini, aku akan pilih jurusan bisnis." guman Sasya seraya tersenyum. Bergegas berganti baju di kamar mandi, lalu segera menuju ruang gym.
"Hai pak, saya sudah ganti baju." menunjukkan baju yang di berikan Brydean, baju itu sangat pas saat di pakai oleh Sasya. Brydean hanya menoleh sesaat, lalu ia melanjutkan workout.
Pertama-tama, Sasya akan melalukan pemanasan terlebih dahulu dan setelah melalukan pemanasan alat yang pertama ia gunakan adalah treadmill. Lelah berlari di atas treadmill Sasya kan mencoba untuk pull up. Setidaknya Sasya pernah nge-gym saat menjadi modeling untuk mempertahankan berat badan ideal. Melompat untuk meraih besi pull up tersebut. Memang tidak ada bakat, dari dulu sampai sekarang ia tidak bisa mengangkat badan-nya saat pull up. Menyerah karena tidak bisa walau sudah di coba.
"Try again." ucap Brydean yang sedari tadi sebenarnya melihat Sasya kesulitan untuk pull up.
"Percuma pak, saya ngga bisa." Sasya hanya pasrah.
"Try !!!." tegas Brydean.
Sasya menghembuskan napas panjang, lalu menuruti perkataan Brydean dan melompat untuk meraih besi pull up tersebut. Dengan sedikut melompat tangan Brydean pun meraih besi pull up. "Try with me, together." Brydean mengarahkan kaki Sasya untuk mengunci pada pinggang-nya. "Ready?." Sasya mengangguk.
...⚘⚘⚘...
Sasya tengah sibuk di dalam walk in closet menyiapkan pakaian untuk perjalanan bisnis selama dua hari. Asik ternyata kalau nge-gym with partner ya. Sambil tersenyum-senyum membayangkannya. Perlengkapan Brydean selama dua hari telah di siap di kemas dalam koper, kadang Brydean suka labil karena kemarin malam ia mengatakan akan pergi bersama sekretaris untuk ke Solo, tetapi Brydean menyakal ucapannya bahwa dia hanya pergi seorang diri.
...⚘⚘⚘...
Sepulang mengantar Brydean ke bandara menaki private jet, Sasya bergegas ke kantor menyelesaikan tumpukan kertas di atas meja. Belum lama ia duduk di ruangan, Nico datang menghampiri Sasya. "Hai Sasya, cafe yuk."
"Hai, tapi ada banyak pekerjaan yang harus di selesaikan." tolak halus Sasya.
"Brydean ngga ada di tempat, jadi lo bebas gw pinjam." Nico menarik tangan Sasya.
"T-tapi." berusaha melepaskan genggaman Nico di pergelangan tangan.
"Just five minutes." berusaha meyakini Sasya, masih dengan menarik tangan Sasya dengan berlari kecil.
Duduk di sebuah cafe yang masih berada di sekitar kantor, mereka menikmati segelas minuman masing-masing yang di sukai.
"Enak ngga kerja sama Brydean?." ucap Nico memulai pembicaraan.
"Ya, lumayan." tersenyum manis.
"Proyek yang di colombia udah selesai?."
"Selesai dua hari lebih awal." ucap sombong Nico.
Sasya tersenyum mendengarkan perkataan Nico yang menyombongkan diri. "Next, perjalanan bisnis kemana?."
"I don't know, bisa anda tanyakan langsung kepada pak Brydean selaku CEO di perusahaan. Karena saya hanya bawahan yang harus menuruti perintah atasan."
drrrt, drrrrt.
Ponsel Sasya bergetar. Panggilan telepon biasa, oh tentu bukan itu panggilan video dari Brydean.
"Sebentar." ucap Sasya meminta izin pada Nico untuk menerima telepon di dekat-nya. Panggilan tersebut terhubung. "Pak, bisa panggilan telepon biasa saja?."
"Tidak bisa, anda tidak sedang berada di kantorkan." ucap Brydean dari sebrang panggilan video tersebut.
Nico merebut ponsel yang di genggam Sasya. "Hey Bro, selamat sampai tujuan? By the way yang ngajak Sasya kabur ninggalin pekerjaannya gw. Jadi lo bisa marahin gw, karena Sasya ngga salah." Sasya berusaha merebut kembali ponselnya, tetapi Nico menolak.
"Please, lo jangan jadi pengaruh buruk buat sekretaris gw. Setidaknya dia udah mulai memperbaiki diri agar tidak bikin peraturan sendiri seperti kemarin."
Nico tertawa kecil. "Tenang, dia aman sama gw. Kita cuman lagi cari udara segar biar semangat ker...." ucapan Nico terpotong saat terdengar Brydean menutup panggilan tersebut. Nico tertawa kesal. "Kebiasa buruk Brydean, tutup panggilan di saat seseorang lawan bicara belum menyelesaikan pembicaraan." memberi ponsel Sasya. "Balik kekantor." nada bicara Nico berubah ketus tidak seperti sebelumnya. Sasya bergegas membuntuti Nico.
...⚘⚘⚘...
Jam sudah menunjukkan pukul empat sore, waktunya pulang mengistirahatkan diri setelah seharian lelah bekerja. Sasya mulai membereskan meja, bersiap untuk pulang.
"Sasya, ikut saya." seseorang yang suaranya tidak asing terdengar berada di hadapan meja Sasya.
"Hah?." mata Sasya membulat sontak terkejut. "Bapak seharusnya pulang besok, tapi kenapa bapak sudah di sini?." ucap Sasya terus membuntuti langkah kaki Brydean yang cepat, sampai ia bisa menyeimbangi langkah kaki tersebut.
"Tidak ada peraturan untuk bos, saya bebas kapan datang dan pergi."
"Lo setahun udah ganti berapa kali sekretaris?." tanya seorang pria yang di temui Brydean.
"Dua kali."
"Menurut gw dia beda dan bakal abadi, tidak tergantikan." ucap pria tersebut seraya membakar sebatang rokok. "Sasya, kita pernah ketemu. Lo ngga ingat? gw Azka." pelayan pun datang membawa pesanan mereka.
Pandangan mata Sasya sejak tadi tidak berani menatap pria yang bernama Azka. Gw ngelupain lo, mana bisa yang ada makin terngiang-ngiang di kepala gw. Lo satu-satunya pasien cowok gw yang paling kalem dan ramah di banding kebanyakan tentara di sana. Sasya memberanikan diri menatap Azka. "Iya ingat, pak Azka. Nice to meet you."
Azka tersenyum sangat-sangat manis. "Nice to meet you too, suster Sasya."
Brydean tengah memantau perbincangan mereka berdua. "Dunia itu sempit, sahabat gw ketemu sama sekretaris gw, bahkan jauh sebelum gw mengenalnya." ketus Brydean.
Azka tertawa renyah. "Santai bro, gw ngga bakal ambil hak milik orang lain." menepuk bahu Brydean. "By the way gw ngajak lo ketemu buat ngasih ini." menyodorkan kertas undangan pernikahan.
Menerima kertas undangan pernikahan. "Wow, congrast men." berpelukkan sesaat.
"Lo ngga pernah ngenalin cewenya ke gw."
"Berawal di jodohin, mau ngga mau harus lanjut."
"Ini permasalahan yang rumit, let's try men. Simpel aja jalanin dulu, ngga cocok cari yang lain. Lo mayor, siapa yang ngga mau sama lo?." mengelurkan vape di saku celana.
Di sisi lain, Sasya seperti seseorang yang tidak punya teman walau duduk bersama. Hanya bisa menyimak pembicaraan mereka. Wah, sekarang udah jadi mayor, kemarin pas jadi pasien masih letnan.
"Mayor." tertawa kecil. "Coba, Sasya lo mau sama gw yang duda?." goda Azka.
Sontak Sasya kaget mendengarnya, pertanyaan macam apa ini?. "Hmm, ngga tau. Di pikir dulu." canggung Sasya.
"Nah terbuktikan, Sasya aja jawabnya 'di pikir dulu' ngga jaminan jabatan itu." meneguk minuman yang di pesannya.
"Lo ngegoda sekelas Sasya, nggak bakal mempan. Dia udah gw pelet." canda Brydean dengan smrik di wajahnya, lalu menghisap vape.
Wah, makin ngawur percakapan mereka. Sasya semakin risih, ingin cepat pulang. Ini bukti nyata mereka ngeghibah di depan orangnya langsung.
"Good luck bro, jangan sia-siain kenikmataan yang lo bayar pakai mahar." Bangun dari duduknya. "Gw harus balik, sekretaris gw udah bete gara-gara di kacangin." menaruh sejumlah uang di atas meja, beranjak keluar dari cafe tersebut. Sasya pun harus segera membuntuti Brydean.
"Biar saya yang nyetir pak." ucap Sasya saat mereka sudah berada tepat di samping mobil tersebut.
"Masuk, cepat !!!." titah tegas Brydean. Sasya hanya bisa menurut.
Dia kayak punya dua kepribadiaan ya, bentar-bentar galak, bentar-bentar baik, apalagi kalo udah sama temannya, kayak tipe orang yang asik banget. Buru-buru memakai seatbelt. Karena Brydean sudah mulai mengemudi mobil dengan sedikit cepat.
"Besok tunjukkan CV-mu atau lebih baik ceritakan tentang dirimu seperti yang di tuliskan dalam CV sekarang." tegas Brydean
"Untuk apa terburu-buru pak? besok saya akan berikan CV saya kepada bapak." jawab lembut Sasya di iringi dengan senyuman.
"Kalau bisa sekarang, kenapa harus besok?." ucap datar Brydean.
"Baik, apa yang bapak ingin tahu tentang saya?."
"Apa hubunganmu dengan Bimo atau Azka?, mereka satu batalyon yang sama, hanya di bedakan dengan pangkat dan jabatan." pandangan Brydean tetap fokus pada jalan.
"Hanya sebagai pasien." jawab singkat Sasya.
"Setau saya anda dulu model?."
"Iya, tapi saya dulu perawat terus jadi model sekarang jadi sekretaris bapak. Ngawurkan pak, S.Kep.Ners malah jadi sekretaris."
"Magang semester berapa ketemu Azka atau Bimo?."
"Ihs, bapak kenapa sih nanyain mereka?." Sasya yang mulai kebingungan dengan tingkah CEO satu ini.
"Anda mengatakan memperbolehkan bertanya apa sajakan? mudah kok pertanyaannya ngga harus berpikir keras."
"Baik, mereka kenal saya pas lagi PKL mungkin. Disitu saya masih SMK pak."
"Di rumah sakit mana?."
"Rumah Sakit militer."
"Iya saya tau, tapi di mana?."
"Di daerah bogor pak."
"Kenapa ngga pernah ngerawat saya?."
"Hah? emang bapak pernah sakit?." julid Sasya.
Brydean menggeleng. "Tapi setidaknya, kok ngga pernah ketemu?."
"Memang bapak ada hubungannya dengan militer?."
"Tidak ada."
Menghembuskan napas panjang. "Ngga jelas bapak, ih." Pertanyaan yang aneh, namun baru kali ini Sasya dan Brydean mengobrol sepanjang jalan, biasanya mereka hanya berdiam saja. Sasya sendiri pun bingung dengan sikap Brydean yang pasang surut seperti air laut, susah di tebak.
¤
¤
¤
¤
¤
¤
🖍 Jangan lupa Like dan Vote 🖍
📖 Selamat Membaca 📖