Together Again

Together Again
Freak People



Setelah kejadian Nico yang menelpon Sasya. Ya tentu-nya para sahabat Sasya terus meledek-nya.


The time Night Ride with bestie. Malam ini mereka keluar bersama menaiki motor sport-nya melaju di jalan Ibu Kota Jakarta yang bila malam vibes Jakarta seperti luar negeri. Bahkan mereka seperti lady bikers dengan gaya kece-nya dan sudah cocok bila mereka mengikuti sebuah genk motor untuk menggeber kawasan Ibu Kota Jakarta.


Mereka melaju sangat cepat, sampai sebuah lampu lalu lintas yang berwarna merah membuat mereka melambatkan kendaraan dan berhenti menunggu sang lampu menunjukkan warna hijau-nya. Mobil yang terhenti terlebih dahulu membuat mereka terpisah, Sasya dan Nita berada di tepi jalan sedangkan Quira berada disamping mobil Mercy.


...⚘⚘⚘...


Disisi lain ternyata yang berada didalam mobil Mercy tersebut adalah Nico dan Luke.


"Bro.." panggil Nico sambil menatap Luke di samping yang pandangannya masih fokus pada jalan yang berada di depan. Nico seakan-akan memberi kode untuk melihat ke samping kanan-kiri.


Luke menanggapi hanya dengan menaiki satu alis-nya.


Nico menurunkan kaca mobil untuk memberi sapaan pada gadis cantik yang berada di samping-nya. Nico langsung bisa menyadari bahwa gadis yang ada di samping-nya itu adalah Quira, bahkan sudah cukup lama mereka tidak bertemu kembali hanya Sasya yang baru ia temui secara langsung. Untuk saat ini wajah Sasya, Nita dan Quira sangat familiar di kenal banyak kalangan masyarakat Indonesia akibat... You now lah mereka 'kan belum lama jadi trending topik, dan selamanya jejak digital tidak bisa di hapus dan selalu membekas.


"Hai, girl.." sapanya.


Quira pun menoleh ke arah suara tersebut dan sedikit menunduk untuk melihat seseorang yang berada di dalam mobil tersebut. "Oh hai, boy.." jawab Quira sambil menarik senyum di pipi-nya.


"Apa kau tidak kedinginan memakai celana pendek di malam hari? saat kau mengendarai motor." tangan Nico hendak memegang paha Quira yang mulus, tapi dengan sigap Quira langsung mencengkram pergelangan tangan Nico dengan kencang. "Aww." jerit Nico yang merasakan kesakitan pada pergelangan tangan-nya dan ia pun melakukan perlawanan.


"Tidak sopan anda pak." Quira merasa kalo Nico melakukan hal bejat pada-nya, lalu melepaskan cengkraman-nya.


"Apa kau selalu berpikir kotor untuk hal itu?." Nico mengelak perbuatan yang ia lakukan. "Aku hanya ia mengambil daun kecil yang terselip di tutup tangki bensin." Nico pun mengambil daun kecil tersebut.


Quira melihat sekilas lampu lalu lintas tersebut. "Maaf, selamat tinggal. See you next time." ucap Nita menutup visor helm dan melaju dengan secepat kilat karena sang lampu sudah menunjukkan lampu hijau-nya.


"Itu cabang yang ke berapa, bro?." ledek Luke sambil menginjak pedal gas dan mengendari mobil dengan laju. Yang sedari tadi Luke sedang menyaksikan pertunjukan aksi seorang fuckboy sedang PDKT.


Nico mengerutkan dahi-nya. "Hmmm, gila lo. Tapi boleh juga di masukin list per-cabangan" perkataannya yang di selingi dengan tawa kecil diakhir.


"Haha, lagi dan lagi. Gw harus selamatin mereka dari cowok bejat kaya lo." smrik Luke.


"Aihs, lo juga kan bejat."


"Tapi ngga se-bejat lo."


"Fine, kali ini gw kalah debat sama lo." Nico kali ini menyerah dengan perkataan Luke dan ia sesekali melihat jalan, penglihatan Nico tidak salah ia menyadari kalo jalan yang sedang mereka lalui bukan tepat pada jalan mereka tuju. "Jadi sekarang lo mau ngikutin mereka?." tebak-nya, karena sejak Sasya melaju meninggalkan mereka pandangan mata Luke selalu tertuju pada Sasya, sebelumnya Nico melihat motor Quira dari kejauhan melaju ke arah jalan yang mereka lalui.


"Nice, hanya penasaran."


"Alah, lo juga mulai tertarik dengan salah satu-nya." tidak lupa Nico memberikan senyum devil di akhir.


Mereka terhenti disebuah restoran mewah yang ramai pengunjung. Luke pun berhasil mengejar mereka bertiga walapun mereka bertiga mengendarai motor secepat kilat.


"Gw kira mereka berhenti ke sebuah club." Luke memberhentikan mobil dan mem-parkir 'kan tidak jauh sebelum pintu masuk restoran tersebut.


"Gw rasa mereka ngga seburuk itu."


"Perasaan lo aja, mungkin mereka peminum."


"Cepat, kita harus menemui klien cantik yang mungkin sudah menunggu."


"Wait, ngga ada sejarah-nya bawahan nyuruh bos."


"Tapi kita lagi di luar, come on Luke."


"Lo aman karena temen gw, on more you talk about this." nada bicara Luke mulai meninggi satu oktaf dan tatapan mata-nya mulai berubah tajam. "I KILL YOU." ancamnya.


Nico mulai merasakan merinding sekujur tubuh mendengar perkataan Luke. "Wow, sabar bro." berusaha untuk menenangkan Luke dengan menepuk bahu-nya.


Luke pun menginjak pedal gas, melaju meninggalkan Sasya dan kawan-nya ke sebuah tempat tujuan awal mereka adalah sebuah hotel mewah yang sebelumnya sudah di booking sejak sore hari.


Setiba di sana membuka pintu hotel presiden suite dan benar saja para klien cantik tersebut sudah datang duduk manis di sofa, meja pun sudah di tata rapi dengan berbagai macam alkohol untuk siap di santap mereka. Kebiasaan buruk mereka adalah menyewa model cantik virgin untuk memuaskan hasrat. Sebelum melakukan persetubuhan Luke dan Nico melakukan party membuat para model cantik hingga mabuk berat.


...⚘⚘⚘...


Hari ini hari minggu dan mereka melakukan lari pagi mengelilingi GBK, mereka sudah mengelilingi tiga putaran dengan menggunakan sepeda dan kini gilaran untuk berlari. Sebelumnya mereka kesini membawa mobil double cabin milik bokap Nita untuk memudahkan membawa sepeda saat menuju GBK.


Disuatu waktu saat mereka sedang lari.....


Sasya berhenti mengayunkan kaki-nya. "Gw kayak-nya harus pulang sekarang." tegas-nya.


"Kenapa?." tanya heran Nita. "Masih jam delapan pagi, baru sebentar kita olahraga-nya."


Sasya menepuk bahu mereka berdua, menunjuk kearah kerumunan orang di depannya.


"Mending pulang, yuk." ajak Sasya.


Setelah tahu yang Sasya tunjuk adalah kerumunan abang-abang freak TNI, mereka membalikkan badan. "Yuk pulang, gw malas ntar ada mantan pasien. Mending kalo ngga Hallo Dek. " saat Quira berbicara mereka sambil berjalan kecil. Nge-ghibah bertiga sambil menunduk.


Asik sedang nge-ghibah sambil menunduk ada seseorang memanggil mereka. "Dek." suara tersebut langsung membuat mereka merinding sekujur tubuh dan mematung. RIP sudah, feeling mereka untuk menghindar malah ketemu juga.


"Dek, kunci mobil-nya jatuh." ucap pria berkulit coklat, tinggi, gagah dengan potongan rambut buzz cut-nya menghampiri mereka dan saling berhadapan.


Ihs, pengen nangis aja boleh ngga sih? rasa ingin menghilang dari bumi. batin Sasya.


Mama... pengen punya jurus menghilang, berpindah tempat soal-nya udah capek sama freak people. batin Quira.


Gw bukan-nya ngga mau ngelayanin atau dendam atau yang lain-nya sama abang anggota, tapi ya gitu deh, tau sendiri 'kan. batin Nita.


Sudah pasrah menghadapi nasib dan takdir mereka yang datang di pagi yang cerah nan sejuk, berubah dengan pagi yang mendung nan gelap.


"Oh ya, terima kasih." Sasya pun mengambil kunci mobil yang pria tersebut sodorkan dan ia menatap wajah dan mata-nya tidak lupa ia menunjukkan tersenyum ramah-nya. Dan....... ternyata benar pria tersebut pernah jadi pasien Sasya belum lama ini.


"Hai, perawat Sasya." ucap pria tersebut sambil tersenyum manis. "Aku mau minta nomor ponsel-nya."


Seketika saat Nita dan Quira mendengar ucapan tersebut dan saling memberi kode, Nita dengan cepat mengambil kunci mobil yang di genggam Sasya dan kaburrr meninggalkan Sasya.


"Bye, duluan ya." ucap Quira berlalu meninggalkan Sasya sambil berlari, itu adalah kesempatan emas mereka untuk menghilang agar tidak ada lagi freak people yang nyangkut pada Quira dan Nita. Di satu sisi mereka juga tidak mau menggangu Sasya dan kami saat berterimakasih kepada Sasya sudah menyelamatkan kita sebelum badai menerjang.


Dengan berat hati Sasya menjawab pertanyaan yang sempat tertunda karena ulah temannya, sebenarnya sakit hati banget di tinggal sendirian pas lagi sayang-sayangnya sama mereka berdua, menderita sendirian di sini. Tapi harus tetap kuat.


"Hmm, tapi aku ngga punya nomor ponsel adanya nomor rekening." sengaja agar abang anggota ilfil dan meninggalkan Sasya.


"Iya ngga apa-apa, berapa nomor rekening-nya?."


Tidak di duga ternyata malah di jawab seperti itu. Semakin membuat Sasya ketar ketir.


"Hahaha, bercanda kok, DM di instagram aja."


"Udah." pria tersebut menunjukkan DM-an ia dan Sasya, tetapi Sasya tidak pernah membalas. "Dari semenjak kamu trending topik juga, aku udah nge -Dm."


Mampus, gimana gw keluar dari percakapan ini ya allah. "Nanti sampai rumah di balas ya, aku lagi buru-buru harus pulang jadi see you next time." Sasya melontarkan senyum-nya dan memegang biceps tangan sambil melewati abang tersebut, pria tersebut membalikkan badan melihat Sasya pergi melaluinya dan tidak lupa Sasya untuk melambaikan tangan. Sengaja biar abang freak baper dan seperti mengasih harapan kepada-nya.


Sambil lari menuju parkiran mobil, Sasya terus membatin. Dia manis tapi tidak semanis dan setampan Taehyung, ngga ada yang bisa nyaingin ketampanan seorang Kim Taehyung bias terlove-love gw dan gw belum temuin cowok yang bisa nyaingin ketampanan bias tercintahh. Tak terasa ia pun sampai di depan mobil Nita, tidak melihat tanda-tanda sahabatnya di luar mobil, tanpa basa-basi Sasya langsung masuk kedalam mobil tersebut dan bersiap untuk debat dan meluapkan emosi dengan sahabat-nya.


¤


¤


¤


¤


¤


¤


🖍 Don't forget to Vote and Like 🖍


📖 Selamat membaca 📖