Together Again

Together Again
Perjalanan Bisnis



Brydean hari ini melakukan perjalan bisnis ke Italia. Sebuah proyek besar sedang ia bangun dan hampir sepunuhnya selesai. "Sayang, aku berangkat ya." pamit Brydean pada Sasya sebelum ia masuk kedalam mobil.


Sasya pun langsung memeluk erat Brydean. "Benar, aku tidak usah mengantarmu sampai bandara?." ucap Sasya lirih.


Brydean mengusap lembut rambut Sasya seraya mencium puncak kepalanya. "Iya, tidak usah sampai bandara. Aku khawatir tidak tega meninggalkanmu." tangannya merangkup wajah Sasya. "Kabarin aku dimana pun kau berada." menarik senyum di wajahnya.


"Siap bos." tangannya yang hormat. "Hati-hati, jaga kesehatan." tersenyum menunjukkan barisan gigi.


"See you." mencium singkat bibir Sasya, lalu melambaikan tangannya sebelum masuk kedalam mobil.


Brydean 'pov


Vinice - Italia


Pagi ini aku bergegas untuk memantau proyek setelah sesampainya kemarin, aku langsung mengistirahatkan tubuhku di sebuah apartement milikku. Apartement itu sengaja ku beli belum lama setalah proyek itu berjalan, karena aku tau sewaktu-waktu aku akan kembali ke italia atau menyelesaikan banyak perkerjaan disana. Di temani oleh direktur eksekutif menuju lokasi yang tak jauh dari apartemenku. Ketika Nico masih menjadi bagian dari perusahaanku dan menemani ku setiap perjalanan bisnis kemana pun, ia selalu mengadakan party atau mengajakku untuk datang kesebuah club setiap malam.


flashback on


Selepasnya kami pulang meeting dengan kolega penting, sejenak kami menikmati sebuah kopi di sebuah coffe shop terkenal yang berada di Prancis sebelum pulang ke apartement.


"Capek 'kan? Tenang gw punya obat penawarnya." ucap Nico menyeringai seraya menghabiskan segelas kopinya dan beranjak berdiri menghampiri pelayan cantik disana seraya menggoda dengan sikap sensualnya. Aku tau arah kemana Nico ingin membawa pelayan coffe shop tersebut dan aku paham apa yang di ucapkan olehnya.


Selesainya kopiku habis mengeluarkan uang di dompet, lalu menaruhnya di atas meja. Beranjak melangkahkan kaki keluar dari coffe shop tersebut seraya membakar rokokku berjalan menuju mobil yang ku bawa di parkiran. Tak lama aku masuk kedalam mobilku dan hendak menyalakannya, Nico datang menghampiri dan langsung masuk kedalam mobilku. "Gw yang nyetir bro. Lo ngga tau tempat yang mau gw tunjukin?." Akhirnya tanpa basa basi kami bertukar posisi dan Nico cepat memacu mobil di jalan malam kota Prancis.


Tiba disebuah hotel, aku membuntuti Nico. Kami masuk kedalam sebuah kamar yang didalamnya sudah banyak berbagai minuman tertata rapih di atas meja sofa dan beberapa wanita sexy yang siap melayani kami. Menghabiskan malam yang menyenangkan setelah seharian penat menguras tenaga dan pikiran. Wanita bayaran di sana lebih spontan dan erotis melayani kami, mereka bahkan tak perlu menunggu perintah. Yang ku suka dari pelayanan mereka yang berbeda.


Tak ku tak sadari telah menghabiskan satu botol wine di temani wanita bayaran itu seraya mengulum junior. Ku menoleh mencari keberadaan Nico yang sudah menghilang di dekatku. Cepat ku tarik rambutnya agar menyudahi dan beranjak ke inti. Dengan gerakan erotisnya tangan nakalnya mengusap dari paha hingga dada membuka kancing kemejaku. Aku bahkan malas melepas kemeja yang suka terbuka itu dan memilih untuk membiarkan saja, celanaku pun hanya terbuka setengah. Aku terlalu malas untuk beranjak dari sofa, biarkan lah wanita bayaran itu yang bermain peran dominan.


Ritme goyangan pinggul yang indah di atas tubuhku. "Oh, ****." aku yang tak tahan dengan service gila yang diberikan, gairah ku bergejolak langsung mengambil alih permainan tersebut. Bermain secara kasar.


...⚘⚘⚘...


Sepulang ku dari pemantauan proyek, aku berkunjung kesebuah cafe di sana. Kali ini aku berpisah dengan direktur eksekutif-ku, ia izin untuk lebih dulu pulang ke hotelnya. Saat sesampainya aku di caffe tersebut hendak mencari tempat duduk yang nyaman.


Tiba-tiba....


Seorang wanita menabrakku dan ponselnya terjatuh ke lantai. "Sorry." ucapnya seraya membangkitkan tubuhnya dengan ponsel yang sudah berada di genggamannya.


"Never mind." jawab datarku beranjak pergi dari hadapannya.


"Tunggu, kakak osis." ucap wanita tersebut menggengam pergelangan tanganku. Sontak ku mematung dan melihat sinis kearah lengannya yang mengenggamku. "Maaf kak." ucapnya yang tersadar langsung melepas genggaman tersebut. "Boleh berbincang sebentar?." ucapnya seraya tersenyum tersebut. Hanya ada jawaban anggukan kepala dariku. "Baiklah kita duduk di sana." ucapnya lagi seraya menunjuk sebuah meja caffe yang kosong tak jauh dari hadapan kami.


Pelayan pun cepat datang menghampiri kami yang baru saja setelah mendudukkan bokong ini di kursi. "Oh ya, hallo namaku Jessi." mengulurkan tangannya seraya tak henti tersenyum padaku.


Ntah sebetulnya aku pun tak ingin tahu dia siapa, aku hanya mencoba menghargainya saja. "Hi Bry--."


"Brydean Luke Albern, siapa yang tak kenal dengannya." ia cepat memotong pembicaraanku. "Aku ngga nyangka kita ketemu di Prancis." ucap Jessi sumringah.


Aku yang terheran akan wanita muda di hadapanku ini, seperti banyak yang ia ketahui tentangku. "Maaf, apa sebelumnya kita pernah kenal?."


"Mungkin kakak tidak ingat, tapi dulu aku pernah minta foto bareng saat selesai mpls. Aku 'kan penggemar berat kakak dan aku yakin satu sekolah pun tau pria tampan yang jadi osis itu." ucapnya menunjukkan sebuah gambar di masa SMA. "Ini dulu kakak pas kelas duabelas." menjelaskan foto tersebut. Tiba pelayan pun datang membawa pesanan kami.


"Sudah hanya itu saja?." membangunkan diri beranjak pergi dari hadapannya.


...⚘⚘⚘...


Brydean mengatakan perjalanan bisnisnya terjeda karena harus menghadiri sebuah perjamuan mewah yang banyak di hadiri oleh teman bisnis Brydean dari berbagai negara. Ia menjemputku ke Indonesia, lalu kami bersama terbang ke Spanyol untuk menghadiri acara tersebut. Karena waktu kami terbilang terburu-buru mengejar waktu, karena Brydean pun memberitahuku secara mendadak, belum lagi ia harus pulang terlebih dahulu ke Indonesia untuk menjemputku. Banyak sekali kan waktu yang terbuang sia-sia, padahal lebih efisien ketika kami bertemu langsung di Spanyol. Sesampainya di Spanyol, kami singgah sebentar di sebuah rumah mewah milik salah satu sahabat Brydean bernama Vito untuk sementara ini. Karena sehubung Vito kampung halamannya di Spanyol kita bisa menumpang sebentar di rumah mewah yang kosong tersebut untuk sekedar berganti pakaian saja, Brydean tidak pernah sama sekali singgah lama atau mengerjakan sebuah proyek di Spanyol, maka dari itu ia tidak memiliki sebuah apartement atau rumah di sini.


Malam yang di penuhi bintang menghiasi langit malam yang indah. Aku yang sudah siap memakai dress putih panjang dengan belahan paha tinggi dengan di balut heals dan rambut yang terurai. Berjalan masuk kedalam gedung tersebut seraya berpegangan tangan formal. Brydean melepaskan tautan tanganku dan mencium bibirku sekilas, ia izin untuk menemui para teman bisnisnya. Saat aku ingin berkeliling menelusuri gedung perjamuan tersebut dan mengambil segelas minuman.


Tiba-tiba seseorang pria bule menyapaku seraya menyodorkan minuman yang berada di tangannya. "This for you." memberikan minuman tersebut.


"Thank's, i can get my self a drink." tersenyum seraya menunjukkan sebuah cincin yang berada di jari manisku.


"Owh, sorry." pria bule tersebut tersenyum dan beranjak berlalu dariku.


Aku melanjutkan melangkahkan kaki menuju meja bar untuk mengambil sebuah minuman yang non alkohol. Aku berjumpa beberapa para istri yang ikut serta dalam perjamuan itu. Duduk semeja diantara mereka yang luar biasa aku kagumi dengan banyak pengetahuan yang mereka miliki dan aku banyak belajar darinya. Gaya pakaian mereka sederhana namun glamour dan yang pastinya apapun yang mereka pakai melekat di tubuhnya memiliki harga jual yang mahal, seperti biasa ibu-ibu sosialita pada umumnya. Sudah banyak berbincang dengan mereka, aku beranjak dari kursiku untuk ke kamar mandi sebentar. Aku melangkahkan kaki menuju kamar mandi yang di tunjukkan arah oleh salah seorang pelayan di perjamuan tersebut.


Aku menelusuri koridor tersebut. "Oh god." gumamku seraya membekap mulut melihat di depanku seseorang lawan jenis yang sedang berciuman panas, bahkan mereka tak menghiraukan aku yang melaluinya. Mungkin aku yang belum terbiasa melihat permandangan ini di suatu perjamuan. Mungkin aku yang terlalu cupu dan ini baru pertama kalinya aku mengikuti sebuah perjamuan. Bahkan yang aku lihat mungkin hal wajar terjadi, lagi pula ini bukan Indonesia. Legal untuk mereka melakukan sebuah hal seperti itu secara terbuka dan publik. Aku melanjutkan langkahku menuju kamar mandi, tak hanya satu yang ku lihat berciuman panas saja sepanjang koridor. Bahkan bukan hanya ciuman panas saja yang ku lihat, aktivitas bercinta pun mereka lakukan walau pun tidak secara terang-terangan, masih mempunyai rasa malu untuk tidak sampai membuka busana yang di pakainya, hanya sebagian yang perlu mereka buka untuk melakukan aktivitas tersebut.


Aku masuk kedalam kamar mandi khusus wanita tersebut. Lebih terkejutnya saat memasuki kamar mandi yang terdengar suara ******* mengisi ruangan tersebut, bahkan banyak pintu kamar mandi yang tertutup. Aku tidak berniat untuk memakai bilik kamar mandi mana pun yang terbuka, memilih hanya membasuh tanganku di westafel.


Brak


Alangkah terkejutnya aku mendengar suara dobrakan pintu tersebut. Aku hanya bisa melihat dari pantulan cermin apa yang sedang terjadi dibelakangku. Baru saja lawan jenis yang baru saja datang dari luar ruangan kamar mandi dengan perasaan gairah yang bergejolak datang mendobrak pintu bilik kamar mandi memperlihatkan aktivitas bercinta secara terang-terangan dari pantulan cermin tersebut, bahkan hingga mereka lupa tidak menutup pintu bilik kamar mandi. Aku yang risih dan muak langsung beranjak keluar dari sana. Kali ini aku merasa seperti sedang berada di club malam dengan banyaknya lawan jenis yang belum tentu mereka sepasang kekasih melakukan having s*x bersama.


Aku melangkahkan kaki mencari keberadaan Brydean untuk mengajaknya segera pulang dari sana, semua tampak baik dan wajar saat keluar dari koridor yang menuju kamar mandi sungguh seratus persen berbeda. Menelusuri setiap tempat mencari keberadaan Brydean tak ku jumpai. Aku sedikit panik dan muak ingin cepat pulang dari sana. "Oh iya, telepon." gumamku mengambil ponsel di dalam tas yang langsung menghubunginya. Beberapa panggilan tak kunjung di jawab, aku pun bingung harus bagaimana. Mungkin ia sedang asik berbincang dengan para teman bisnisnya dan ponselnya dalam mode diam. Aku berusaha menenangkan diri, lalu melangkahkan kaki untuk memgambil sebuah minuman di meja bar. Seraya aku membawa gelas melangkahkan kaki menuju outdoor taman dekat kolam berenang. Aku menikmati minumanku seraya mata yang terus menelusuri taman tersebut, alih-alih aku menemukan petunjuk keberadaan Brydean. Mungkin tampak sia-sia saja karena ada banyak sekali orang di sana dan terhalang oleh badan mereka yang tinggi-tinggi. Mataku tiba-tiba tertuju pada salah satu sisi pojok dari taman tersebut. Menyipitkan mataku melihat seperti seseorang yang ku kenal dengan postur tubuhnya. Aku melangkahkan kaki mendeketi target tersebut.


"Ups, sorry." seseorang wanita tiba-tiba menabrakku dan menumpahkan gelas yang berada di gengaman tangan. Beruntung saja gelas tersebut tidak tumpah mengenai bajuku dan baju wanita yang menabrakku. " I can get your drink again." ucapnya wanita tersebut merasa bersalah.


"Never mind, thank's." menggelengkan kepala dan cepat bergegas pada tujuan awalku, melewati banyaknya kerumunan orang yang sedang berbincang yang sedikit membuat tantangan untuk sampai ketitik tuju. "Sial." gumamku berdecak kesal saat tiba di sebuah pojok taman dengan target yang sudah menghilang.


Aku membalikkan diri terkejut melihat Brydean dengan seorang wanita yang tak di kenal mematung bermesraan di dekat sebuah pancuran air kolam ikan yang jaraknya tak jauh dariku. Aku mematung melihat suami ku yang sedang selingkuh dengan wanita bule bermata biru dan berambut pirang dengan body gitar spanyolnya. Membungkam mulutku agar tidak berteriak dan perlahan air mataku jatuh membasahi pipi. Aku menyaksikan suamiku bermesraan yang berujung pada ciuman singkat. Aku tidak akan berhenti berjuang untuk mempertahankan hubungan ini, tetapi jika ia hatinya mencintai orang lain aku berhenti untuk memperjungankan semua itu. Aku berusaha tegar melangkahkan kaki walau pun hatiku sangat sakit dan kecewa, berjalan menghampirinya. "Luke, aku kecewa." membalikkan badanku berlari seraya menyeka air mataku.


~~


"Tidak." teriakku langsung mendudukkan diri mengusap wajah kasarku. Napasku masih terengah-engah dengan dadaku yang sesak tercampur berdebar sangat kencang, tanganku tak henti memegangi dada. "Hanya mimpi." menampar pipiku untuk memastikan. "Aw." rintih kesakitanku seraya mengusap pipi. Aku mendekatkan diri pada nakas untuk mengambil segelas air putih, meminumnya agar membuatku lebih tenang. Pukul menunjukkan delapan pagi, aku bergegas turun dari tempat tidur untuk membersihkan diri.


¤


¤


¤


¤


¤


¤


🖍 Jangan lupa Like dan Vote 🖍


📖 Selamat Membaca 📖