Together Again

Together Again
Missed Call



Nico memasuki ruangan Executive Director dan ia pun mengambil ponsel Sasya yang berada di laci mejanya. "Lain kali kalo punya sosmed digunain jangan dianggurin." seraya memberikan ponsel Sasya.


"Hmm, tapi aku lagi malas buka sosmed banyak netizen yang nge DM." Sasya pun duduk di sofa ruangan Nico sambil menghembuskan napas panjang.


"Tadi ada yang vidcall dengan user name K Bimo Militer. Pacarnya ya? Angkatan Udara atau apa? pasti pangkatnya udah ajudan."


"Oalah bukan, itu orang di masa lalu. Tau kan cowok suka datang bila dia penasaran. Dia Angkatan Darat tapi kalo pangkat-nya sekarang aku nggak tau, terakhir dia masih Prajurit Satu. Saat aku PKL di rumah sakit militer, itu pas aku kelas XI. "


"Sebenarnya alasan cowok dateng penasaran itu karena dia ingin tau sikap cewek tersebut."


"Berarti dia anggap aku cewek dengan sikap buruk, karena dia pernah ngeghosting. Setelah mungkin dia tau sikapku."


"Gw yakin bukan sikap lo yang buruk, tapi lo yang terlalu cuek saat dia mau PDKT dan akhirnya dia menyerah. Tapi ada kemungkinan dia ngehubungin lo buat mulai PDKT lagi."


"Hahaha, nggak dulu sama abdi negara soalnya chatan aja freak."


"Alasan lo cuek karena dia freak ?."


"Risih juga sebenarnya soalnya ngajak vidcall terus, aku kan anti sama kamera di vidcall."


"Anti kamera vidcall?."


"Ngerasa aku aneh banget mukanya di vidcall, mana nggak goodlooking."


"Lo cantik sempurna Sasya."


"Thank's, don't forget say masyaallah."


"Oke, masyaallah cantik." Nico pun menuruti ucapan Sasya. "By the way, congrast for teh winner." Nico pun mengulurkan tangan.


"Makasih." Sasya pun menerima jabatan uluran tangan Nico.


Hari sudah semakin malam, Sasya memutuskan untuk pulang. Saat Sasya ingin membuka pintu tiba-tiba ada Luke yang sedang berada di depan pintu, ntah sejak kapan ia berdiri disana.


"Lo belum balik bro?." tanya Nico.


Luke hanya menjawab menggeleng saja. Lalu mereka berajalan menuju parkiran basement. "Sasya bawa mobil atau mau gw anterin soal-nya sudah malam ?." tawar Nico.


"Ekhem, bro lo kan tadi minjem mobil gw. Nggak usah gaya nganterin pake mobil orang." celetuk Luke.


"Udah jangan ribut, gw bisa pulang sendiri kok."


"Ya udah, gw anterin sampai masuk ke dalam mobil."


"Ekhem." deham Luke.


"Lo sakit bro?." cemas Niko yang sebenarnya sangat menggangu diri-nya yang sedang menciptakan kenyamanan untuk Sasya.


"Gw sakit tenggorokan kayaknya, Ekhem." drama Luke.


Sasya pun tersenyum saat melihat mereka. Ia pun berlalu kecil menuju mobilnya. "Makasih untuk semuanya, gw bisa jaga diri gw kok." teriak Sasya, lalu menghilang dari pandangan mereka.


"Lo sih, ganggu gw aja."


"Lah, gw tau modus lo yang fuckboy. Gw kira lo ngajak Sasya ke ruangan bakal lo rusak."


"Wah parah lo !!! gw nggak se-bejat itu kali."


"Bawa." ucap Luke sambil memberi kunci mobilnya dengan cara di lempar.


"Kita mau minum-minum, sambil di kelilingin cewek nggak?."


"Lo aja, gw lagi malas." tolak Luke dengan mentah.


...⚘⚘⚘...


Sasya tiba di kasur empuk kamarnya. Membuka sebuah chat yang sebenarnya muak. Untuk apa dia menelponku lagi? wahai bapak bimo yang terhormat. Bukankah kau yang meng-ghostingku dan aku pun sudah hilang kepercayaan kepadamu, aku dulu menganggap bila abdi negara itu tidak merokok, minum miras dan having s*x bahkan ada juga yang kecanduan judi online ternyata dugaanku salah, mereka bertolak belakang. Ketika seorang pria dewasa yang mempunyai banyak uang tidak melakukan hal tersebut. Mungkin tidak semuanya seperti itu, tapi rata-rata seperti itu dan mereka tidak cukup dengan satu wanita. Dugaanku semakin kuat ketika ada seorang abdi negara yang di diagnosa HIV di usia muda walaupun hasil lab menyatakan negatif, tapi masih ada kemungkinan bisa positif terkena HIV di kemudian hari. Oh, aku tau kenapa kau nelponku kembali?. Karena kau mencari pelampiasan dan teman gabut, bahkan aku sudah tau bila rata-rata kau dan temanmu mempunyai handphone dua dan nomor dua, ntah berapa banyak cabang yang kau simpan di nomor kedua dan bahkan kau cari aman menyimpan nomor kekasihmu di nomor kesatu agar tidak ketahuan kau punya banyak nomor wanita. Gw akui itu sangat-sangat cerdik. Handphone yang pertama itu iphone dan kedua itu android.


...⚘⚘⚘...


Cahaya sinar matahari yang cerah menyelinap masuk melalui celah jendela kamar Sasya. Mungkin ini bukan pagi yang indah dan cerah, karena sudah ada dua sahabatnya yang bersiap untuk membangunkan tidur cantik Sasya.


"Yok bangun, bangun nak, sudah siang." ucap suara cempreng Quira dari ambang pintu kamar Sasya.


"Hmmm, bentar lagi, masih pagi buta juga." Sasya sambil menarik selimut menguburkan diri-nya.


Nita dan Quira pun saling menatap memberi kode. Menarik selimut Sasya sampai tidak menutupi tubuh-nya lagi. "Nah, lo pegang kepala-nya, gw pegang kaki. Hitungan ketiga angkat." perintah Quira.


"1,2,3." ucap mereka bersamaan. Nita pun menggeleng karena tidak kuat untuk menggotong Sasya. Quira pun mencari akal untuk bisa menggotong Sasya. Ia mulai melipat selimut menjadi dua bagian lalu memindahkan Sasya ke atas selimut tersebut. "Ta, kalo nggak kuat angkat, seret aja." lalu Nita pun mengangguk. Mereka pun menggotong Sasya sampai ke bathtub. "Sasya, kami minta maaf ya. Cuman dengan cara ini, biar kita tidak membuang-buang waktu." ucap Nita dengan raut wajah yang tak tega.


Bathtub pun mulai terisi dengan air hangat, bahkan mereka tidak berani membuka sehelai baju yang dikenakan oleh Sasya. Karena kalau Sasya sudah tau dia di zholimi seperti ini pun dia sudah sangat marah sekali pada sahabatnya. "Sasya bangun, lo nggak mati kan?." Quira sambil membasuh muka Sasya dengan air. Mereka sadari sejak tadi walaupun air di bathtub sudah setengah terisi tapi Sasya tidak kunjung bangun.


"Please, jangan marah ya !!." raut wajah Quira memelas.


Terlihat Sasya menarik napas panjang. "Berhubung gw lagi nggak mau marah-marah, jadi gw maafin. Konsep kalian ngapain bawa gw ke bathtub, kalian mau mandiin gw. Awww malu diliat-liat."


"Jadinya kemarin malam kita lagi ke cafe." Nita mulai menjelaskan.


"Wah, nggak ngajak parah." sela Sasya


"Saat kita lagi minum di cafe tersebut, ada sebuah orang berjas rapi menghampiri kira yang sedang duduk, sebut saja mereka dari sebuah agensi model yang menawari kita untuk menjadi model mereka. Mereka menginginkan kita untuk bergabung di agensi-nya, mereka juga udah sudah payah cari kita untuk event emas ini. Gara-gara kita viral di sosmed jadi gini deh. Nah si gobloknya Quira pelo ini malah menandatangani kontrak kerja sama untuk mereka. Hari ini kita harus datang ke event iklan kosmetik ternama." tidak lupa Nita menoyor kepala Quira karena kesal.


"Astagfirullah, reflek ber-istigfar pagi-pagi. Terus event-nya jam berapa geulis?."


"Jam 8, tapi sekarang udah jam 07.20. Kan dikamar mandi nggak boleh melafadz-kan kalimat itu di kamar mandi." ucap watados (wajah tanpa dosa) Quira yang sedang meng-alim.


"Anj, keluar lo pada gw mau mandi !!!." teriak Sasya. "Kenapa cobaan dateng bertubi-tubi ??." Sasya berdecak kesal dan sangat kesal karena sebenarnya tidak ada niat dalam diri-nya untuk menjadi model atau aktris. Sasya ingin hidup tenang seperti orang-orang biasa di luar sana yang hidup damai tanpa tersorot kamera media ertertainment.


Seselesai-nya Sasya mandi dan memakai dress. Sasya sangat kesal dan geram akibat ulah Quira yang semena-mena tanpa mendiskusi-nya terlebih dahulu. "Si Quira benar-benar nggak ngotak, ihs kan kita nggak ada skill modeling." kesal Sasya.


"Sebelum-nya, gw udah bilang nggak ada bakat modeling, tapi kata salah satu manager agensi tersebut kita akan ada pelatihan untuk belajar sebelum event di mulai. Jadi alasan hari ini kita harus dateng ke kantor agensi buat belajar dulu." Dengan segala cara pun sebenarnya Nita sudah berusaha menyangkal untuk membuat pihak event tersebut menolak mereka menjadi model. Walaupun surat perjanjan tersebut sudah di tanda tangani oleh Quira.


...⚘⚘⚘...


Sore pun tiba, mereka hari ini izin tidak bekerja. Setelah urusan per-modeling-an selesai, ke-esokan harinya mereka memutuskan untuk latihan modeling selepas mereka pulang bekerja.


"Lo kemarin kemana?." Quira yang memecah keheningan di dalam perjalanan pulang.


"Nggak kemana-mana." jawab Sasya sambil menyetir mobil BMW-nya.


"Kok, gw chat sama call lo nggak di jawab?."


"Masa sih?."


"Hayo, ada yang di sembunyiin ya?." sambung Nita.


"Nggak kok, nggak ada." jawab enteng Sasya.


"Be-na-r?." tanya Nita penuh penekanan.


"Oke, fine gw ceritain. Jadi kemarin ponsel gw hilang pas di supermarket, beruntungnya ponsel gw di temuin sama kak Nico, terus gw dateng ke kantor-nya." ucap Sasya masih tetap fokus menyetir.


"Terus-terus gimana?." ledek Nita.


"Ya, terus gimana?." lanjut ledek Quira.


drrrt,drrrt,drrrt


Ponsel Sasya berdering.


"Sya, ponsel lo bunyi." ucap Nita mengambil ponsel Sasya di dalam tas. Tapi belum sempat ia melihat siapa penelpon tersebut, panggilan tersebut langsung berakhir.


"Yah, keburu mati say." Nita pun menemukan sesuatu yang seru untuk menjulid-kan sahabatnya.



"Siapa nich?." memamerkan room chat Sasya. "Asik, ternyata human ini yang missedcall."


Quira pun merebut ponsel Sasya yang sedang di genggam Nita. "Ehhh, gila woy foto profil-nya ganteng banget."


Sasya yang sedang mengendarai mobil itu pun langsung menepi karena tau apa yang sedang sahabatnya bicarakan. "Anj, kepo deh kalian." Sasya pun langsung merebut ponselnya.


"Aduh, ada yang spesial kayaknya, ups." Nita yang terus meledek Sasya.


¤


¤


¤


¤


¤


¤


🖍Jangan lupa Vote dan Like 🖍


📖 Selamat Membaca 📖