
Weekend telah usai dan di mulai dengan hari senin, hari yang paling malas untuk memulai kembali kehidupan yang tengah di jalani dan hari yang paling di benci oleh segelintir siswa atau mahasiswa karena harus mulai kembali bersekolah dan selalu upacara di hari senin, hufttt. (Yang masih sekolah benar ngga nih?)
Seorang Luke sedang bersiap di walk in closet di temani seorang sekretaris Naomi yang sedang memasang dasi dan merapikan jas yang telah di pakai seorang CEO Brydean di dalam apartement mewah milik CEO itu. Setelah sudah selesai mereka turun menuju lobby apartement yang sudah di tunggu oleh supir pribadi-nya. Selama di perjalanan Naomi menjelaskan kegiatan apa saja yang akan di lakukan hari ini yang sudah di rangkum dalam Ipad.
"Pak, hari ini kita ada meeting penting dengan klien." ucap Naomi sambil memperlihatkan schedule di Ipad.
Pandangan Luke tetap menghadap kedepan tidak menghiraukan Naomi, tetap dengan gaya cool dan arrogant-nya. "Segera siapkan ruangan." titah-nya, mobil yang di tumpangi-nya telah sampai di depan lobby kantor dan beberapa staff keamanan sudah menunggu kedatangan CEO tersebut dan membukakan pintu mobil. Para staff pun menunduk saat CEO Brydean itu melalui mereka. Brydean langsung menuju ruangan untuk mempersiapkan meeting dan Naomi membuntuti Brydean, ikut menyiapkan berkas-berkas untuk di bawa Brydean meeting dengan klien yang sangat penting. Sudah waktu mereka memasuki ruang meeting dan Nico sudah bersiap di depan untuk mempresentasikan yang akan di diskusikan dengan klien mengenai proyek terbaru Albern Grup.
Disaat telah selesai Nico mempresentasikan proyek terbaru mereka dengan klien, Nico meminta usulan dengan Brydean mengenai proyek terbaru. "Pak, bagaimana dengan pendapatmu mengenai proyek terbaru?."
Tidak ada jawaban dari Brydean, tatapan mata Brydean kosong ntah apa yang sedang ia pikirkan sehingga tidak fokus dengan meeting kali ini. Tiba-tiba Brydean memukul meja, membuat seisi ruangan meeting terkejut.
"Pak." panggil Naomi menyadarkan Brydean dari lamunan-nya.
Lalu Brydean menoleh ke arah suara tersebut dan mata-nya menelusuri seisi ruangan tersebut.
"Pak, bagaimana dengan pendapatmu mengenai proyek terbaru kita?." Nico mengulangi ucapannya.
"Saya setuju, lanjutkan meeting." jawabnya lalu ia meninggalkan ruang meeting yang membuat semua orang terheran, ada apa dengan sikapnya Brydean saat ini?. Tinggkahnya yang aneh membuat Naomi pun terdiam sesaat saat Brydean berdiri meninggalkan singgasana-nya dan Naomi harus mengejar langkah cepat Brydean.
"Permisi, maaf pak, apa ada yang salah dalam meeting tersebut?." ucap Naomi setelah ia berhasil menyusul Brydean.
"Tidak, saya hanya bosan."
"Kalau seperti itu, saya akan menyiapkan mobil dan memanggil supir agar bapak segera pulang." ucap ramah Naomi sambil melangkah kaki cepat agar ia menyeimbangi langkah Brydean yang cepat.
Langkah Brydean terhenti, lalu mengambil Ipad yang sedang di pegang Naomi. "Tidak usah, batalkan semua jadwal saya hari ini. Jika kau bisa menghandle semua silahkan saja." ia mengembalikan Ipad pada Naomi, siap tidak siap Naomi harus tanggap dalam menghandle sikap Brydean, terutama dalam mengembalikan Ipad tiba-tiba. Mungkin saja Naomi sedang fokus mencatat perkataan Brydean, mau tidak mau ia harus siap dalam segala hal. "Tidak ada seorang pun yang mengganggu saya di ruangan." tegas CEO tersebut.
"Baik, pak."
Setelah saat Brydean memasuki ruangan dan Naomi sedang sibuk menghadap komputer di ruangan yang tidak jauh dari ruangan CEO. Nico pun menghampiri Naomi. "Presdir tadi kenapa?." menanyakan tentang tingkah laku Brydean saat meeting.
"Ngga tau, saya juga bingung, tapi presdir bilang bosan katanya."
"Sekarang dia ada di ruangan 'kan?." Nico pun berbalik menghampiri pintu ruangan Brydean.
Naomi dengan cekatan berusaha memblokir pintu agar Nico tidak masuk dengan berdiri di hadapan pintu dan merentangkan kedua tangan. "Presdir lagi sibuk, dia ngga mau di ganggu." ucap tegas Naomi.
"Hmmm." Nico pun membalikkan badan, pandangannya melihat meja kerja Naomi. "Neng Naomi, minumannya tumpah kena file presdir." sontak Naomi pun membuka blokir-an dan menuju meja kerja karena panik. Peluang untuk Nico memasuki ruangan Brydean.
Memasuki ruangan, Nico melihat Brydean sedang berdiri membalikkan badan dengan kedua tangan berada di saku celana, menatap pemandangan di luar dari gedung pencakar langit-nya "Presdir yang terhormat, masalah apa yang bikin lo ngga fokus kerja?."
"Apa kau membohongi sekretaris polosku lagi, dengan taktik basimu?." jawab Brydean masih berada di posisi awal.
"Hmmm, memang sangat basi taktikku." berjalan menghampiri Brydean. "Kau belum menjawab pertanyaanku, presdir?." berdiri disamping Brydean.
Brydean membalikkan badan, meninggalkan Nico yang baru saja berdiri di samping-nya itu. Memakai jas dan mengambil kunci mobil yang berada di laci meja. "Lo mau gantiin posisi gw sementara? gw ada urusan, handle dengan baik perusahaan gw."
...⚘⚘⚘...
(Sisi lain di hari minggu)
Disebuah cafe tidak jauh dari Rumah Sakit ia bekerja. Sasya sedang bersantai menikmati suasana panas kota Jakarta, ia sedang menenangakan hati dan pikirannya. Ini hari minggu.... tapi Sasya masih bekerja, ia shift malam. Pribahasa mengatakan Nurse someone's hero, pekerjaan sangat mulia yang bahkan tidak mengenal apa arti kata weekend untuk mereka. Sasya ke cafe setelah pekerjaannya telah usai. Setelah beberapa lama ia singgah di sana, Sasya memutuskan untuk pulang dan meninggalkan sejumlah uang di atas meja, membayar semua total makanan dan minuman yang ia pesan.
Saat sedang berjalan keluar cafe, Sasya terhenti karena sebuah tangan kekar, berkulit tan yang menggenggam pergelangan tangannya. Reflek Sasya berusaha menyingkirkan tangan tersebut, seraya ia melihat siapa orang yang menggenggam pergelangan tangannya. Terheran-heran ia melihat seseorang yang sebenarnya tidak ingin di lihat dan sudah muak kepadanya. Ya tuhan kenapa aku harus bertemu si pembohong yang tidak pernah cukup dengan satu wanita disini !! . Sasya hanya bisa pasrah.
"Mau apalagi? lepasin tangan aku." seburuk-buruknya Sasya walaupun hatinya sedang kesal terhadap dia, ia harus tetap sopan kepada seorang yang lebih tua darinya.
"Setelah sekian lama akhirnya kita ketemu disini."
"Kalo aku tuhan, aku akan merubah takdir supaya kita ngga pernah ketemu." tegas Sasya.
"Hey, ngga usah marah-marah cantik."
"Aku ngga mau ganggu hidup kalian, kasian tunangan kaka atau yang sekarang udah jadi istri sah."
"Tapi punya tunangan." seraya tangan Sasya melakukan perlawanan agar genggaman tangan pria tersebut terlepas.
"Duduk dulu." Sasya menuruti perkataan pria tersebut. Kulit tan, potongan rambut buzz cut, so pasti golongan hallo dek. Pria tersebut Bimo namanya, seorang salah satu kaum hallo dek yang berhasil mendapatkan nomor Sasya saat PKL.You know, Sasya selalu bersikap dingin dan cuek pada seseorang yang belum ia kenal. Kini mereka duduk berhadapan.
Sasya memegangi pergelangan tangan yang memerah. "Arkh... gara-gara kaka nih." sambil meringis kesakitan.
"Sini aku obatin." Bimo pun mengambil tangan Sasya yang memerah akibat ulahnya.
Nggaaaa !!!! ngga boleh, gw ngga boleh larut dalam pyshical touch dia, si cowok brengsek. "Ekhem." Sasya pun menarik tangan yang sedang Bimo kompres dengan es coffe miliknya.
"Kenapa?."
"Ngga, aku mau pulang, capek habis shift malam."
"Tunggu sebentar, temani aku."
Sasya pun berdiri dari tempat duduknya.
"Halah.. bilang aja kamu punya pacar dek, takut pacarmu tau. Kalo kamu ketemu cowok lain?."
"Ngga tu... ngga punya pacar." Sasya kembali mendudukkan bokong di kursi. "Yang ada kaka punya tunangan tetep mendua, mensepuluh deh." belum puas untuk mengelurkan kata-kata mutiaranya. "Bejad kan? ku kira cukup satu, ternyata tidak, mainnya blok nomor terus langsung ganti nomor. Takut ya... habis ketauan gw, kalo udah punya tunangan. Awal-awal pas ketauan ngga ngaku, bohong terus, akhirnya ngaku juga setelah gw tekan untuk bicara yang sebenarnya. Ngaku abdi negara, kok mental yupi?." kesal Sasya sangat mendalam kepadanya, sebenarnya masih ada beberapa perkataan yang belum tersampaikan dan masih mengganjal di hati. Sasya tahu kata-kata yang masih belum tersampaikan tidak seharusnya disampaikan, karena perkataan yang sudah tersampaikan pun sudah sangat kejam, situasi saat ini mereka sedang berada di sebuah tempat keramaian dan Sasya sedang mempermaluan seseorang di hadapan publik. Tentu Sasya masih mempunyai hati dan rasa kasihan.
Bimo pun bertepuk tangan dan menunjukan smirk di wajahnya. "Kalem, jangan marah, semua itu ada alasannya."
"Gw ngga butuh alasan lo... Sekali pembohong, selamanya akan jadi pembohong. Memang gw gadis lugu yang tidak mengerti apa arti kata cinta, tapi gw bukan cewek bodoh yang bisa lo bohongin dan lo mainkan seperti boneka. Diam seperti gadis bodoh yang mengikuti permainanmu, bergerak tau segalanya tentang dirimu tanpa harus berpindah tempat." Sasya pun pergi berlalu meninggalkan Bimo yang terdiam seribu kata.
...⚘⚘⚘...
Sasya mengurung diri di kamar, setelah mengendarai mobilnya sangat laju menuju rumah. Ia berdiri di hadapan cermin besar yang berada di kamar mandi. "Arhk.... kenapa gw harus ketemu si brengsek yang bejad?." mengepalkan tangan sangat kencang, memukul dinding keramik wastafel, dan membiarkan air tetap mengalir di hadapannya. "Ahhh... tega banget si lo bohongin gw." teriak Sasya kesal. "Alasan lo ngga mau ketemu gw, di deket asrama gara-gara ada seseorang tunangan yang ngga boleh tau kalo lo tuh, main gila sama cewek lain. Setidaknya, lo ngga usah memutar balikkan fakta, akhirnya lo menghilang bak di telan bumi. Sekarang datang tanpa di undang, pulang tanpa berpamitan dan akhirnya kami selesai tanpa pernah memulai."
...⚘⚘⚘...
Brydean sedang berlayar menyebrang pulau menggunakan kapal pesiar mewah miliknya menuju pulau private. Berdiri di deck kapal seraya menikmati angin yang berhembus kencang menerpanya. Masih dengan sebelumnya Brydean mengasingkan diri, agar tidak di ganggu siapa pun. Setelah tidak lama berlayar, ia pun sampai di pulau private. Berjalan menuju rumah besar yang berada tidak jauh dengan pesisir pantai. Dari atas rumah tersebut menunjukkan betapa indahnya pemandangan laut dan pulau tersebut. Siapa pun yang datang dan singgah di sana seakan tidak mau pulang meninggalkan pulau, udara yang sangat menyejukkan dengan hamparan pasir putih yang masih terdapat beberapa pepohonan hijau, menyihir seseorang yang masuk kedalam pulau seakan melupakan masalah hidup yang sedang terjadi. Berdiam seorang diri tanpa ada yang mengacau, hanya terdapat para pelayan yang hilir mudik di dalam pulau tersebut.
drrrtt, drrrtt
Ponsel Brydean berbunyi.
Ia mengangkat panggilan tersebut, di saat ia baru bersantai meminum coklat panas di dekat kolam renang. "Ckkk... disturb." guman Brydean saat ia mengambil ponsel.
"Bro, gw tau kalo ganggu, tapi lo di cari sama klien penting." ucap Nico dari seberang panggilan.
"Biarkan." ucap santai dan tidak peduli Brydean.
"Tapi menyangkut sebuah job besar dan lo bisa bangkrut."
Brydean langsung mematikan sambungan panggilan tersebut. "Can't I just relax today?." ia berdecak kesal sangat-sangat kesal. Brydean langsung bersiap untuk kembali bertempur, menghabiskan coklat panas, berjalan setengah lari menuju kapal pesiar.
¤
¤
¤
¤
¤
¤
🖍 Don't forget to Like and Vote 🖍
📖 Happy Reading 📖