Together Again

Together Again
Overthinking



Di sebuah malam yang indah, bulan sabit dan bintang-bintang di langit turut menyinari bumi. Sasya sedang berada di sebuah cafe sepulang kerja-nya, tepat-nya masih berada di parkiran. Memegang ponsel yang ia dekatkan ketelinga, ya dia sedang menerima telepon. "Lo di mana? gw udah di parkiran cafe."


"Gw udah di dalam cafe, di tempat biasa dan di meja biasa." ucap seseorang di sebrang panggilan.


Sasya berjalan mengikuti arahan tanpa mematikan sambungan telepon, Sasya pun berhasil menemui mereka dan melambaikan tangan. Tidak lupa setelah itu mematikan panggilan tersebut.


"Sasya..." ucap Quira memeluk Sasya, mereka bertiga pun berpelukkan.


"Gw, kangen banget sama lo." ucap Nita yang excited.


Menyodorkan segelas ice chocolate. "Spesial buat sahabat kita yang paling sibuk walaupun lagi cuti." Quira seraya tersenyum.


"Alasan apa yang menjadikan Sasya beralih profesi ke tiga kalinya?." tanya Nita dengan menaikan satu alisnya. Mereka para sahabat-nya sudah mengetahui pekerjaan baru Sasya dengan bercerita melalui panggilan video, mereka sama sekali tidak melarang Sasya untuk melakukan hal-hal yang Sasya inginkan, selagi positif mereka tidak akan pernah melarangnya dan bahkan terus mendukung satu sama lain. Karena bagaimana pun itu adalah hak Sasya.


"Apa kau benar-benar ingin meninggalkan dunia hiburan? alih-alih menjadi sekretaris si CEO tampan itu." menunjukkan foto Brydean di layar ponsel Quira.


Membungkam mulutnya. "Are you crazy girl? niat banget sih nyari foto dia." menggelengkan kepala.


"Spek intel nih bozz..." Nita menunjuk kepada Quira.


"Pantes mau kerja jadi sekretaris si tampan, kesempatan tidak datang dua kali. Setelah di permainkan oleh abang-abang militer, Sasya bertekat untuk mencari yang lebih goodlooking ternyata untuk melupakan masa lalu. YTTA (Yang Tampan Tampan Aja)." Quira tertawa kecil.


"Menurut gw dia lumayan tampan sih, tapi ada tapi-nya." menyilangkan tangan di dada.


"Afaan tuh? masa iya...." Nita mencoba menyakinkan tetapi Sasya hanya menjawab menaikkan pundak-nya.


Menghembuskan napas panjang. "Ah... liburan yang sia-sia tanpa Sasya dan 2 hari lagi kita kembali, cuti telah selesai." raut wajah Quira yang murung.


"Kapan lo ada waktu meet sama kita buat liburan?."


"Hmm, nanti gw kabarin ya." seraya meminum ice chocolate.


"Oke, jangan lupa kalo ada masalah bilang ya." Nita tersenyum lalu mengacungkan ibu jari.


Sasya melihat ponsel.



Gara-gara di silent notifikasi-nya, jadi ngga kedengeran panggilan pak Brydean. Pasti dia nunggu gw buat ganti rugi Ipad tadi. Baru sadar kalo foto profil-nya tampan. Sasya meng-klik foto tersebut, lalu ia zoom.


Nita melihat Sasya yang tengah asik bermain ponsel di hadapannya dengan raut wajah yang senang seraya ia tersenyum. "Sasya, lo kenapa?." pandangan Nita pun menatap Quira seakan mereka memberi tanda isyarat batin.


Terkejut Sasya saat temannya melontarkan pertanyaan, ia pun menaruh ponsel di atas meja dengan layar ponsel masih menyala, lalu membalikkan layar ponsel tersebut agar tidak siapa pun tahu. "Ah, tidak apa-apa, bukan hal penting kok. By the way gw permisi dulu ya... ada hal yang harus gw laksanakan." memasukkan barang-barang yang sebelumnya ia keluarkan dari tas. Mengangkat sebelah tangan untuk kode memanggil pelayan cafe, menanyakan bill. "Guys, gw udah bayar semua ya... have fun." menghabiskan ice chocolate, beranjak berdiri dari duduk berjalan menuju kursi para sahabatnya dan memeluk mereka. "Bye, see you and thank's."


...⚘⚘⚘...


Setelah Sasya membeli Ipad baru, bergegas menuju kantor Brydean. Karena Brydean mengucapkan hari ini akan lembur. How about Sasya? seorang sekretaris yang selalu kabur-kaburan dari bos-nya. Sasya memasuki lobby kantor suasana berubah mencekam, sepi tidak berpenghuni. Walaupun seluruh lampu menyala, tidak ada yang satu pun lampu yang di padamkan. Sasya bergidik ngeri, menelan ludah kasar, berusaha positif akan sesuatu yang buruk tidak akan terjadi. Pukul menunjukkan sembilan malam, setidaknya belum terlalu larut. Bergegas menuju lift, menekan tombol lift dan menunggu lift tersebut terbuka untuknya. Aduh perasaan gw kok ngga enak. Pulang aja lah gw takut, ngga... gw ngga boleh takut harus berani. Pintu lift terbuka, lift membawa naik Sasya menuju lantai tujuannya. Pintu lift terbuka dan sampai ketempat tujuan, Sasya berlari menuju ruangan Brydean. Membuka pintu ruangan Brydean. "Pak..." teriak Sasya, karena ia sudah ketakutan. "Ah... Bapak. Saya takut jadi mohon kerja samanya." mencari-cari di ruangan besar Brydean, tetapi sepertinya Brydean sudah pulang. "Ah.... ninggalin. Terus gw gimana nih?. Takut !!!." tidak henti berteriak. Pintu ruangan Brydean pun tiba-tiba terbuka, suara pintu tersebut terdengar menyeramkan Sasya pun menutup telinganya dan telungkup di sofa. Tidak peduli bahkan bila ia sampai pagi tertidur di sana, yang terpenting Sasya tidak berjalan keluar kantor, itu lebih menyeramkan menelusuri kantor yang sepi. "Ah... setan please jangan ganggu gw !!!. Oke, tidur lebih baik dari pada terbangun." ucapnya dengan gemetar. Seseorang menepuk punggung Sasya. Sasya tetap tidak memperdulikan, menganggap angin lewat saja.


"Bangun, Sasya !!!." tegas Brydean, yang ternyata Brydean yang sejak tadi masuk kedalam ruangan tersebut. Sasya tetap tidak memperdulikan. "Ini gw, bangun jangan tidur." menepuk-nepuk punggung Sasya.


"Coba hentakin kaki kalo bukan setan !!!." titah Sasya. Brydean menghentakkan kaki. Lalu Sasya pun mendudukkan diri, tangan yang semula berada di telinga untuk meredam suara, kini berpindah menutupi mata. Perlahan membuka jari-jari mungil-nya, mengintip dari celah jari tersebut. Brydean pun berjongkok tepat berada di hadapan wajah Sasya. Melepas tangan yang menutup mata, di sambut dengan Brydean menaikan satu alis. Sasya pun menghembuskan napas panjang, melihat Brydean dari ujung kepala, hingga ujung kaki, benar manusia atau hantu. "Huh...." mengelus dada. "Pak ada yang harus saya bantu." tersenyum manis.


"Tidak ada, seharusnya saya sudah pulang sejak tiga puluh lima menit yang lalu. Karena terdengar seseorang berteriak kencang yang berasal dari sekitar ruang kerja saya." ucap datar Brydean.


Tertawa kecil. "Siap saya salah pak." tegas Sasya. "Tapi kok tadi kita tidak bertemu di lift? apa jangan-jangan...."


"Apa? tadi saya lewat tangga." menatap dengan tatapan tajam.


"Oh... gitu, maaf ya pak." menundukkan badan.


"Besok ikut saya supervisi ke Solo, karena Ipad rusak supervisi di tunda, semua jadwal besok pun di pending. Sepertinya saya izinkan anda keluar untuk mengganti Ipad, tetapi kenapa anda lama sekali kembali?."


"Hmmm, tadi beli minum dulu pak, dehidrasi." mencoba untuk mengelak seraya memegang leher.


"Alasan, ingat besok jangan kabur !!!." Brydean beranjak pergi, lalu Sasya pun harus cepat membuntuti karena ia takut.


Brydean merasa Sasya membuntuti dengan sangat dekat di belakang-nya dan memegangi jas. Brydean menghentikan langkah kaki.


Bruk


Sasya menabrak bahu lebar Brydean. "Aw.." rintih kesakitan Sasya, mengusap dahinya.


Sasya menelan ludah kasar, kali ini Sasya merinding sekujur tubuh dan tidak berani untuk menoleh kebelakang dan kesamping. "Ihs, bapak jangan nakut-nakutin." kesalnya.


"Sekarang Sasya yang jalan duluan."


Sasya mengusap tengkuk. "Hmm, gimana kalau sampingan aja pak? biar adil."


"Oh... ngerendahin saya takut." berjalan cepat meninggalkan Sasya menuju pintu lift.


Ihs ngambekkan. "Bapak... tungguin !!! saya ngga bermaksud gitu." Sasya sekuat tenaga berlari menghampiri Brydean, ia takut tertinggal bila Brydean naik lift lebih dahulu. Brydean sudah berada dalam lift, Sasya pun masuk kedalam lift tersebut tepat sebelum pintu lift tertutup. Sasya masih mengatur napas setelah berlari-lari. Hening seperti tidak berpenghuni, mereka hanya berdiam tanpa mengucapkan satu kalimat pun sampai pintu lift tersebut terbuka. Sasya berada di samping Brydean dengan raut wajah ketakutan dan tangannya pun memegang jas Brydean. "Pak, kayaknya kantor bapak harus di adain syukuran biar ngga horor." memecahkan keheningan di saat mereka sedang berjalan menuju basement. Tetapi Brydean sama sekali tidak memperdulikan perkataan Sasya. Brydean menekan keyless mobil-nya 5 meter sebelum sampai tepat di depan mobil. Namun Sasya tengah sibuk mencari sesuatu di dalam tas. Ihs... mana sih. Sasya melihat Brydean sudah membuka pintu mobil. "Bapak... kunci mobil saya ketinggalan." rengek Sasya dengan raut wajah yang panik. "Saya takut, ayo anterin !!!." hanya Sasya yang berani menyuruh atasan-nya dengan santai.


Brydean pun menutup kembali pintu mobil yang sebelumnya ia buka. Membalikkan tubuh menghadap ke arah Sasya. "Ngapain takut, hati sama pikiran yang menguasai sugesti ketakutan dalam diri lo."


"Ah... tapi bapak, saya pulang gimana?." rengek Sasya kembali seperti anak kecil.


"Sttt, jangan panggil bapak. Gw ngerasa kayak om-om. Panggil nama kalo lagi di luar." tetap dengan wajah datar.


"Oke, Brydean."


"No, Luke." menyilangkan tangan di dada.


Raut wajah Sasya berubah kesal. Ihs... ribed banget. "Fine, Luke." dengan senyum terpaksa.


Brydean membuka pintu mobil, tetapi Sasya tahan dengan menarik jas. "Bapak mau kemana?." dengan raut wajah yang tidak karuan.


"Pulang." jawab datar Brydean.


"Ah..... saya gimana?." rengek Sasya.


"Taksi online ada."


Sasya menghembuskan napas panjang. Emang ini orang satu ngga ada peka-pekanya. "Pak, tengah malam emang ada ya taksi online."


Terdengar suara mobil mendekat kearah mereka. "Itu udah di jemput." Brydean langsung memasuki mobil, dengan Sasya yang mematung kebingungan.


Seorang pria berusia sekitar tiga puluh tahun pun keluar dari mobil dan menghampiri Sasya. "Mari, saya antar."


Sasya kebingungan dan takut, karena supir tersebut bukan supir pribadi Sasya. "Wait." saat Sasya ingin bertanya kepada Brydean, Brydean sudah menghilang dari hadapan-nya.


...⚘⚘⚘...


Setelah mendengar penjelasan pria tersebut, akhirnya Sasya pun di antar pulang oleh supir yang tidak di kenal.


"Bapak benarkan supir pak Brydean?." memastikan agar tidak ada hal yang merugikan untuk diri-nya.


Tersenyum. ."Benar nona, saya sudah bekerja lebih dari 6 tahun." jawab sopan supir tersebut dengan pandangan yang tetap fokus ke depan.


"Ini maps rumah saya." menunjukkan google maps di ponsel Sasya.


"Maaf nona, tidak usah saya sudah tahu."


Sasya menggaruk kepala, walaupun kepalanya tidak gatal. "Oh, iya." tersenyum manis walau sebenarnya Sasya bingung dengan semua hal yang sekarang sedang di hadapinya. Fine, otw overthinking setelah sampai kamar.


¤


¤


¤


¤


¤


¤


🖍 Jangan lupa Like dan Vote 🖍


📖 Selamat Membaca 📖