
Di sebuah club, terdengar dentuman lagu yang sangat kencang membuat segelintir orang yang berada di sana menari-nari di dance floor. Brydean duduk di bar tengah meneguk segelas whisky dengan tambahan batu es. Bahkan Brydean tidak menghiraukan ketika banyak wanita nakal menggoda. Selara Brydean bukan pelacur yang sudah di pakai berkali-kali dengan klien mana pun, tetapi wanita virgin yang ia sewa dengan bayaran tidak murah. Menggoyang-goyangkan gelas, memikirkan sesuatu kejadian yang tidak akan pernah terlupakan.
flashback on
Pukul menunjukkan empat dini hari. Brydean mengendarai mobil sangat kencang, karena jalanan masih sangat sepi. Brydean mengendarai mobil dengan keadaan sedikit mabuk sepulangnya setelah melepas hasrat.
Brydean melihat jauh di depan sana seorang wanita sedang berdiri di tengah jalan, berawal wanita itu menyebrang tetapi ia malah berhenti mematung di tengah jalan. Membuat mengganggu perjalanan Brydean. "Owh, ****." Brydean berhenti mendadak, memukul stir dan menghampiri wanita yang sudah tergeletak di depan mobil. Sebenarnya wanita tersebut tidak sama sekali tertabrak oleh Brydean. "Hey, are you crazy?." bentak Brydean menghampiri wanita tersebut. Menghela napas panjang, mendudukkan badan berusaha menolong wanita tersebut. Tercium bau alkohol di badan wanita itu, lalu Brydean pun menggendong-nya membawa wanita itu masuk kedalam mobil, melajukan mobil membawa ke rumahnya.
...⚘⚘⚘...
Sesampainya di rumah, Brydean menidurkan wanita yang ia temukan di kamar-nya. Memandang wajah wanita itu sebentar, lalu ia menarik selimut menutupi tubuh-nya. Meninggalkan wanita yang masih tertidur untuk berendam dan membersihkan diri setelah melakukan aktivitas yang mungkin bisa menyebabkan ia mengidap penyakit HIV.
Setelah setengah jam lama-nya Brydean habiskan berendam seraya meminum alkohol. Keluar dari kamar mandi ia melihat wanita tersebut masih terlelap dengan tenang. Ia beranjak pergi menuju walk in closet memilih baju untuk di pakai. Keluar dari walk in closet terlihat wanita tersebut berlari menuju toilet. Brydean menolong wanita tersebut yang sedang muntah di toilet. Memegangi rambut hitam panjang tersebut agar tidak terkena muntah. Menyelipkan rambut wanita cantik yang berada di hadapan-nya. "Are you okay?." wanita tersebut lemas tak berdaya, badannya tumbang namun Brydean dengan sigap menopang badan-nya agar tidak terjatuh. Brydean menggendong wanita itu lalu mendudukkan di atas wastafel untuk membasuh mulut Sasya dengan air. "Gw yakin, lo pasti bukan peminum tetapi di paksa minum alkohol dengan kadar alkohol yang tinggi dan seharusnya peminum pemula tidak meminum lebih dari satu sloki." berbicara menatap cermin di hadapannya dengan tangan di tepi keramik marmer untuk menopang tubuh, menatap diri-nya dan punggung wanita tersebut yang tengah pingsan menyandarkan kepala-nya di bahu Brydean. Brydean memindahkan wanita tersebut untuk berbaring kembali di kasur yang empuk.
Pekerjaan kantor harus segera Brydean selesaikan, ia beranjak pergi mengambil laptop. Sesaat setelah membawa laptop menuju kamar-nya, lagi-lagi wanita tersebut tidak berada di atas tempat tidur, terdengar suara seseorang mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi berulang kali. "Oh, d*mn." Brydean membuka pintu kamar mandi tersebut, terlihat wanita itu seluruh badan yang basah kuyup dan tampak kedinginan. Bergegas mengambil bathrobe untuk di pakaikan dan segera memindahkan ke atas tempat tidur. Mengatur deru napas dan mengigit bibir bawah. "Owh f*ck, bajunya tembus pandang." memijat dahi. "Tidak, body mu harus tertutup rapat." guman Brydean lalu menarik selimut agar menutupi tubuh sexy yang terekpos nyata di hadapannya, di sisi lain pun sesuatu adik kecil sudah terbangun dan ingin di puaskan.
Berdiri membelakangi wanita tersebut. "Naomi bawakan baju wanita segera, sesuai dengan foto yang sudah saya kirim untuk size sama seperti kau." titah Brydean di sambungan telepon tersebut, lalu Brydean langsung menutup panggilan tersebut.
Pandangan Brydean mengarah ke arah ponsel wanita tersebut. Terdengar berisik suara notifikasi pesan dan telepon dari ponsel-nya, Brydean meraih ponsel. "Namanya Sasya." melihat seseorang mengirimi pesan dengan memanggil nama Sasya berulang kali di pesan. "Sasya." Brydean teringat sesuatu yang pernah terjadi lumayan cukup lama. "Pantas wajah-nya familiar, dia perawat yang dulu gw ngga sengaja tabrak di rumah sakit."
tok, tok, tok
Suara ketukan pintu dari luar kamar. Brydean yang menyadari pun langsung menaruh ponsel di atas nakas. "Masuk." titahnya.
Wanita cantik tersebut pun membuka pintu kamar. "Pak, maaf sudah menunggu lama." menundukkan badan sebagai permintaan maaf, wanita tersebut adalah sekretaris Brydean.
"It's oke, segera ganti baju-nya. Khawatir nanti sakit." tegas Brydean.
"Baik, pak."
Brydean meninggalkan mereka berdua berlari menuju kamar terdekat, memasuki kamar mandi dan melepas seluruh pakaian yang di kenakan. Sesuatu di bawah sana sudah mengeras sejak tadi yang harus di puaskan, tidaklah mudah menahan hasrat yang sudah mengusai. "Let's play." menuangkan sabun cair kedalam genggamannya. "I'm so sorry Sasya, kali ini lo akan jadi imajinasi dalam pikiran gw."
flashback off
Pikirannya buyar seketika saat ponselnya bergetar dalam saku celana. Brydean menolak panggilan tersebut. Meninggalkan sejumlah uang di atas meja, menyisipkan di bawah gelas. Beranjak keluar pergi dari club tersebut. Setelah berada di dalam mobil, ia mencari kontak Sasya dan menghubungi ulang.
"Halo pak, maaf mengganggu malam-malam saya menunggu bapak balas chat saya, karena saya sudah mengirim soft copy CV via email sekitar lima jam yang lalu, mungkin bapak berkenan untuk melihatnya terlebih dahulu sebelum di print." ucap lembut Sasya di sebrang panggilan tersebut.
"Baik, maaf tadi teleponnya di reject."
"Never mind, sir. I know you're busy."
What busy? Of course, sibuk untuk bermain-main. Smrik. "Thank's, see you." menutup panggilan tersebut. Brydean membuka email yang Sasya kirim. "Harvard University." ucapan yang tidak sengaja keluar dalam mulut Brydean saat membaca CV tersebut. Menutup email tersebut, melajukan mobil menuju kantor. Sesuatu hal harus ia selidiki dan cari tahu kebenarannya.
...⚘⚘⚘...
"Maafkan anak bunda ya, dia selalu sibuk mementingkan perkejaan." ucap bunda merangkul Sasya.
"Tidak apa bunda, itu sudah tanggung jawab Brydean." saat ini, Sasya tengah berada di rumah Bunda Arumi. Membantu mengerjakan sebuah proyek busana yang sedang di jalankan oleh Arumi. Mungkin ia akan menginap, karena jam sudah menunjukkan tengah malam.
"Bunda tidak pernah mendengar kamu mengadu tentang Brydean."
"Untuk apa, Brydean anak baik kok." puji Sasya. Anak baik di liat dari lubang sedotan. Tersenyum manis.
"Kamu sudah tentukan desain interior untuk butik bunda?."
"Sudah, semua sudah siap."
"Sudah malam, besok Sasya harus bekerja jadi tidak baik begadang terlalu larut. Bunda antar ke kamar ya."
"Iya, makasih Bunda."
Mengantarkan Sasya menuju kamar yang akan ia singgah sejenak. "Sementara, kamu pakai kamar Luke ya." membuka pintu kamar Luke. Sasya jawab dengan anggukan.
"Bunda tinggal ya, good night." menutup pintu kamar tersebut.
"Good night." mata Sasya menelusuri setiap inci ruangan, melihat foto-foto kecil Brydean yang terpajang di sana. Cukup aesthetic kamar Brydean, terkesan elegan pula. Terdapat komputer dan kursi gaming di sana, tidak lupa untuk headphone gamingnya. Sasya membaringkan tubuh di atas ranjang karena susah lelah dan mengantuk.
Brydean 'pov
Pukul tiga dini hari Brydean keluar dari kantor, melajukan mobil menuju rumah orangtua-nya. Mem-parkir mobil sembarang yang terpenting sudah berada di halaman rumah orangtua-nya. Brydean merasakan badannya mulai lemas, berjalan sekuat tenaga menuju kamarnya. Membaringkan tubuh di atas kasur yang empuk dan mulai terlelap.
Brydean 'pov end
Sasya merasakan tidur kali ini sangat nyenyak sekali. Bisa merasakan memeluk teddy bear yang sangat besar. Merasakan tidurnya sudah cukup dan merasakan benar-benar nyata memeluk teddy bear besar. Sasya memeluk erat-erat teddy bear sebelum membuka mata perlahan, tetapi kenapa teddy bear tersebut sedikit bau alkohol. Sadar akan hal itu Sasya membuka mata-nya, ingin berteriak terkejut tetapi Sasya bungkam dengan tangan. Memundurkan tubuhnya menjauh dari hadapan yang ia peluk adalah Brydean. Aduh ingat dosa gw, nambah lagi dosa gw. Berlari keluar dari kamar tersebut dan membuka pintu. Tetapi saya mengurungkan niatnya, menutup pintu lagi dan menghampiri Brydean. Sasya menyadari bila sang teddy bear yang ia peluk itu suhu tubuhnya sangat tinggi. Bergegas mengambil termometer dan waskom berisi air hangat tidak lupa untuk waslap. Memeras waslap dan meletakkan pada dahi Brydean. "Aku harus pulang untuk mengambil Nurse Kit." gumam Sasya, berjalan cepat menuju mobil. Kembalinya Sasya dengan cepat sudah membawa Nurse Kit, jalan dengan tergesa-gesa menaiki tangga menuju kamar Brydean.
Arumi yang melihat Sasya seperti kepanikkan pun langsung memanggil dengan perasaan cemas. "Sasya, ada apa nak?." berjalan menghampiri Sasya yang terhenti.
"Luke demam, Sasya harus segera lakukan tindakan. Bunda jangan cemas ya, Sasya pun sudah memanggil dokter, tetapi dokter bisa datang nanti pukul tujuh pagi, jadi Sasya di instruksikan untuk memasang infus terlebih dahulu." menggenggam tangan Arumi.
"Bunda percaya, lakukan yang terbaik untuk Luke." tersenyum walaupun terlihat dari raut wajah Arumi yang cemas.
Sasya melepas genggaman tangan tersebut dan beranjak masuk kedalam kamar. Tangannya yang lihai menyiapkan satu set infus, mencari vena yang akan ia tusuk dengan abocath sesuai ukuran yang di anjurkan. Mengusapkan alcohol swab untuk desinfeksi di area kulit yang akan di tusuk dengan abocath. Tidak ada standar infus tidak masalah, sekarang modifikasi lingkungan dengan kreatif. "Maaf sedikit tidak nyaman ya, pak." izin Sasya saat abocath ingin di tusukkan. Selesai sudah pemasangan infus. Tetesan infus pun sudah di atur sesuai kebutuhan pasien, tidak lupa setelah abhocat terpasang micropore atau plaster juga terpasang. Sasya menunggu dokter datang dengan duduk di balkon kamar, selain bisa mengetahui dokter datang, Sasya pun bisa mengawasi Brydean.
Brydean perlahan mulai membuka mata, memijat dahi dengan tangan kanannya. Sadar tangannya sedang di pasang infus, ia mendudukkan diri. Sasya yang tampak memantau dari kejauhan pun langsung menghampiri Brydean. "Bapak, harus banyak istirahat ngga boleh banyak gerak." merapikan selimut yang di kenakan Brydean.
"Iya, kebetulan tadi nyolong pak di rumah sakit." canda Sasya di iringin dengan senyuman.
Puas bisa membuat Brydean tertawa kecil. "Ajarkan saya cara bagaimana bercanda, saya tidak bisa bercanda."
"Saya ragu, sebenarnya bapak bisa bercanda cuman bapak banyak seriusnya."
Brydean mengangguk. "Sus, saya sudah sembuh. Buktinya saya sudah bisa tertawa, tolong lepaskan infusnya." Memegang tangan kanan yang terpasang infus.
"Di lihat dari kondisi bapak saat ini belum stabil, jadi saya tidak bisa melepas infus, mungkin tunggu sampai cairan infus RL nya habis."
"Kenapa harus RL cairan infusnya, sus?."
"Karena RL lebih bagus daripada NaCl 0,9%. Bapak jangan buat saya flashback pas PKL atau magang, karena abang-abang militer selalu nanya hal yang seharusnya ngga penting untuk di tanya."
Brydean tersenyum. "Maksud mereka itu baik, bertanya yang mereka tidak tahu."
"Iya juga sih, tapi pertanyaannya selalu di ulang-ulang." Sasya mengendus aroma badan Brydean, tercium bau alkohol selain alkohol yang tercium di badannya terdapat campuran aroma parfum wanita. "Bapak ganti baju ya, soalnya kalo dokter tau bakal di julidin. Izin ya pak." Sasya membuka kancing kemeja Brydean. Khawatir dokter akan berbicara blak-blakan dengan mencium bau alkohol di badan Brydean, mungkin selain di julidin, dokter pun pasti memberi nasihat yang mungkin bisa memuakkan. Yang terpenting Brydean aman dari hindaran diagnosa medis yang berhubungan dengan kecanduan alkohol atau mungkin yang berhubungan dengan sakitnya saat ini. Maksud Sasya baik hanya menolong agar tidak memberatkan Brydean.
"Saya bisa sendiri."
Sasya memundurkan tubuh dan mengambil baju ganti Brydean. "Maaf, semalam bapak tidak mengkonsumsi narkoba'kan." tanya Sasya sambil melihat Brydean membuka kemeja.
"Tidak, saya bukan pecandu narkoba."
Membantu Brydean melepas baju melewati selang infus. "Baik, pak."
Sasya hendak membantu memakaikan baju untuk Brydean. "Lebih baik shirtles." tolak Brydean. Sasya hanya bisa menurut, lalu mengambil baju kotor di lantai untuk di simpan ke dalam keranjang baju kotor.
Dokter pun masuk kedalam kamar Brydean. "Sasya, how are you?." sapa dokter tersebut.
"I'm fine." menundukkan badan.
"Saya minta data keluhan pasien." dokter tersebut sedang mengecek respiration rate Brydean menggunakan stetoskop.
"Baik segera dok, maaf sebelumnya saya belum sempat mengobsevasi keadaan klien, karena klien baru saja siuman."
"Saya persilahkan, setelah itu tolong untuk di ambil darah, lalu urine klien untuk di cek di lab."
"Baik dok, secepatnya."
"Saya tinggal, nanti temui saya di rumah sakit." Dokter berjalan keluar kamar dengan di buntuti Sasya.
"Nanti saya kabari bila sudah sampai."
Langkah dokter terhenti di ambang pintu kamar. "Resign mu membuat para pasien kecewa. Mereka sangat puas dengan pelayanan ramahmu, membuat siapa pun yang kau rawat akan jauh lebih cepat sembuh."
Sasya hanya menjawab dengan senyuman, bingung kalimat apa yang Sasya harus di ucapkan dengan pertanyaan tersebut. Sedikit sedih mendengar pernyataan itu, tetapi keadaan yang selalu memisahkan. Selalu rencana tuhan lebih baik dari pada rencana manusia.
...⚘⚘⚘...
Arumi masuk menghampiri Brydean, duduk di tepi kasur. Brydean tengah asik bermain ponsel, menyadari Arumi datang menghampiri, ia pun menaruh ponsel tersebut. "Dimana Sasya?."
"Kenapa dengan Sasya, kangen?." goda Arumi.
"Tidak." jawab dingin Brydean.
"Lantas nyaman?."
"Tidak juga. Karena Sasya sekretaris sekaligus perawat pribadi Luke."
"Kenapa harus Sasya? Bunda bisa rawat kamu."
"Bunda... please, tell me dimana Sasya?."
"Sasya, izin pulang untuk bersih-bersih, lalu menemui dokter."
¤
¤
¤
¤
¤
¤
🖍 Jangan lupa Vote dan Like 🖍
📖 Selamat Membaca 📖