
Sesampainya di apartement, Brydean langsung mengambil alkohol yang berada di lemari atas kitchen set. Membuka dan melepaskan jam tangan yang ia taruh di atas meja mini bar. Saat Brydean tengah menuangkan alkohol kedalam gelas, seorang wanita bayaran itu pun sudah datang menghampiri dengan sentuhan menggodanya dari belakang. "I'm ready, sir." ucap wanita bayaran tersebut seraya memainkan jari nakal di punggung Brydean. Brydean membalikkan badan menghadap wanita tersebut. "Do you still virgin, right?." Brydean duduk bersandar di meja mini bar seraya meneguk alkohol. "Mau minum?." memberikan segelas alkohol pada wanita itu.
Wanita bayaran tersebut tersenyum, lalu menerima gelas yang berisi alkohol dan meneguk-nya dengan santai. "My virginity is only for you, sir." mendekatkan wajah-nya dan tangannya sudah bergerak liar meraba leher Brydean.
"Saya bayarmu tidak murah, lakukan sesuai service spesialmu untuk menidurkan dan memuaskan benda tumpul yang sudah mengeras sejak sejam yang lalu." ucap lembut namun mengancam tepat di samping telinga wanita tersebut.
"Saya akan kabulkan permintaanmu, pak."
"Good, saya yakin anda tidak perlu di ajarkan kembali." terlihat wanita bayaran itu tersenyum, membuka pakaian yang ia kenakan sampai tidak sehelai benang pun menempel di tubuh sexy itu. Tangan nakalnya mulai meraba seluruh tubuh Brydean membuka pakaian yang di kenakan, memperlihatkan junior yang sudah berdiri tegak saat melepas celana yang menyiksa tersebut. Brydean menuntun wanita bayaran tersebut untuk mengulum junior-nya.
Wanita bayaran tersebut sudah siap tidur terlantang di atas meja mini bar dengan membuka lebar kedua kaki, menunggu sesuatu benda tumpul masuk kedalam lubang kenikmatan-nya. "Saat ini saya tidak ingin memakai pengaman." Brydean menjeda aktivitas itu.
Wanita tersebut mendudukkan badan. "Baik pak, saya izin meminum pill terlebih dahulu." mengambil pill postinor yang berada di dalam tas miliknya.
Dan Brydean menuntun masuk juniornya kedalam lubang kenikmatan yang sempit dengan kasar. Mulai memompa pinggul dengan irama sedang, Brydean masih manusiawi ia harus melakukan perlahan karena ini pertama kali wanita bayaran tersebut melakukan hubungan intim. "Eehhmpp... Aaaaa....ngghhh." desah wanita bayaran tersebut dengan tubuh yang menggeliat tenggelam dalam kenikmatan dunia yang baru pertama kali ia rasakan.
...⚘⚘⚘...
Permainan selesai setelah empat jam berlalu. "Cek berserta tip." menaruh selembar kertas dan sejumlah uang di atas meja, menunggu wanita bayaran tersebut selesai memakai pakaian.
"Terimakasih pak, selamat tinggal." mengambil cek dan tip yang di berikan oleh Brydean, lalu beranjak pergi dari apartement itu.
Berada di dalam kamar mandi, menyalakan shower. Rintikkan air pun mengalir membasahi tubuhnya, Brydean mengusap muka dengan kasar lalu memukul dinding dengan rasa kesal. "Gw janji ini terakhir kali gw imajinasi tubuh lo buat gw bisa ******* sama ****** itu dan gw ngga akan buat tubuh lo jadi imajinasi lagi di pikiran gw, Sasya."
Setelah kejadian pada hari itu Brydean merasa sangat bersalah, sejauh ini Brydean belum pernah ber-imajinasi berlebihan pada seorang wanita. Terbiasa menikmati permainan ******, tapi untuk hari itu pikiran Brydean sangat kacau dan butuh pelampiasan untuk segera mencapai puncak kenikmatan dengan bermain imajinasi dalam pikirannya. Alasan Brydean sering melamun dan tidak fokus saat kerja atau saat meeting, karena memikirkan kesalahan yang selalu mengusai alam bawah sadar-nya.
flashback off
Terdengar suara samar yang memanggilku. "Bapak." seraya melambaikan tangannya di hadapan wajah Brydean.
Menggelengkan kepala. "Ekhem, ya." aku tersadar dari tenggelamnya cerita masa lalu yang selalu menguasai alam bawah sadarku.
"Saya panggil dari tadi juga pak." dengan raut wajah kesal Sasya. "Bapak belum jawab yang maksud di imajinasiin itu apa?." heran Sasya.
"Lupakan, itu hanya jokes." bahkan aku tidak berani menatap matanya dan berpura-pura sibuk membaca slide yang berada di laptop. Sebelumnya gw minta maaf Sya, gw emang bejad tapi sebaiknya lo ngga harus tau.
"Baiklah, saya izin kembali ke meja kerja ya pak." berlalu meninggalkan Brydean. Brydean hanya menjawab dengan anggukan.
Sasya 'pov
"Lama-lama orang itu tuh makin ngga jelas." dumelku menghampiri meja kerja.
Tiba-tiba suara pintu ruangan Brydean terbuka. "Sya, ikut gw." titah Brydean menghampiri meja kerjaku. Perasaanku mulai tidak menyenangkan.
"Kemana pak?." heranku.
"Patuh sedikit bisa?." tegas Brydean.
"Baiklah." pasrahku. Ya allah rasanya ingin resign aja, kayak babu aku.
Aku lalu membuntuti Brydean menemaninya menuju mobil yang terdapat supir pribadinya. Mengikuti kemana Brydean pergi dan tiba disebuah mall. Ya aku tetep membuntuti kemana dia akan pergi saat ini. Sampailah disebuah toko pakaian dengan merk terkenal di dunia.
"Ca, pilih baju yang macth sama style lo, gw ngga mau lihat lo pake baju dress sexy itu." titahnya dengan nada yang cukup lembut.
Sasya tertawa kecil. "Tidak perlu pak, nanti saya bisa beli selepas pulang kerja dan janji besok ngga akan pernah pake dress yang ketat lagi."
"Mbak tolong pilihkan baju formal yang cocok buat dia, jangan yang terlalu terbuka." titah Brydean pada pelayan sambil menunjuk pada Sasya.
Sumpah ribet banget jadi bos, gw jadi serba salah kan.
...⚘⚘⚘...
Sepulang kerja, Sasya langsung membaringkan badan mungilnya di atas ranjang tanpa membersihkan tubuhnya terlebih dahulu. "Apa jadi sekretaris seenak ini hidupnya, serasa kayak punya sugar daddy. Balik lagi sih, walaupun ngga enak banget kerjanya, karena kerjanya juga kayak babu.Ya padahal kita ngga minta untuk dibeliin, tapi apapun yang ngga sesuai sama keinginan mereka langsung sat set di beliin. Itu termasuk rezeki yang tidak di sangka. Tapi banyak tapinya, termasuk gw jadi ngga enak kan sama Brydean. Gila sih belum ada 2 minggu kerja, barang apa aja yang udah dibeliin sama dia, gokil sih. Tapi uang segitukan ngga seberapa buat beliin semua barang yang dikasih, gw yakin dia ngga punya pacar, tapi punya sugar baby." gumam Sasya sambil overthinking. "Stop overthinking dulu, gw harus bersih-bersih badan dulu."
...⚘⚘⚘...
Yey, masuk bulan ketiga kerja nih....
Di pagi yang sangat sibuk di kehidupan dalam kantor. Sasya memasuki ruang Brydean. "Pak, saya izin untuk jemput teman saya di bandara ya." ramah Sasya berharap Brydean menerima izinnya.
"Bandara soetta?." jawab datar Brydean.
"Sebenarnya bukan, bandara changi." jawab Sasya sambil cengengesan. "Ayolah pak, izin dua hari ya." dengan raut wajah melasnya.
"Alasannya?."
"Hmmm, ada event pokoknya pak."
"Lah anda bukan model lagi, untuk apa mengikuti event?." Brydean menatap bola mata Sasya.
"Ayolah pak." rengek Sasya.
"Izinmu tidak diterima." tegas Brydean.
"Ngga seru dasar freak." Sasya membuang muka karena kesal dan berlalu pergi meninggalkan Brydean.
Brydean 'pov
Melihat Sasya berlalu dengan perasaan kecewanya Brydean mencoba menghubungi Alma melalui telepon kantor. "Alma, lihat Sasya pulang?."
"Belum pak, sebentar." Alma melihat Sasya ingin menghampirinya dan menaruh telepon tersebut tanpa menutupnya.
"Sasya mau kemana?." terdengar jelas suara Alma dalam sambungan telepon tersebut.
"Alma, nanti sepulang lo kerja gw mau cerita ya, ketemu di tempat biasa. Bye see you, sorry Al gw ada keperluan mendadak." ucap Sasya pun terdengar jelas. Alma melihat Sasya berlari kecil dan menghilang dari hadapannya.
"Hallo pak, Sasya sudah pulang. Bapak ngga habis marahin Sasya kan?." Setelah Alma berbicara sambungan telepon langsung ditutup dengan Brydean.
...⚘⚘⚘...
Brydean menggeber mobil sportnya menuju cafe untuk nongki dengan teman-temannya. "What's up bro." sapa Brydean sesampainya disana dengan ke enam teman-temannya.
"Widih CEO kita nih, si paling sibuk." ucap temannya bernama Vito.
"Justru ini gw ngga sibuk makannya ketemu lo semua." jawab Brydean seraya mendudukkan badan. "Gw udah dipesenin belum?."
"Udah bro, santai ada gw." ucap arrogant Adit.
"Nico ngga bareng lo, kemana dia?." ucap bingung Dito.
"Sibuk ngurusin perusahaan bokapnya di Batam." jawab Brydean menghisap sebatang rokok. Mereka bebas merokok karena nongki di outdoor cafe.
"Udah insyaf dia, ngga nguli di lo." Rama seraya tersenyum.
"Habis ini lanjut ke bar ngga men?." ucap Danny sambil menghisap sebatang rokok.
"Anjir, boleh juga." semangat Kevin. "Dito, Rama, Luke ikut ngga lo?."
"Gw sama Rama, gas men." Dito seraya merangkul Rama dan Rama mengacungkan ibu jari. "Luke ikut ngga lo, banyak masalah ya lo? Masalah cewek pasti." Dito melihat raut wajah kurang menyenangkan Brydean.
"Bisa di bilang iya atau tidak." jawab datar Brydean.
"Kagak njir, gw ngga ada cewek."
"Come on, move on bro. Michale itu sampah buat lo." ucap Vito.
"Lo ngga pernah cerita kekita ya, kalau lo sebenarnya udah HS¹ sama Michale makannya ngga bisa di lupakan." ledek Kevin menaikan satu alisnya.
"Wah Kevin, Kevin, lo kalau ngomong suka benar." sambung Rama.
"Setan lo berdua gw sundut rokok ya." ancam Dito. "Lo ngga lihat, Luke modelan anak-anak polos mana mungkin dia HS ngerusak ceweknya, dia kan ngga sangbrut² kayak lo pada." Dito membela Brydean.
"Gw ngga munafik bro, tapi mantan gw yang ngajak." Rama membela dirinya. "Gw yakin lo semua ngga munafik kalau cewek lo yang nawarin, apalagi masih virgin."
"Kita udah jaga nafsu, eh cewek kita yang mancing nafsu, untung ngga bablas hamil." ucap Adit.
"Kalau bablas, lo langsung jadi papah muda Dit. Keren kayaknya, terus lo di coret dari ahli waris." ledek Rama.
"Asu lo Ram." menoyor kepala Rama.
"Btw, lord kita Luke adiknya gede, masa dianggurin. Gw sewain cewek virgin buat lo HS malam ini." tawar Danny. Brydean terlihat smrik.
"Luke doank, kita mau lah Dan." ucap Kevin.
"Tutor adiknya gede lord." absurd Vito.
"Gampang, lo sering-sering olahraga cabang mengocok ntar lama-lama panjang." jawab santai Brydean.
"Anjir, ngga dulu ntar gw kecanduan PMO, enakan main sama ****** premium dari pada sama tangan sendiri."
Danny tertawa kecil. "Tapi jujur gw kalau masturbasi ngga bisa tidur adik gw, berasa kurang soalnya monoton gerakannya."
"Bro ganti topik, mulai panas topiknya. Gw jadi sangbrut." ucap Rama.
"Parah Ram, tadi lo sambil imajinasiin mantan lo yang goyangnya di ranjang aduhai. Masalahnya mantan lo itu kan bekas pakai orang makannya pro." Dito tertawa renyah.
Rama ikut tertawa renyah. "Iya anjir, gw kira dia masih perawan, ternyata......"
"Los dol." ucap kompak mereka ber tujuh di iringin tertawa renyahnya. Mereka bebas berbicara tanpa memikirkan orang lain di cafe karena Danny menyewa cafe tersebut.
"Pantes dia sangbrut ya." Danny tertawa renyah.
"Bro gw mau cerita, gw punya sekretaris tapi baperan." ucap Brydean.
"Naomi baperan emang?." Rama terheran.
"Luke, kenalin gw sama Naomi donk." sambung Kevin.
"Bowleh, lima puluh, cuaks." ledek Vito. Kevin langsung ingin menyundut lengan Vito dengan rokoknya.
"Bukan Naomi, Naomi pindah tugas di Surabaya."
"Ya tuhan gw LDR sama Naomi." melas Kevin. Vito melihat miris Kevin yang sedang halu.
"Terus sekretaris lo, sekarang siapa? Boleh kali buat gw." ucap Adit.
Brydean menunjukkan foto. "Ini sekretaris baru gw."
"Ngga ngotak lo, spek bidadari lagi. Wait tapi ngga asing kayak modeling internasional yang lagi vakum." ucap Danny.
"Memang iya dia Sasya, gw jadiin sekretaris biar dia vakum dari jual ke indahan lekuk tubuhnya."
"Dapet dari mana lo? Gw besok kekantor lo buat nemuin Sasya." ucap Kevin.
"Dih lo tadi halu sama Naomi, sekarang mau genit ke Sasya?." ketus Dito.
"Speechless gw, tapi gw juga nanti kapan-kapan mau kekantor lo buat bisnis. Ini beda Luke bisnis." Vito dengan raut wajah meyakinkan.
"Bisnis berkedok lo." ketus Kevin.
"Kenapa pada rebutan cewek woy? Gw pawangnya, inget yang udah punya cewek di larang gatel." Brydean mencairkan suasana yang mulai gaduh.
"Tolong hargai gw, rama dan Luke yang masih jomblo buat dikasih kesempatan ngegatel sama Sasya." ucap Kevin.
"Lanjutin Luke cerita lo, mereka yang lain anggap aja setan." ucap Danny yang sedikit kesal.
"Menurut lo Dan, gw kadang suka ngekang dia tapi sejauh tiga bulan terakhir ini masih bisa ditoleransi sama dia, tapi untuk hari ini dia benar-benar kacau pergi cabut dari kantor."
"Bentar, maksud ngekang lo gimana?."
"Lo tau lah, gw bos, gw punya peraturan."
"Sasya kadang suka melanggar peraturan gitu?."
"Maklum, Sasya ngga ada basic jadi sekretaris jadi dia belum paham." sambung Adit. Mereka semua mendadak sedang dalam mode serius.
"Nikahin aja Luke kalau dia ngga nurut, gw yakin dia polos masih virgin." canda Vito.
"Lo kayak ngga tau aja cewek gimana bro, kalau dikekang. Kalau lo ngekang terus dia juga jadi risih akhirnya ngambek, ngga peka sih lo." ucap Kevin.
"Masalahnya dia mau balik ke event modelingnya, terus gw ngga izinin akhirnya dia cabut dari kantor."
"Asli sih, gw aja yang jadi CEO nya deh. Biar Sasya falling love sama gw. Gw jamin ngga bakal ada drama ngambek." ucap Dito.
"Saran gw Luke, biarin aja dia sendiri dulu. Dia belum bisa menyesuaikan dirinya sekarang, masih on progress." ucap Vito.
Note:
¹HS: having ***
²sangbrut : s*nge brutal
Untuk foto bisa di lihat di ig: @_pink.colour03
¤
¤
¤
¤
¤
¤
🖍Jangan lupa Like dan Vote 🖍
📖 Selamat Membaca 📖