
Sasya yang tengah duduk di sofa."Hi, Nita." sapa Sasya excited seraya melambaikan tangannya dengan sumringah saat sambungan video telepon itu di terima oleh Nita. "Gw kangen sama lo." menekuk wajahnya.
Nita yang ikut meluapkan rasa rindunya. "Also i miss you. By the way, why change your phone number?." tanya bingung Nita.
Sasya terlihat memantau situasi, clingak-clinguk menelusuri setiap inci villa tersebut. Khawatir Brydean sudah pulang kembali dari tempat gym tetapi melalui pintu belakang. "Awalnya gw ngga mau ganti nomor ponsel saat ponsel gw rusak, gw itu udah ngambil sim cardnya dari ponsel sebelumnya dan sekarang malah hilang bak di telan bumi." ucap kesal Sasya.
Terlihat Nita pun ikut terkejut mendengar dari sambungan video telepon. "Udah nasib. Kayaknya ada yang pakai ponsel 14 pro max nih." ledek Nita seraya menaikan satu alis.
"Yoi bro, punya dua nih gw !!! Senggol donk." tengil Sasya.
Nita nepuk dahinya. "Aduh rungkad. Otw pingin beli, tapi lo kan ada dua, boleh lah buat gw satu." seraya tersenyum dan menaikan kedua alisnya secara berkala. "Dua bulan lagi gw balik ke Jakarta, harus meet ya !!!."
"Kuy, gaskeun. Quira ikut balik juga?."
"Maybe no. Dia masih ada job lagi." seraya tersenyum. "Wait, lo lagi dimana Sya? Jangan bilang lo lagi staycation, ya ampun akhirnya kepincut sama black mamba." herannya seraya excited heboh.
"Gw ngga staycation njir !!!." Sasya berusaha mengelak.
"Alah jangan bohong, tadi gw lihat ada cowok lewat di belakang lo kok, tepat ngga jauh dari belakang lo duduk. Bule-bule pokoknya."
"Demi?." Sasya yang panik berlari menuju depan pintu, ternyata mobil Brydean sudah terparkir di depan sana. Sasya bergegas lari terbirit-birit menuju kamar dan tidak lupa mengunci kamar, melompat ke atas ranjang.
"Lo kenapa sih? Capek kan? Lo lari-lari udah kayak di kejar setan aja." Nita yang melihat Sasya terengah-engah dengan raut wajah panik.
Sasya masih mengatur deru napasnya. "Ng-ga." ucapnya terbata-bata.
"Lah, memang tidak jelas anak ini." bingung Nita.
"Inget, dia bukan black mamba ya. Jelas-jelas dia blasteran aja." jelas Sasya. "Gw mau bilang dia cuman bos gw aja." tegas Sasya.
"Nih, dengar gw, dia blasteran USA? No debat udah itu black mamba, walaupun ngga se-big black mamba kayak Afrika." Nita tersenyum devil seraya bertepuk tangan kecil.
"Iya sih USA, tapi apaan sih lo udah lah bye, pokoknya dia bos gw." ketus Sasya yang berusaha memberhentikan topik.
Nita tertawa geli mendengarnya. "Oke, gw percaya deh, tapi kenapa black mamba yang ori ngga bisa membuat lo luluh ya? Kan banyak tuh pas lo masih jadi model yang ngedeketin black mamba, bahkan yang people Afrika asli juga ada."
"Dihhhhhhh." Sasya menekankan satu huruf lebih panjang. "Malas gw, fine unfriend." nada bicara Sasya mulai kesal.
"Baperrrrr." Nita mengikuti Sasya menekankan satu huruf lebih panjang. "Ya udah sebenarnya, lo kerja apa sekarang?."
"Hmm, kerja jadi sekretaris."
"Heh, demi? Anjir ngga nyangka bisa gitu mlimpirnya jauh, mana lo kan ngga ada basic jadi kayak gitu."
"Takdir bu namanya, nanti saya ceritakan kalau anda sudah di Jakarta. Ya sudah bu, Bye. See you." disela ucapannya Sasya sedikit bercanda dan melambaikan tangan menutup panggilan di ponsel tersebut.
"Sasya !!." suara Brydean terdengar menggema memanggil namanya. Sebenarnya Sasya sejak awal sudah mengetahui Brydean memanggil dari kejauhan mencarinya. Maka karena itu Sasya memutuskan panggilanya terhadap Nita dengan cepat, sebelum Brydean mengetuk pintu kamarnya.
Terdengar suara ketukan di iringi dengan handle pintu yang terus di goyangkan. "Woy, Sasya." panggil Brydean dengan nada naik satu oktaf.
Sasya bergegas membuka pintu tersebut. "Sebentar." seraya tersenyum saat pintu tersebut terbuka, walaupun hanya tersenyum tidak ikhlas.
"Ipad mana Ca?." Brydean tanpa basa basi menerobos masuk kekamar Sasya, mencari keberadaan ipad tersebut. Matanya pun langsung tertuju pada atas nakas dan mengambil Ipad bersebut. "Hari ini kita ada jadwal ketemu klien Ca." Brydean masih berdiri di hadapan nakas tanpa berpindah tempat, mengscroll schedule hari ini.
"Coba lihat." Sasya berdiri di samping Brydean mengintip kearah Ipad yang Brydean pegang, sesekali pun Sasya menarik tangan Brydean agar schedule itu terlihat jelas di hadapannya. Raut wajah Brydean hanya pasrah sambil memegang Ipad dengan Sasya yang merusuh itu. "Oh iya benar, nanti jam tiga sore." polos Sasya setelah berhasil melihat schedule.
"Pegang !!!." titah Brydean memberikan Ipad, lalu melompot ke atas ranjang Sasya. "Sekarang sudah jam setengah empat sore nona." menunjukkan pukul 15.30 di lookscreen ponsel Brydean. "Udah, tidur aja nona." Brydean menarik selimut dan membelakangi Sasya.
Sasya mulai panik bukan main, seluruh tubuhnya panas dingin. Masalah terbesar yang pasti nanti disalahkan adalah seorang sekretaris yang melalaikan wewenangnya dan klien penting pun ikut pergi yang berdampak membuat perusahaan pun jadi down. "Ihhh, ayo bangun !!! Ngga apa-apa telat juga." Sasya merusaha menarik tangan Brydean dengan sekuat tenaga agar Brydean bangun dari rebahannya.
"Kalau gw lepas pas lo tarik, pasti jatuh terdampar." ledek Brydean sambil tertawa kecil. Sasya pun melepaskan tangan Brydean begitu saja. "Panik ya..." smrik Brydean.
Sasya yang merasa kesal oleh tingkah laku Brydean, melempar bantal kearah kepala Brydean. "Ngga lucu." ketus Sasya.
Lagi dan lagi target tidak bisa di kenai sasaran. Karena target cepat dan tangkap. "Siapa yang lagi ngelucu?." Brydean membuka ponsel. "Baca !!!." menunjukkan sesuatu seperti isi chat yang di tunjukkan, membuat Sasya harus menghampirinya duduk di samping Brydean yang sedang rebahan. Sasya memegang ponsel Brydean seraya Brydean pun memegang ponselnya. "Clear, time to sleep." Brydean menutup layar ponselnya dan menaruh ponselnya ke dalam saku.
"Ihhh, sebentar belum selesai." kesal karena chatingan dengan klien yang ditunjukkan padanya belum tuntas terbaca. Berusaha untuk merebut kembali ponsel yang akan di masukkan kedalam saku celana Brydean.
Brydean yang tetap teguh pada pendiriannya, supaya ponselnya tidak terebut oleh Sasya. "Tadi kenapa ngga langsung ke intinya?." seperti biasa mereka tidak ada habisnya fase dimana sering rebutan dan bertengkar terjadi setiap hari. Sampai di saat berebutannya berhenti karena kepala Brydean terhantuk dinding. "Arkh." rintih kesakitan setelah terhantuk dinding, menahan rasa sakit dengan terus memegang bagian kepala yang terhantuk.
Sasya yang panik pun langsung melihat kepala Brydean yang terhantuk. "Pusing ngga?." khawatirnya. Sasya yang tersadar akan rencana awal mengambil ponsel Brydean. Kebetulan ponsel Brydean tergeletak begitu saja yang tidak jauh dari hadapannya. Dari yang sebelumnya sedang mengusap kepala Brydean yang terhantuk, kini tanganya begitu cepat mengambil ponsel Brydean. Sasya tertawa devil saat ponsel Brydean sudah ada di tangannya. "Dapat juga akhirnya."
Brydean melihat sekilas saat ponselnya sudah di tangan Sasya, hanya ada raut wajah pasrah saja mengambil bantal yang di letakkan di atas paha Sasya dan lanjut untuk rebahan telungkup. "Lo ngga bakal tau passwordnya?."
Sasya cengenggesan menyadari tidak bisa membuka kunci layar. "Berapa passwordnya?." Brydean menarik tangan Sasya, mengarahkan ponselnya kehadapannya dan membuka password ponselnya yang Sasya pun turut melihat berapa password ponsel Brydean. "Kok lebih ganteng foto di lookscreen dari pada aslinya."
"Lo aja yang ketutup mata batinnya, kalau gw sebenarnya lebih ganteng dari pada di foto." jawab datar Brydean sambil memegangin kepalanya yang masih terasa sakit.
"Oh ya, ini gw ngga sopan kalau buka-buka ponsel orang lain. Lo aja yang buka chatingannya klien tadi." Sasya menyodorkan ponselnya.
Brydean membuka chatingan klien yang tadi dan kembali memberikan kepada Sasya. "Cepat !!! Habis itu gw mau push rank."
Sasya memacu mobil sangat laju di jalan malam Bali, terburu-buru agar cepat sampai tujuan. Memarkirkan mobil di area parkir cafe, berlari masuk ke dalam cafe tersebut. "Maaf, mau tanya untuk reservasi meja duabelas di sebelah mana ya?." tanya di meja resepsionis dengan raut wajah panik seraya mengatur deru napas, sesekali Sasya melihat ponsel dan jam tangannya.
"Mari saya antar." ramah resepsionis menunjukkan meja duabelas yang terletak di outdoor dengan pemandangan cantik tepi pantai Bali. Resepsinonis menunjukkan meja duabelas tepat jeda tiga meja. Setelah tugas resepsionis pun selesai, ia pergi membungkukkan badan kembali ke meja resepsionis.
Waw amazing, i like that. Seraya tersenyum sendiri, membungkam mulut sambil berlari kecil di tempat dengan raut wajah yang terpesona oleh keindahan yang berada di depan matanya. Sadar yang dilakukannya telah mengulur waktu yang lama, Sasya pun menghampiri dua pria yang sejak tadi sudah duduk di meja duabelas dengan setelah formal berjas. Sedangkan Sasya hanya memakai celana denim pendek hitam dengan atasan kemeja putih yang lengannya di lipat ala style korean girl. Biarkanlah dari pada gw ngga datang sama sekali. Sasya yang melihat dirinya dari atas sampai mata kaki. "Excuse me sir, sorry come late." Sasya bersalaman ramah seraya melontarkan senyuman manis di wajahnya dengan seseorang yang ntah dia pun tidak tahu namanya, yang pasti itu kliennya hari ini. Brydean terus memandangi Sasya dengan tatapan bombastic side eye, criminal offensive side eye. "Hi, i'm Sasya, as Mr. Brydean secretary."
"Hi Sasya, I'm Rey. Nice to meet you, pretty girl." membalas senyuman Sasya. "Wait your name is Sasya right?." Rey menahan salaman tersebut.
"Benar, ada yang salah dengan nama saya?." heranku.
"Tidak, namamu persis seperti model internasional dan wajah-nya pun familiar."
Sasya tersenyum dengan perasaan tertekan. "Mungkin hanya kebetulan saja."
"Maybe." tertawa kecil.
Brydean menarik tangan Sasya supaya menyudahi bersalaman yang cukup lumayan lama. "Cepat duduk !!!." titahnya mengarahkan bola mata dengan cepat ke arah kursi di sampingnya.
Sasya cepat melapaskan salamannya. "Maaf jika mengganggu kenyamanan, karena outfit saya yang tidak sesuai."
Sasya 'pov
Aku memposisikan duduk di samping Brydean, membuka laptop yang sudah berada di atas meja tersebut, memulai mempersiapkan presentasi untuk klien. Tiba-tiba seseorang pelayan datang menghampirinya untuk menuangkan wine di gelas kosong milikku. "Sorry, no drink wine." tersenyum kepada seorang pelayanan wanita tersebut.
"Why, Sasya?." tanya heran Rey.
Tersenyum menanggapi perkataan Rey. "Memang ngga minum alkohol."
"Oke, lalu mau pesan minum apa?." tawar ramah Rey.
"Hot chocolate." jawabku. Rey langsung menyampaikan pesananku kepada pelayan.
Saat bersamaan itu pun, Brydean menarik kursiku mendekat kepadanya, sekitar memberi jarak 5cm antara kursi kita. "Why, come late? Lo udah baca chatingan tadi sore tetap ngga datang on time pukul 20.00." bisik Brydean.
Aku mulai merasakan perasaan sangat bersalah yang sedalam-dalamnya. "Sorry, gw salah." bisikku seraya tersenyum, menelan ludah kasar dengan menatap Brydean.
Brydean terhenti menatapku saat Rey mengucapkan... "Bro, lo ada sebat ngga? Gw lupa bawa." Aku yang hanya terheran-heran mendengar perkataan yang baru saja Rey ucapkan.
"Ca, Lo bawa rokok gw?."
"Ada, sebentar." aku mencari rokok dan pemantik yang tersimpan di tas kecil. Itu adalah hal wajib yang harusku bawa setiap hari, kemanapun aku berada, bahkan saat aku pergi sendiri. Sewaktu ada kepentingan mendadak yang harus bertemu Brydean dan yang pastinya Brydean selalu menagih rokoknya kepadaku. Setelah berhasil menemukannya, aku langsung memberikan pada Brydean yang sudah menunggu. Terlihat Brydean mengambil sebatang rokok di dalam bungkus rokok dan menyalakannya, begitu pula sebaliknya dengan Rey. Lama-lama gw penyakitan di dekat mereka. "Saya izin memulai presentasinya, pak." tersenyum sambil membungkukkan sedikit badan kepada dua pria di hadapanku. "Rencana selanjutnya perusahaan kami sedang menjalankan proyek terbesar pembangunan hospital di Venice. Silahkan di lihat untuk design 3D hospital secara keseluruhan." menunjukkan dan menjelaskan secara detail mengenai gambar 3D yang sudah di rancang rapih di presentasi.
"Untuk penyelesaian pembangunan sudah mencapai angka berapa persen?." Rey membuka jas yang di pakai dan menaruhnya di atas paha Sasya. "Biar ngga ke dinginan."
Aku yang terkejut ketika Rey tiba-tiba menaruh jasnya di atas paha. "Maaf pak, tidak perlu." memberikan kembali jas Rey.
"Baiklah." menerima jas-nya tersebut seraya tersenyum.
"Pakai punya gw, ngga ada penolakan." bisik Brydean seraya membuka jas dan menaruhnya di atas pahaku. Tidak ada penolakan, ku hanya menurut saja karena jika menolak pasti akan menimbulkan keributan.
"Maaf jadi terjeda pembicaraannya, untuk pembangunannya sudah mencapai sekitar 60% untuk saat ini, Maaf ini hard copy dokumen yang harus di tanda tangani untuk kontrak perpanjang kerja sama dengan perusahaan kami." menyerahkan dokumen kontrak. Cukup melelahkan untuk saat ini, gw harus kerja double sebagai sekretaris dan direktur. Ya mau gimana lagi, direktur sedang memantau kinerja proyek di lapangan. Melihat Rey telah selesai menandatangani. "Terimakasih untuk kerja sama dan selalu mempercayai perusahaan kami." bersalaman seraya tersenyum, di ikuti pula dengan Brydean. Ku bergegas merapihan semua barang yang sudah dikeluarkan dan bersiap untuk permisi pergi dari Rey. "Kami izin permisi pergi terlebih dahulu karena sudah terlalu malam." membungkuk sambil menjinjing tas yang berisi laptop dan menekuk membawa jas Brydean di selipan lengan.
"Bro, gw duluan. Sukses buat lo." memberi salaman perpisahan yang khas di lakukan pada pria yang sudah dekat, tidak lupa di iringin dengan pelukan di akhir.
"Yoi bro, sukses juga buat lo." Rey membalas semua salaman perpisahan.
Brydean mengambil jas-nya yang ku letakkan di selipan lengan. "Pakai dingin." Memakaikan pada bahuku seraya tersenyum.
"Terimakasih." membalas senyuman Brydean. Jas Brydean cukup sangat hangat untuk membantuku yang sedang menahan ke dinginan hembusan angin malam tepi pantai sejak tadi yang hampir saja membeku.
"Ada sesuatu yang indah, lo harus tau." tersenyum kecil.
Di sisi lain Rey terus menatap Sasya yang berlalu pergi dari hadapannya dengan Brydean yang berusaha care pada Sasya. Smrik. "Cepat atau lambat Sasya milik gw." jealous Rey seraya menghisap rokok, melempar puntung rokok kelantai lalu ia pijak dengan sepatunya. Menghabiskan wine terakhirnya yang tersisa di dalam gelas dan beranjak pergi dari cafe tersebut.
¤
¤
¤
¤
¤
¤
🖍 Jangan lupa Like dan Vote 🖍
📖 Selamat membaca 📖