Together Again

Together Again
Ayo Nikah !!



Matahari sudah terbit, aku pun sudah bersiap dengan koper yang ku bawa. Pergi meninggalkan California. "Nita, gw balik ke Indo." ucapku saat sambungan telepon sudah terhubung. "Gw mau siap-siap take off. Thank's, see you." ucapku lagi saat Nita belum sempat menjawab percakapanku yang diawal.


Indonesia - Jakarta


Aku sudah landing di bandara Soetta, lelah perjalanan sekitar delapan belas jam. Perbedaan waktu pun jauh berbeda antara Indonesia dengan California. Aku bergegas pulang kerumah mengistirahatkan diri.


...⚘⚘⚘...


"Ayo Nikah !!." ucapku saat memasuki ruangan Brydean tanpa permisi, berdiri tepat pada meja kerja Brydean.


Brydean langsung menatapku dengan menyeringai. "Good." bertepuk tangan kecil. "Kemarin gw di tolak mentah-mentah." membangunkan diri menghampariku. "Telat sayang, gw udah punya yang baru." seraya mengusap lembut rambutku.


Aku menatap serius bola matanya dan juga sikapnya dengan mematung. Lalu ku menepis tanganya yg akan mengusap lembut rambutku. "Hahahha, bercyandha, bercyandha, gw juga cuman bercyandha ngomong gitu. Bye." membalikkan badan beranjak keluar ruangan tersebut dengan sikap random nan tengil.


"Tengil, sini lo !!! Kerja anjir, lo masih jadi sekretaris gw." teriak Brydean.


Aku tak peduli sedikit pun dan terus berjalan sampai membuka pintu ruangan tersebut. "Bodo amat, gw ngga peduli. Sengaja biar lo pecat gw." sebelum menutup pintu ruangan itu, aku memberi salam jari tengahku.


Berjalan menuju basement aku tak henti menggerutu. "Cih, memang cowok jaman sekarang kalau ngga mokondo ya modelan asu." membuka pintu mobilku.


"Eits nona, salah buka pintu mobil." ucap seseorang yang sontak aku terkejut mengetahui jika itu bukan mobilku dan suara beratnya melengking familiar ditelingaku.


Aku melihat kearahnya dan melihat pergelangan tanganku sudah digenggam erat. Aku pun panik ketakutan pada saat itu, berusaha melepaskan genggaman tangan kekarnya sekuat tenaga. "Ahhh, lepas Brydean." ringisku.


"Ngga usah tengil, lo diranjang bakal kalah. Segini gw genggam ngga pakai tenaga." Brydean keluar dari mobil dengan masih menggenggam tanganku. "Gw bakal lepasin, tapi lo harus nurut."


Aku tak bisa menjawab apapun, hanya diam mengikuti perintahnya. Ia membawaku untuk duduk di kursi samping kemudi dan memasangkan seatbelt. "Pinter nurut." mengusap lembut rambutku, dahlah aku hanya bisa tersenyum terpaksa dibawah tekanan. Terlihat Brydean pun masuk kedalam mobil dan bersiap untuk mengemudi. "Lo baper digituin langsung marah, gw juga bercyandha, bercyandha." meledek meniru tingkah tengilku.


Speechless melihat Brydean meniru tingkahku. "Dih, copas lo." menatap sinis. Malu dikit ngga ngaruh wir, kita harus tetep jaga image.


******Brydean 'pov******


Aku berusaha melupakan kejadian kemarin, mungkin ini memang bukan takdir, recana tuhan lebih baik dari pada manusia. Mulai menjalani aktivitas seperti biasa dan menganggap tidak ada sesuatu yang terjadi. Aku masuk kedalam ruangan sudah disajikan pemandangan yang hampir tiap hari tumpukan berkas itu menggunung meminta ditanda tanganiku dan ratusanan notifikasi email masuk saat ku baru saja menyalakan laptop. Aku terbiasa untuk memulai menanda tangani seluruh berkas di atas meja, baru memulai melihat email masuk. Sedikit sulit tanpa bantuan seorang sekretaris.


Aku hilang fokus saat mendengar langkah kaki yang menggema yang sedang menghampiri ruanganku. Aku berusaha untuk berfokus kembali, berpikir pasti Alma menghampiri keruangan untuk membawakan sebuah soft file. Ku mendengar seseorang membuka pintu ruangan melihat dengan samar seseorang berjalan menghampiriku. Agak pelik ntah aku yang tidak mendengar ketukan pintu tersebut atau dia yang tak sopan masuk tanpa permisi.


"Ayo nikah !!!." suara tegas itu melengking di telinga dan membuat otakku terangsang terkejut mengerutkan dahi, berpikir dengan logikaku. Suaranya pun sangat familiar. Memberhentikan kerjaku sejenak medongakkan kepala melihat siapa yang berada didepan meja kerjaku. Oh, damn, Sasya. "Good." bertepuk tangan kecil. "Kemarin gw di tolak mentah-mentah." Aku membangunkan diri dari duduk menghampirinya. Ia melihatku mendongak sedangkan ku melihatnya menunduk. Mari bermain sebentar, membuatnya marah. Aku ingin lihat bagaimana reaksinya. "Telat sayang, gw udah punya yang baru." seraya mengusap lembut rambutnya.


Jawabannya diluar mars, bocil satu ini memang tengil tingkat akut. Tetapi setengilnya jawaban tersebut dia berusaha untuk menutupi kecewanya seperti sia-sia saja dan malu datang kekantorku tiba-tiba ngajak nikah. Agak lain tapi aku suka. Aku melihat ia melangkahkan kaki ingin meninggalkan ruanganku dengan sikap absurd nan tengil.


"Tengil, sini lo !!! Kerja anjir, lo masih jadi sekretaris gw." teriakku.


"Bodo amat, gw ngga peduli. Sengaja biar lo pecat gw." ia menjawab seperti menantangku. Oh, tidak semudah itu fergusoh untuk pergi dariku. Ada banyak cara untuk membuatmu kembali.


...⚘⚘⚘...


Disepanjang perjalanan seperti biasa kami saling diam. Aku malas untuk cari topik dan memulai pembicaraan, apalagi Brydean, akurasi seratus persen kalau tidak ditanya, tidak dijawab. Sudah tidak heran dengan keadaan seperti ini, aku sudah terbiasa. Baiklah karena aku butuh sedikit teman berbicara, maka aku akan mengalah untuk membuka topik. "Kita mau kemana?." kikukku mencairkan keheningan.


"KUA." jawab datar yang singkat padat dan jelas tanpa menoleh sedikit pun ke arahku, jawabannya yang berhasil membuatku mematung terdiam.


"Ihh, apaan sih? Ngga mungkin, bisa aja bercandanya." sontak terkejutku berusaha berpikir logis. Aku dibuat overthinking berlebihan. selama di perjalanan aku berpikir keras, KUA mana yang ia tuju, sedangkan setauku KUA sudah terlewat. Tiba-tiba Brydean memberhentikan mobilnya secara mendadak, membuatku panik. "Kenapa?." heranku.


Brydean 'pov


Aku terlupa sesuatu ingin memberikan hadiah pada Sasya. Aku memberhentikan mendadak mobilku saat ditengah perjalanan, menepikan mobilku. Merogoh saku celana mengambil sesuatu. "Will you marry me?." membuka kotak cincin berlian tersebut. "Udahlah jawabannya pasti iya, ngga usah banyak basa basi. Lo juga tadi pagi ngajakin gw nikah." Mengambil cincin tersebut dari kotak, meraih tangan Sasya dan memasangkan di jari manisnya. Kembali fokus menyetir.


Sasya 'pov


Aku yang mendengar ucapan Brydean tersebut terkejut, tapi biasa saja. Karena memang sudah ketebak bakal seperti ini endingnya. Memang kadang kita freak. "Minimal ada romantisnya dikit lah." ketusku. "Btw, makasih cincinnya bagus." aku tengah terkagum dengan jari manisku terpasang cincin yang sangat cantik.


"Ngga ada waktu romantis kita cuman tinggal sisa tiga hari untuk menyiapkan pesta pernikahan." menoleh kearahku tersenyum seraya mengusap lembut rambutku. Aku pun membalas senyuman manisnya.


...⚘⚘⚘...


H-2 Before Wedding


Mereka menjalani pingitan yang dilakukan sebagai syarat sebelum melangsungkan pernikahan, walaupun pingitan berlangsung sangat singkat. Hari ini adalah jadwal temu Sasya dengan seorang designer ternama di dunia untuk fitting gaun pengantin. Namanya sudah tersohor dengan desain baju yang sangat indah dan elegan. "Sasya, karena kita ngga ada waktu banyak untuk merancang gaun pengantinnya, jadi designer kita membawakan simpel gaun pengantin yang limited edition." ucap Bunda Arumi yang rempong. "Pilih yang sesuai dengan selera kamu dari tiga gaun ini untuk dipakai akad." Kami mempercayai designer ternama dari italia, tanpa basa basi Sasya mencoba ketiga gaun tersebut.


Karena pernikahan dibilang terburu-buru sesuai janji Brydean di awal. Ia tak akan menunda-nunda kesempatan, janji adalah janji yang harus ditepati. Setelah temu jumpa dengan designer, sorenya pun mereka mengadakan foto prewedding dadakan di rumah Sasya.


...⚘⚘⚘...


Brydean mulai mantap menjabatkan tangannya dengan penghulu untuk melaksanakan ijab qobulnya dan mengikuti perkataan yang diucapkan penghulu. "SAYA TERIMA NIKAH DAN KAWINYA SASYA DYRA QEIZA BIN ADAM HARIZ DENGAN MAS KAWIN UANG 100 JUTA DOLAR, RUMAH MEWAH 2 TINGKAT, MOBIL LAMBORGHINI DAN SEPERANGKAT ALAT SHOLAT DI BAYAR TUNAI." ucap lantang Brydean yang puas membuat hatiku berdebar dan kini berderai air mata.


Semua orang berteriak SAH sebelum pak penghulu mengucapkan kalimat andalannya. Tampak raut wajah Brydean pun berseri-seri sumringah setelah selesai mengucapkan ijab qobulnya tanpa hambatan. Langsung ia pun memakaikanku cincin dengan sebaliknya aku pun memakaikannya pula, tak lupa dia mencium keningku dan berbisik. "Don't Cry." ucapnya yang menyadariku menangis.


...⚘⚘⚘...


Acara yang sangat melelahkan tak terasa kini ku sudah ingin berganti gaun pengantinku yang ketiga. Sesampainya diruang penata rias, aku di papah oleh Nita dan Quira. Kita sambil berbincang tak jelas sambil menungguku selesai berganti gaun dan sedikit touch up. Quira pun bercerita jika Brydean sebelum akad dimulai ia terus menghapalkan kalimat ijab qobul bersama Nico. "Nita, Quira, habis acara ini lo bawa gw kabur ihh, gw takut." tegasku.


"Wah, gw ngga ikutan, Nita aja yang nanggung resikonya." ucap Quira yang melambaikan tangan.


"Aduh gw ngga bisa Sya, anggap ini cobaan ya. Semangat."


"Please, semalem aja." mohonku dengan wajah memelas.


"Insyaallah, ayo kembali temani suamimu, cie udah bersuami." ledek Nita.


"Aduh rungkad kak, bestie kita sudah bersuami." sambung Quira pun ikut meledek.


...⚘⚘⚘...


Tengah malam pun tiba, acara pun telah usai sejak tiga puluh menit yang lalu. Aku telah berganti gaun pengantinku dengan baju tidur dan menghapus riasanku sebelum pulang. Aku diam-diam terus mendekati Nita, berharap Nita bisa membantuku. "Lo kenapa si Sya? Nempel terus sama gw, itu kasian suami lo dianggurin." memberi kode yang tidak jauh di depannya terlihat Brydean sedang asik berbincang dengan para temannya.


"Ngga ada yang dianggurin, dia lagi asik berbincang sama teman bisnisnya. Ini kesempetan kita buat lo bisa bawa kabur gw. Ayo buru !!!." paksaku terus menggiring Nita agar membawa kaburku.


"Tapi gw ragu Sya. Gw ngga jamin berhasil."


"Ya udah ayo coba dulu, kali hoki."


Kami pun mulai melancarkan aksi, aku berjalan tampak seperti biasa saja agar tidak dicurigai gelagatku. Sedikit lagi hampir berhasil pintu keluar pun sudah terlihat depan mata, tinggal berjalan menuju parkiran dan masuk kedalam mobil Nita adalah perihal mudah dan sangat mudah sekali. Aku berekspetasi rencana ini akan berhasil. "Mau kemana sayang?." tiba-tiba suara berat yang sangat familiar itu pun menggenggam pergelangan tanganku tepat di ambang pintu keluar. Aku mematung saat Brydean berhasil mengagalkan rencanaku. "Nita." teriakku dengan sikap dramatis seperti tidak ingin kehilangannya.


"Bye Sya, goodluck ya." teriaknya dengan sikap meledek itu.


"Mau kemana? Kamu belum jawab pertanyaanku." Brydean yang mengulangi ucapannya.


Aku berusaha untuk terlihat tidak ada yang ditutupi. "Oh, tadi mau nganterin Nita aja sampai pintu sini." kikukku seraya tersenyum. "Mana teman-teman bisnismu?." berusaha untuk mengalihkan pembicaraan.


"Ayo pulang !!! Kita butuh istirahat." mengacak-acak rambutku seraya tersenyum, terlihat raut wajah Brydean memang sangat letih.


What pulang? Please gw ngga mau pulang. Menelan ludah kasar. "Iya, ayo pulang." tersenyum memperlihatkan barisan gigi rapih. "Tapi kayaknya kalau duduk di pantai dulu enak ya."


Brydean menggenggam tanganku seraya mengecup punggung tangan. "Disana dingin karen angin malam, ngga baik nanti sakit. Kita pulang kerumah aja."


"Baiklah, tak apa ayo pulang." menarik genggaman tangan Brydean menuju mobil Brydean terparkir.


"Kita pulang ke apartement sayang." ucapnya saat tengah kita berjalan menuju parkiran


"Iya ngga apa-apa." tersenyum. Tetap stay kalem, bilang ngga apa sambil tersenyum, walau perasaan sedang ketar ketir. Tolong aku takut malam pertama.


...⚘⚘⚘...


Cintailah seseorang yang rasa cintanya lebih besar darimu, laki-laki tulus adalah laki-laki yang mampu menjaga wanitanya dan berani sampai membawa kejenjang serius pernikahan. Aku akan terus belajar untuk mencintainya, walaupun kini sebetulnya aku tidak mencintainya. Dulu aku pernah berharap padanya tetapi aku dikecewakan dan mulailah perlahan rasa yang ku punya dengannya menghilang, tapi kini ia kembali sebagai belahan jiwaku.


_Sasya_


¤


¤


¤


¤


¤


¤


🖍 Jangan lupa Like dan Vote 🖍


📖 Selamat Membaca 📖