Together Again

Together Again
Nikah



Ding dong, Ding dong...


Suara bell rumah Sasya yang terdengar nyaring. Sasya yang mendengar itu pun langsung keluar dari kamar-nya dan menuruni tangga.


Sasya melihat seorang pelayan rumah-nya tengah mengangkat telepon rumah. Ia pun menghampiri-nya dengan mengendap-endap.


"Dorrr." sambil menepuk bahu-nya.


"Astagfirullah, nona." kaget Mbok Ani.


Sasya pun tersenyum. "Jangan terlalu serius Mbok."


"Nona, tadi Pak Badri telepon Mbok. Katanya ada tamu yang mau ketemu nona."


tok, tok, tok


terdengar suara orang yang mengetuk pintu rumah Sasya.


"Nona, permisi Mbok mau buka pintu-nya."


"Mbok disini aja, biar aku yang buka pintunya." Sasya pun berjalan menghampiri pintu dan membukanya.


Sasya pun melihat cewek yang sedang membelakanginya, berambut coklat panjang dengan model curly gantung dan pakaian formal yang di balut dengan rok putih span dengan atasan kemeja hitam panjang dan ia pun memakai heels hitam menambah kesan sexy dan elegan.


Cewek tersebut pun menyadari bahwa tuan rumah sudah membukakan pintu untuknya. Ia pun langsung membalikkan badannya menghadap Sasya.


Sasya pun langsung menelan ludah kasar saat melihat cewek tersebut membalikkan badannya. Aihs, batin gw langsung getar liat wajah cantiknya.


"Hai, aku Naomi dan aku sekretarisnya Pak Brydean." Cewek tersebut mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan Sasya.


"Hallo, aku Sasya." jawab kaku dan kebingungan Sasya, sambil menerima salaman cewek tersebut.


"Hmm, ini aku di suruh Pak Brydean untuk mengembalikan ponsel mu dan baju yang kemarin basah." Cewek tersebut sambil menyodorkan paper bag-nya.


Teringat akan ponsel, Sasya langsung mengambil paper bag tersebut. Karena belakangan setelah ponsel Sasya hilang, ia berkomunikasi dengan temannya lewat DM instagram saja. Ia pun mengecek isi paper bag tersebut, dengan bahagia-nya ia pun langsung mengambil ponsel-nya. "By the way, thank you very much."


"You're welcome."


Tiba-tiba rasa senangnya berubah dengan di landa rasa kebingungan dan kesal, bila mengingat kejadian yang belum lama terjadi. "Wait, who's that Brydean?." Sasya sambil mengerutkan dahinya.


"Ya, dia CEO aku." Cewek yang bernama Naomi itu pun menunjukan foto Brydean yang tampak cool dengan di balut jas kerja warna navy.


What, he so handsome and cool boy !!. Eits sadar, gw harus menjunjung tinggi harkat dan martabat gw dan gw nggak akan terlena oleh visual dia atau mungkin gombalan-nya. Perlu di ingat dia udah ngehina fisik gw.


"Sasya, kenapa diam?." Naomi yang sadar melihat Sasya, langsung menepuk bahu-nya.


"Ohh, nggak apa-apa kok."


"Ganteng ya?." celetuk Naomi.


Sasya yang bersadar di ambang pintu dengan melipat kedua tangannya. "Ya , bolehlah." sambil menaiki sebelah alisnya.


"Semua staff perempuan di kantor sangat mengagumi ke tampanan-nya."


"Nona, Mbok buatkan teh untuk teman nona." tiba-tiba Mbok Ani datang.


Sasya yang baru sadar mereka mungkin sudah cukup lama berdiri di sana. "Hampir lupa, ayo masuk !!."


Sasya pun mendudukkan tubuhnya. "Silahkan duduk !!."


"Thank you."


"Minumnya mau di ganti selain teh?." Sasya merasa tidak enak hati atas tadi perbuatannya. "Mau jus atau hot chocolate?."


"Nggak usah, teh aja cukup." tolak Naomi.


"Maaf yang soal tadi, kita malah ngobrol di luar."


"It's ok, no problem."


"Biar lebih enak, kayaknya Sasya manggil kaka Naomi."


"Panggil nama aja, kita seumuran kok."


"Really ?."


"Yes i know that, because your identity card in behind phone case." Noami pun tersenyum memperlihatkan barisan giginya yang rapi.


Sasya menutup mulutnya karena sangat kaget. "Oh my god, i'm really forget." Sasya pun lalu tertawa.


"Maaf kalau lancang, tapi jujur bukan aku yang ambil kartu itu."


Belum sempat Naomi berbicara kembali, Sasya menyela pembicaraan tersebut. "Siapa lagi kalau bukan CEO itu."


Naomi tertawa. "By the way, ini kali ke dua aku melihat seorang Sasya secara langsung dengan penampilan yang natural dan lebih cantik di real life. Seseorang yang namanya sedang dicari publik karena trending di sosial media."


"Maksud dari kali kedua apa?." lagi-lagi Sasya di buat kebingungan. "Bukannya, ini kali pertama kita bertemu?."


"Ohh iya, kamu kan pingsan saat aku ganti baju yang basah itu, mustahil ingat atau kenal aku."


"Hah."


...⚘⚘⚘...


Hari sudah berganti larut malam, sudah masuk waktu indonesia bagian overthinking. Sasya yang sudah berbaring ditempat tidur-nya bersiap untuk tidur, tapi ia selalu di hantui oleh perkataan Naomi siang tadi.


Sasya yang tampak gelisah memikirkan perkataan Naomi, membuatnya harus overthinking berlebihan.


Naomi "Your body is perfect."


Sasya "You same too, apa Brydean cerita sesuatu tentang ku atau kenapa aku pingsan atau kenapa aku di rumah atau di kamar-nya?"


Naomi "Ya, Brydean tapi nggak cerita banyak tentang mu."


Sasya "Please, story now !!."


Naomi "Aku di call Pak Brydean tiba-tiba saat shubuh, untuk datang cepat kerumah-nya membawakan baju baru dengan menyebutkan ciri-cirinya seperti yang dia inginkan. Karena aku hanya bawahan yang harus patuh akan perintah bos, aku pun nggak peduli saat di perintah-nya, aku hanya berfikir mungkin untuk pacar Pak Brydean. Setelah sampai aku melihat wanita cantik di atas kasur yang tubuhnya basah kuyup di balut dengan selimut yang dililitkan tubuhnya agar hangat dan sedang berada di pangkuan Pak Brydean yang terlihat kebingungan. Aku pun menanyakan apa yang telah terjadi?. Dia menjawab bahwa wanita itu bernamanya Sasya, dia terpeleset di tepi kolam dan kemudian tenggelam. Sedikit freak tapi it's ok dan aku pun langsung mengganti baju yang baru tapi tidak dengan Pak Brydean ada di sana. Ia langsung keluar saat aku ingin menggantikan baju. Sebelum aku pulang Pak Brydean bilang jangan berfikir buruk tentang dia dan Sasya, karena Sasya itu best friend-nya dari SMP. Jadi gitu deh, cerita-nya.


Sasya "Oh, best friend."


Naomi "Why're you at home he is early in the morning."


Sasya "Aku mau ngambil barang yang sangat penting, yang nggak sengaja kebawa sama dia."


"Ahhh." Sasya berteriak dibalik bantal sangat kencang saat mengingat apa yang dia katakan Naomi. "Bisa-bisanya dia ngelindungi nama baik gw sama sekretarisnya dan gw udah berburuk sangka sama diaa woyyy, malu gw." Sasya sambil memukul-mukul bantalnya. "Dan gw nggak akan mau ketemu sama dia sampai kapan pun dan gw juga kesel karena dia udah body shaming-in gw." lalu Sasya pun melempar semua bantal yang ada dihadapannya.


...⚘⚘⚘...


Sudah lebih 2 hari Sasya dan sahabatnya jarang bertemu, ntah sekedar minum teh bersama atau berbincang-bincang. Sasya pun mengirim pesan di grup.



Setelah mereka berkumpul dirumah Sasya, mereka pun pergi ke sebuah cafe, hari ini adalah cuti terakhir mereka dan besok mereka akan mulai berkerja kembali.


...⚘⚘⚘...


Hari dimana mereka memulai untuk mengabdi pada masyarakat. Di pagi hari yang sangat cerah nan sejuk, mereka berjalan dari rumah menuju Rumah Sakit menggunakan motor ninja-nya. Hari ini mereka bekerja shift pagi dan pulang pada pukul 2 siang.


Kali ini Sasya datang terlebih dahulu di ruang perawat, karena mereka datang tidak bersamaan.


"Asik teman kita yang cantik ini jadi seleb guys." celetuk perawat cowok yang shift malam sambil bersalaman kepada Sasya.


Sasya pun tersenyum. "Hahaha, aku bukan seleb kaka." ledeknya.


"Mana nih, Quira sama Nita belum datang?." perawat cowok itu pun sambil melihat jam di dinding. "Udah jam segini, biar cepat operan yang shift malam mau balik."


"Mereka mah tim ngaret."


"Nah loh, si Quira mana?." ucap Sasya yang melihat Nita datang sendiri, biasanya kadang-kadang mereka selalu barengan.


"Nggak tau, kalo ada kepala ruangan dia pasti izin-nya, motornya abis bensi lah atau nggak macet di jalan."


"Mentang-mentang sekarang kepala ruangan libur dia ngaret banget."


"Tau nih, kebiasaan." ucap perawat cowok.


"Yok operan guys, kasian ketiga kaka cowok kita udah lelah." ucap Sasya.


"Yok, biarin Quira mah tinggalin."


Saat mereka sudah ingin selesai untuk operan pergantian shift, mengenai bagaimana perkembangan kondisi pasien dan apa yang harus perawat lakukan untuk menangani permasalah pasien atau terapi obat yang diberikan oleh dokter atau mungkin ada pasien yang baru masuk ruangan rawat. Tiba-tiba Quira datang dengan tergesa-gesa.


"Kok gw ditinggalin?." ucapnya yang masih terngah-ngah sambil mengatur napasnya.


"Lo sih lama." ucap Nita.


"Ayo, keliling." ucap perawat cowok. Biasanya para perawat setelah operan mereka berkeliling ruangan perawat yang di jaganya, dari ruangan pasien kelas 3, 2, 1 dan VIP atau VVIP mengecek keadaan perkembangan pasien atau memberi penjelasan diagnosa pasien kepada setiap perawat yang akan melanjutkan shift-nya.


Mereka pun kembali ke ruang perawat setelah berkeliling dan yang shift malam pun bersiap untuk pulang.


"Pasien ada berapa Sya?." tanya Quira.


"Coba lo hitung pas tadi kita keliling." Sasya tengah mempersiapkan botol infus untuk pasien.


"Ta, bantu gw." Quira pun meringis bantuan kepada Nita.


"Apa?." Quira pun tengah sibuk sedang membuat laporan asuhan keperawatan di status pasien.


Sasya berlalu melewati Quira hendak mengganti cairan infus yang ia sudah menjinjing botol infus-nya. "Ada 15 say." jawab Sasya sambil memegang bahu Quira. "Guys, gw ganti cairan infus pasien dulu ya."


"Siap." ucap Quira dan Nita bersamaan.


Sasya dan para sahabatnya di tugaskan di ruang rawat inap Lily dengan diagnosa pasien umum, tidak ada pasien dengan diagnosa perencanaan tindakan operasi.


Sasya pun telah kembali keruang perawat. "Ra, lo dicariin dokter Ryan."


"Anjir backingan-nya dokter, mana dokter muda ganteng lagi." ledek Nita sambil bertepuk tangan.


"Dia dokter spesialis saraf kan."


"Iya." jawab singkat Nita.


"Kenapa dia nyariin gw?." tanya Quira yang penasaran.


"Yahhh, salting ya lo?." ledek Sasya dan Nita bersamaan sambil senyum-senyum.


"Coba tebak, kenapa hayoo?."


"Lo kok, nanya gw balik si Sya?."


dring, dring, dring.


Suara telepon ruangan berbunyi.


Nita pun langsung menghampiri telepon tersebut.


"Dari mana, Ta?." tanya Sasya.


"0019, dari ruang rawat inap bedah mawar ya?."


"Angkat, takut penting Ta !!." suruh Sasya dan Quira yang sedang berpura-pura sibuk sedang membuat laporan asuhan keperawatan pasien, yang sebenarnya hati Quira sedang berbunga-bunga.


Nita pun langsung mengangkat telepon tersebut. Lalu perbincangan Nita pun selesai, ia langsung menutup panggilan telepon tersebut.


"Gw tebak, lo habis ngomong gini kan sama ruang mawar." ucap Sasya.


"Gimana?."


"Quira disuruh lepas kateter urine, pasien dokter Ryan yang fraktur post op, terus rencana pulang nanti siang. Karena diruang mawar lagi banyak pasien, perawat-nya kewalahan. Pantes tadi dokter Ryan inisiatif minta tolong Quira buat bantu diruang mawar, tadi-nya gw mau langsung kasih tau ke Quira tapi yang pasti nanti ruang mawar juga telepon buat konfimasi ke kita." Sasya pun menjawab tebakkan Nita.


"Good, one hundred percent buat lo Sya." Nita pun mengapresiasikan jawaban Sasya dan bertepuk tangan.


"Lo ketemu dokter Ryan dimana Sya?."


"Cieeee, nanyain."


"Ekhem, ekhem." Nita pun reflek menggoda sambil mencubit pipi Quira.


"Ihss risih, gw mau keruang mawar aja lah."


"Good luck, yang mau lepas kateter urine." Sasya pun memberi semangat kepada Quira.


...⚘⚘⚘...


Sudah waktu tengah hari saatnya mereka istirahat makan siang, mengisi cacing yang ada di perutnya. Disaat seperti itu pun Quira baru saja pulang dari ruang mawar ke ruangan Lily.


"Wih, sibuk juga lo disana." Sasya yang melihat wajah Quira yang kusut dan ia pun tampak lemas.


"Lu nggak habis dikejar-kejar hantu di siang bolong kan."


"Mana ada hantu di siang hari bolong, ini lebih menyeramkan dari hantu. Gw diajakin nikah sama..." belum sempat Quira meneruskan omongannya Nita menyela dengan teriakan kecilnya.


"Gw tebak, pasti sama pasien kan."


"Ihhh sia, kok tau."


"Tau lah, kan gw pernah di gituin juga sama pasien gara-gara gw udah liat adik kecilnya."


"Ra, lo berharap Nita bakal bilang lo nikah sama dokter Ryan kan?." ucap Sasya.


"Dan gw juga nggak bakal bilang itu, karena nggak mungkin aja gitu. Karena gw udah tau dari awal pasien yang lo lepas kateter urine-nya itu masih muda dan dia fraktur gara-gara kecelakaan."


"By the way, lo kapan pas di ajak nikah sama pasien?." tanya Quira.


"Pas magang semester 6, kebetulan gw emang lagi dinas di ruang rawat inap bedah dan setelah gw ngelepas itu, dia minta gw jadi istrinya gara-gara gw udah liat adik kecil-nya."


"Anjir, sama kayak gw. Pas gw mau keruangan ini, gw nungguin dia balik dulu sama sekalian bantu di ruang mawar buat asuhan keperawatan pasien. Ternyata dia berhenti dulu deket ruang bugenvil, kan dia di bawa pake kursi roda, nah gw pas-pasan di situ, ya udah tuh gw langsung jalan cepat kesini sambil nutupin muka."


"Crazy, untung gw nggak pernah di ajak sampai nikah sama pasien kalo lepas kateter."


"Bersyukur lo Sya."


"Dia maksa-maksa gw lagi, buat jadi istrinya."


"Yang sabar ya bestie." Sasya mengelus pundak Quira.


¤


¤


¤


¤


¤


¤


🖍Jangan lupa Vote dan Like 🖍


📖 Selamat Membaca 📖