
Pagi-pagi buta sekitar pukul tiga pagi sudah terdengar suara bising Sasya yang sedang rusuh packing. Tiba-tiba terdengar suara ketukkan dari luar kamar Sasya. "Ya masuk."
"Bagus juga kamar lo."
Suara yang tidak asing melengking di telinga Sasya dan terkejut reflek membulatkan mata lalu menoleh kearah suara tersebut. Ya itu Brydean yang outfitnya masih sama seperti semalam. "Lo ngapain sih rajin banget kerumah gw?." Sasya yang mulai risih. Ia pun sedang mempacking make up set lalu melempar kasar kedalam koper karena kesal.
"Ca gw ngga bisa tidur semalaman, liat ada mata panda." Brydean menghampiri meja rias melihat mata pandanya yang kebetulan Sasya pun tengah duduk di kursi meja rias.
"Hubungannya dengan gw apa?." ketus Sasya. "Keluar dari kamar gw, ihhh." mendorong Brydean agar menjauh dari dirinya.
"Galak banget jadi cewek." Brydean menatap Sasya.
Sasya memalingkan tatapannya tidak berani menatap Brydean. "Ckk, mbok Ani nanti curiga lagi."
"Curiga kenapa? Lo emang mau di apain sama gw? Ngga bakal gw bunuh." jelas Brydean. "Lo aja yang berangkat bussines trip, gw ngga ikut." Brydean merebahkan diri di atas ranjang Sasya.
Sasya menarik napas panjang. "Ihhh, besok resign saya pak."
"Yakin resign? bunda nanti kecewa Ca." ancam Brydean.
"Ihh, mainnya ancaman ngga seru." Sasya memajukan bibirnya. "Mandi sana, belum mandikan." titah Sasya seraya melanjutkan packing yang hampir selesai.
"Nanti jam delapan gw numpang mandi di rumah lo." ucap Brydean seraya memejamkan mata. "Syut, gw mau nyoba tidur lagi."
"Emang kita berangkat jam berapa?."
"Budayakan literasi Ca, di Ipad ada juga schedulenya." tegas Brydean.
"Ohh, maaf." bergegas mengambil Ipad di atas nakas dan membuka schedule hari ini.
"Lo ngga ada obat tidur Ca?." Brydean mengusap kasar wajahnya seraya mengacak-acak rambutnya yang terlihat frustasi.
"Seharusnya yang diresep dokter ada obat tidurnya, masa ngga berefek." heran Sasya. "Sini mata pandanya gw pakai-in eye mask, biar nanti ketemu klien lebih fresh."
Brydean memutar badannya sampai kepalanya mengarah pada Sasya yang duduk di tepi ranjang. "Gw tidur, tapi cuman empat jam habis itu gw ngga bisa tidur lagi. Makannya gw kesini mau ngadu." jelas Brydean seraya Sasya memakaikan eye mask, setelah selesai dipakaikan Sasya memberi cermin kepada Brydean agar melihat eye mask yang menempel pada kantung matanya. Brydean melihat hanya dengan membuka sebelah mata dan memejamkan matanya kembali.
Setelah itu Sasya mengambil sleeping eye mask dengan ice packnya, ia mengambil di mini kulkas yang biasa berisi skincare yang terdapat dikamarnya. Memasangkan sleeping eye mask with ice pack pada Brydean. Gw yakin pasti lo bisa tidur lagi.
...⚘⚘⚘...
Perjalanan bisnis hari ini dimulai, tujuan mereka adalah Bali. Mereka sarapan terlebih dahulu disebuah restorant terdekat bandara Soetta sebelum flight, karena sudah masuk pula jadwal minum obat Brydean yang tidak boleh tertunda. Kalian harus tahu mau dimana pun dan kapan pun saat Sasya disatukan berdua dengan Brydean, percayalah mereka seperti orang canggung yang saling diam. Kadang Sasya yang memilih topik agar ngga absurd banget gitu, kalau Brydean mode manja bolehlah Brydean yang mulai topiknya duluan, tapi sebaliknya jika dia kembali ke mode setelan awal sudah tidak bisa di selamatkan. Mereka memakai outfit santai. Selesainya mereka sarapan seorang supir mengantar mereka menuju bandara. Saat baru saja mereka berjalan di lobby, Brydean malah berbelok ke starbucks. Tetapi Sasya mengurungkan diri karena didalam starbucks ramai pengunjung. Menunggu sambil mendudukkan diri diatas koper, layaknya anak kecil seraya mengayunkan kakinya agar sang koper berjalan. Brydean pun keluar starbucks setelah nenerima pesanan kopinya dan melihat aksi Sasya yang seperti anak kecil. "Heh bocil, awas nyungsep." Brydean menghampiri Sasya dengan menggenggam tangan bagian atas Sasya agar terhenti. "Bocil lo mau naik koperkan? Pakai koper gw nih." Brydean memberikan koper listriknya.
"Perasaan semalam saya packing bukan pakai koper listrik, soalnya di walk in closet ngga terlihat koper listrik." heran Sasya yang masih tetap duduk diatas kopernya.
"Koper listriknya ada diruang kerja gw, mau pakai ngga?."
"Mau!!!!." tersenyum lebar hingga menunjukkan barisan gigi rapihnya. "Tapi koper saya siapa yang bawa?." bingung Sasya.
"Gw." tegas Brydean sambil menatap dengan wajah garangnya.
"Oke, saya pinjam ya pak." Sasya berpindah ke koper Brydean dan Brydean menjelaskan cara kerja penggunaan koper tersebut. "P balap yuk." sombong Sasya setelah paham cara mengendarai koper listrik. Brydean tidak mengubris dan hanya menatap Sasya saja. Mereka menggunakan private jet milik Brydean untuk perjalanan bisnis.
...⚘⚘⚘...
Setelah menempuh perjalanan sekitar 1 jam 50 menit mereka pun sampai di bandara I Gusti Ngurah Rai Bali. Mereka pun langsung di jemput dengan seorang supir yang sudah siap menunggu mereka di depan lobby, seperti biasa sepanjang di perjalanan di bandara Sasya menaiki koper listrik. Seorang supir mengantarkan mereka menuju hotel. Sesampainya di hotel mereka di sambut dengan para staff di sana dengan membungkuk, hotel tersebut milik Brydean. Bell boy mengantar mereka sampai di depan kamar president suite, setelah tugas bell boy selesai mengantar ia pun membungkukkan badan dan pergi meninggalkan mereka.
Sesuatu membuat Sasya memikirkan sesuatu yang aneh terjadi. Sasya menelan ludah kasar, matanya menelusuri seisi kamar hotel tersebut. Jujur dia adalah bos paling gila yang gw temuin, no twin bed ya tuhan. Ngga, ngga bisa.
Sehari sebelum mereka berangkat perjalanan bisnis, Sasya yang di titah Brydean untuk membeli pomade setelah membeli sarapan. Ia ke mini market terdekat warung nasi uduk. Saat sedang mengantri di kasir Sasya mendengar samar dua orang wanita yang tidak Sasya kenal sedang mengghibah seseorang di depannya. "Lu tau ngga sih sekretaris pak bos itu? Dia di sering di ajak staycation sama pak bos, padahal pak bos kan udah punya istri. Pantes sekretaris pak bos enak hidupnya, kebutuhannya selalu terpenuhi." ucap seseorang wanita tersebut, lalu temannya pun menjawab. "Gw sih udah ngga heran soalnya banyak kasusnya yang kayak gitu, antara bos sama sekretaris, kadang main di kantor, kadang pula kalau misalnya mereka bussines trip. Ngga yang masih lajang atau udah punya istri juga pasti gitu. Ngga harus bos aja, ada kok staff lainnya juga." Sasya menelan ludah kasar saat mendengar perkataan dua orang wanita tersebut. Berusaha untuk berpikir positif itu tidak akan terjadi pada dirinya.
flashback off
Gw harus kabur, ya kabur. Tapi harus pakai cara cantik. "Pak, saya izin untuk ke cafe ya, permisi." Sasya bergegas keluar kamar sambil mendorong perlahan kopernya dengan Brydean yang hendak ke kamar mandi. Berlari menghampiri lift dengan perasaan campur aduk. "Come on, lift." Sasya terus menekan lift button agar cepat terbuka, karena lift terlalu lama naik. Setelah lift terbuka Sasya bergegas masuk kedalam lift. "Huft, gw deg-deg an." memegang dadanya yang jatungnya berdetak dengan cepat dengan panas dingin seluruh tubuh.
Brydean 'pov
"Ca, Sasya." panggilku dengan mencari seluruh kamar tidak terlihat sama sekali keberadaannya. "Gw lupa dia izin ke cafe." mengambil koper yang masih tertinggal di ruang tamu. Setelah beberapa detik, merasa ada sesuatu yang janggal. "Wait, kok koper Sasya ngga ada." heranku dengan berlari mencari seluruh ruangan kamar tersebut. "Stupid, dia kabur." melempar vas yang berada di hadapannya dan memijat dahi berusaha untuk berpikir jernih. Bergegas berlari keluar kamar dan menghampiri lift, Aku menghentikan langkah dengan jarak tiga meter dari lift, terlihat seseorang baru saja masuk lift dengan figure yang sama seperti Sasya. "Lo ngga bakal lepas dari gw." berlari menghampiri lift yang berbeda. Karena terdapat tiga lift di hotel tersebut. Karena lift lambat terbuka, aku pun menggunakan tangga darurat dan menuruni dua puluh lantai hotel dengan setengah berlari. Menuruni dua puluh lantai itu tidak mudah butuh perjuangan. Sesampainya di anak tangga terakhir, aku berlari sampai depan lobby hotel menunggu Sasya melewatinya, sangat yakin bila aku tiba lebih dahulu dibanding Sasya.
Sasya 'pov
Pintu lift terbuka aku bergegas setengah lari sambil mendorong koper dengan menggunakan masker agar siapa pun tidak mengetahuiku. Sesampainya di lobby hotel aku menunggu taksi datang menghampiri yang terlihat tidak jauh dari pandanganku. Seseorang menggenggam lenganku, seketika badanku panas dingin dengan perasaan yang campur aduk. Aku menoleh kesamping dengan melihat dari ujung kakinya, berharap bukan Brydean yang menggengamku. Ia memakai sandal slip on adidas berwarna hitam dan celana joger abu-abu. Perasaan gw mulai ngga enak. Ya itu Brydean, ia menarik masker yang kupakai hingga terlepas. Aku terkejut sejadi-jadinya. Aku mencoba untuk menggigit lengan kekarnya yang menggenggam lenganku agar ia melepas genggamannya, berhasil dia melepaskan genggamannya karena kesakitan. Bergegas berlari dari hadapannya. Menyusul taksi yang berada tidak jauh dari hotel tersebut. "Taksi." teriakku dengan sekencang-kencangnya hingga berulang tiga kali, saat hendak mengejar taksi yang lumayan jauh, aku melepas sepatuku yang mengganggu karena flat shoes ber-heals dan melemparkan kepada Brydean yang sedang mengejarnya, tetapi Brydean menghindar.
Brydean 'pov
Aku merintih kesakitan, memegangi tangan yang tergigit. Bergegas mengejar Sasya. Lariku terhenti sesaat menghindar dari lemparan flat shoes Sasya. "Goblok banget gw, dia mau naik taksi masa gw lari." membalikkan badan melihat sebuah mobil sedang terhenti di depan lobby hotel dan bergegas menghampiri mobil tersebut. "Pak saya minjem mobilnya." ucapku pada seorang pengendara didalam mobil BMW tersebut. "Ini KTP saya, soalnya ini darurat." dengan raut wajahku yang panik, pengendara itu pun memberi pinjam mobilnya. Tetapi seorang pengendara itu terlihat ragu saat ingin meminjamkan mobilnya. Syukurlah seorang security membantu menjelaskan siapa Brydean. Aku langsung melesat dengan kecepatan penuh mengejar taksi yang Sasya tumpangi.
Sasya 'pov
Perasaanku mulai tenang sudah berada didalam taksi. "Pak cepat ya." rusuhku kepada supir taksi.
"Kita tujuannya kemana?." ucap supir taksi tersebut.
"Pokoknya kita ke tempat yang jauh dari hotel tadi, tapi cepat ya." panikku, sesaat aku mulaii merasakan ketenangan. Menghela napas panjang. Sesekali aku melihat kebelakang tidak ada siapapun mengikuti perjalananku dan perjalanan pun mulai jauh dari hotel tersebut.
Brydean 'pov
Aku mulai kehilangan jejak. "Damn." kesalku memukul stir. Sambil mengemudi aku mencoba untuk menghubungi Sasya hingga sepuluh kali. Ya aku baru ingat di tas ransel kecil yang Sasya bawa terdapat GPS di Ipad yang bisaku lacak. Setelah mengetahui aku melesat dengan kecepatan penuh.
Sasya 'pov
Ponsel Sasya terus bergetar di dalam ranselnya. "Ihs, siapa sih?." kesalku. Sebanyak sepuluh kali panggilan tak terjawab dari Brydean. Aku pun mulai panik dengan perasaan yang campur aduk. Terlihat di depan sana Sasya melihat sebuah jembatan. "Pak di depan pas jembatan berhenti sebentar ya." titahku. Aku turun dari taksi tersebut dan membuang barang yang tidak penting. Sebelum membuang barang tersebut, Sasya menghancurkan dengan cara di lempar berulang kali ke tanah lalu menginjak-injaknya dan merusakkan sim card agar terbagi menjadi dua bagian, tetapi memory cardnya ku simpan di masukkan kedalam saku celana. Setelah Ipad dan ponselku sudah rusak, aku melemparnya ke sungai. "Selamat tinggal masa lalu." teriakku seraya melambaikan tangan. Perasaan senang dan tenang mulai muncul saat tidak ada lagi pengganggu yang menghantui sudah ku musnahkan.
Brydean 'pov
Dengan sangat mudahku melacakmu Sasya. Lo ngga bakal lepas dari gw. Tertawa devil sambil mengemudi. Terlihat di titik di GPS, Sasya terhenti di jembatan yang berjarak tujuh kilo meter sebelum Brydean sampai. Tiba-tiba sambungan GPS tersebut tidak terlacak lagi. "Hey stupid, come on." kesalku memukul ponsel, saat sebelum sampai ketitik temu Sasya. Brydean melesat secepatnya agar tidak tertinggal. Jembatan sudah mulai terlihat, sudah pasti aku melihat taksi berhenti di pinggir jalan jembatan. Lo ngga bisa lari dari gw. Smrik Brydean melaju menghampiri taksi tersebut dan terlihat Sasya sedang melempar sesuatu barang di atas jembatan tersebut. Brydean memberhentikan dan memparkirkan mobilnya di belakang taksi tersebut, berjalan menghampiri Sasya.
¤
¤
¤
¤
¤
¤
🖍 Jangan lupa Like dan Vote 🖍
📖 Selamat Membaca 📖