
Sepulang dari acara pernikahan kami Brydean memacu mobilnya seperti orang kesetanan membelah malam dengan jalan yang lumayan cukup sepi. Keadaan semakin canggung setelah ucapan SAH. Aku pun tak tahu harus memulainya dari mana untuk membuka topik atau sekedar menjadi manja dan budak cinta. Karena sebelumnya aku pun belum pernah menjalin hubungan dengan pria mana pun. Maaf saya gede gengsi soalnya. Sesampainya di apartement dan menunggu Brydean selesai membuka pintu dengan access card, lalu memasukkan koper yang telah kami bawa. Tangan Brydean mulai merangkulku. Aku pun cepat menepis tangannya agar melepaskan rangkulannya. Ketar ketir dikit ngga ngaruh wir. "Don't touch me, ingat tidurnya kita pisah di kamar yang berbeda." titahku.
"Agak lain istri gw, kan kita udah SAH sayang." ucapnya yang menekankan kalimat SAH dengan penuh penekanan jelas dengan sedikit menaikkan nada satu oktaf.
"Iya tau, ih kenapa sih aku bisa nikah sama om satu ini." sinisku melihatnya dari atas sampai bawah.
"Karena yang ini beda, gantengnya maksimal. Beda lima tahun bukan om, Lah yang ngajak nikah di akhir juga kamu. Aku juga heran kenapa bisa nikah sama bocil satu ini."
"Terlalu percaya diri itu tidak baik loh. Dahlah bye, aku mau tidur. Ngga ada malam pertama, aku belum siap." beranjak pergi menuju kamar seraya menarik koperku.
"Ya ilah ayang, minimal pegang ***** deh." ucap Brydean yang sedikit frustasi.
"Tidak, tidak, tidak." teriakku seraya menggelengkan kepala.
...⚘⚘⚘...
Matahari mulai masuk dari celah jendela, membuatku terbangun dari tidur lelapku. Aku meregangkan tubuhku dengan masih menguap. Mengucek-ucek mataku turun dari tempat tidur, mencari keberadaan Brydean. Setidaknya minimal peka soalnya aku sudah jadi istrinya. Aku berjalan menuju kamar sebelah yang di tempati Brydean.
"Paksu." panggilku sambil membuka pintu kamar. Bola mataku langsung tertuju pada tempat tidur yang masih rapih belum tersentuh sedikitpun. Aku menulusuri kamar tersebut, hingga akhirnya aku menemuinya tertidur di kursi gaming dengan headphone yang masih berada di telinga dan komputer yang masih menyala. Aku pun membereskan kekacauan tersebut, melepas headphone dari telinganya dan mematikan komputer tersebut. "Tidur aja mode ganteng." gumamku melihat kearah wajahnya. Sudah tak heran jika Brydean tercandu-candu dengan gaming, bahkan waktu sakit saja ia selalu ingat dengan gamingnya dari pada kesehatannya. Tidak salah gamers bisa menghabiskan waktunya di depan layar komputer berjam-jam sampai lupa waktu agar push rank. "Pindah ke tempat tidur, jangan disini nanti sakit badan." ucapku menepuk lembut pipinya seraya merapikan rambutnya yang berantakan.
Brydean yang sedikit tersadar pun menuruti perintahku, berjalan membaringkan tubuh di kasur nan empuk itu tanpa sedikit membuka matanya. Lalu aku pun menarik selimut untuknya. Melihat koper yang masih tergeletak begitu saja seperti belum di rapihkan. Aku bergegas merapikan baju yang berada di dalam koper yang ku pindahkan pada lemari yang berada disana. Sudah terlihat rapih kamar Brydean, aku pun bergegas merapihkan kamarku dan isi apartement ini. Sengaja aku biarkan gorden jendela kamar Brydean tidakku buka, agar ia tak terganggu tidurnya oleh sinar matahari. Seperti yang ku ketahui sepertinya Brydean belum lama tertidur.
...⚘⚘⚘...
"Sayang." teriak Brydean menggema seisi apartement. Jalannya pun masih sempoyongan baru keluar dari kamar.
"Aku di dapur, sini cepat aku udah masak." ucap teriakku dari daput. Sasya pun seraya menghidangkan lauk pauk di atas meja makan.
Tampak Brydean berlari kecil kearah Sasya dengan tubuh yang masih sempoyongan dan langsung mendudukkan diri di kursi meja makan. "Hug." pintanya pada Sasya seraya meregangkan tangan. Sasya menuruti perkataan Brydean. "Kamu ngga marah, aku main game sampai pagi?." Brydean yang menenggelamkan kepalanya di perut Sasya. Brydean terduduk sedangkan Sasya berdiri.
"Sedikit, tapi jangan di biasain, ngga bagus. Ayo makan !!!."
...⚘⚘⚘...
Sinar bulan telah mengganti teriknya sinar matahari. Kami baru saja selesai makan malam. Aku tengah terduduk di sofa menikmati camilan seraya menonton televisi. Brydean datang dengan tingkah rusuhnya menidurkan kepalanya di atas pahaku. "Kamu mau honeymoon kemana?."
"Aku tim ikut kemana aja." seraya memainkan rambut Brydean.
"Ayang lagi mens ya?." pertanyaan yang penuh penasaran mendalam di diri Brydean.
"Kan aku sholat tadi."
"Oh iya lupa, ya udah ayo sekarang !!!." Brydean tengah berusaha sekuat tenaga mendapatkan haknya.
Aku yang tahu gelagat awal Brydean mendekatiku sedang berjuang meminta haknya. "Ngga, aku belum siap ih." raut wajahku tertekan seraya mengacakan rambut.
Bangun mendudukkan diri mendekatkan pada Sasya. "Kenapa?." merangkupkan tangannya pada wajah Sasya.
"Ngga tau." ucap Sasya seraya cengengesan.
"Ih, agak lain emang. Di coba juga belum ayang, ngga bakal sakit." Brydean yang mulai gregetan ingin menggigit pipi Sasya.
"Kamu berdusta, pembohong. Aku ngga mau." ucap ku dramatis yang bernada tersebut seraya menggelengkan kepalanya.
"Pelan-pelan kok, sayang." menggaruk kepalanya walau tak gatal lalu mengusap kasar wajahnya.
"Ngga mau, ngga bakal muat."
"Muat kok." ucap Brydean lirih berusaha bersabar.
"Coba lihat." tanya polos Sasya.
Brydean membangunkan tubuhnya, menurunkan sedikit celananya. Menuruti perintah Sasya.
Sasya sontak terkejut melihat benda tersebut di tunjukkan tanpa sehelai benang pun. "Ahh, ngga mau, itu panjang besar tidak akan muat Luke." rengekku seperti anak kecil.
Tampak Brydean membetulkan kembali celananya dan tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan polosku. "Aku ngga maksa, kalau udah siap bilang aku ya." memelukku seraya mengusap lembut rambutnya.
...⚘⚘⚘...
Sebetulnya karena Brydean CEO-nya ia bebas untuk ambil cuti sampai kapan pun, tetapi karena harus di buru dengan banyaknya pekerjaan yang menumpuk dan koarnya para klien atau dewan direksi yang tidak bisa di handle oleh siapapun selainnya. Terhubung ada proyek besar yang sedang dijalani oleh mereka, jadi Brydean mulai bekerja setelah cuti tiga hari. Kembalinya mereka kerumah Brydean meninggalkan apartement, Sasya seperti biasa menjalankan tugasnya sebagai istri yang penurut walau sedikit keras kepala. Walaunya Sasya menawarkan diri untuk bekerja sebagai sekretarisnya, tetapi Brydean menolak keras Sasya untuk bekerja.
Dua minggu berlalu berjalannya pernikahan mereka. Sejauh ini masih di fase memperdekat diri dan mulai adanya timbal balik baik antara Sasya dan Brydean. Sasya pun perlahan mulai mengerti sikap satu sama lain. Sudah tak ada perasaan canggung didalam diri Sasya, mereka sudah bisa terbuka satu sama lain.
...⚘⚘⚘...
Di setiap pagi hari kulalui seperti biasanya, aku sudah mulai terbiasa dengan kehidupan yang sedikit berbeda. "Paksu, nanti aku izin kerumah bunda ya." ucapku saat kami menyelesaikan sarapannya dan berjalan mengantarkan Brydean sampai depan pintu untuk berangkat kerja.
"Iya, silahkan sayang." Brydean mencium kening seraya mengusap lembut rambut Sasya. "Aku berangkat dulu." tak lupa Brydean memberi ciuman singkat pada bibirku yang manis.
Aku seperti biasa meraih tangan Brydean untuk salim kepadanya. "Love you." peluk singkat nan manja ku pada Brydean. "Bye." melambaikan tangan saat Brydean berjalan menjauh darinya masuk kedalam mobil yang sudah ditunggu pak supir dari tadi.
...⚘⚘⚘...
"Assalamulaikum, bunda." ucapku penuh semangat masuk kedalam rumah bunda Arumi.
"Waalaikumsalam, eh mantu cantik bunda." bunda Arumi pun antusius menyambut mantunya datang. Kami pun berpelukkan seperti teletubbiess. "Aduh, makin cantik aja mantu bunda." puji bunda Arumi.
"Makin cantik itu harus bunda, biar Luke ngga berpaling dari aku." jawab penuh percaya diriku dengan nada bercanda. "Ini brownies khusus buat bunda yang di buat dengan cinta dari aku." memberikan paper bag yang ku bawa dari rumah.
"Masyaallah, terimakasih sayang." lirih bunda Arumi, mengambil pemberian dariku seraya tersenyum. Semenjak bunda Arumi hijrah dan banyak memperdalam ilmu agama, aku pun menjadi segan untuk datang kerumah bunda jika tidak memakai pakaian tertutup seperti dress panjang. Brydean pun melarangku untuk berpakaian minim nan ketat, karena ia tak mau istrinya di pandang sebelah mata oleh lelaki lain.
"Iya, bunda sama-sama." ku membalas dengan senyuman manis.
Bunda Arumi menggenggam seraya menarik tanganku berjalan menuju gazebo di belakang rumah. "Bagaimana? Apa bunda segera punya cucu?." ucapnya semangatnya setelah kami terduduk disana.
Keadaan berubah jadi canggung, aku pun bingung harus jawab apa. "Hmm, belum bunda, nanti aku sama Luke usahakan."
"Bunda tunggu kabar baiknya ya." mengusap lembut rambutku. "Kemana kalian akan honeymoon?."
"Harusnya bulan ini, tapi di pending karena Luke sedang mengerjakan proyek besar yang segera launching." tiba pelayan rumah bunda Arumi pun datang membawakan segelas minuman kesukaanku. Aku pun tersenyum seraya mengucapkan terimakasih dan hingga berlalu pelayan itu pun langsung pergi dari hadapanku.
"Feeling bunda, kamu belum disentuh Luke ya?." tanya penasaran bunda sambil meledek. "Ingat sayang, Luke punya kuasa dan harta. Tak banyak laki-laki di luar sana mencari kepuasan diluar rumah. Begitulah faktanya laki-laki yang mempunyai harta dan kuasa. Bunda bukan membela Luke berbuat seperti itu, bunda tau Luke akan cukup dengan satu wanita."
...⚘⚘⚘...
Kini aku sedang menunggu Brydean pulang, terduduk disebuah kursi taman seraya membaca buku menikmati senja. Gerbang pun terdengar terbuka oleh security, aku pun bergegas merapikan diri dan menyambut Brydean. "Hi, husband." sapaku yang penuh semangat saat Brydean keluar dari mobil. Aku pun tanpa basa basi menarik lengannya.
"Ada apa sayang?." ucap Brydean yang terheran dengan sikap anehku sambil berlari kecil mengikuti kemana ku bawa.
"Aku mau nunjukin sesuatu." membuka pintu kamar dan mendudukkan Brydean di sofa kamar. "Tunggu sini." titahku.
Aku berlari menuju walk in closet dan berganti baju, ucapan bunda yang membuat otakku kacau. Siapa istri yang ingin suaminya main dibelakangnya. Dia tampan dan juga kaya, dia mudah kalau ingin mendapatkan Ani-ani tanpa harus bersusah payah. Sebelumku keluar dari walk in closet ku bercermin sebentar melihat tubuhku yang mulus nan sexy.
Brydean 'pov
Aku masih terdiam dan heran saat melihat sikap aneh dari Sasya, ia malah kabur kedalam walk in closet. Ntahlah aku pun tidak mengambil pusing tingkahnya, memang kadang absurd Sasya turn on. Aku yang terduduk pun membangunkan diri untuk mencari keberadaan remote menyalakan televisi sambil menunggu Sasya. Aku pun melepaskan jas dan kemaja yang ku pakai, menasukkannya kedalam keranjang baju kotor. Kini ku hanya menyisakan celana formal yang masih ku pakai. Aku tidak berekspetasi tinggi dia ingin menunjukan apa, yang jelas ia akan menunjukan hal random. Ku memilih film action terbaru di netflix, terasa ada kurang karena tidak ada camilan tuk menemani totonan ini, aku pun keluar kamar untuk mengambil snack di dapur.
"Astagfirullah ayang." sontakku terkejut sumringah saat membuka pintu kamar setelah kembali dari dapur membawa sejumlah snack. Tiba-tiba melihat sesuatu pemandangan indah yang sayang tuk terlewatkan. "Ngapain pakai baju gitu?." cepatku tutup pintu kamar dan berlari menghampiri Sasya yang tengah terduduk di sofa.
"Ya udah aku ganti baju." Sasya membangunkan diri.
Aku yang baru terduduk pun menarik tangan Sasya tuk duduk kembali. "Ihh, jangan ntar aku sawer nih. Mau berapa?." mengambil dompet di saku belakang celanaku mengeluarkan sejumlah uang yang berwarna merah dari dompet. "Harus bayar berapa biar aku lihat kamu pakai baju haram?." mengitung uang cash yang masih tersisa di dompetku. "Ini satu juta lima ratus, aku cuman punya cash segitu, sisanya pakai black card." memberikan uang tersebut ke tangan Sasya.
"Apaan sih? Ngga mau, udah aku mau ganti baju." ucap Sasya sambil cengengesan berusaha menarik tangannya agar lepas dari genggamanku dan memberi kembali uang yang ku kasih.
Menjambak rambutku dan mengusap wajahku kasar. "Jangan ayang !!!." rengekku seperti anak kecil.
"Mandi sana, jorok." usirnya mendorong tubuhku. Aku bahkan sampai lupa belum bersih-bersih selepas pulang kantor. Mencium singkat bibir Sasya nan candu sebelum berlari dengan cepat menuju kamar mandi.
¤
¤
¤
¤
¤
¤
🖍 Jangan lupa Like dan Vote 🖍
📖 Selamat Membaca 📖