Together Again

Together Again
Calon Mantu



Hampir setengah tahun, setelah mereka menjadi model, namanya pun semakin di kenal luas publik terutama netizen luar negeri. Mungkin beberapa netizen indonesia tidak terlalu mengenal-nya lantara event kosmetik yang mereka bintangi tidak terlalu booming, sebulan mereka mengikuti event tersebut. Mereka kebanjiran job menjadi brand ambassador produk terkenal di luar negeri, bolak-balik Jakarta - Paris menjadi model go internasional tidaklah mudah. Sesekali mereka sering menetap di sana. Karena antara modeling dan pekerjaan sebagai perawat menjadi bentrok, mereka memutuskan untuk mengalah dan resign menjadi perawat. Terdapat sebuah teguran dari pihak Rumah Sakit terhadap mereka, karena sering izin, sebagaimana mereka telah menyepelekan perkerjaan sebagai perawat yang seharusnya selalu ada di garda paling depan untuk proses penyembuhan masyarakat dan sudah melanggar janji sumpah sebagai perawat. Menjadi publik figure hal yang sangat di benci oleh Sasya karena sisi gelap mereka adalah harus mampu menerima cibiran netizen yang bermulut iblis dengan kuat dan sabar.


Pesawat telah landing di bandara, hari ini waktu yang tepat untuk menghabiskan cuti di negara tempat mereka lahir. Indonesia.... Sekian lama di sibukkan dengan menjadi sesosok publik figure, sangatlah melelahkan. Lalu mereka bergegas menuju rumah masing-masing untuk melepas rindu. Rasa sesak di dada Sasya sangatlah sakit, menahan air mata ketika para sahabatnya melepas rindu dengan kedua orang tuanya, lantas harus bagaimana? Sasya sudah tidak memiliki kedua orang tua. Hanya bisa mengirimi doa untuk kedua orang tuanya dan Sasya hanya bisa berziarah menangisi mereka di depan batu nisan. Tapi Sasya tidak boleh menangis di depan mereka, Sasya harus kuat, ngga boleh jadi wanita cengeng dan lemah, Sasya harus tunjukin kalau Sasya kuat menghadapi kejamnya dunia tanpa mereka. Mereka tidak boleh tahu kalau Sasya sedang menangis atau sedih, nanti mereka pun menjadi sedih.


Setelah Sasya berziarah ia berkunjung ke panti asuhan, sudah lama ia tidak bertemu para adik-adik di panti. Sebelum berkunjung Sasya sudah membelikan sebuah mainan dan keperluan adik panti.


"Assalamualaikum." Sasya menyapa adik panti yang tengah bermain seraya melambaikan kedua tangan.


"Waalaikumsalam, kakak cantik." teriak adik panti yang sangat gembira.


"Hey, teman-teman kakak cantik datang !!!." ucap antusias adik panti menyambut kedatangan Sasya. Mereka berlari kearah Sasya dan memeluk erat Sasya.


"Aku kangen sama kakak." ucap salah seorang adik panti yang bernama Zahra, ia salah satu adik panti yang sangat dekat dengan Sasya.


"Adik-adikku yang imut, kakak ada hadiah untuk kalian, diambil di ruang tamu ya... inget jangan berebut." Sasya melepas pelukan rindu mereka, mungkin Sasya tidak punya rumah yang nyaman untuk di singgahi, tapi Sasya punya rumah terbaik untuk di kunjungi yaitu panti asuhan.


Selalu di sela-sela adik panti memeluk erat Sasya, Sasya selalu meneteskan air matanya. Karena semenjak ia di tinggal kedua orang tua-nya, Sasya selalu merasa kesepian, berkat adanya mereka, Sasya merasa hangat dan kasih sayang, cinta mereka yang sangat begitu tulus. Mereka adalah rumah ternyaman.


...⚘⚘⚘...


Sasya sedang melangkahkan kakinya di atas trotoar jalan, di tengah terik-nya sinar matahari. Sasya menghentikan langkah kaki, melihat kucing kecil liar yang sangat menggemaskan, lalu berjongkok di hadapan kucing kecil tersebut dan mengelus dengan lembut. Setelah puas dengan kucing kecil tersebut Sasya melanjutkan perjalannya, berjalan tanpa tujuan mengisi waktu luang. Lalu tiba-tiba Sasya berlari dengan sangat kencang menghampiri seseorang wanita yang hendak di jambret. Menendang pen-jambret tersebut dari belakang hingga tersungkur, Meraih kedua tangan pen-jambret tersebut kebelakang dan menggengam kedua pergelangan tangan dengan tangan munggilnya.


"Tolong...... ada jambret." mengelurkan jurus andalan, karena ia yakin tidak bisa menanganinya sendirian. Sekumpulan orang berkumpul dan menangani pen-jambret tersebut, dan sebagian orang pun hanya menyaksikan saja. Sasya memapah seorang wanita tersebut duduk di kursi yang berada di trotoar tersebut. "Ibu tidak ada yang luka?." Tanya Sasya memastikan, terlihat wanita itu sangat syok berat.


"Tidak." wanita tersebut menatap Sasya. Mereka berdua saling terheran dan bingung ketika saling bertatapan. Sedari tadi Sasya memang belum memandang wajah wanita tersebut, karena ia pun panik.


"Tante Arumi." ucap Sasya, lalu ia langsung salim tanda menghargai seseorang yang lebih tua dari-nya.


Arumi pun langsung memeluk Sasya, pelukkan hangat yang selalu Sasya rindukan sejak di tinggal kedua orang tua-nya menuju surga. Sasya selalu merindukan pelukkan tersebut. "Terimakasih gadis cantik dan baik."


"Sama-sama bu." Sasya membalas pelukkan tersebut.


Arumi melepas pelukkannya. "Mari kita berbincang di rumah ibu."


"Tidak usah repot, aku ingin langsung pulang ke rumahku."


"Tidak, tidak, mari." Arumi pun menarik tangan Sasya memasuki mobil jemputan yang baru saja datang.


Sasya mengikuti wanita tersebut, ntah lah wanita tersebut seperti bukan wanita paruh baya dengan seumuran-nya, ia tampak lebih awet muda. Tidak menunggu berlama-lama di perjalanan, mereka pun sampai. Memasuki rumah yang kalah mewah dan besar dari rumah Sasya. Hingga pelayan di rumah tersebut banyak, membukakan pintu masuk dan menunduk saat wanita awet muda itu pun datang. Namun wanita tersebut tidaklah sombong dan angkuh, setelah pelayan itu pun menunduk ia pun melontarkan senyum di wajah cantik-nya. Tidak lupa dari awal pun Sasya sudah full senyum kepada semua orang yang berada di sana.


"Duduk dulu ya.... tunggu sebentar saya akan menaruh tas terlebih dahulu." Arumi pun pergi berlalu meninggalkan Sasya. Tampak wanita itu pun sebelum menghilang dari pandangan Sasya, ia seperti sedang berbincang singkat dengan salah satu pelayan.


"Permisi, ada yang bisa saya bantu." ucap pelayan tersebut mengahampiri Sasya yang duduk di sofa tamu, pelayan tersebut duduk di lantai dengan sopan di hadapan Sasya yang terhalang sebuah meja. "Bisa kau sebutkan makanan dan minuman kesukaan mu, biar saya bantu buatkan bersama rekan saya."


"Hmmm, tolong ice chocolate ya."


Arumi pun datang menghampiri Sasya, dan tidak lama pun pelayan membawakan ice chocolate milik Sasya.


"Terimakasih." ucap ramah Sasya dan di jawab dengan anggukan oleh pelayan tersebut.


"Ice chocolate, kamu dan anak saya memiliki kesamaan."


"Hah?." Sasya terkejut saat hendak meninum ice chocolate-nya. Aduh apa lagi nih?.


"Luke suka hot chocolate dan kau suka ice chocolate."


"Hehehe." Ihs, jelas-jelas beda juga ya. "Hmmm, tadi kenapa tante jalan sendirian."


"Tadi saya sedang menunggu jemputan, sedangkan Sasya hari ini tidak bekerja?."


"Sedang cuti."


"Berarti saya tidak menggangu waktumu 'kan?."


"Tidak kok."


Mereka membicarakan sesuatu yang random, tidak terasa hari semakin sore. Sasya pun hendak pulang dan berpamitan, tetapi seseorang Luke yang angkuh masuk ke dalam rumah dengan bergesa-gesa, ia bahkan tidak menghiraukan seseorang yang berada di ruang tamu tersebut.


"Luke." panggil Arumi. "Apa kau tidak punya sopan santun nak? setidaknya kau sopan dan menyapa tamu bunda." tegasnya.


Luke terhenti, menatap ke dua wanita tersebut dari jauh dan Luke melanjutkan melangkahkan kaki menaiki tangga.


"Maaf kalau lancang, apa Luke masih tinggal bareng tante?."


"Tidak, sejak umur 18 tahun Luke sudah tidak tinggal serumah, karena sejak SMA Luke seperti anak brandal dan tingkah laku-nya semakin buruk. Lalu sebagai orang tua, kita menyetop semua aset yang ia pakai, tetapi ia menemukan cara lain untuk memiliki uang dan sejak itu Luke mulai mandiri juga jarang pulang ke rumah."


Sasya hanya mengangguk, lagi pula bingung ingin jawab apa.


"Maaf jadi cerita." ucap Arumi di akhiri dengan tawa.


"Tidak apa kok." Sasya menghabiskan segelas ice chocolate dan langsung berpamitan pulang, tidak lupa sebelum pulang Arumi dan Sasya bertukar kontak. Awalnya Sasya di tawarkan untuk di antar oleh supir pribadi Arumi, tapi Sasya menolak mentah-mentah. Lalu Sasya pun berjalan melangkahkan kaki jenjang-nya menuju luar pagar, menunggu jemputan di depan pagar rumah mewah tersebut. Saat ia hendak mengeluarkan ponsel untuk menghubungi seseorang supir-nya untuk datang menjemput. Terdengar suara gerbang terbuka dan mobil toyota fortuner hitam pun keluar dari rumah tersebut, heran kenapa mobil tersebut memakai lampu strobo? bukankah itu hanya di pakai untuk aparat saja?.


Mobil itu pun berhenti di depan Sasya berdiri yang sedang menunggu jemputan dan tidak lupa mengklakson. Seseorang dari dalam menurunkan kaca mobil tersebut. "Rumah lo di mana?." ucap seseorang yang berada di dalam mobil tersebut adalah Luke.


"Hmm, kepo." ketus-nya seraya memutar kedua bola mata.


"Ngga penting juga, lagi pula gw udah tau rumah lo." Luke menutup kaca mobil.


"Dih, ngga jelas banget." guman Sasya kesal.


Tiba-tiba Luke menurunkan kaca mobil tersebut. "One more again, di sini kawasan elit, jadi susah untuk orang luar masuk, terutama ojek atau taksi online." ucap datar Luke dan menutup kaca mobil tersebut, lalu menggerungkan mobil melaju meninggalkan Sasya yang berdiri di sana.


Mengepalkan tangan. Rasa ingin menimpuk pakai batu biar itu orang mati. "Ada ya, orang ngga jelas banget hidup, sebenarnya dia mau ngasih tumpangan atau ngga sih?." seraya menyilangkan tangan di dada, lanjut membuka ponsel dan memanggil supir untuk menjemput.


...⚘⚘⚘...


Sasya masih terlelap di kasur yang sangat empuk, tetapi tidur-nya terganggu karena suara panggilan masuk menghantui tidur nyenyak Sasya.


drrtt, drrrt, drrrtt.


Sasya berusaha meraih ponsel di atas nakas dengan keadaan mata masih tertutup. "Ckk, siapa sih? pagi-pagi buta call." Lalu Sasya menjawab panggilan tersebut. "Hmmm, hallo." ucap Sasya malas saat tersambung di panggilan tersebut sambil menguap.


"Sasya, ini bunda nak?." ucap lembut seseorang dari seberang panggilan tersebut.


"Hah?." Mendudukkan tubuhnya dengan kaget, seketika Sasya yang awalnya masih ngantuk sekarang sudah segar. Melihat nomor siapa yang telah memanggil-nya, ia pun langsung melihat jam yang berada di atas nakas. What? udah jam 05.30 WIB. "Oh ya, hallo tante Arum, maaf tadi masih ngantuk." meloudspeaker panggilan, meletakkan ponsel di atas nakas seraya Sasya membuka gorden yang berada di kamar.


"Jangan panggil tante, panggil bunda aja."


"Ahh iya, nanti Sasya coba."


"Maaf, ganggu kamu pagi-pagi, bunda boleh minta tolong nak?."


Sasya bergegas sholat terlebih dahulu setelah panggilan tersebut di akhiri, dan melanjutkan aktivitasnya mandi dan berpakaian rapi setelahnya. Melaju mobilnya menuju tempat yang sudah mereka janjikan di panggilan ponsel. Sasya sampai di sebuah Villa besar dan mewah yang berada di daerah Bogor, memarkirkan mobil di halaman Villa. Sasya terkejut saat memasuki Villa tersebut, ternyata ini seperti acara reuni, Sasya harus bisa menampilkan kharismanya di hadapan ibu-ibu sosialita. Sasya menundukkan badannya sebelum ia mendudukkan bokong di kursi. Berjabat tangan kepada semua orang yang berada di meja makan besar.


"Apa dia adik Luke? sudah besar dan tumbuh dengan paras cantik." ucap seseorang ibu sosialita di sana.


Alur apa yang Sasya ikuti untuk hidup-nya kali ini, bahkan seperti alur jebakan dan misterius. Banyak sekali rahasia yang belum terungkap di sini, aku bingung dan tidak paham, apa maksud dari semua ini?.


"Iya dia sedikit mirip dengan Luke, apa dia juga kuliah di luar negeri?." ibu-ibu sosialita sibuk dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuat heran mereka.


Arumi pun angkat bicara. "Dia Sasya dan bukan adik Luke." jawaban singkat yang di lontarkan Arumi.


"Apa dia calon mantumu?." pertanyaan mereka seakan membuat kepala Sasya ingin meledak.


¤


¤


¤


¤


¤


¤


🖍 Jangan lupa Like dan Vote 🖍


📖 Selamat Membaca 📖