Together Again

Together Again
Modeling



Pria bersetelan jas rapi itu masuk kedalam ruangan Brydean dengan membawa bayi gemoy itu sontak aku pun langsung memanggil Luke di ambang pintu. Pria tersebut memberhentikan langkah kakinya dan menoleh kearahku. "Why?." ucap datarnya. Menelan ludah kasar ternyata benar itu adalah Brydean dengan raut wajah sedikit tertekan. Wah, tiba-tiba anaknya udah gede aja. Aku melihat bayi tersebut seperti masih delapan bulan usianya. Bayi tersebut tampak tenang di gendong Brydean seraya terus tersenyum. Aihs, bayi aja tau mana yang ganteng, pantas nyaman dia. Your daddy is perfect, nak. Brydean berjalan menghampiriku dan menyuruh mengambil alih menggendong bayi kepadaku. "Nitip, gw mau sholat jum'at."


"Masih lama baru jam setengah sebelas." melihat jam tangan di lengan mungilku.


"Gw mau sholat jum'at di Masjid Istiqlal." ucap datarnya.


Melihat Brydean dengan cepat melangkahkan kaki mengambil sajadah di laci mejanya. "Kan masjid besar deket kantor juga ada."


"Gw bosen di situ terus." Brydean melepas dasi dan jas yang terpakai, lalu mengeluarkan kemejanya yang sebelumnya di masukkan kedalam celana seraya menggulung lengan kemajanya sampai siku.


"By the way, nama anak bapak siapa?." seraya meledek dan mengajaknya main bayi tersebut.


Brydean mengerutkan dahinya. "Anak? Sejak kapan gw punya anak? Itu anak sahabat gw Rama nama bapaknya, anaknya gw ngga tau siapa namanya." mengelus lembut pipi dan rambut bayi tersebut. "Om pergi dulu ya." ucapnya seraya tersenyum dan melambaikan tangan. "Nanti kalau lapar minta sama tante Sasya."


"Wait, bukannya lo bentar lagi punya anak?."


"Siapa cewek yang gw hamilin?." menatap dengan tatapan tajam.


"Lisa teman gw."


"Ohh, Lisa teman lo? Bilang sama dia cepat-cepat ke Rumah Sakit Jiwa. Dia cewek gila menghalu kalau gw yang hamilin." berjalan berlalu meninggalkanku hingga punggungnya pun hilang dari pandangan mata.


Aku menggaruk kepalaku, masih terbingung dengan ucapan Brydean yang seolah-olah memang menyakinkan kalau Brydean bukan ayah dari anak Lisa. Berarti selama ini Lisa berbohong atau malah Brydean yang manipulatif?. Ntah lah kepalaku terasa ingin pecah memikirkan permasalahan hidup orang. Mungkin benar kata Brydean kalau Lisa gila. Atau mungkin dia gila harta juga.


******Brydean 'pov******


Saat tengah berjalan memasuki lobby kantor pandangan mataku terfokus pada seorang pria yang sedang menggendong bayi berdiri di depan meja resepsionis seraya melambaikan tangan. Aku melangkahkan kakiku berjalan kebelakang hendak kabur, tetapi suatu sisi aku harus jaga image. Pria yang menggendong bayi itu bernama Rama teman satu tongkronganku yang kita lumayan akrab, ia dengan cepat berjalan menghampiriku. "Bro, gw titip anak gw !!! ada problem di kantor." ucap Rey dengan raut wajah panik mengalihkan gendongan bayi kepadaku. "Ini lengkap semua keperluan dia." memberi tas perlengkapan kepadaku dan berlalu sangat cepat pergi.


"Istri lo kemana sih?." teriakku.


"Istri gw juga lagi sibuk kerja, nanti sore gw ambil anak gw." ucap Rama yang terus berlalu sampai hilang dari pandangannya.


"Contoh bapak yang tidak bertanggung jawab ya nak." ucapku pada bayi perempuan Rama. Aku tahu kehidupan Rama. Suami istri yang sama-sama mempunyai ego yang sangat tinggi, bahkan mereka tidak ingin anaknya jatuh ke tangan pengasuh yang salah hingga mengharuskan bergantian untuk mengasuh anaknya, istrinya seorang wanita karir yang tidak akan mungkin lepas dari pekerjaannya walaupun Rama terbilang dari golongan konglomerat.


...⚘⚘⚘...


Sepulang Brydean dari sholat jum'at aku bergegas masuk keruangnya sambil mengasuh bayi gemoy itu, kebetulan memang aku suka dengan anak kecil. Tanpa basa basi aku langsung menyodorkan surat di resign di atas meja kerja Brydean. "Ini apa?." tanya Brydean yang tampak kebingungan, ia langsung membuka surat tersebut. Tampak ia membacanya, tetapi surat resign ku di sobek, lalu di buang ke tempat sampah. Brydean mengambil paksa bayi yang tertidur di pelukkanku yang tampak tenang dan alhasil bayi itu pun menangis karena terganggu tidurnya. Aku hanya bisa terdiam mematung sampai Brydean hilang dari pandanganku. "What's wrong?." teriakku. Baiklah aku pun keluar dari ruangannya dan beranjak pergi dari kantor itu.


Sesampainya di basement aku pun langsung mencari mobil kesayaganku yang sedang terparkir. Saat ku baru memasuki mobil seseorang wanita dengan paras sexy nan cantik itu memukul kap mobilku dengan raut wajah kesal dan marah yang mengebu-gebu. "Why?." ucapku menurunkan kaca. Wanita itu menghampiriku sebuah aksi yang tidak di duga wanita tersebut ingin menumpahkan air keras ke arah wajahku dan syukurlah seseorang datang membantu melerai aksi wanita yang mungkin sedikit stress. Aku pun sontak langsung menutup kaca mobil dengan cepat. Melihat dari dalam mobil, wanita itu terus memberontak dengan kedua tangan yang di pegang kebelakang oleh Nico, ya yang membantuku adalah Nico.


"Lo, ngga pantes buat Brydean !!!." terdengar suara teriakan dari wanita tersebut.


Nico berteriak memanggil security untuk membantu menahannya dan terlihat mengambil ponsel untuk menghubungi seseorang. "Bro, Michale buat ulah." ucap Nico. Aku yang mendengar pun sontak. Ohh namanya Michale. Aku semakin bingung dengan apa yang terjadi pada Brydean. Sebelum ini aku di ganggu oleh Lisa dan kini Michale, lalu besok siapa lagi?. Keputusanku bulat untuk resign, walaupun surat resignku di sobek, aku akan bersikeras untuk keluar dari perusahaan ini, menjauh dari akar semua masalah yang akan terus menerorku.


Datanglah seseorang mengetuk kaca mobilku yang sedang tengah melamun. "Are you okey?." ucap Brydean dengan raut wajah khawatirnya. Hanya ada jawaban mengangguk dariku, aku pun tanpa membuka kaca mobil. Sudah waktunya untuk berjarak dengan Brydean. Aku melihat Nico, Brydean dan security langsung membawa Michale masuk ke dalam mobil Nico. Selepas itu pun jiwa penasaranku sudah hilang, maka aku pun mulai menyalakan mobil keluar dari basement sebelum mereka.


...⚘⚘⚘...


Brydean sedang berada di dalam ruangannya dan bermain dengan bayi tersebut. "Oh, ****." ucap Brydean setelah menerima panggilan dari Nico ia pun menitipkan bayi kepada Alma, lalu bergegas berlari menuju basement.


Brydean 'pov


Sesampainya di basement terdengar dari kejauhan suara riuh-riuh menggema teriakan suara familiar yang sudah lama tidak ku dengar. Aku langsung bergegas berlari menghampiri suara itu. Disisi lain dari kejauhan aku melihat Michale tidak jauh dari mobil Sasya sedang di amankan dengan security seraya terus memberontak. Kaki ku langsung berlari ke arah mobil Sasya yang seharusnya ku cuek'kan dia dan tidak peduli terhadapanya karena menyangkut masalah tiba-tiba ingin resign. Tidak semudah itu untuk resign Sasya, akanku persulit resignmu. Berlari menuju mobil Sasya dan menanyakan bagaimana keadaannya.


"Luke." panggil Nico yang memberi isyarat untuk segera menghampirinya, lalu aku pun segera menghampirinya. Kami pun bertiga membawa Michale ke dalam mobil Nico. Dengan cepat Nico memacu mobilnya.


"Kita bawa dia ke polres?."


"Ngapain? Masa tahanan dia udah selesai sekarang dia ODGJ." Kami bersama melihat Michale yang tangan dan kakinya terikat serta mulutnya yang di sumpal dengan sapu tangan dan ditambah dengan seatbelt pada tubuhnya.


"Anjir, dia bukan buronan yang kabur lagi?." ku menyeringai.


"Aihs, miris sekali hidupmu Michale." seraya tertawa renyah.


"Dia frustasi gara-gara ngga bisa hidup enak lagi." Nico pun ikut tertawa renyah.


Sesampainya di depan lobby RSJ Nico bergegas manggil perawat yang berada di dalam. Aku di titah oleh Nico untuk melepas seatbelt dan sumpalan di mulutnya agar jatuhnya kami tidak terlalu kasar seperti sedang menyekapnya. Lumayan menakutkan karena mungkin bisa saja aku tiba-tiba di gigit olehnya. "Sabar, sabar." ucapku menenangkannya yang terus memberontak. Syukurnya Michale nurut dan tidak memberontak lagi, ku melangkah dari kursi depan samping pengemudi kebelakang. Tak lama pun dua perawat datang dengan Nico membantu membukakan pintu mobil, lalu perawat pun menyuntikkan obat penenang dan langsung membawa Michale menggunakan brankar.


Nico pun menghampiri ku. "Di panggil dokter di ruangannya." menepuk bahuku.


"Kenapa harus gw?."


"Dokter mau tanya perihal data pribadi pasien. Ingat gw hanya perantara dari semua masalah lo, yang tau sepenuhnya cuman lo." setelah mendengar ucapan Nico pun aku bergegas melangkahkan kaki menuju ruang dokter, walaupun sebelumnya aku tidak tahu dimana keberadaan ruangan dokter, tetapi perawat mengantarku menuju ruangan dokter yang menangani kasus Michale. Perawat tersebut sangat ramah sekali, sempat terbesit di kepalaku tentang Sasya. Apa ini gambaran ketika Sasya sedang tugas menjadi perawat? Dia memang wanita yang ramah tetapi menyebalkan. Setelah sampainya di depan pintu ruangan dokter perawat itu pun beranjak pergi dan aku pun tidak lupa untuk mengucapkan terima kasih.


Mengetuk pintu lalu membukanya. "Misi, siang dok." dokter senior wanita itu tersenyum melihatku masuk kedalam ruangannya. "Saya Brydean." mengulurkan tanganku hendak bersalaman.


"Baik pak Brydean, gimana kabarnya hari ini?."


"Alhamdulilah baik dok."


"Oke, bapak selaku kerabat dari pasien Michale Anna?."


"Bukan dok, saya hanya teman dekatnya."


"Sebelumnya kami sudah pernah menelepon teman bapak yang bernama Nicarlo sejak dua tahun yang lalu, setelah saya meng-diagnosis bahwa pasien Michale Anna mengalami depresi tingkat akut. Dua hari yang lalu akhirnya pasien sembuh dan di pulangkan karena kondisinya jauh lebih baik. Saya boleh bertanya apakah pasien Michale mempunyai keluarga yang bisa di hubungi? Supaya kesembuhan Michale lebih cepat pulih berkat support orang terdekat dan kemungkinan kecil untuk kambuh lagi." jelas dokter.


"Orang tuanya tinggal di Jerman. Michale ke Indonesia berkat kemauannya sendiri. Tetapi sayangnya sejak empat tahun yang lalu kami berpisah dan saya tidak pernah mengetahui kondisi orang tuanya lagi."


"Baiklah, sedikit susah untuk itu. Apa bapak Brydean bersedia untuk mendampingi semua pengobatan yang di jalani dengan Michale, karena ia selalu menyebut nama bapak di setiap kalimatnya dan di setiap tulisannya." dokter pun menunjukkan isi sebuah tulisan dengan nama lengkap Brydean yang di coret di atas kertas menggunakan crayon. "Saya pun tidak tahu pasti kenapa Michale bisa kambuh kembali? Namun secara logika Michale sudah menemukan pak Brydean saat ini dan seharusnya Michale bahagia bukan malah kambuh lagi."


Brydean menggaruk tengkuk. "Sebetulnya saya menemukannya sedang mengamuk di basement kantor ingin mencelakai seseorang, dok." seraya tersenyum.


"Mencelakai seorang wanita?."


"Betul dok."


"Apa sebelumnya kalian pernah berpacaran?Karena mungkin saja Michale cemburu dengan wanita yang sedang dekat dengan pak Brydean."


"Saya tidak pernah berpacaran dengannya, maaf dok sebelumnya saya tidak bisa membantu pengobatan Michale dan kini saya ingin izin pamit. Permisi." aku muak dengan pertanyaan-tanyaan yang bisa menjebak lawan bicaranya. Aku berlalu pergi keluar dari rumah sakit tersebut. Nico menunggu di depan lobby pintu masuk tengah terduduk. "Balik !!!." titah tegasku pada Nico.


Sasya 'pov


Sesampainya ku di rumah hendak membersihkan badan dan bersiap memulai packing baju-bajuku untuk meninggalkan dunia yang fana ini. Pergi jauh menghindar darinya adalah jalan terbaik untuk keselamatan diriku. Aku memasuki kamar mandi dan menyalakan shower, di situlah kadang aku mulai overthinking dengan kejadian yang ku alami. Jika dia tidak secinta itu, maka dia pun tidak akan melakukan hal yang bersifat merugikan seseorang. Kesimpulan yang di dapat berarti Brydean benar di adalah player, jika sudah bosan selalu dia campakan semena-mena. Keputusanku sudah benar untuk menghindar selama-lamanya. Cepatku selesaikan mandi dan mempacking barang-barang yang di perlukan. Mungkin cepat atau lambat aku akan kembali terjun di dunia modeling kembali.


¤


¤


¤


¤


¤


¤


🖍 Jangan lupa Like dan Vote 🖍


📖 Selamat Membaca 📖