
Sesampainya di lobby cafe, mereka berpisah antara arah kekiri dan kekanan. Sasya selalu cepat menyadari ada yang aneh, ia pun lalu berlari membuntuti Brydean dan memanggilnya dengan menarik-narik t-shirt putihnya. Kalau di lihat dengan saksama Brydean dan Sasya memakai outfit yang senada. Dengan bertema monokrom, Brydean memakai celana ripped jeans hitam dengan t-shirt putih di padukan dengan sepatu converse putih dan jas hitam yang di kenakan Sasya. "Lo mau naik motor sama gw?." Brydean tengah memakai helm full face yang sudah siap duduk di atas motor sport. "Jangan naik motor sama gw, lo pakaiannya ngga cocok buat ride malam. Sana naik mobil, nanti ikutin gw." menurunkan visor.
Sasya menahan lengan Brydean yang sudah bersiap memegang stang motor. "Lo lebih butuh jas ini." Sasya membuka jas Brydean yang ia kenakan. "Lagi pula, gw pakai mobil yang pasti yang akan kedinginan kena angin malam kok." Sasya menaruh jas itu di atas motor Brydean dan berlalu pergi berlari menuju mobilnya yang terparkir. Menghindari Brydean pasti akan menolak dan membiarkan Sasya yang terus memakainya.
...⚘⚘⚘...
Tiba di sebuah pelabuhan, mereka pun terpisah lagi untuk memarkirkan kendaraan. Sesaat Sasya sudah memarkirkan mobil dengan nyaman dan aman, ia keluar dari mobil tidak lupa untuk mengkuncinya. Sekarang yang ada di pikiran Sasya adalah kebingungan untuk mencari keberadaan Brydean. Jalan mana yang harus ia lalui, kanan atau kiri?. Sasya membulatkan tekat untuk melalui jalan yang sebelumnya ia masuk di awal. Mencoba untuk menelpon Brydean sambil berjalan, tetapi jawabannya panggilan sedang berada di panggilan lain. Sebanyak lima kali jawaban di sambungan telepon itu tetap sama saja, Sasya memilih untuk memasukkan ponselnya kedalam saku celana seraya memeluk dirinya sendiri karena hembusan angin malam menusuk kulit sampai lapisan dermis. Tiba-tiba Sasya menghentikan langkah kakinya. Kalau di pikir-pikir sebaiknya gw kabur aja deh, fiks ini pasti gw mau di jual. Memutar balikkan tubuhnya bersiap untuk berlari cepat menuju mobil yang terparkir. Maaf untuk saat ini keadaan tidak memihak Sasya. "Eits, jangan bilang mau kabur lo?." Brydean datang lebih cepat sebelum Sasya berlari, ia menahan pergelangan tangan, menggenggam dengan sekuat tenaga. "Sehari tanpa negative thinking bisa? Kenapa ngga bisa percaya sedikit sama gw minimal."
Sasya selalu dengan cengenggesannya, mengangguk dengan wajah polosnya. Bingung harus menjawab apa, semua yang di ucapkan Brydean seakan tamparan kenyataan untuknya.
"Oh, i know. Lo ngga percaya sama gw karena belum lama kenal. C'mon gw ngga bakal nyulik, ngejual, atau pun nyekap lo di rumah kosong." Brydean yang menatap penuh bola mata Sasya. "Gw udah coba telpon lo berulang kali sebelum ponsel gw mati kehabisan baterai, tapi jawabannya selalu sama sedang berada di panggilan lain."
"Oh, berarti tadi kita di waktu yang sama itu call." Sasya memalingkan wajahnya tidak berani menatap Brydean dengan raut wajah yang serius menyeramkan itu. "Soalnya muka lo meragukan untuk di percaya." jawab polos Sasya.
Smrik. "Oh, ****." tertawa kecil. "Ikut gw !!! Kita pesiar." menarik pergelangan tangan Sasya. Sasya yang pasrah terhuyung mengikuti Brydean yang menarik tangannya.
Berjalan menikmati angin malam yang menusuk kulit menelusuri pelabuhan menuju kapal pesiar, terdengar suara deburan ombak yang khas, membuat siapa pun yang mendengarnya seakan bisa melupakan beban berat yang tengah di pikulnya. Tiba di sebuah kapal pesiar mewah, design-nya berbeda dengan kapal pesiar mewah pengangkut penumpang, pasti ini milik pribadi atau bisa disebut superyacht. Masuk kedalam superyacht dengan interior yang mewah yang di rancang khusus agar pemilik superyacht merasa nyaman seperti di rumahnya. Brydean mengajak Sasya menuju deck kapal atas, kami di suguhkan dengan deck outdoor yang cukup luas, lengkap dengan sofa santai yang menghadap ke pemandaan laut di setiap perjalanan, ruang makan yang terdapat pop up tv, dan mini bar. Terdengar suara percikan kembang api di langit Bali yang indah, Sasya pun sontak langsung berlari menuju ujung deck. Menikmati percikan kembang api yang terus menerus menghiasi langit. "Wow, this amazing." Sasya yang takjub seraya senang.
Brydean menghampiri dan memakaikan jasnya di bahu Sasya. "Indah bukan?."
"Sangat, sangat indah." Sasya yang tak henti melihat percikan kembang api tersebut.
...⚘⚘⚘...
Puas melihat percikan kembang api dengan vibes yang sangat indah. Setelah mereka menikmati percikan kembang api, Brydean mengajak Sasya untuk dinner terlebih dahulu di atas kapal pesiar dengan pelayan yang sudah siap menyediakan berbagai menu di meja makan. Hari pun semakin larut, berhubung Brydean hanya mengajak Sasya untuk melihat kembang api dan tidak berniat untuk pesiar menyebrang pulau, mereka pun pulang ke villa. Sasya pulang dengan keadaan mabuk, ntah kejadian yang membingungkan sesaat Sasya yang di tawari vodka oleh Brydean itu mengangguk mau untuk mencobanya. Tidak tahan setengah jam setelah meneguk 1 sloki vodka, Sasya pun langsung mabuk berat tidak sadarkan diri yang mengharuskan Brydean menggendongnya di bahu ala-ala fireman's carry sampai ke dalam mobil. Tidak lupa Brydean memakaikan seatbelt dan merebahkan jok mobil kebelakang. Kemudian siap untuk memacu kecepatan di jalan malam yang sepi.
Kini sesampainya Brydean di villa membawa Sasya hingga di atas tempat tidur, membantu Sasya melepaskan sepatu dan menarik selimut. "Good night, cewek nyebelin." mengusap rambut Sasya dengan lembut, jari jemarinya seakan tidak bisa di kendali olehnya membuat Brydean mengusap bibir Sasya. "Your lips so sexy." Brydean dengan cepat ******* bibir Sasya. Sesuatu terlintas di otaknya menyadarkan bahwa yang ia lakukan adalah kesalah besar, Brydean yang tengah ******* bibir cantik Sasya itu pun mengakhiri dan pergi meninggalkan Sasya. Mengambil ponselnya di saku celana, menelepon seseorang. Tahu harus apa yang dia lakukan sekarang karena libidonya sudah tidak dapat di bendung lagi. Brydean memutuskan untuk melampiaskan pada Lisa, menunggu di pantai yang tidak jauh dari villa. Terus berdiri di atas hamparan pasir menunggu Lisa datang di temani dengan hembusan angin malam dan suara deburan ombak yang terdengar sangat begitu menggema di malam yang sunyi. Brydean sudah bisa melihat Lisa yang jalan menghampirinya, ia berlari lebih cepat kearah Lisa. Membuka t-shirtnya seraya ******* kasar bibir Lisa, perlahan Lisa di tumbangkan dari berdirinya oleh Brydean. Melakukan aktivitas itu dengan sangat kasar. Sunyinya malam ditemani deburan ombak dan ******* kecil Lisa timbulkan, hanya ada mereka di pantai itu.
...⚘⚘⚘...
Sasya terbangun dari tidur mabuknya, terus memijat dahinya dan melihat jam dinding menunjukkan pukul empat pagi. Ah, stupid kenapa gw mau sih minum alkohol lagi, ingat Sasya ini yang terakhir. Lo ngga boleh penasaran lagi dan terayu bujukan manis syaiton yang sangat sesat. Sasya beranjak dari ranjang berjalan menuju dapur. Mengambil segelas air putih untuk menetralkan dirinya setelah mabuk dan membuka kulkas mengambil yoghut, lalu kembali lagi kekamar setelah selesai. Berjalan santai melangkahkan kakinya dengan slowly, pandangannya tiba-tiba tertuju pada balkon kolam berenang. Sasya menyipitkan matanya memastikan terlihat seseorang sedang tertidur di sun lounger dengan laptop berada di atas perutnya. Sasya menghampirinya dengan membawa selimut yang ia dekap. Memindahkan laptop ke sun lounger kosong disebelahnya, memakaikan Brydean selimut, Lalu Sasya mendudukkan dirinya begitu saja di bawah, tidak peduli kotor atau tidak. Sasya fokus menghadap laptop dan melanjutkan teks yang seharusnya di ketik. "Padahal ini tugas gw, kenapa dia ngga nyuruh aja?." guman Sasya yang mengetahui Brydean sebelumnya sedang mengerjakan salinan laporan perusahaan.
Seiring waktu terus berputar, fajar pun mulai terbit dari arah timur. Sasya yang masih terfokus pada laptopnya, mulai merasakan lelah pada mata, pegal dan kantuk melanda. Beranjak berdiri melakukan peregangan dan berjalan menuju dapur membuat segelas teh tarik panas yang sangat menggoda tidak lupa Sasya mengambil dessert box tiramisu, membawanya ke balkon kolam berenang. Menikmati sunrise seraya melanjutkan mengetiknya dan meminum teh tarik dengan dessert box tiramisunya.
Brydean mulai terganggu tidurnya dengan sinar matahari, mengucek matanya perlahan membuka mata tersadar dari tidurnya, walaupun masih di fase mengumpulkan nyawa. Sedikit terheran dengan keadaannya disekitarnya yang berubah dengan tiba-tiba menggunakan selimut dan tersadar bila seseorang wanita tengah duduk di samping dengan mata terfokus pada laptop seraya memakan dessert box. Brydean terbangun mendudukkan diri dengan mata bantalnya. "Morning, ca." mengacak-acak rambut Sasya.
"Morning." seraya tersenyum menoleh ke wajah Brydean.
Brydean membangunkan diri duduknya, membuka t-shirt yang ia taruh sembarang di atas sun lounger, lalu beranjak pergi menuju dapur membuat segelas iced americano. Ia pun membawa menuju balkon kolam berenang setelah iced americanonya pada genggamannya, sebelum ia mendudukkan diri jiwa-jiwa jahil Brydean menggebu-gabu. Ia menempelkan gelas dinginnya ke pipi Sasya. Puas dengan jahilnya Brydean tertawa kecil. Sisi lain Sasya terkejut oleh tingkah Brydean reflek memukul paha Brydean dengan sekuat tenaga dan raut wajah yang kesal. Tidak puas dengan jahilnya Brydean menaruh iced americanonya di tukar dengan dessert box yang Sasya sedang makan. "Ini enak ngga ca?."
Seketika Sasya merengkek seperti anak kecil dengan raut wajah kesalnya. "Jangan di habisin." geram Sasya berusaha merebut kembali dessert box. Sangat sulit mengambil dessert box di tangan Brydean yang di tegakkan keatas, tidak kehilangan akal Sasya pun naik ke sun lounger untuk mencapainya. Tetapi Brydean semakin menjauh dari hadapannya membuat Sasya kehilangan keseimbangan teringin jatuh.
Brydean melangkah menjauh dari Sasya. "I want try." menyuapkan sesendok kedalam mulutnya. Duar tiba-tiba Sasya menghampirinya dengan berlari meraih dessert box. Brydean yang ingin menghindarinya tak sadar ia terus memundurkan langkahnya hingga kakinya pun tidak menyentuh tanah lagi dan tercebur kedalam kolam berenang. Sontaknya ia langsung meraih tangan Sasya yang Sasya pun terhuyung terbawa oleh Brydean hingga tercebur. "Ihh, Brydean." teriak Sasya sebelum mereka tenggelam dalam air. Brydean yang langsung berdiri tegak menghidup oksigen setelah tenggelam dan mengusap kasar wajahnya, sedangkan Sasya masih kewalahan di dalam air belum bisa menyeimbangkan tubuhnya berusaha untuk berdiri tegak dan akhirnya mampu juga untuk berdiri tegak menghidup banyak oksigen, mengusap wajah kasar seraya terbatuk karena banyak menghirup air. Berjalan menepi kolam dengan sekuat tenaga Sasya teringin naik ke tepi kolam tetapi badannya lemas, ia tidak kuat untuk melombat ke tepi kolam tanpa menggunakan tangga bantu. Brydean yang sejak tadi menyaksikan itu pun langsung menghampirinya dengan cepat membalikkan badan Sasya menghadapnya, mengangkat lalu mendudukkan Sasya di tepi kolam. "Kasian tenggelam." seraya smrik menyelipkan rambut kebelakang telingan Sasya yang berantakan itu.
Sasya masih sedang mengatur napas yang sebelumnya kehilangan banyak oksigen seperti henti napas itu mendengarkan ocehan Brydean yang meledeknya. "Gara-gara lo." kesal Sasya seraya menjambak rambut Brydean sekaligus menarik kebelakang.
Brydean merintih kesakitan seraya memegang tangan Sasya agar melepas jambakan tersebut. Berhasil melepaskan tangan Sasya, Brydean bergegas cepat naik ketepi kolam dan kabur tidak lupa untuk mencubit pipi Sasya terlebih dahulu. Yang terjadi seperti biasa Sasya mengamuk marah tetapi kali ini Sasya tidak mengejarnya karena tubuhnya masih lemas tidak berdaya.
...⚘⚘⚘...
Aku telah berjemur lumayan cukup lama di tepi kolam sampai pakaian ku kering dari basah, membangunkan diri dari duduk melangkahkan kaki masuk kedalam villa. "Lo mau pasta ngga?." tawar Brydean dari dapur yang tengah terfokus pada masakannya. Sepertinya semakin lama aku pun semakin terbiasa melihat Brydean yang sering shirtless. Sebenarnya kalau di lihat lama-lama Brydean tampan juga kalau mode kalem terus badannya juga perfect. Ku yang terdiam mematung di ambang pintu dengan pandangan mengarah ke Brydean. "Ca, lo ngga breakfast." tawarnya Brydean lagi yang kini sedang menghidangkan pasta ke atas meja makan. Aku yang awalnya ingin menolak karena masih kesal dengannya. Tetapi cacing kecil yang berada di dalam perutku memberontak ingin diberi makan, tercium aroma sangat lezat dari pasta yang sangat menggoda iman membuatku melangkahkan kaki menuju meja makan dan mendudukkan diri tak sabar menyantap pasta tersebut. "Berdoa dulu." ucap Brydean yang menyadarkanku mengurungkan niat yang sebelumnya aku sudah menggulung pasta tersebut di garpu bersiap meluncur ke mulutku bergegas menadahkan tangan untuk berdoa. "Aamiin." ucapku mengusap muka. "Itadakimasu." sebelum menyantap makanan.
...⚘⚘⚘...
"Hola Nicalro Eric Darren, i'm fine bro." Brydean yang langsung melempar stik game melihat sahabatnya datang dengan tiba-tiba menemuinya seraya bersalaman seperti biasa ala ngab amerika. "Gimana, perusahaan lo lancar?."
"Hasta ahora, todo bien bro." (Sejauh ini baik bro) jawab Spain Nico yang berawal dari Brydean memancing kata Hola. "Gw dapet kabar dari sekretaris gw katanya lo ada perjalanan bisnis."
"Alma maksud lo?." bingung Brydean dengan Nico yang menjawab mengangguk. "Tujuan lo kesini mau meet sama gw?."
"Sayang sekali anda salah, gw kesini juga mau ketemu si cantik Sasya lah." Nico yang menaikkan satu alis. "By the way besok lo ada rapat sama dewan direksi, tadinya gw mau ikut yang masalah proyek gw tangani kemarin. Tapi waktunya bentrok sama gw yang harus terbang ke Bangkok."
"Sans bro, sebelumnya makasih buat bantuan lo, tapi sekarang keadaannya udah berbeda lo bukan lagi yang harus bertanggung jawab sebagai direktur eksekutif."
"Gw kasian lihat Sasya kerjanya double."
"Ngga perlu dikasianin, udah takdir." jawab datar Brydean.
"Tega lo jadi atasan kejam, ya udah Sasya gw tarik jadi sekretaris gw."
"Eits dia punya gw." Brydean menaikkan nada bicaranya satu oktaf.
"Gw mau tanya sama dia, betah ngga kerja sama lo barangkali mau pindah sama gw. Wait, jangan bilang lo mulai suka sama Sasya? Inget bro lo ngga suka tipe asian girl, ngga usah jealous sama gw." Nico mulai membakar sebatang rokoknya. "Dimana sekarang Sasya? Jangan lo umpetin !!!."
"Dia lagi spa." jawab singkat Brydean seraya sebat.
"Brydean, ini coffe latte-nya." suara Sasya itu pun terdengar dari ambang pintu yang sudah tiba melangkahkan kaki menaruh coffe latte di atas meja tanpa melirik kearah Brydean.
"Gw ngga di beliin?." ledek nico.
Sasya yang berdiri mematung membelakangi mereka dengan otaknya yang blank masih menelaah suara siapa itu, tapi seperti familiar di otaknya. Ia pun cepat membalikkan badannya. "Hi Kak Nico, what's up." berjalan menghampiri seraya fist dump.
"Ngopi yok." Nico yang seraya membangunkan badannya dengan Sasya menjawab mengangguk.
"Gw ngga di ajak?." ucap datar Brydean.
"Maaf tidak ada orang ketiga." smrik seraya mengacungkan jari tengah.
"Bangsat lo." melempar bantal sofa ke arah Nico. "Ca hati-hati dia pedofil, kalau ada problem langsung call gw." teriak Brydean.
¤
¤
¤
¤
¤
¤
🖍 Jangan lupa Like dan Vote 🖍
📖 Selamat Membaca 📖