Together Again

Together Again
Inner Child



Selepas pulang dari kantor Alma ke cafe yang sudah biasa ia kunjungi dengan Sasya. "Alma." sapa Sasya saat Alma sedang mencarinya.


"Hi, Sya." mereka pun berpelukkan. "Gw tau pasti lo mau cerita tentang Brydean ya?"


"Gw mau resign aja Al."


"Wait, lo pesen minuman kayak biasakan." tanya Alma karena pelayan menghampiri mereka. Sasya menjawab dengan anggukan.


"Untuk saat ini gw cuman punya lo doank, Quira, Nita sama Noami jauh. Gw butuh seseorang yang benar-benar dengar cerita gw, di hadapan gw."


"Humm, sini." Alma reflek memeluk Sasya. "Lo wanita kuat kok, kan ada gw disini lo bisa cerita apa aja yang lo mau." mengusap lembut rambut Sasya.


Sasya melepas pelukkannya. "Al, jujur sama gw, lo sebenarnya enak ngga sama direktur eksekutif baru?."


"Jujur sih sama pak Nico lebih santai, tapi kan keadaan udah beda jadi kita harus bisa menyesuaikan." ucap bijak Alma. "Gw saranin lo jangan resign, karena menurut gw lo bawa dampak positif buat semua staff di kantor dan yang pasti pak Brydean juga jadi baiklah dari sebelumnya."


"Emang sebelumnya Brydean kenapa?." heran Sasya.


"Dulu pas sebelum Naomi jadi sekretaris, pak Brydean arrogant, dingin banget, pemarah pula."


"Sekarang bedanya apa Al, kayak sama aja."


"Sekarang sifatnya lebih baik dari sebelumnya." menarik senyum diwajahnya.


"Gw benci sama dia Al, gw selalu harus nurut apa kata dia. Pokoknya dikekang."


"Ya udah kalau lo capek, lo bisa resign Sya. Keputusan ada di tangan lo, gw selalu dukung apa yang terbaik."


"Terimakasih Al." Sasya langsung memeluk Alma dengan erat.


...⚘⚘⚘...


Pukul 00.00 WIB


Terdengar suara bell rumah yang ditekan berkali-kali dan terus menerus sampai-sampai aku terbangun dari tidurku. Aku bergegas menuruni tangga dan membuka pintu. Lihatlah siapa yang sedang bersandar tidak berdaya didepan pintu. Itu adalah Brydean. "Heran kok dia punya kunci gerbang rumah gw, secarakan pak Badri itu izin keluar dari jam delapan malam." gumam Sasya dengan raut wajah kebingungan.


"Teman nona sakit ya." cemas mbok Ani melihat Brydean tergeletak begitu saja di depan pintu. "Tadi mbok bukain gerbang karena teman nona tekan bell gerbang dan ia ingin bertemu nona." jelas mbok Ani.


"Oalah gitu, ya udah mbok makasih ya. Boleh tolong saya angkat dia ke kamar tamu." sebisa mungkin mereka mengangkat Brydean.


"Terimakasih mbok, maaf menggangu waktu istirahatnya."


"Iya nona tidak apa, mbok permisi ya." mbok Ani pergi meninggalkan mereka.


Aduh sakit badan gw, ngangkat manusia yang berat dosa. Aku sambil melakukan peregangan. "Ckkk, dia ngapain sih kerumah gw. Bikin gw susah aja lo, mana bau alkohol lagi." gumam kesalku. "Gw tinggalin atau ngga ya?, nanti kalau misalnya ternyata dia sakit gimana? Ah bingung dasar ngusahin gw lo." Aku pun mengambil laptop di kamar, lalu bergegas kekemar tamu lagi. Netflix menemani kegabutanku.


"Sasya." seseorang memanggil dan membangunkan tidurku, ternyata aku ketiduran di sofa saat streaming drama. Aku membuka mataku seseorang duduk dilantai menghadap tepat ke wajahku. Ya itu Brydean di hadapanku.


"Sasya badan gw panas, coba pegang dahi gw." Brydean sontak meraih lenganku untuk meraba dahinya.


Aku berdecak kesal. "Kan kemarin saya bilang pak, minum obatnya, ngeyel sih jadi drop lagi kan." kesalku. "Ya udah bangun, jangan di duduk dilantai dingin." Aku memapah Brydean ke tempat tidur. "Gw ambil termometer dulu, sekalian mau bilang bunda."


"Jangan goblok, bunda nanti mikir anaknya penyakitan." bentak Brydean.


"Lah, kenyataannya memang anaknya sakit kenapa harus lo marah sih?." rasa ingin menangis di bentak Brydean langsung masuk ke hati, ya tuhan.


Brydean sadar raut wajah Sasya berubah. "Maksud gw tuh, gw akhir-akhir ini sering sakit biasanya gw ngga pernah sakit." menghampiri Sasya.


Menghembuskan napas panjang. "Ya udah gw ngga bilang ke bunda. Sebenarnya penyakit itu datang karena diri sendiri, makannya kalau dibilangin suruh minum obat nurut bisa?."


"Fine, gw akan nurut, nah sekarang lo rawat gw." menarik senyum manisnya di wajah tampan.


Asli, gw baru lihat dia senyum lebar kayak gitu, senyumnya manis banget bikin suasana tenang dan ceria. "Sebentar ya."


Setelah semua tindakan sudahku beri. "Sekarang istirahat yang cukup dan rutin minum obat, nanti saya bantu pantau kok." Menaiki selimut Brydean. Aku pergi mengambil sebuah baju di meja sofa kamar. "Tapi ganti baju dulu ya, soalnya baju bapak bau alkohol."


"Emang cukup Ca?."


Mendudukkan badanku ditepi ranjang samping Brydean. "Cukup kok pak, ini baju distro oversize saya." mencocokkan baju tersebut ke badan Brydean.


"Baju lo atau baju pacar lo?." ucap datar Brydean.


"Baju saya." tegasku.


Brydean mendudukkan badan. "Pusing ngga?." cemasku. (Karena terkadang ketika bangun dari berbaring yang cukup lama, pasti akan terasa pusing, jadi harus ditanyakan pada pasien mengalami pusing atau tidak).


Brydean menggelengkan kepalanya. Brydean langsung membuka bajunya dan aku bersiap untuk memakaikan baju gantinya. "Bentar ca, gw mau mandi ya." ucap Brydean mengurungkan niat saat Sasya ingin memakaikan baju ganti.


"Jangan dulu, ngga boleh." larangku.


"Ca kita harus kekantor, lihat udah jam delapan." arah bola mata Brydean melihat jam dinding yang berada dikamar tersebut.


Se-ngambis apa sih lo sama kerja Brydean, sampai lo belum pulih aja harus kerja. "Apa sih? Lo lagi sakit, diam aja disini istirahat. Gw aja yang kekantor." nada suaraku naik satu oktaf.


"Gw udah sehat Ca, sumpah." Brydean menatap Sasya berusaha untuk meyakinkan.


Bola matanya indah banget, sejuk dipandang. "Oke, tapi jangan lupa diminum obatnya ya." menarik senyum diwajahku.


"Thank's." tersenyum, lalu membangunkan diri. "Gw mau ambil baju ganti dulu di mobi."


"Biar gw aja yang ambil." tawarku. "Mana kunci mobilnya." tanganku sudah mengadah dengan kepala mendongak melihat betapa tingginya Brydean dihadapanku sedangkan aku hanya duduk. "Jadi lo sekarang mandi, gw yang ambil, nanti gw taruh di atas tempat tidur terus gw juga mau siap-siap." sedikit dosa mata sih, sixpack dia di depan wajah gw, mau ngga ngelihat tapi di depan mata gw.


"Kunci mobilnya ada didalam, semalam gw tinggal ngga dicabut, pakaian gantinya ada di bagasi." Brydean mengusap lembut rambut Sasya dan berlalu dari hadapannya.


Selepas Sasya selesai bersiap ia langsung kembali ke kamar tamu. Seperti biasa tidak lupa untuk mengetuk pintunya terlebih dahulu dan lalu masuk. Aku melihat Brydean pun sudah siap dengan jasnya yang sedang membelakangiku. "Pak, saya bantu pakaikan dasi."


Brydean membalikkan badan. "Gw hari ini ngga pake kemeja Ca." ternyata Brydean memakai baju distro Sasya yang berwarna putih, sangat match dengan setelan jas dan celana formalnya berwarna navy. "Gw bolehkan pinjem baju lo."


"Iya pakai aja pak." aku menarik senyuman.


"Ca, Ipad di kantor atau dibawa kerumah?." tanya Brydean dengan kami bersama keluar dari kamar tamu tersebut.


Aku mengeluarkan Ipad dari dalam tas. "Saya bawa pulang kerumah." Aku pun langsung membuka schedule Brydean hari ini.


"Obat gw yang tadi jangan lupa di bawa, Ca."


Seketika aku langsung inget perjuangan shubuh-shubuh ngambil obat di apartement Brydean. "Ohhh iya lupa, sebentar." berlari menuju kamar tamu. Setelah obat terbawa aku bergegas untuk menuju basement, tentu melewati Brydean yang memarkirkan mobilnya tepat di depan rumahku, lebih tepat lagi tidak jauh dari pintu utama, terlihat ia tengah menyemprotkan perfume yang wanginya kalem bikin candu sampai dari jarak jauh pun sudah tercium aroma khas perfume Brydean.


"Ca, lo mau kemana? Kan bareng gw." panggil Brydean yang melihat Sasya hendak menuju basement.


Aku menghampiri Brydean. "Saya yang mengemudi ya pak."


"Gw lah." jawab datar Brydean.


...⚘⚘⚘...


Sesampainya lobby kantor Sasya memeriksa kembali schedule Brydean hari ini. "Ca, gw ada perjalanan bisnis kan besok?." ucap Brydean sambil mereka berjalan.


"Kalau ngga salah lusa pak, eh tapi sebentar." Sasya terhenti dari membuntuti Brydean untuk mengecek schedule.


Brydean tersadar Sasya tidak membuntutinya dan ia pun langsung menghampiri Sasya. "Ketemu ngga?." melihat Sasya sedang meng-scroll schedule.


Sasya pun menemukan schedule tersebut. "Ketemu pak." Sasya pun langsung menunjukkannya pada Brydean. "Berarti nanti sepulang kerja saya kerumah bapak untuk packing."


"Ca, lo belum sarapankan, gw izinin keluar sekarang buat sarapan, sekalian tolong beliin gw pomade." Brydean mengeluarkan black card dan meraih tangan Sasya agar langsung digenggam Sasya.


"Ngga usah pak, saya masih bisa beliin bapak pomade kok." Sasya mengembalikan black card Brydean.


Brydean menolak black cardnya. "Pilih untuk ngga sarapan atau sarapan tapi pakai card gw?." tegas Brydean. "Sana cepat saya tunggu." ucap datarnya.


Sasya hanya bisa pasrah dan menghembuskan napas panjang. "Baiklah." sehubung gw sangat lapar jadi mau gimana lagi selain pasrah.


...⚘⚘⚘...


Selesai sudah pekerjaan hari ini yang cukup melelahkan. Sasya sedang cepat membereskan barang-barang yang berserakan di meja kerja. "Gw harus cepat nih, pasti sepuluh menit lagi Brydean keluar dari ruangannya terus gw di ajak langsung kerumahnya, gw harus pulang duluan." menulis note di sticky note.



...⚘⚘⚘...


Sasya membaringkan badannya seraya melakukan peregangan di atas ranjangnya. "Wah, gila sih ini, gw balik kayak di kejar-kejar debt collector." menghembuskan napas panjang. "Bersih-bersih setelah itu sholat terus langsung ke rumah Brydean, kira-kira gw di omelin ngga ya?." bingung Sasya seraya membangunkan diri lalu berjalan menuju kamar mandi.


...⚘⚘⚘...


Lihatlah aku jauh dari kata modis dan elegant hanya memakai setelan piyama pendek. Aku menekan bell rumah Brydean, seseorang pelayan di rumah Brydean membukakan pintu. "Hi bi, Brydean ada?."


"Ada nona, tuan sepertinya di gaming room." jawab ramah pelayan tersebut seraya tersenyum.


Aku tersenyum. "Terimakasih."


"Sama-sama nona, saya permisi." pelayan tersebut membungkuk dan berlalu pergi.


Setelah kejadian aku yang tidak tahu di mana gym room, seorang pelayan mengajakku untuk room tour rumah Brydean tujuannya agar nantinya tidak bingung saat di rumah Brydean yang luas sekali. Sesampainya di depan gaming room, aku mengurungkan niat untuk mengetuk pintu, lagi pun percuma saja bila mengetuk gaming room yang sudah pasti seorang gamer nya pakai headphone. Ya sudahlah langsung aja masuk. Seperti sudah biasalah melihat Brydean yang sering shirtless dengan celana pendeknya tengah memainkan racing game. Lagi dan lagi aku mengurungkan niat untuk menggangu Brydean bermain game, aku memilih untuk meninggalkan Brydean yang tengah asik bermain. Manusia mana yang senang di ganggu saat sedang asik dengan dunianya, pastinya akan badmood setelah di usik. Bersiap untuk langsung packing barang-barang Brydean.


Sampainya di walk in closet, aku mengambil koper dan memilah barang juga baju Brydean untuk 3 hari kedepan. Saat sedang memilah dasi, aku mendengar langkah kaki memasuki walk in closet dan ia mengambil t-shirt lalu kembali pergi keluar dari sana.


"Ca, gw mau minum obat." ucap Brydean yang kembali masuk membawa obat dan segelas air menghampiri Sasya. "Gw masih panas ya." menarik lenganku untuk meraba dahinya.


"Lebih baik dari sebelumnya, tapi udah makan belum?." aku melihat Brydean tampak lemas. Brydean menjawab dengan menggelengkan kepala. "T-shirt yang tadi kemana? Kok ngga dipake." heranku.


"Ditinggal di atas kasur tadi." menatap Sasya.


Aku menarik lengan Brydean keluar dari walk in closet dengan tangan sebelahku membawa obat Brydean, tapi tunggu aku berhenti sebentar untuk mengambil t-shirt yang Brydean tinggalkan di atas ranjang. Aku membawa Brydean sampai di ruang makan dan mentitahnya untuk duduk dan membantu memakaikan t-shirt. Mengambil lauk berserta nasi, membawanya kehadapan Brydean. "Cepat makan, habis itu minum obat." ketusku.


Smrik. "****, gw kayak anak tiri yang ortunya ngasih makan ngga ikhlas."


Aku menarik napas panjang. "Sekarang makan dulu, baru habis itu minum obat ya." jawabku yang sangat-sangat lembut seraya tersenyum. "Nah saya mau lanjutin packing."


Saat packing telah selesai dan waktunya aku harus pulang kerumah setelah melihat Brydean sudah meminum obat. Menuruni tangga dan menghampiri meja makan, melihat makanan yang di dalam piring masih utuh belum tersentuh. Pasti kabur ngegame. Aku membuang makanan tersebut karena sudah dingin dan mengganti yang baru. Sebenarnya yang bikin dia tambah sakit itu gara-gara ngegame. Membawa makanan dan segelas air di atas baki kedalam gaming room. "Sebenarnya gw males banget gini, karena kasian aja dia nanti ngga sembuh-sembuh." gumam kesalku sebelum memasuki gaming room. Menaruh baki di atas meja yang berada gaming room, membawa piring ke hadapan Brydean. "Makan dulu, ihhh." kesalku membawa piring dihadapan Brydean. Tetapi Brydean menyingkirkan dari hadapannya dengan lembut. Ihhh, sumpah gw kesel banget rasa ingin melempar piring ke wajahnya, ngga ada cara lain selain gw paksa suapin. Nanti kalau misalnya perjalanannya bisnis gw doank yang berangkat, kan gw juga yang terbebani. Tanganku memegang rahang Brydean agar ia menoleh padaku. "Makan dulu." ucapku sambil mendatangkan sesendok nasi kedepan mulutnya. Brydean pun menerima suapan pertamanya. Brydean adalah cowok dewasa yang punya sisi inner child manja.


¤


¤


¤


¤


¤


¤


🖍 Jangan lupa Vote dan Like 🖍


📖 Selamat Membaca 📖